
“Semuanya! Persiapkan diri kalian!” Teriak Agmar sembari berlari ke depan. Ia dengan segera menegakkan perisai besarnya untuk menahan apapun yang muncul.
Sedangkan yang lainnya?
Sang Assassin telah bersiap untuk menggunakan Skill [Shadow Movement] yang memungkinkannya untuk bergerak melalui bayangan. Kondisi ruangan yang cukup remang-remang menjadikan tempat pertarungan ini seperti tempat bermain bagi Assassin.
Sedangkan sang Bard pembawa Harpa segera memainkan lagu [Battle Rhytm] yang akan meningkatkan status seluruh anggota partynya. Peningkatan status yang terjadi yaitu Attack Power, Magic Power, Movement Speed, Stamina, dan Attack Speed meningkat sebesar 10%.
Bukan jumlah yang luarbiasa. Tapi karena hanya dengan satu lagu saja bisa meningkatkan hampir seluruh status tipe pertarungan. Hal itu membuat Bard memiliki peran terpenting sebagai ahli Buff dalam sebuah party.
Sedangkan sang pendekar pedang telah bergerak maju bersamaan dengan Agmar. Bersamaan dengan mereka, sang penyembuh telah meletakkan kameranya di samping dan bersiap untuk mendukung dua pemain garis depan itu.
Hanya ada satu orang yang terdiam di tempat.
Tapi bukan karena Ia takut. Melainkan karena Ia sedang melafalkan sihir tingkat tinggi miliknya. Sebuah sihir yang sangat mematikan dan bisa memusnahkan apapun yang dihadapannya.
“Extermination…. Ray!” Teriak penyihir wanita itu.
Seketika, sebuah lingkaran sihir berukuran cukup besar dengan warna putih muncul di hadapan sang penyihir itu. Dari lingkaran sihir itu, muncul sebuah cahaya putih yang sangat terang dan mengarah ke seorang Pria yang sedang duduk di singgasana emas itu.
'WUUUOOOOSSSHH!'
Lantai yang terlewati oleh Extermination Ray ini mulai terbakar hingga meleleh. Wajar saja karena cahaya ini memiliki suhu yang sangat tinggi.
Kekuatan sihir ini? Sangat mengerikan! Damage yang diberikan yaitu 800% dari total Magic Power penggunanya ditambah 40.000 magic damage. Kelemahannya hanyalah casting time yang sangat lama dan merupakan tipe sihir yang hanya bisa menyerang dalam sebuah garis lurus saja.
Meski begitu…. Seharusnya Pria yang duduk di singgasana emas itu menerima kerusakan yang besar. Akan tetapi….
“Dispel.” Ucap Pria itu yang tak lain adalah Eric dengan suara yang lirih.
Seketika, sinar mematikan yang mengarah kepadanya mulai menghilang. Damage yang diterima? Nol besar.
Sontak penyihir itu mulai lemas melihat notifikasi yang muncul di hadapannya. Ia bahkan mulai tersungkur di tanah karena tak mempercayai sihir andalannya akan hilang begitu saja.
Melihat hal itu, Agmar dan pendekar pedang berusaha untuk memperpendek jarak dengan Pria itu.
‘Truuk… tuk tuk….’
Sebuah permata berwarna merah nampak terlempar ke arah mereka berdua. Belum sempat keheranan ataupun melangkahkan kakinya, tiba-tiba permata itu menyala dengan terang dan akhirnya….
‘Duaaarr!!!!’
Permata itu meledak dan memberikan kerusakan yang cukup parah. Alhasil, Agmar dan sang pendekar pedang pun segera mundur untuk menyusun kembali formasi.
Sedangkan sang Assassin yang sudah berada di dalam bayangan telah bersiap untuk memenggal kepala Pria itu dengan belatinya. Ia segera melompat keluar dari dalam bayangan dan melesat dengan kencang ke arah Pria itu.
‘Klaang!!!’
Sebuah pedang besar dengan tepat menahan belati sang Assassin itu.
