
“Lucien…. Bukankah itu sama sekali tidak seperti Dungeon?”
“Apa yang kau katakan, Tuanku? Bukankah kau menginginkan lawan yang kuat? Aku merasakan keberadaan sosok yang kuat di sana!” Jawab Lucien dari dalam tubuhku. Wajar saja karena aku masih menggunakan Skill [Assimilation].
Di hadapanku… mungkin lebih tepatnya di bawahku terlihat sebuah kota raksasa. Tapi menyebutnya kota juga sepertinya bukan kata yang tepat. Yang jelas tempat ini memiliki banyak sekali bangunan yang terbuat dari tulang dan kulit hewan.
Ratusan ribu Barbarian berjalan kesana kemari di tempat itu.
“Tunggu…. Apakah ini yang dimaksudkan oleh Chris?” Tanyaku pada diriku sendiri.
Jujur saja aku ingin sekali memotret atau membuat videonya untuk kutanyakan kepada Chris. Tapi apa boleh buat, aku tidak memiliki kontrak khusus dengan pengembang Re:Life. Sehingga aku tidak memiliki kamera hologram seperti Angie.
Meski begitu….
“Lucien, katakan padaku. Apakah kau bisa membunuh semua pasukan barbar ini sendirian? Kurasa mereka akan menyerbu peradaban suatu saat nanti jadi....”
Dengan segera, Lucien menjawabku dari dalam tubuhku.
“Jumlah total mereka mencapai angka 180.000 lebih. Jika saja aku memiliki Stamina dan Mana yang tak terbatas, membunuh mereka semua sangatlah mudah. Tapi sayangnya aku akan kehabisan tenaga setelah mencapai angka 20.000.”
‘Gi-gila?!’
Aku memang tidak berharap banyak kepada Lucien. Sekuat apa pun dirinya, aku yakin Ia takkan mampu untuk mengalahkan semua pasukan barbar itu. Tapi mencapai angka 20.000? Dia benar-benar gila!
“Maafkan atas kelemahanku, Tuanku. Aah! Andai saja aku memiliki kekuatan yang lebih besar! Aku pasti bisa memenuhi permintaan Tuanku!”
“Sudah, hentikan Lucien. Aku memang tidak berencana untuk menang saat ini juga. Hmm… bagaimana jika seluruh pasukan Goblin yang masih berburu di tempat sebelumnya kubawa kemari? Termasuk Oliver tentunya. Apakah kita bisa menang?” Tanyaku penuh rasa penasaran.
“Mungkin saja, Tuanku. Tapi mengingat pasukan barbar ini akan memiliki posisi bertahan akan sedikit merugikan kita. Akan lebih baik jika kita yang mengambil posisi bertahan di Dungeon Perbatasan.
Ngomong-ngomong, berapa banyak pasukan yang kau miliki, Tuanku? Tentu saja yang berada di padang pasir ini.” Balas Lucien panjang lebar.
Sialan. Aku tak tahu! Aku hanya ingat bahwa jumlah mereka cukup banyak.
Puluhan ribu…. Tapi berapa?
Tak ingin mengecewakan Lucien, aku menahan diriku untuk menjawab pertanyaannya. Tapi pada akhirnya, aku memilih jalur kegelapan.
“Buahahaha! Lucien! Jika kau harus bertanya padaku setiap saat, kapan kau akan berkembang?! Kau sendiri yang harus mencari tahu jawabannya! Bukankah kau adalah pengawal pribadiku?”
‘Aaaah! Sialan! Apa yang baru saja kukatakan! Tolong ulangi hidupku dari awal!’ Teriakku penuh malu dalam hati setelah mengatakan hal itu.
Tapi hasilnya sangat jauh dari perkiraanku.
“Ma-maafkan aku yang tak tahu diri ini! Tentu saja aku harus mencari tahu sendiri! Kumohon, maafkanlah diriku yang tak berguna ini, Tuanku!”
Tak kusangka, Lucien memang sangat mudah untuk menerima semua perkataanku. Meskipun semua yang kukatakan hanyalah omong kosong. Apakah ini semua karena dia selalu mengocehkan omong kosong? Entahlah.
