The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 227 - Permasalahan Serius


__ADS_3

Aku terus menyaksikan sosok Deus yang seharusnya begitu ceria dan dipenuhi dengan candaan itu. Kini, Ia benar-benar nampak seperti seorang Ratu Iblis yang begitu kejam dan kuat.


Puluhan Fell Beast yang disimpan di penjara bawah tanah Koloseum ini telah berubah menjadi tumpukan daging yang hampir saja kehilangan nyawanya.


Mereka dikembalikan ke dalam penjara dan segera disembuhkan oleh para vampir yang memiliki sihir penyembuh.


Semua itu dilakukan demi terus menerus memanfaatkan berbagai jenis monster itu untuk hiburan para vampir di dalam Dungeon ini.


Setelah semuanya selesai, Deus nampak meninggalkan arena dengan wajah yang cukup serius seakan terdapat suatu masalah.


Beberapa saat kemudian, Ia menghampiriku. Tentunya, beberapa pelayan dan pengawal pribadi Deus terus mengikutinya dan membawakan kursi untuknya.


Kami berdua pun duduk menghadap ke arah arena sambil menantikan pertandingan yang selanjutnya.


Aku sedikit takut untuk membuka pembicaraan.


Bagaimana tidak....


Deus yang saat ini sama sekali tak menunjukkan senyuman di wajahnya yang begitu menawan itu. Suatu hal yang sangat tidak mungkin terjadi mengingat betapa riangnya sifat Deus yang kukenal.


Beberapa menit berlalu dengan keheningan yang menyelimuti ruangan ini. Kami berdua cukup menikmati pertandingan berikutnya dimana seorang vampir harus melawan tiga manticore sekaligus dengan tangan kosong.


Akan tetapi pada saat aku masih terdiam untuk menikmati pertarungan dan suasana keheningan ini, Deus mulai berbicara.


"Eric.... Apakah kau takut denganku?" Tanya Deus dengan nada yang cukup datar. Sebuah nada yang cukup jarang kudengar darinya.


Dengan segera aku pun membalasnya.


"Jujur saja iya, aku sedikit takut. Tapi bukan kepada kekuatanmu, melainkan kepada perubahan sikap yang terjadi padamu, Deus."


"Ah, jadi begitu." Balas Deus dengan nada datar bahkan tanpa berpaling untuk menatap mataku.


"Deus. Katakanlah, apakah ada sesuatu yang sedang mengganjal pikiranmu? Jika aku kurang mampu memenuhi harapanmu maka...."


Deus segera memotong perkataanku dengan tatapannya yang sedingin es.


"Eric. Apa yang akan kau lakukan jika salah seorang raja iblis kuno muncul di dunia ini, dan dia menawarkanmu kekuatan yang sangat besar? Sebuah kekuatan yang bahkan mampu memaksa para pahlawan kuno pelindung dunia ini untuk keluar...." Ucap Deus masih dengan nada datarnya.

__ADS_1


"Hah? Maaf aku tidak paham dengan pertanyaanmu. Kemunculan raja iblis kuno? Menawarkan kekuatan?" Tanyaku sekali lagi untuk melakukan konfirmasi.


Tapi Deus hanya terdiam dan kembali memalingkan wajahnya untuk melihat pertarungan yang ada di arena.


Waktu terus berlalu. Sedangkan Deus masih tetap diam meski mendengar pertanyaanku dengan begitu jelas.


Pada akhirnya, aku memutuskan untuk segera menjawab pertanyaannnya.


"Jika hal itu benar terjadi, maka aku akan menolak tawarannya."


"Alasannya?" Tanya Deus singkat.


"Aku sudah memutuskan hanya akan mendengar perkataanmu dan Leviathan saja. Selain itu, aku takkan percaya dengan tawaran mencurigakan seperti kekuatan besar itu.


Meskipun memang ada, maka yang perlu kulakukan sangat sederhanya. Aku hanya perlu mengalahkannya dan mengambil kekuatan itu untuk diriku sendiri, tanpa harus tunduk di bawah perintah raja iblis." Jelasku cukup panjang lebar.


Mendengar hal itu, Deus nampak membuat senyum tipis yang telah sekian lama Ia sembunyikan. Bersamaan dengan hal itu, Ia berkata.


"Meskipun aku sedikit tak suka dengan wanita bersisik itu, tapi Ia sudah berada di bawah kuasamu. Dan itu adalah hal yang sangat luarbiasa bagi manusia sepertimu, Eric."


Aku sama sekali tak paham bagaimana seharusnya aku merespon perkataan Deus.


"Aku telah mengirim Lucien untuk mengejar Evan. Tapi persembunyian mereka begitu rapi sehingga sulit untuk ditemukan. Jika Evan terus mengikuti perkataan Lilith, kemungkinan besar salah satu Raja Iblis kuno terkuat akan muncul di dunia ini dalam keadaan yang sempurna.


