
Segera setelah Log Out, aku keluar dari dalam kapsul. Jujur saja setelah bermain selama 10 jam lebih, aku merasa sangat lelah dan lapar.
‘Mungkin sebaiknya aku makan dulu sebelum menghubungi Elin.’ Pikirku dalam hati sambil keluar dari kamarku.
“Ah! Kau sudah selesai bermain, Kak?” Tanya adikku, Rina saat melihatku keluar dari kamar.
“Ya, aku memutuskan untuk keluar sebentar untuk menghubungi temanku.” Balasku sambil mengambil minuman di kulkas.
“Hmm? Teman? Apakah orang yang bernama Elin itu?” Tanya Rina sambil menyipitkan matanya.
“Ya, dia baru saja dikalahkan di sana. Makanya dia tidak akan bisa Log In selama 24 jam.”
“Sepertinya orang bernama Elin itu sangat lemah.” Jawab Rina sambil tersenyum sinis.
“A-apa kau bilang?! Dia itu kuat dan juga pintar dalam membuat rencana!”
Rina hanya tersenyum seakan mengejek ketika mendengar jawabanku lalu melanjutkan makannya. Aku pun memutuskan untuk ikut makan nasi goreng yang telah dibuat.
“Soal permainanku lupakanlah, Rina. Sekarang bagaimana sekolahmu?” Tanyaku sambil menyantap makanan yang ada di hadapanku.
“Semuanya lancar kok. Tenang saja. Aku selalu mempertahankan peringkatku meskipun tertinggal 2 bulan lebih di sekolah.” Jawab Rina dengan santai.
Ya. Meskipun terdapat beberapa kejadian di masa lalu, Rina tetap mampu bergerak maju. Ia juga masuk ke kelas eksklusif itu. Semua kebutuhannya juga telah kupenuhi.
“Ah, ngomong-ngomong kak. Tadi teman kakak kemari. Ryan? Aku lupa namanya tapi dia mengajakmu untuk ikut reunian kelas SMA kakak.”
“Hah? Reunian? Bahkan ini belum genap 8 bulan kami semua berpisah?” Jawabku heran.
“Memangnya aku tahu? Aku hanya menyampaikannya saja.”
“Ah, benar juga.”
Kami berdua pun kembali berada dalam kesunyian.
Ayah dan Ibu sedang pergi keluar kota untuk berlibur selama beberapa minggu. Akulah yang menyarankannya. Mengingat kedua orangtuaku sudah cukup tua, aku menyarankan mereka untuk beristirahat dari pekerjaannya dan mengambil liburan. Tentu saja aku yang menangani seluruh biaya mereka.
‘Bzzztt! Bzztt!’
Terdengar suara ponselku bergetar dan saat aku melihat ada apa, ternyata Elin yang mengirimkanku pesan.
[Pengirim : Elina]
[Erik! Inquisitor sangat berbahaya! Aku tidak tahu kapan kau akan Log Out tapi kumohon berhati-hatilah!]
“Siapa kak? Elin itu ya?” Tanya adikku yang seakan tak punya hal lain untuk dipikirkan.
“Ya.” Jawabku singkat.
Aku pun segera membalas pesan dari Elina. Atau mungkin lebih nyaman jika kupanggil Elin karena telah terbiasa.
__ADS_1
[Kepada : Elina]
[Tenang saja, aku sudah Log Out. Aku rasa dia takkan menemukan Dungeon secepat itu. Ngomong-ngomong itemku sudah jadi dan….]
Aku pun menceritakannya panjang lebar melalui pesan singkat hingga ponselku menerima panggilan.
[Ryan Memanggil]
“Sialan. Kenapa banyak sekali orang yang menghubungiku pada waktu yang bersamaan?” Ucapku sambil menerima panggilan itu.
“Halo, Ryan. Ada apa?”
“Ah! Erik! Bagaimana kabarmu?”
“Aku baik. Kurasa aku tak perlu menanyakan kabarmu kan, Tuan Direktur?” Tanyaku sambil tersenyum.
Benar saja, setelah lulus dari SMA, Ryan menerima modal dari orangtuanya untuk mendirikan perusahaan. Kini Ia memimpin perusahaannya sendiri yang terpisah dari perusahaan orangtuanya. Meskipun, kedua perusahaan itu saling bekerjasama karena milik Ryan masih skala kecil.
Meskipun dia cukup bodoh di sekolah, Ryan memiliki kharisma dan kemampuan penentuan keputusan yang sangat kuat. Membuatnya menjadi seorang pemimpin yang hebat.
“Hahaha! Bisa saja kau! Ngomong-ngomong, bagaimana dengan reuninya? Apakah kau akan ikut?” Tanya Ryan.
“Eh? Entahlah, mungkin aku rasa aku tidak perlu….”
“Kenapa? Apa kau masih takut dengan mereka? Tenang saja aku akan menemanimu!”