Sedangkan sang Pria yang duduk di singgasana emas? Ia hanya melirik ke arah sang Assassin sambil membuat senyuman yang tipis.
“Sialan! Bagaimana kau….”
Belum sempat mengutuk keadaan yang terjadi saat ini, seekor Goblin dengan perlengkapan yang cukup mengkilap itu segera mengayunkan kembali pedang besarnya.
‘Slaaaassh!!’
Tapi untungnya, sang Assassin mampu menghindar dengan cara memutar tubuhnya di udara. Sebuah gerakan yang sangat sulit dilakukan tanpa adanya kemampuan mumpuni dari Player yang memainkannya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ia segera kembali memasuki bayangan yang ada dibawahnya dan segera kabur.
“Kau baik-baik saja?” Tanya Agmar kepada Assassin itu singkat.
“Aku baik saja.” Balasnya.
Saat ini, sang penyembuh masih sibuk untuk menyembuhkan luka yang diderita oleh Agmar dan pendekar pedang.
__ADS_1
Pada saat itu juga, sang Pria yang diduga Raja Iblis itu mulai berbicara dari atas singgasana emasnya.
"Sihir kelas Unique ya, tak heran jika kalian mampu bertahan. Seorang tank, seorang pendekar pedang, assassin, penyihir, penyembuh dan satu lagi seorang bard ya. Komposisi kalian sebagai suatu party sangat seimbang. Akan tetapi, apakah level kalian juga demikian?"
Terlihat senyuman yang mengerikan serta nada yang sangat sombong dari Pria itu. Mendengar hal itu, keenam orang penakluk Dungeon mulai ketakutan.
“Benar-benar boss yang menyusahkan….” Ucap Agmar. Meski begitu, Ia tak terlalu putus asa. Pasalnya, keempat orang yang berdiri di samping Boss itu nampak pasif dan hanya melindungi sang Pria yang duduk itu.
“Kita masih punya kesempatan. Keempat orang yang ada di sebelahnya nampak tak melakukan apapun selain menjaga Pria itu.” Ucap sang Assassin.
“Kau juga berpikir demikian?” Balas sang pendekar pedang.
Meski mereka masih terlihat bersemangat, terdapat satu orang yang telah remuk hatinya, Bagaimana lagi, sihir tingkat Unique miliknya yang menjadi andalannya hingga saat ini dihentikan begitu saja.
Segera setelah beberapa saat keenam orang itu memulihkan diri dan menyusun rencana baru, Agmar memberanikan diri untuk bertanya kepada Boss itu.
“K-kau…. Siapa kau sebenarnya?” Tanya Agmar dengan suara yang sedikit bergetar.
“Aku? Heh, aku adalah seorang penguasa dari Dungeon ini!” Balas Boss itu sambil tersenyum lebar.
“Pe-penguasa…. Dungeon?!”
“Itu artinya dia adalah boss monster kan?!”
“Omong kosong! Aku belum pernah mendengar boss seperti ini sebelumnya!”
Mulai terjadi kericuhan akibat pertanyaan dari Agmar. Tapi belum sempat menyelesaikan pertikaian internal mereka, pandangan mereka menjadi kabur.
“Eh?! Dimana keempat orang yang ada….”
‘Slasssh!!’
[Kepala Anda telah terpotong!]
[Anda menerima damage fatal!]
[Anda telah mati!]
Pada saat itu juga, mereka berenam menyadari bahwa keempat orang yang sebelumnya dianggap pasif telah bergerak dengan cepat. Kini mereka berempat telah berada di belakang barisan Party penakluk dungeon itu.
Seekor Goblin dengan tubuh yang besar itu mampu menebas kepala dua orang player sekaligus dalam sekali ayunan.
Di sisi lain, Vampir Pria itu telah melontarkan sihir tingkat tinggi bahkan tanpa jeda Casting Time dan Animasi sama sekali. Hasilnya, dua orang Player telah tewas seketika.
Sedangkan Vampir wanita itu tidak melakukan hal yang istimewa. Ia hanya menggigit leher gadis pengguna Harpa itu dan menyedot darahnya hingga habis.