Tidak.... Mungkin Ia akan jauh lebih kuat daripada kondisinya saat ini di dunia bawah. Kekuatannya akan menjadi begitu luarbiasa hingga memaksa seluruh pelindung di dunia ini untuk segera keluar."


Tentu saja aku sangat terkejut mendengar hal itu. Evan? Lilith? Raja Iblis terkuat di dunia bawah? Apa-apaan semua itu?


"Maafkan aku, Deus. Tapi bagaimana kau bisa tahu bahwa Evan akan melakukan hal sebodoh itu? Dia sendiri bilang ingin menaklukkan dan menguasai dunia ini, bukan menghancurkannya." Tanyaku kepada Deus dengan keheranan.


Segera setelah mendengar pertanyaanku, Deus pun menjawab.


"Lilith adalah bawahan langsung dari salah satu Raja Iblis Kuno yang dulu mengalahkanku. Bahkan pada saat itu, dia masih menahan kekuatannya. Iblis itu adalah kematian itu sendiri.


Abaddon, salah satu Raja Iblis Kuno yang memiliki kemampuan sihir yang jauh melebihi diriku dan juga sosok yang paling dekat dengan gelar Kaisar Iblis."


Setelah mendengar perkataannya, aku hanya bisa menganga seakan tak mampu mempercayainya.

__ADS_1


"Ja-jadi selama ini Evan?!"


"Ya, dia ditipu oleh Lilith selama ini. Biar bagaimanapun, Lilith adalah sosok yang begitu licik dan juga kuat. Kemungkinan wanita itu telah menawarkan Evan suatu kekuatan jika menuruti perkataannya." Balas Deus dengan segera.


"Lalu bagaimana bisa Raja Iblis bernama Abaddon ini menjadi jauh lebih kuat dengan dirinya yang saat ini? Bukankah dunia manusia ini dilindungi oleh berkah dewa dan dewi sehingga memperlemah para iblis?" Tanyaku kebingungan.


"Jawabannya tentu saja.... Lilith ingin mempersembahkan kekuatan Evan kepada Tuannya yaitu Abaddon."


'Klaaaangg!'


Gelas perak yang menjadi tempat minumku itu terlempar cukup jauh karena aku memukul meja ini dengan begitu kuat.


"Sialan! Aku harus segera mencegah Evan untuk...."


"Apa yang kau pikir akan kau lakukan?" Tanya Deus dengan segera berdiri tepat di hadapanku.


"Bukankah semua itu terlalu berbahaya untuk dibiarkan?! Kita harus segera...."


"Tidak. Biarkan saja. Lagipula kekuatan Necromancer milik Evan itu jauh melampaui kekuatanmu. Jika Ia berkembang sedikit lebih cepat dari ini, kemungkinan Ia bukanlah tandinganmu lagi Eric.


Terlebih lagi, aku ingin membalaskan dendamku kepada Abaddon di dunia ini. Aku ingin lihat bagaimana ekspresi wajahnya ketika dipenuhi oleh rasa keputusasaan karena dikalahkan oleh para pahlawan dunia ini." Jelas Deus dengan panjang lebar.


Tapi aku masih tak bisa tenang. Bagaimanapun Evan adalah sosok yang telah kuanggap sebagai kawan.


Aku pun segera menekan beberapa tombol di jendela menu sistemku dan memilih menu 'Friend' untuk segera mencari nama Evan.


Akan tetapi, kini aku sudah tidak berteman dengannya. Besar peluangnya bahwa Evan memutus pertemanan ini secara sepihak.


'Sialan! Jika seperti ini keadaannya, seharusnya aku meminta kontaknya di dunia nyata!' Teriakku dalam hati setelah memahami kondisi saat ini.


Deus pun mendekat ke arahku dan kembali berbicara.


"Itulah kenapa aku mengirimkan Lucien, Eric. Tenangkanlah dirimu dan biarkan bawahanmu yang mengerjakan hal sepele semacam itu. Sekarang, bukankah kau seharusnya segera mempersiapkan dirimu? Kau sendiri yang bilang bahwa sebentar lagi pertarunganku di suatu kompetisi akan segera di mulai."


"Ah, sialan! Aku benar-benar lupa! Kalau begitu, sampai jumpa lagi nanti, Deus!"


Bersamaan dengan kalimat terakhirku itu dan juga senyuman manis dari Deus, kesadaranku telah kembali ke dunia nyata.

__ADS_1


Dan ini, yang menanti pada babak perempat final ini hanyalah sebuah kerja keras yang ekstrim untuk memperoleh kemenangan.


__ADS_2