
...Daerah Puncak Merapi...
...21.29...
Kami semua turun dari mobil. Di hadapan kami, terlihat sebuah restoran yang cukup indah. Meskipun dibangun dengan sangat sederhana, tidak memiliki dinding, dan hanya berbahan kayu, tapi restoran ini nampak memiliki nilai keindahannya sendiri.
“Baiklah, kita akan berpisah disini. Pak Jarwo dan Lisa, silakan nikmati waktu istirahat kalian berdua. Begitu juga kalian berdua.” Ucapku sambil melirik ke arah Rina dan Rendy.
Tapi jauh di luar dugaanku….
“Baiklah kakak. Ayo Rendy, kita amankan posisi di lantai paling atas.” Ucap Rina sambil menarik tangan Rendy.
“Bukankah Rina membencinya?” Tanyaku pada diriku sendiri.
Tapi Elin hanya tertawa ringan tanpa menjawabnya.
Kami pun segera duduk di salah satu kursi di pojok lantai satu ini. Pemandangannya sungguh indah. Dengan lampu yang cukup redup dan udara dingin dari pegunungan ini, membuat suasana menjadi begitu nyaman.
Elin duduk di hadapanku. Meja kayu yang cukup kecil ini tak membuat kenyamanan menghilang. Justru membuatku lebih dekat dan nyaman bersama istriku.
“Pesanannya Tuan.” Ucap salah seorang pelayan di tempat ini.
Setelah beberapa saat melihat menu itu, aku dan Elin telah sepakat.
“Dua cangkir kopi arabika khas Merapi, lalu sepiring gorengan. Yang masih panas ya.” Ucap Elin singkat sambil menuding ke arah pelayan itu.
“Silakan ditunggu.”
Setelah memberikan ucapan itu, sang pelayan segera pergi untuk menyiapkan pesanan kami berdua.
Tapi pada saat aku masih menikmati pemandangan hutan yang cukup gelap itu….
“Hei, Erik. Apakah menurutmu mereka sadar akan siapa kita sebenarnya?” Tanya Elin dengan wajah yang tersenyum licik.
‘Bocah ini….’ Pikirku dalam hati melihat ekspresinya.
“Entahlah, memangnya kenapa jika tidak sadar? Lagipula kita kemari untuk menikmati suasana ini kan? Jangan permasalahkan hal sepele seperti itu. Justru bagus jika tidak ada yang menyadarinya karena aku tak ingin suasana menjadi ricuh.” Balasku sambil menunjukkan ke arah keramaian pelanggan tempat ini.
“Hah…. Kau itu tidak seru ya? Biasanya jika di film-film maka akan terjadi suatu hal dimana orang-orang akan meremehkan kita! Lalu kita tiba-tiba akan mengungkap jati diri bahwa sebenarnya kita sangatlah kaya! Lalu….”
Elin terus melontarkan ocehannya. Jujur saja kurasa terlalu banyak menonton film tak baik baginya.
“Elin. Ini adalah dunia nyata. Jika kita memperlakukan orang lain dengan baik, mereka juga akan memperlakukan kita dengan baik. Lagipula tak ada gunanya untuk meremehkan orang asing yang….”
Tapi sebelum aku sempat menyelesaikan perkataanku….
“Pe-permisi….”
Seorang pasangan muda mudi nampak mendekati mejaku. Mereka nampak memberikan ekspresi yang sedikit malu dan takut. Meski begitu, nampak cahaya harapan yang besar di mata mereka.
“Ya? Ada apa?” Balasku singkat.
__ADS_1
“Apakah kalian berdua…. Jangan-jangan…. Tuan Erik dan Nona Elin?” Tanya pemuda itu.
“Jika iya kenapa?” Tanyaku singkat.
“Bi-bisakah kami minta foto bersama?!”
‘Aah…. Jadi ini yang dimaksud? Akan merepotkan jika semua orang disini minta foto bersama.’
Setelah berfikir sejenak….
“Hahaha! Dasar bodoh! Mana mungkin orang kaya seperti Erik akan makan di tempat seperti ini?! Aku hanya mengerjaimu saja!” Balasku sambil tertawa lepas.
Setelah beberapa saat menunjukkan wajah yang kebingungan, pasangan muda mudi itu lalu ikut tertawa.
“Ahahaha…. Benar juga ya? Mana mungkin orang hebat seperti mereka mau makan di tempat seperti ini…. Maafkan kami berdua karena mengganggu.” Ucap pemuda itu sambil sedikit membungkukkan badannya.
“Tenang saja.”
Tapi di balik semua itu, aku melihat sosok Elin yang tersenyum puas. Tidak…. Lebih tepatnya senyuman yang mengejekku.