Lalu satu lagi monster yang ada yaitu manusia serigala. Ia memasukkan puluhan permata berwarna merah ke dalam mulut wanita penyihir yang sedari tadi menganga. Hasilnya, puluhan ledakan kecil terjadi dari dalam tubuh penyihir itu dan membunuhnya seketika.
Keenam Player anggota Party penakluk Dungeon itu mati seketika. Tanpa seorang pun yang menyadari bagaimana mereka sendiri bisa mati.
Di balik semua itu….
Terdengar sebuah tawa yang terkesan jahat.
“Hahahaha!!! Tak kusangka akan ada yang mencapai lantai ini! Sepertinya aku harus mengembangkan Dungeon ini lebih lanjut lagi!”
Segera setelah beberapa saat kematian penyembuh di anggota party itu terjadi, kamera hologram yang merekam seluruh pertempuran ini menghilang.
Pada saat itulah….
“Hah…. Sialan. Berakting seperti orang jahat melelahkan juga. Setelah pembantaian masal ini, aku naik hingga level 201? Cukup bagus!
Oliver, persiapkan Dungeon ini untuk serbuan berikutnya. Aku tak yakin kapan mereka akan kembali menyerbu tapi setidaknya kita harus menahan kedatangan penyerbu baru sampai Dungeon ini di reset esok hari.” Ucap Pria itu dengan wajah lemas.
“Baik, Tuanku! Aku akan menyiagakan beberapa pasukan goblin elit di lantai 1 hingga lantai 5.” Balas Goblin yang bernama Oliver itu.
“Lucien, kau bantu Oliver untuk mengurusi pertahanan ini. Mengerti?” Lanjut Pria itu.
__ADS_1
“Dimengerti, Tuanku.” Balas seorang Vampir Pria itu sambil menundukkan kepalanya.
“Liz dan Tasmith, ajaklah beberapa bawahan kalian untuk memungut seluruh Drop Item yang dijatuhkan oleh semua penjajah yang datang kemari. Bagi hasil Drop Item yang kalian temukan menjadi dua dan simpan setengah di Dungeon Origin dan setengahnya di Dungeon Deus. Mengerti?” Lanjut Pria itu sambil mulai berdiri dari duduknya.
Vampir Wanita dan manusia serigala Pria itu segera menjawab dengan bersamaan.
“Baik, Tuanku.”
Di hadapan Pria itu, nampak jendela menu yang menampilkan Statusnya.
[Eric]
[Ras : Human]
[Level : 201]
[Rebirth : 1]
Health Point : 230.750
Mana Point : 444.155
Stamina Point : 40.401
Attack Power : 3.618
Magic Power : 28.023
Defense : 5.231
[Status]
STR : 3.618 (+ 50%)
AGI : 2.111 (+ 50%)
INT : 10.553 (+ 275%)
VIT : 4.703 (+ 95%)
STA : 3.317 (+ 50%)
DEX : 1.206 (+ 50%)
[Growth Point]
STR : 12
AGI : 7
INT : 14
VIT : 12
STA : 11
DEX : 4
Total Growth Point : 60
Angka yang ditampilkan sedikit lebih rendah jika dibandingkan pada saat melawan Seven Star dan Golden Dragon. Hal yang wajar karena di Dungeon Deus, Pria itu memperoleh penambahan status yang sangat mengerikan dari efek Dungeon.
Meski begitu, status Pria itu saat ini sudah tergolong sangat mengerikan dan termasuk dalam jajaran 5 Top Player di dunia.
“Sekarang…. Aku akan Log Out karena aku ada rapat mendadak untuk para eksekutif. Mungkin aku takkan kembali lagi dalam waktu yang cukup lama. Aku mempercayakan semuanya pada kalian.”
Dengan kalimat terakhir itu, sang Pria yang berakting menjadi Boss Dungeon ini mulai menghilang. Ialah Eric, sang Penguasa Dungeon. Seorang Dungeon Master di dunia virtual ini.
__ADS_1