
Segera setelah meninggalkan Cathy di tempat yang aman dan juga meninggalkan lebih dari 5.000 Slime, aku memutuskan untuk Log Out. Bagaimana pun, aku telah bermain hampir melebihi jadwal harianku.
Aku membuka mataku dan terbangun di sebuah ruangan dengan atap yang cukup biasa.
Meskipun kini aku telah tinggal di sebuah gedung yang cukup besar dan memiliki luas tempat tinggal yang 5 kali lipat lebih besar dari rumahku sebelumnya, aku tetap menyimpan sikap sederhanaku.
Tentu saja, alasan utamanya adalah karena sebagian besar uangku telah habis untuk membangun dua gedung Apartment dan sebuah Mega Mall itu. Tapi alasan kedua adalah aku belum terbiasa untuk hidup bermewah-mewahan.
Aku pun memutuskan untuk makan sebelum kembali bekerja di kantor. Meskipun, kantornya hanya berjarak beberapa lantai di bawah tempat tinggalku ini.
“Ah, Kakak sudah selesai bermain?” Tanya Adikku yang kebetulan juga sedang mengambil makanan di dapur.
“Ya, aku harus kembali bekerja. Kau sudah pulang sekolah?” Tanyaku kepada adikku.
“Baru saja. Hari ini sekolah berakhir cukup awal yaitu pukul 16.00.” Jawab adikku singkat.
Setelah itu, kami berdua menikmati makan bersama sambil menonton acara televisi kesukaan adikku.
“Tidak!!! Oppa!!! Kenapa kau tidak sadar bahwa sebenarnya Ae Cha sangat mencintaimu?!” Teriak adikku histeris setelah melihat adegan penuh drama di layar televisi itu.
‘Syukurlah, aku senang kau bisa hidup bersantai setelah menjalani kehidupan yang sulit sebelumnya Rina. Meskipun…. Apa-apaan acara ini?! Bukankah dramanya terlalu dibuat-buat?! Lalu apa-apaan dengan tingkah adikku ini?!’ Teriakku dalam hati sambil tersenyum sekaligus marah pada saat yang bersamaan.
Ya, adikku ketagihan menonton Drama Korea semenjak mulai hidup nyaman di sini.
Setelah selesai makan dan membersihakn diriku, aku bersiap untuk kembali bekerja.
...***...
...29 Desember 2073...
Beberapa hari telah berlalu....
Aku telah kembali ke dunia Virtual ini setelah melakukan rutinitas harianku. Bagaimana pun, Re:Life masih merupakan tempat penghasil uang terbesarku sebelum Grandia Group mulai beroperasi penuh.
Aku menghabiskan waktu selama beberapa hari ini untuk menyiapkan tempat kerja bagi Cathy. Sungguh, permintaannya untuk Fasilitas Penelitian ini sangatlah menguras sumberdaya.
Selain itu, Cathy saat ini telah memiliki gelar Earl sama seperti Lucien dengan tingkatan Epic. Hal yang wajar bagi petinggi baru di Dungeon Origi.
“Bagaimana perkembangannya, Cathy?” Tanyaku kepadanya yang terlihat masih sibuk melakukan penelitian mengenai Slime. Meskipun….
“Swemwuwanywa bwuaik swajwa twuankwu.” Balasnya dengan penampilan yang sangat tidak sesuai dengan perkataannya.
__ADS_1
Di seluruh tubuhnya nampak puluhan Slime yang menempel dan bergerak kesana kemari. Tubuh Slime yang seperti jeli itu hanya menambah kengeriannya saat melilit tubuh Cathy. Tak hanya itu, Cathy juga nampaknya memakan beberapa bagian Slime.
Mulutnya yang kecil itu terlihat sedang mengunyah bagian tubuh dari Slime. Atau sebaliknya? Entahlah.
“Apa yang sebenarnya kau lakukan…. Tapi aku percaya padamu. Hanya saja, berhati-hatilah pada saat bekerja. Summon, Vampire.” Ucapku sambil mengarahkan lenganku kedepan.
Di balik cahaya yang muncul di atas tanah itu, terdapat sosok empat orang Vampire.
“Kalian bertiga akan menjadi bawahan langsung dari Cathy. Turuti apapun perintahnya. Sedangkan yang satu lagi akan ikut denganku. Kalian mengerti?” Ucapku kepada keempat Vampire yang saat ini masih berlutut di hadapanku.
“Kami mengerti, Tuanku.”
“Assimilation.” Ucapku singkat sambil mengarahkan lenganku ke arah salah seorang Vampir itu. Dengan segera, aku kembali berubah menjadi seorang Half Demon.
“Tuan Eric…. Apa maksudnya ini?” Tanya Cathy kebingungan.
“Seperti perintahku. Kau bebas meminta mereka melakukan apapun. Mereka juga berperan untuk menjagamu dari kesalahan yang mungkin terjadi selama melakukan penelitian ini.” Ucapku.
“Baiklah jika kau memaksa. Kalian bertiga! Mulailah untuk mencicipi rasa dari beberapa Slime itu. Lalu laporkan hasilnya kepadaku!” Teriak Cathy dengan penuh semangat dan wajah yang sedikit sombong meskipun di sekujur tubuhnya dipenuhi oleh Slime.