...***...
...Di Dunia Re:Life...
“Hmm…. Jadi begini cara menggunakannya?” Tanya seorang wanita dengan rambut merah itu, Scarlet.
Di hadapannya, terlihat 100 lebih ekor goblin yang berbaris dengan rapi.
Salah satu goblin dengan badan yang cukup besar itu segera memenuhi panggilan Scarlet.
“Perintahmu….” Ucap Goblin itu.
“Jarah beberapa desa sekitar. Aku akan memanggil 200 goblin tambahan untukmu. Setidaknya, kau mampu melakukannya kan?” Tanya Scarlet dengan tatapan yang seakan merendahkannya.
“Dengan segera.”
‘Eric…. Aku tak tahu apa yang kau lakukan selama ini dengan monster panggilanmu tapi…. Aku akan menunjukkannya padamu bagaimana cara yang benar untuk memanfaatkan mereka! Sebagai bonusnya, aku akan menggunakan namamu untuk itu.’
Scarlet terus tersenyum dengan lebar setelah memikirkan hal itu.
‘Sebagai permulaan, aku akan merampas Kerajaan yang telah lumpuh karena perang ini! Ah, sungguh malang sekali nasib Kerajaan Farna ini. Sungguh disayangkan bahwa aku tak bisa mendekati Kota Lesta untuk menemui sang Necromancer tapi…. Aku akan memaksa masuk kesana!’
Dan begitulah….
Sebuah permasalahan yang sangat merepotkan sedang terjadi di dunia virtual itu.
Tanpa Scarlet sadari, mata dan telinga Eric yang ada di sana terus menerus bekerja keras.
Termasuk salah satu goblin yang berpura-pura menjadi Field Monster di dekat tempat Scarlet bersembunyi itu.
‘Aku harus segera melaporkan hal ini kepada Tuan Oliver dan Tuan Knox!’ Pikir Goblin itu sambil melirik ke arah tempat persembunyian Scarlet.
__ADS_1
...***...
...Beberapa hari kemudian di Dunia Virtual...
...Kota Forgia...
...Kerajaan Farna...
...Istana Kerajaan...
“Permisi, Yang Mulia. Sebuah laporan dari regu pengintai di daerah Utara telah sampai.” Ucap seorang prajurit itu.
“Bacakan untukku.” Ucap Raja Arlond yang masih sibuk mengurusi dokumen bersama dengan beberapa menterinya di meja besar itu.
“Berdasarkan pengamatan dari regu pengintai di daerah Utara, mereka menyebutkan bahwa terdapat serangan monster berupa Goblin di beberapa desa! Kerusakan yang terjadi cukup parah dengan kematian seluruh penduduk desa dan hilangnya semua harta benda mereka! Kemudian….”
‘Braaak!!!’
Arlond memukul meja itu dengan keras.
“Apa kau bilang? Serangan Goblin?! Lalu dimana pasukan yang bersiaga disana?!” Tanya Arlond sambil berjalan mendekati prajurit itu.
“Me-mereka semua telah terbunuh, Yang Mulia.”
“Perintah mutlak untuk seluruh pasukan. Sampaikan dengan baik. Semuanya harus menemukan siapa dalang sebenarnya dari serbuan Goblin ini!” Teriak Arlond sambil menulis sesuatu di kertas. Tak lupa, Ia juga memberikan segel kerajaan.
Setelah menerima gulungan surat itu, sang prajurit segera meninggalkan ruang istana dan menuju ke barak pasukan.
Sementara itu, Arlond dipenuhi oleh rasa kesal dan kemarahan.
‘Aku pernah mendengarnya…. Kalau tidak salah, dua bulan lalu? Wanita sialan bernama Scarlet itu.... Berani-beraninya dia meniru skill milik Eric?! Aku akan memberinya pelajaran!’
Pada saat itulah, Arlond segera menyiapkan seluruh pasukannya. Bukan untuk membunuh Scarlet. Tapi untuk menangkapnya dan memberikan hukuman yang pantas.
Sementara itu….
...***...
...Di Dunia Nyata...
...Daerah Puncak Merapi...
...Tengah Malam...
“Erik?!” Teriak Elin terkejut.
“Kuharap kau menyukai hadiah kecilku ini, Elin.” Ucapku sambil memasangkan kalung emas dengan berlian yang cukup besar di tengahnya.
“Suka! Sangat suka! Aaaaaaa!!!”
Melihat Elin yang begitu kegirangan menerima hadiah ini, aku pun ikut senang dan segera memeluknya dengan erat dari belakang.
__ADS_1