Segera setelah itu, aku memutuskan untuk kembali ke Dungeon Perbatasan. Jaraknya cukup jauh, mungkin membutuhkan 20 jam dengan cara terbang dalam kecepatan tinggi. Jika berjalan kaki sambil membawa seluruh pasukan Goblin itu….
“Setidaknya akan membutuhkan 8 hari perjalanan, Tuanku.” Jawab Lucien atas pertanyaanku.
Sialan…. Jaraknya terlampau jauh. Tak hanya itu, terdapat cukup banyak Barbarian Camp di sepanjang jalan. Dengan kata lain, aku harus memburu semua yang ada di sepanjang jalan selama menuju ke kota atau apalah ini.
“Baiklah, kita akan segera kembali Lucien. Aku juga akan memanggil lebih banyak lagi monster.”
Aku… lebih tepatnya Lucien mengendalikan tubuhku untuk terbang dengan kecepatan tinggi. Itu karena aku selalu terjatuh saat mencoba terbang. Perjalananku untuk menggunakan sayap nampaknya masih cukup panjang.
...***...
__ADS_1
“Terimakasih atas informasimu, Eric.” Ucap Chris sambil membolak-balikkan kertas yang barusan kuberikan.
Aku telah menyusun sebuah laporan pengamatan mengenai keberadaan pemukiman Barbarian, adanya Barbarian tipe Monster yang melakukan respawn dan lain sebagainya. Tentu saja sebagian besar informasinya berasal dari Lucien.
“Lalu…. Siapa orang yang ada di sebelahmu itu?” Tanya Chris sambil menatap orang itu.
“Lucien. Dia adalah pengawal pribadiku mulai dari beberapa waktu yang lalu.”
"Ah... jadi begitu. Baiklah kemudian untuk rencana kita berikutnya...."
Setelah itu, aku dan Chris segera membahas mengenai pemusnahan pasukan barbar yang ada di pemukiman raksasa itu. Mereka semua merupakan NPC. Dengan kata lain, mereka tidak akan respawn setelah dibunuh.
Meskipun pada awalnya aku mengusulkan untuk menyerang mereka, tapi pada akhirnya Chris memutuskan bahwa lebih baik untuk bertahan. Tentu saja di Dungeon Perbatasan.
Beberapa poin pembahasan terpenting adalah pembangunan benteng yang akan mengelilingi Dungeon Perbatasan, jumlah pasukan yang akan dikirim oleh Chris, serta masalah suplai makanan dan minuman. Termasuk juga tempat tinggal.
Chris menginginkan agar pasukan yang Ia kirim tinggal dan berlatih di Padang Pasir di wilayah Timur itu. Oleh karena itu, aku perlu membangun tempat tinggal yang layak untuk mereka.
Permasalahan dana akan diurus oleh Chris. Itu semua karena pengeluaran yang diperlukan untuk pembangunan ini terlalu besar bagiku.
Sedangkan permasalahan tenaga kerja akan diurus olehku.
“Tenang saja, Eric. Kerajaanku masih memiliki cukup banyak dana untuk itu. Jika kurang, aku bisa menjual beberapa asetku di dunia nyata hahaha!”
Meskipun diskusi yang berjalan cukup berat, tapi aku mampu mengikutinya berkat kehadiran Lucien. Ia membantuku dalam memahami hal yang tak pernah ku mengerti.
Lucien yang memahami semua topik diskusi menjelaskannya dengan baik kepadaku.
Sungguh, kurasa aku memilih pengawal pribadi yang sangat tepat. Dengan keberadaannya, aku tak harus merepotkan Elin lagi. Lagipula Elin telah memiliki banyak sekali tanggungan dalam pembuatan Dungeon Treasure.
‘Kreeek….’
Di balik pintu itu terlihat sosok Neo dan Alice.
“Chris, maaf aku terlambat. Terdapat sedikit kendala dengan beberapa kapten pasukan dan aku harus… huh? Siapa itu?”
“Ah, itu tak apa Neo. Perkenalkan, dia adalah Lucien. Pengawal pribadi Eric.” Jawab Chris.
