The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 141 - Keresahan Dunia


__ADS_3

...2 Januari 2074...


Di sebuah layar televisi raksasa yang terpampang di alun-alun kota itu, nampak dengan jelas sebuah acara yang membahas mengenai Re:Life.


Hal yang membuat acara ini sangat ramai adalah kehadiran Nico sebagai narasumber. Wajahnya yang rupawan serta proporsi tubuhnya yang begitu ideal menjadikannya idola hampir seluruh pemain perempuan.


Bahkan banyak pemain laki-laki yang mencontoh Fashion yang dikenakan oleh Nico.


Tapi sekarang….


“A-apa yang barusan kau katakan, Nico?!” Teriak pembawa acara itu dengan terkejut. Tentu saja, itu bukanlah bagian dari script acara yang dibuat.


“Sudah kukatakan. Sekelompok pemain telah membantai seluruh penduduk pada puluhan desa di Kerajaan Farna. Parahnya lagi, Ia sama sekali tak memberi ampun kepada anak-anak dan penduduk yang sama sekali tak mampu untuk melawan.” Jelas Nico.


“Lalu, darimana kau memperoleh sumber berita ini….” Tanya pembawa acara itu.


“Beberapa Player yang sedang tinggal di beberapa desa itu merekam kejadiannya. Aku telah meminta ijin untuk menyiarkannya dan tentu saja memberi kompensasi untuk mereka. Akan segera kutayangkan di layar.” Balas Nico.


Kini, layar televisi itu tidak diisi dengan sosok Nico dan pembawa acara. Melainkan, sebuah video dari dalam dunia Re:Life tepatnya pada suatu pedesaan.


Video itu dimulai dalam keadaan yang sangat kacau.


“Aaaaah!!!”


“Tidaak!!!”


“Tolong! Setidaknya biarkan anakku….”


‘Slassh!! Jlebbb!!”


Terlihat pemandangan yang begitu mengerikan. Warga desa nampak berusaha kabur sekuat tenaga. Sedangkan yang tidak bisa kabur? Mereka hanya bisa memohon ampunan atas nyawa mereka.


Meski begitu….


‘Slaassh!!!’


Terlihat beberapa orang membantai semuanya. Meskipun, jumlah anggota kelompok ini belum diketahui secara pasti. Yang jelas….


Di akhir video, terlihat bahwa Player yang merekam seluruh kejadian ini diketahui oleh seorang Pria berambut putih.


“Kau merekam? Baguslah, katakan ini pada seluruh dunia. Jika kalian tak ingin mati sia-sia, segeralah pergi dari Kerajaan Farna.” Ucap Pria dengan nama ‘Evan’ di atas kepalanya.


Segera setelah itu, player yang merekam kejadian ini mati ketika pedang berwarna hijau itu menebas kepalanya.


Video itu berakhir dengan sosok Pria berambut putih dengan jubah hitam itu meninggalkan tubuh sang Player yang mulai menjadi cahaya putih.


Kembali ke studio….


“I-ini kan?!” Ucap sang pembawa acara penuh rasa terkejut sekaligus ngeri.


“Seperti apa yang kukatakan, Pria bernama Evan itu sangat berbahaya dan membunuh semuanya yang Ia lihat. Oleh karena itu, kita seharusnya ….”


Acara itu pun terus berlanjut dengan Nico yang berusaha mengajak para Player untuk menghentikan Evan.


Tapi respon para Player bertolak belakang dengan keinginan Nico.


“Kurasa aku harus segera pergi meninggalkan kerajaan terkutuk itu.”


“Kau benar. Bagaimanapun, Kerajaan itu telah berakhir. Sekarang ditambah kehadiran orang yang membantai apapun yang Ia lihat?”

__ADS_1


“Kurasa aku akan pindah ke Kekaisaran Avertia….”


“Bukankah Pria bernama Evan itu juga telah meminta kita untuk pergi?”


“Kau benar!”


Para Player telah membulatkan tekadnya. Mereka semua yang masih bertahan di Kerajaan Farna telah memutuskan untuk pindah ke Kerajaan lainnya.


