The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 260 - FFA PvP 13


__ADS_3

'Zraaaassshh!!!'


Panah yang telah diperkuat dengan api dan petir itu mengenai tepat di tangan kiri Rose, menghancurkannya hingga tak tersisa.


Meski begitu, Rose tidak mati. Ia hanya menerima damage yang sangat fatal karena passive skill yang Ia peroleh yaitu [Survival] membuatnya selamat dengan 1 Health Point saja.


Ia dengan segera membatalkan sihir serangannya dan menggantinya dengan sihir penyembuh untuk dirinya sendiri.


Eric yang seakan tak percaya akan apa yang baru saja terjadi telah bersiap untuk menembakkan anak panahnya yang berikutnya


Tapi semua itu telah terlambat.


Robert yang telah menyingkirkan Angie, kini berlari dengan sangat cepat ke arah Eric dan telah mengayunkan pedangnya.


"Sial!"


Eric secara refleks mengeluarkan perisai dari Inventorynya dan mengenakannya di tangan kirinya.


'Klaaaaang!! Wuooossh!'


Benturan antara pedang milik Robert dengan perisai besi milik Eric itu terdengar dengan sangat keras.


Eric yang tak mampu menahan seluruh kekuatan Robert langsung terlempar jauh hingga jatuh ke dalam jurang. Perisainya juga hancur berkeping-keping setelah menerima tebasan milik Robert itu.


[Anda telah menerima 13.291 damage!]


[Health Point Anda telah berkurang drastis!]


[Passive Skill Ranger telah berhasil menahan efek Stun dan Paralysis!]


Notifikasi yang cukup buruk itu muncul di hadapan Eric.


Tak memperdulikan Eric yang entah masih selamat atau sudah mati, Robert dengan segera berlari ke arah Rose sambil mengeluarkan sebuah ramuan berwarna merah yang sangat indah.


Di sisi lain, Eric saat ini masih terperosok jauh ke dalam jurang. Lokasinya berdekatan dengan tempat Angie jatuh. Meski hampir saja mati, Eric masih memiliki sekitar 5% Health Point yang tersisa.


Ia mampu menghindari kematian karena refleksnya yang cukup cepat.


"Benar-benar gila!" Teriak Eric sangat kesal setelah berhenti di bagian terbawah dari jurang itu.


Kini, Eric berada di sebuah ngarai yang jauh di bawah permukaan tanah. Kegelapan yang menyelimuti ngarai ini cukup mengerikan bagi semua orang. Tapi ada suatu hal yang jauh lebih mengerikan dan menakutkan bagi Eric.


"Kalau begini aku akan gagal memperoleh uang 14 Triliun Rupiahku!!!"


Tanpa Ia sangka, terdengar balasan atas teriakannya.


"Siapa saja.... Tolong...."


Seketika, seluruh bulu kuduk Eric berdiri. Meski hanya sebuah permainan, Eric masih tetap merasakan kengerian di balik suara yang menyeramkan itu.


"Monster? NPC? Tidak...."


Tapi setelah berpikir sejenak, Eric menyadarinya.

__ADS_1


Ia segera berlari dengan secepat mungkin ke arah sumber suara.


"Benar! Ini adalah sebuah game! Pasti setelah menolong orang itu aku pasti akan memperoleh...."


Eric seketika terhenti, melihat apa yang ada di hadapan seorang pemuda itu.


"Grooooaaaarrr!!!"


Seekor minotaurus yang begitu besar dan kekar itu nampak telah siap untuk mengayunkan kapak besarnya.


Eric dengan segera menyembunyikan dirinya dengan skill kamuflase dan juga Stealth.


Ia menahan nafasnya agar sangat sulit untuk terdengar.


Rasa teror memenuhi pikiran Eric setelah melihat sosok monster yang ada di hadapannya.


'Level 400? Yang benar saja?!'


Entah keberuntungan atau kesialan, Eric bisa melihat level dan juga sebagian kecil status lawannya karena kemampuannya sebagai seorang pemanah membutuhkan mata yang tajam.


Tapi kini....


'Duaaaaarrrr!!!'


Pemuda yang ada di hadapan Minotaur itu terbelah dua dan menjadi cahaya putih.


"Grrrrr!!"


'Aku yakin, hadiah yang diperoleh akan sangat besar!'


Tapi pikiran dangkalnya itu berubah seketika setelah menyadari bahwa Minotaur itu telah berada di belakangnya.