Aku yang sudah lelah untuk menanggapinya segera pergi meninggalkan tempat ini.
Tujuanku? Untuk kembali ke Kuil Naga Gurun itu. Bagaimana pun, aku tak bisa menghapuskan rasa penasaranku. Bahkan jika aku mati, kehilangan level bukanlah masalah yang besar bagiku. Restriksi Log In yang mungkin terjadi hanyalah sekitar 2 minggu saja.
...***...
...Ancient Dragon Temple...
...-Ruderioss-...
Pemandangan yang ada di dalam kuil ini hampir serupa dengan pemandangan yang ada di zona reruntuhan Dungeon Treasure. Di sisi kanan dan kiri nampak pilar-pilar tinggi yang menopang bangunan di dalam tebing ini. Meskipun, sebagian besar telah mulai runtuh termasuk tanah yang ditopangnya.
Di ujung ruangan raksasa ini, nampak dengan jelas sebuah altar yang nampaknya merupakan altar persembahan kepada Naga Gurun, Ruderioss.
Aku pun mulai berjalan mendekati altar itu.
“Hmm…. Tidak ada yang istimewa?” Ucapku pada diriku sendiri setelah melihat-lihat sekeliling.
Tapi semua itu berubah setelah aku menyentuh altar yang ada di ujung ruangan ini.
‘Wuuuoossshh!!!’
__ADS_1
Tekanan angin yang sangat kuat tiba-tiba muncul dari altar itu.
Aku berusaha dengan sekuat tenaga untuk menjaga mataku tetap terbuka untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Tapi apa daya, angin yang muncul begitu kuat hingga aku terpaksa memejamkan mataku beberapa kali.
Saat aku tersadar….
“Dimana ini?!” Teriakku sambil melihat sekelilingku.
Tak ada apapun yang bisa dilihat. Hal yang wajar karena tempat ini sangatlah gelap.
“Glowing Fire!” Ucapku sambil mengangkat tangan kiriku ke atas. Dengan segera, muncul sebuah pijaran api yang menerangi tempat yang gelap gulita ini.
Seketika, mataku terbuka lebar setelah mengetahui apa yang ada di hadapanku.
‘Grrrr….’
Sebuah bola mata yang jauh lebih besar daripada tubuhku itu mentapku dengan tajam.
Mata itu memiliki iris yang berwarna keemasan dengan pupil yang tegak lurus. Ukurannya mungkin mencapai 3 meter lebih. Sedangkan bagian tubuh yang ada di sekitar matanya terlihat seperti sisik reptil.
“Manusia. Apa yang kau lakukan di kuilku?” Tanya makhluk yang hanya terlihat matanya saja itu.
‘Jangan katakan bahwa dia adalah Naga Gurun itu?!’ Pikirku dalam hati. Dengan segera, aku mencoba untuk menjawab sebaik mungkin.
“Aku menemukan tempat itu secara kebetulan beberapa waktu yang lalu. Kemudian aku memutuskan untuk mencoba menjelajahinya….” Ucapku dengan tubuh yang sedikit gemetar. Bahkan tanpa berpikir pun aku tahu bahwa aku takkan selamat apapun yang terjadi jika melawannya.
“Lalu dimana sahabat kecilmu itu? Aku melihatmu bersama dengan seorang Vampir beberapa waktu yang lalu. Bukankah Ia sudah mengingatkanmu untuk menjauhi Kuil ini?” Tanya makhluk itu kembali kepadaku.
‘Sialan. Jika aku menjawab bahwa aku meninggalkannya di tempat yang aman maka…. Tunggu dulu!’ Pikirku dalam hati dengan cepat.
“Ia tak mau memasuki Kuil ini. Oleh karena itu, aku kembali kemari seorang diri karena telah dipenuhi oleh rasa penasaran.” Balasku singkat.
Makhluk itu mengedipkan matanya seketika setelah mendengar jawabanku.
“Manusia selalu dipenuhi oleh keserakahan atas harta. Itulah kenapa kau kembali kemari kan.” Ucap Makhluk itu dengan mata yang tertutup.
Aku sedikit ketakutan dengan situasi ini. Aku mulai berpikir bahwa makhluk ini mungkin saja dapat membaca pikiran sama seperti Neo. Hal yang wajar jika memang Ia memiliki kekuatan yang setara dengan Dewa di dunia ini. Oleh karena itu….
“Kau benar. Aku mencoba untuk mencari harta apapun yang mungkin ada di tempat ini. Sudah pengetahuan umum bagi manusia bahwa sebuah reruntuhan pasti menyimpan suatu harta.” Jelasku dengan suara yang tegas dan tatapan tanpa keraguan sama sekali.
“Kejujuran yang bagus. Meski begitu, bukankah kau sudah punya cukup banyak kekuatan dan harta, wahai Penguasa Dungeon?”
__ADS_1
Dengan kalimat terakhir itu, aku tersadar.
Aku telah salah karena mengabaikan peringatan Cathy.