Tentu saja, hal ini sesuai dengan yang diinginkan oleh Evan.


Tanpa adanya Player, maka takkan ada yang bisa menghentikan seluruh tindakannya. Dengan begini maka….


...***...


...3 Januari 2074...


...Di Sebuah Rumah Sakit...


“Uh…. Dimana ini?” Ucapku setelah berhasil membuka mataku untuk pertamakalinya setelah sekian lama.


“Hm? Kau akhirnya tersadar juga, Erik. Sungguh, apa yang sebenarnya kau lakukan di sana hingga menjadi seperti ini.” Balas seorang Wanita dengan tubuh yang cukup kecil, Elin.


“Aku…. Ah! Tanggal berapa ini?!” Teriakku terkejut karena mengingat suatu agenda.


“3 Januari 2074. Tenang saja, aku yang telah mengisi acara Grand Opening apartemen dan Mall itu. Sekarang, kau beristirahatlah Erik. Aku akan memanggil dokter untuk kembali memeriksamu.” Ucap Elin sambil mengecup keningku.


Jujur saja, aku sangat bahagia mengetahui kekasihku sebaik ini kepadaku.


“Jangan lupa, aku akan memasukkan itu semua ke daftar hutangmu.” Lanjut Elin sambil tersenyum yang seakan mengejekku.


“Baiklah, berapapun akan kubayar. Terimakasih banyak, Elin.” Balasku sambil tertawa.


Setelah itu, Elin pergi untuk memanggil dokter dan memeriksa kondisiku. Pemeriksaan berlangsung cukup lama dengan berbagai tes yang diberikan oleh dokter itu kepadaku.


Terlebih lagi, tubuhku yang tak menerima asupan air dan makanan serta tak beristirahat selama hampir 2 hari itu menyebabkan kondisiku semakin parah.


“Jadi artinya….” Ucapku dengan senyuman yang cukup lebar.


“Kau akan baik-baik saja. Setelah masa pemulihas selesai, kau bisa meninggalkan rumah sakit ini Erik. Kuharap kau takkan mengulangi hal itu lagi.” Balas dokter itu sambil tersenyum.


“Syukurlah, kau tidak mengalami hal buruk apapun, Erik. Lagipula, kenapa kau menerima Quest semacam itu.” Ucap Elin sambil menggodaku.


“Ya, kupikir itu adalah Quest sekali seumur hidup yang harus kuambil pada saat itu juga hahaha….”


Di kejauhan, nampak salah seorang pegawai dari kantor Re:Life tersenyum. Segera setelah itu, Ia berjalan meninggalkan tempat ini.


‘Syukurlah kau baik-baik saja, Erik. Terlebih lagi karena kau berhasil menyelesaikan Quest yang seharusnya mustahil…. Kami akan mempersiapkan sesuatu yang menarik untukmu kedepannya. Aku menantikanmu di Kompetisi Internasional berikutnya, Erik.’ Ucap pegawai itu dalam hatinya.


...***...


...5 Januari 2074...


Setelah menjalani masa pemulihan, aku akhirnya bisa meninggalkan rumah sakit ini.


“Selamat tinggal makanan hambar! Aku pulang, daging yang gurih!!!” Teriakku dengan keras segera setelah meninggalkan kamarku.


Beberapa pasien yang melihat atau mendengarku nampak sedikit kesal. Entah kenapa mereka merasa kesal. Bukankah mereka seharusnya berbahagia karena salah seorang pasien telah sembuh?!


“Erik. Apa yang akan kau lakukan setelah ini?” Tanya Elin sambil merangkul lengan kiriku.

__ADS_1


“Hmm…. Kurasa pertama-tama aku akan menyelesaikan ketertinggalanku dalam Grandia Group. Aku harus mengetahui berbagai kondisi terkini dan juga….”


Mendengarku kembali mengocehkan berbagai hal yang menyangkut pekerjaan, Elin nampak tersenyum bahagia.