Tapi Neo nampaknya tak mendengarkan perkataan Chris sama sekali.
Bagaimana lagi, Ia telah pingsan sesaat setelah mengintip status milik Lucien.
...***...
Wilayah Teokrasi Julia.
Padang Rumput Yulean, sebelah Utara Pegunungan Alpa.
Tanah terbentang luas dengan rerumputan sejauh mata memandang. Sesekali dapat dijumpai pohon yang tumbuh sendirian. Hewan ternah berlarian kesana kemari dengan bebas tanpa ada yang membelenggu.
Jika diterjemahkan menjadi kalimat yang sederhana maka…. Padang Rumput Yulean merupakan sebuah tempat yang sangat nyaman untuk bersantai.
Tapi kali ini….
“Kusarankan padamu untuk meninggalkan Tanah Suci milik Dewi Julia, wahai musuh umat manusia.” Ucap seorang gadis dengan rambut berwarna biru muda, Lorelei.
“Kukuku…. Kau pikir aku akan menjawab ‘Ya, maaf aku akan segera pulang ke rumah’ hah?! Buahahaha!!!” Teriak seorang Pria dengan rambut putih, Evan.
Di belakang Evan nampak sosok 13 iblis dengan wujud menyerupai manusia. Semuanya nampak sangat kuat. Setidaknya mereka berada di atas level 200 dan memiliki lebih dari 50 Growth Point.
__ADS_1
Sedangkan Lorelei?
Gadis itu hanya berdiri sendirian di tengah padang rumput yang luas ini.
Lorelei nampak mengenakan zirah jenis Full Plate Armor dengan corak berwarna putih dan biru yang melindungi hampir seluruh tubuhnya. Sedangkan sebagai pelindung kepala Ia hanya mengenakan sebuah Tiara, sebuah perhiasan yang indah.
Kedua tangannya yang berlapis zirah besi itu memegang sebuah pedang yang cukup panjang dengan corak ombak berwarna biru. Julia’s Sword.
Penampilannya sungguh sangat anggun.
Akan tetapi, suasana hening menyelimuti mereka semua. Tak ada yang berbicara. Mereka hanya menatap satu sama lain untuk saling mengukur kekuatan.
Setelah beberapa saat, Lorelei mulai berbicara.
“Kau takkan bisa mengalahkanku, wahai musuh umat manusia. Tidak selama Dewi Julia masih melindungiku dan tanah ini.” Ucap Lorelei dengan tatapan penuh iba. Entah apa yang Ia rasakan terhadap musuh di hadapannya.
“Buahahahha! Gadis kecil! Memangnya apa yang bisa kau….”
‘Slaash!’
Semua itu terjadi pada saat Evan masih tertawa seperti orang gila. Sebuah tebasan cahaya melesat dengan sangat cepat dari kejauhan.
‘Prook!’
Tangan kiri Evan yang sebelumnya bergerak kesana kemari seiringan dengan tawanya, kini telah jatuh di tanah.
[Anda telah menerima 68.353 damage!]
[Anda telah menerima damage yang sangat besar!]
[Anda menerima efek Stun selama 2 detik!]
[Tangan kiri Anda telah terpotong!]
[Anda tidak memiliki darah!]
[Efek Bleeding tidak akan aktif!]
Seketika setelah kemunculan notifikasi itu, wajah Evan yang sebelumnya penuh dengan kebahagiaan karena tertawa puas kini telah hilang sepenuhnya. Ia melirik tangan kirinya yang telah terjatuh di tanah.
Kini raut wajahnya dapat dideskripsikan dengan satu kata.
Kebencian.
Mata merah miliknya memelototi gadis itu. Bahkan Evan juga mulai menggertakkan giginya. Tangan kanannya mulai mengepal dengan kuat. Dari mulutnya, muncul perkataan yang dengan jelas menggambarkan suasana hatinya saat ini.
“Bocah sialan…. Aku pasti akan membunuhmu!”
...___________________________________...
...[Sebelum lanjut membaca]...
...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...
...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...
...[Tak ada ruginya bagi kalian]...
...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...
__ADS_1