'Zraaassshh!'


Ayunan kapak besar yang sangat cepat itu berhasil dihindari oleh Eric dengan miris. Jika saja reaksinya terlambat bahkan 0.1 detik, maka kepalanya telah melayang di udara.


'Sialan!'


'Tap! Tap! Tap!'


Eric segera melompat ke depan dan membuat jarak dengan Minotaur itu.


'Dia bahkan bisa melihat diriku yang masih dalam kondisi bersembunyi? Bagaimana mungkin?!'


Eric segera mengeluarkan busurnya dan bersiap untuk memanah.


Tapi bahkan sebelum mengambil anak panahnya, Minotaur itu telah berada tepat di hadapan Eric sambil melayangkan tinjunya yang begitu besar dengan tangan kirinya.


'Bruuukkk!'


"Kuuaaagghh!!!"


'Braaaak! Srooookk!'

__ADS_1


Eric terlempar begitu jauh hanya dengan pukulan sederhana itu.


Meski begitu, Ia berhasil selamat dengan menahan pukulan itu menggunakan busurnya yang terbuat dari Mithril itu.


Kini, busur yang telah menyelamatkan nyawanya itu telah patah menjadi dua bagian dan tak lagi bisa digunakan.


Tanpa berpikir, Eric segera memutuskan untuk kabur dari tempat ini. Ia melompati batuan yang ada di sisi ngarai yang gelap ini satu per satu.


'Tap! Tap!'


Sesekali, Eric membalikkan pandangannya untuk melihat monster itu.


Di dasar ngarai itu, terlihat sosok Minotaur yang hanya berdiri dengan tenang sambil melihat Eric yang berusaha kabur dari tempat ini.


...***...


"Uuh.... Pria sialan itu. Kenapa dia bisa begitu kuat? Kurasa jawabannya memang level?" Ucap Angie pada dirinya sendiri yang saat ini tengah terkapar di sungai.


Aliran deras yang mengaliri tubuhnya serta membasahi semua pakaiannya itu seakan tak mengganggunya sama sekali.


Bahkan Ia malah terlihat tenang di bawah aliran sungai yang deras itu.


"Tapi daripada dua orang itu.... Eric. Sepertinya aku tak salah menilaimu. Menjadi seorang pemanah yang bahkan mampu menyaingi Camilla yang merupakan seorang atlit panahan sejak muda dalam waktu yang singkat? Kau benar-benar menarik!"


Angie mengatakan semua itu sambil tersenyum lebar di bawah aliran deras sungai itu.


Setelah beberapa saat tersenyum pada dirinya sendiri, Ia segera berdiri dan mengeluarkan sebuah pedang satu tangan yang terlihat begitu biasa itu.


Angie nampak mengayunkannya beberapa kali seakan sedang mencoba membiasakan dirinya dengan pedang itu.


Setelah memantapkan pikirannya, Angie segera berlari ke arah pohon tertinggi yang ada di sekitar tempat ini.


"Sekarang, dimana kau Eric? Kau tahu kita pasti kalah jika bertemu dengan dua orang gila itu lagi kan?" Ucap Angie sambil melihat ke segala arah, memperhatikan perubahan sekecil apapun yang terjadi.


Setelah beberapa saat memantau....


"Ah, itu dia. Hmm.... Jadi dia jatuh di dalam jurang itu?" Ucap Angie sambil segera turun dari pohon itu dan berlari ke arah Eric.


'Tap! Tap! Tap!'


Eric yang menyadari keberadaan seseorang di dekatnya segera bersembunyi di balik pepohonan dengan dua skill yang saat ini menjadi favoritnya.


Tapi setelah mengetahui sosok yang mendekatinya adalah Angie, Ia segera melepaskan skill bersembunyinya itu.


"Ah, kau ya? Kupikir siapa. Baguslah karena kita bisa berkumpul lagi setela...."


Tanpa di sangka-sangka, apa yang dilakukan oleh Angie jauh melampaui bayangannya. Saat ini, Angie baru saja menjatuhkan bom atom sekaligus mengibarkan bendera pernyataan perang.


"Yoooo Eric! Senang berjumpa denganmu lagi! Selama di dunia virtual, hal seperti ini tak masalah kan?" Teriak Angie sambil memeluk Eric dengan sangat erat.


Di dunia nyata....


Elin sedang tertidur pulas tanpa mengetahui pernyataan perang yang baru saja diberikan kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2