
...Kerajaan Farna...
...Kota Forgia...
...Malam Hari...
Beberapa menit setelah teriakan Banshee yang memekikkan telinga seluruh penduduk yang ada di Ibukota Kerajaan Farna ini….
Terlihat sosok seorang Pria yang mengenakan jubah hitam keunguan sedang berjalan di sebuah gang yang gelap. Jubah itu menutupi hampir seluruh tubuhnya dan hanya memperlihatkan wajahnya yang lesu itu.
Dengan matanya yang berwarna merah menyala serta rambut seputih salju yang cukup panjang itu, Ia berjalan dengan tenang meskipun terdengar teriakan Banshee yang begitu keras.
Akan tetapi, setelah beberapa saat berlalu….
“Sialan. Tidak bisakah aku mengumpulkan informasi dengan tenang? Aku hanya ingin menemui salah satu mata-mata vampir milik Eric!” Teriak Pria itu dengan tatapan yang begitu mengerikan ke arah sumber suara.
Pada saat itu juga, Ia nampak menarik pedang yang selama ini disarungkan di pinggangnya.
Sebuah pedang satu tangan dengan bilah kehijauan yang cukup gelap itu nampak bersinar di tengah gelapnya malam hari. Tanpa menunggu lama, Pria itu segera melompat ke sebuah bangunan yang cukup tinggi.
Setelah sampai di atap bangunan itu, Ia segera mengarahkan pandangannya kesana kemari seakan sedang mencari sesuatu. Matanya yang berwarna merah itu mulai bercahaya dan nampak bersinar di tengah gelapnya malam ini.
Hanya dalam beberapa puluh detik….
“Aku menemukan kalian!” Ucap Pria itu dengan keras. Meski begitu, Ia sama sekali tak mendengar ucapannya sendiri karena debuff Tuli yang diterimanya.
Pria itu dengan segera melompat dan berlari sekuat tenaga ke arah Utara. Dengan pedang hijau yang ada di tangan kanannya, Ia berlari melompati bangunan demi bangunan dengan kecepatan yang di luar nalar manusia biasa.
‘Tap! Tap! Tap!’
Pada saat itulah, kejadian yang sama sekali tak diduga oleh ketiga orang Anggota Guild Salvation telah terjadi.
...***...
...Kota Forgia...
...Distrik Utara...
Kini teriakan Banshee itu telah terhenti.
Semua orang selain ketiga orang penyusup yang berasal dari Guild Salvation ini menerima efek tuli yang sangat menghambat komunikasi.
“Bagus! Bukankah suasana sekarang menjadi cukup meriah! Lihatlah orang-orang bodoh itu berteriak kesana kemari seakan orang lain bisa mendengarnya!” Teriak Sophia dengan senyuman yang begitu lebar.
“Jika saja kau tidak segila itu, pasti banyak orang yang akan menyukaimu kau tahu?” Balas Garve dengan nada menyindir.
“Sekarang aku bisa membantai mereka kan?!”
Tapi pada saat mereka sedang berbahagia….
‘Sraassshh!!!’
[Anda telah menerima 85.124 damage!]
[Tubuh Anda telah mulai meleleh karena efek Asam!]
__ADS_1
[Anda akan menerima 1.500 damage per detik!]
“A-apa maksudnya ini?!” Teriak Richard kebingungan setelah melihat notifikasi yang muncul di hadapannya. Tentu saja, itu karena sebuah tebasan pedang itu mampu mengurangi Health Point sekitar 10% miliknya.
Berbeda dengan Richard, kedua orang yang lain nampak segera memahami situasinya dan mencari posisi yang menguntungkan untuk pertarungan.
Sophia yang merupakan seorang penyihir segera berlindung di balik tubuh besar Garve. Sementara itu, Garve yang merupakan seorang ahli beladiri segera memindai lokasi sekitar untuk mencegah serangan dadakan seperti barusan.
“Apa yang kau lakukan! Segera bagikan koordinatnya kepada Alice!” Teriak Garve dengan keras, seakan sifatnya berubah dengan drastis.
“Hah?! Kenapa sekarang?! Kita tak tahu apakah Pahlawan Farna itu telah datang!” Teriak Sophia kesal.
Tapi sebelum Garve sempat membalas perkataan Sophia, orang lain telah membalasnya terlebih dahulu.
Bukan dengan kata-kata. Melainkan….
‘Pyaaarr!! Spraasshh!!’
Sebuah botol nampak terlempar dan mengenai punggung Sophia hingga pecah. Seluruh cairan kehijauan yang ada di dalamnya segera menyebar dan mengenai tubuhnya. Tak hanya perlengkapannya saja yang meleleh, melainkan juga tubuhnya.
[Anda telah terkena cairan asam pekat!]
[Tubuh Anda yang terkena cairan itu akan meleleh!]
[Anda akan menerima 34.218 damage per detik hingga waktu yang tidak diketahui!]
“Hah?! Cairan asam?!” Teriak Sophia kebingungan. Tapi Ia segera menggunakan skill [Heal] dan juga [Cure] untuk menyembuhkan luka yang Ia derita.
Tapi sungguh disayangkan. Notifikasi yang muncul di hadapannya sama sekali tak membuatnya bahagia.