Bukan hanya karena aku sudah sehat.


Tapi juga karena Ia tak lagi perlu bekerja ekstra untuk menggantikanku.


...***...


...9 Januari 2074...


Akhirnya aku telah menyelesaikan semua urusanku sebagai CEO di Grandia Group.


Tak hanya itu, aku juga terus mengikuti seluruh berita perkembangan dumia Re:Life melalui ponselku saat istirahat.


'Pria bernama Evan ini.... Kurasa menjalin kerjasama dengannya cukup menarik. Terlebih lagi, aku harus melakukan sesuatu terhadap rantai para Dewi di dunia itu cepat atau lambat. Mungkin saja jika bekerjasama dengannya....' Ucapku dalam hati sambil memperhatikan ponselku yang saat ini sedang menayangkan berita mengenai Necromancer bernama Evan.


Saat ini, Grandia Apartment telah memiliki ratusan pembeli yang mengantri. Hasilnya? Setengah dari kapasitas unit apartemen yang ditawarkan telah habis. Sedangkan sisanya masih dalam proses negosiasi.


Tak hanya apartemen, kios-kios penjualan yang ada di Grandia Mall juga telah habis dipesan oleh berbagai produk-produk dari perusahaan ternama. Aku yang hanya tertidur di rumah sakit pada saat itu merasa cukup bersalah karena membiarkan Elin kerepotan mengurus semua itu sendiri.


Keuntungan bersih yang diperoleh dari seluruh transaksi yang saat ini telah dilakukan mencapai angka Rp. 973.451.950.000 atau dengan bahasa yang lebih sederhana, 973 Miliyar. Belum termasuk setengah lagi unit di apartemen yang masih dalam proses negosiasi.


Sedangkan untuk sewa kios di Grandia Mall sendiri, Grandia Group akan memperoleh keuntungan bersih sebesar 100 Milyar lebih per tahunnya.


Belum lagi pendapatan dari kios eksklusif yang dijalankan oleh kedua orangtuaku. Tentu saja, mereka masih menggeluti dunia Fashion.


Dengan kata lain, seluruh biaya yang kukeluarkan dalam pembangunan kompleks Grandia ini telah kembali. Bahkan Grandia Group masih memiliki sisa lebih dari Rp. 300 Miliyar.


Sungguh, aku tidak paham bagaimana ini bisa terjadi. Tapi yang jelas ini semua telah berjalan dengan sangat baik.


“Mungkin aku akan membangun hotel berikutnya? Bagaimana jika rumah makan mewah? Kurasa aku akan membuat rancangan usahanya nanti malam. Sekarang….” Ucapku pada diriku sendiri.


Aku mempercepat langkah kakiku menuju ke sebuah kapsul di samping tempat tidurku itu. Sebuah mesin yang mampu mengubah diriku menjadi seperti ini.


...__________________________...


...[Author's Note]...


...[Harap dibaca ya pembaca2 budiman]...


...Jadi karena kesibukanku di Real Life semakin padat, maka aku putuskan (dengan berat hati) untuk mengubah frekuensi update TDM menjadi 1 chapter per hari jam 08.15 tiap harinya....


...INGET...


...INI AKU DENGAN BERAT HATI PAKE BANGET...


...Karna kalo aku nulis 2chap per hari aku bakal bisa dapetin pendapatan minimum, tp dengan ini bakal hangus juga kan....


...Pengennya sih tancep gas terus, tp gmana lagi....


...Buat yg ga sabar, saran aku cek novel ini seminggu sekali aja biar bisa baca banyak langsung....


...Buat yang kreza krezi up kmaren kan bisa up gini gini halah, makan ni lanjaran sama kawat. Kurang wa tambahin cangkul sama gembor....


...Nulis pake otak dan tenaga, kaga tinggal ngeludah trus jadi tulisan yg enak dibaca....


...Oke?...

__ADS_1


...Sipsip, see ya later!...


...And as always, terimakasih buat para pembaca setia yang selalu mendukung sampe sekarang....


__ADS_2