Sebelum menjawab, aku menoleh ke arah Rina untuk meminta bantuan. Memahami wajahku yang cukup memelas, Rina menganggukkan kepalanya.
“Ah, terimakasih. Baiklah Ryan. Aku akan ikut. Kapan reuni itu akan diadakan?”
“Sekitar satu setengah bulan lagi. Tepatnya pada malam tahun baru. Untuk lokasinya aku akan mengabarkannya nanti.” Jawab Ryan.
“Hah? Bukankah masih lama? Kenapa harus memberitahunya sekarang?!”
“Aku perlu menghitung jumlah tamu yang akan hadir untuk keperluan konsumsi dan lain-lain. Itu karena acara akan diadakan di salah satu vila milik Ayahku. Aku ingin semuanya berjalan lancar. Jadi apakah kau akan sendiri?”
“Ah soal itu…. Aku ingin mengajak adikku apakah bisa? Te-tenang saja aku juga akan membayar….”
Belum sempat menyelesaikan perkataanku, Ryan segera memotongnya.
“Hahaha! Tak usah kau khawatirkan hal sepele seperti itu. Aku akan mengurus soal biaya untukmu. Tenang saja!” Jawabnya dengan suara yang cukup keras.
“Tapi aku….”
“Tenang saja! Kalau begitu, sudah dulu ya! Sampai jumpa akhir tahun nanti!”
Dan begitulah, Ryan dengan segera menutup panggilannya.
“Sialan. Padahal aku sekarang sudah bisa membayar sendiri.” Ucapku setelah meletakkan ponselku di meja.
__ADS_1
“Bukankah itu hal bagus Kak? Lumayan kan biayanya bisa dialokasikan ke tempat lain.” Jawab Rina mendengar perkataanku.
“Tempat lain? Contohnya?”
“Aku. Hehe….” Balasnya sambil tersenyum dengan sangat lebar.
‘Hah…. Dasar.’
“Kau tahu kan Kak? Aku juga ingin mencoba bermain Re:Life. Dengan uang saku yang kumiliki aku tidak tahu jika….”
“Ya, ya, ya. Kau bisa gunakan rekeningku untuk itu. Sudah tau tempatnya kan? Sekarang aku mau tidur sebentar.” Jawabku dengan nada agak kesal. Bagaimana tidak, aku berharap adikku tidak ikut-ikutan bermain sepertiku. Itu karena aku tidak tahu hingga kapan Re:Life dapat bertahan.
Bisa jadi akan ada VRMMORPG baru yang lebih baik beberapa tahun lagi dan semua Player Re:Life tidak dapat menghasilkan uang lagi.
Setelah mencuci piring dan gelasku, aku segera mandi dan tidur. Sungguh cukup melelahkan jika bermain Re:Life hingga 10 jam lebih setiap harinya.
...***...
“Erik bodoh! Kenapa dia malah santai-santai?! Dia harusnya paham jika Dungeonnya sedang dalam bahaya kan?! Apakah dia tidak takut kehilangan kemampuannya dalam menghasilkan uang? Arrrggghh!!! Dasar!!!” Teriak Elina dengan kesal di kamarnya.
Pada salah satu sisi kapsul miliknya terlihat angka dengan warna merah.
[23:42:51]
“Aaaarrrghh!!! Inilah kenapa aku tidak ingin bekerjasama dengan orang bodoh!” Teriak Elina.
“Tapi….”
Seketika Elina terdiam.
“Melihat statusnya yang saat ini… Apakah dia masih membutuhkanku? Ia bahkan sudah tidak perlu lagi Mana Link milikku.”
Elina kemudian mulai sadar. Bahwa apapun yang terjadi, dirinyalah yang membutuhkan kekuatan partnernya dan bukan sebaliknya.
“Erik juga semakin memahami cara memanfaatkan skillnya setiap hari. Ia juga memiliki banyak bawahan yang cerdas. Mereka semua juga memiliki kesetiaan mutlak kepada Erik. Bukankah aku hanyalah benalu baginya?” Ucap Elina sambil memperhatikan dirinya di cermin.
Rambut hitam yang menyentuh pundakknya nampak begitu lurus dan indah. Matanya yang kecil, hidung yang mungil serta bibir yang tipis membuatnya nampak begitu manis. Meskipun Ia tak memakai make up sekalipun.
Tubuhnya persis seperti yang ada di dalam Re:Life. Tinggi badan yang hanya mencapai 154 cm serta berat badan 43 Kg semakin membuat orang bertanya-tanya. Apakah gadis kecil ini memang berumur 21 tahun?
“Dasar Erik bodoh. Apakah dia tidak sadar bahwa aku hanya memanfaatkannya?” Ucap Elina sambil menyentuh wajah kecilnya di cermin itu. Nampak senyuman kecil yang terlihat sedih di pantulan cermin itu.
...___________________________________...
...[Sebelum lanjut membaca]...
...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...
...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...
__ADS_1
...[Tak ada ruginya bagi kalian]...
...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...