[Efek Cure gagal untuk menghilangkan Debuff Asam Pekat!]
“Sialan!!!” Teriak Sophia dengan keras sebelum berusaha untuk pergi dari tempat ini.
Ia dengan segera melompat ke arah gedung berikutnya. Garve yang melihat hal itu nampak panik karena Sophia telah bertindak ceroboh.
“Tunggu! Jangan pergi se….”
‘Sraassh! Sraassh!! Sraasshh!!!’
Hanya dalam waktu kurang dari satu detik, 7 tebasan pedang telah memotong seluruh titik penting tubuh Garve.
Kedua lengannya, kedua kakinya, kemudian bagian perut sebanyak dua kali dan leher sebanyak satu kali.
Semua itu terjadi hanya dalam waktu satu detik.
[Anda telah menerima Critical Hit!]
[Anda telah menerima damage mematikan!]
[Anggota tubuh Anda telah terpotong!]
[Anda telah kehilangan tangan kanan Anda!]
[Anda telah kehilangan….]
__ADS_1
[Anda telah menerima total 748.135 damage!]
[Anda mengalami pendarahan hebat!]
[Anda akan menerima 43.850 damage per detik!]
Rentetan notifikasi yang mengerikan itu terlihat dengan jelas di hadapan Garve yang kini hanya tersisa kepala saja.
Pada saat-saat terakhir sebelum Garve mati dan dipaksa untuk Log Out, Ia melihatnya.
Ia melihat sosok yang melakukan semua itu dalam waktu yang singkat kepada kelompoknya.
‘Mata merah menyala… rambut seputih salju… serta pedang berwarna hijau… jangan katakan bahwa dia adalah?!’
Untuk memastikannya sekali lagi, Garve mencoba untuk melihat sesuatu di atas kepala Pria berjubah hitam keunguan itu.
Tapi tindakan itu hanya memperburuk situasinya.
‘Tidak ada namanya…. Bukankah nama Evan seharusnya terpampang di atas kepalanya dengan warna hitam? Lalu…. Siapa yang sedang ku hadapi ini? Apakah ini… Pahlawan Pedang Kerajaan Farna?!’
Itulah pikiran terakhir yang sempat terlintas di kepala Garve sebelum Ia dipaksa untuk Log Out. Kini, seluruh tubuhnya yang telah terpotong-potong itu berubah menjadi cahaya putih.
Di balik itu semua, terlihat seorang Pria yang berdiri dengan tenang. Di hadapannya, terdapat seorang Pria yang sebelumnya begitu bersemangat untuk membantai dan membantai. Tapi kini….
“A-aku mohon…. Si-siapapun ka-kau…. Ja-jangan bunuh a-aku….” Ucap Richard dengan tubuh yang gemetaran tak karuan. Bahkan raut wajahnya yang berusaha sekuat tenaga untuk memohon itu benar-benar menjijikkan.
Dalam dirinya, hanya ada satu emosi. Yaitu ketakutan.
‘Orang itu bisa membunuh Garve yang jauh lebih kuat dariku hanya dalam waktu satu detik?! Ti-tidak…. Aku tidak ingin menerima penalti PK!’ Teriak Richard dalam hatinya sambil melihat ke arah Pria berjubah hitam keunguan itu.
Tapi Pria itu seakan tak ingin mendengar rengekannya dan melangkah secara perlahan mendekati Richard.
‘Tap. Tap.’
Langkah yang perlahan namun kuat itu memberikan suara yang begitu mengintimidasi bagi Richard. Meski begitu, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir pucat Pria berjubah itu.
“A-aku akan memberikan segalanya! Aku mohon!! Aku tidak ingin menerima penalti PK karena kejahatanku!!!” Teriak Richard dengan sangat keras sambil bersujud ke arah Pria berjubah itu.
Setelah beberapa puluh detik Richard mengeluarkan segala kemampuannya untuk memohon ampunan, Pria berjubah hitam itu pada akhirnya berbicara.
“Maaf tapi karena kalian sendiri, aku sama sekali tidak bisa mendengar apa yang kau katakan sejak tadi! Tapi melihat tingkahmu, sepertinya kau ingin kematian yang cepat kan?! Tentu saja aku akan memberikannya!” Ucap Pria berjubah hitam keunguan itu dengan suara yang begitu keras.
Hal yang wajar.
Karena sejak awal, Pria bernama Evan itu telah menerima efek Debuff [Deaf] atau Tuli sehingga tak bisa mendengar bahkan suaranya sendiri.
Pada akhirnya, Evan menebas kepala Richard dengan skill terkuatnya sehingga membunuhnya dalam sekali tebasan.
Sementara itu, Sophia yang tadi melarikan diri telah mengirimkan pesan kepada Alice dan anggota Guild lainnya. Isi pesannya yaitu sangatlah sederhana.
[Aku akan segera mati! Pahlawan Pedang telah membantai kami semua!]
Berawal dari itulah, kesalahpahaman Kerajaan Salvation terhadap Kerajaan Farna semakin berlanjut dan bertambah parah.
Tapi tentu saja. Tak ada yang tahu identitasnya yang sebenarnya karena Evan mengenakan [Robe of the Dead] yang mampu menutupi seluruh informasinya. Termasuk nama hitam di atas kepalanya itu.
__ADS_1