
...Stadion Kompetisi...
Segera setelah aku keluar dari kapsulku, sorak soray yang begitu meriah terdengar hingga memekikkan telingaku.
Jujur saja melihat hal itu kini membuatku cukup sedih.
'Jadi ini rasanya kekalahan setelah melakukan perjuangan sebaik mungkin, ya? Kurasa aku telah menyakiti perasaan banyak pemain di kompetisi ini.' Ucapku dalam hati sambil segera menundukkan kepalaku.
Aku tak ingin seorangpun melihat wajahku yang begitu menyedihkan saat ini. Termasuk juga sorotan kamera yang saat ini masih sibuk meliput sang pemenang yaitu Angie.
Sambil mempercepat langkah kakiku untuk meninggalkan panggung ini, aku juga terus menyingkirkan dan mengenyahkan semua orang yang berusaha untuk meliputku.
Tapi tanpa ku sangka, seseorang nampak menggenggam tanganku seakan ingin memaksaku tetap disini.
"Maaf tapi aku ingin segera...."
Aku terkejut setelah melihat sosok orang yang menghentikan langkah kakiku.
"Erik. Kau seharusnya berbahagia karena mampu menahan serangan yang bahkan mampu menembus bumi itu. Jika ada seseorang yang harus malu, itu adalah diriku sendiri." Ucap Angie dengan senyumannya yang begitu ramah itu.
Mendengar perkataan Angie, semua orang yang kini telah mengerubungi diriku dan Angie, termasuk juga para wartawan, nampak menganggukkan kepala mereka.
"Itu benar, Erik. Saat ini, kau adalah sorotan utamanya. Sosok Player yang bahkan mampu menahan serangan dari seorang pendekar tombak legendaris. Bukankah itu sungguh luarbiasa?!" Teriak salah seorang wartawan.
"Aku sudah melihat berita itu menjadi 'Best Seller' tahun ini!" Teriak wartawan yang lain sambil tersenyum puas hingga meneteskan air liurnya.
Jujur saja aku sedikit jijik melihat wartawan yang barusan. Tapi mengesampingkan hal itu....
"Angie, terimaka.... Eh?!"
"Kau benar-benar luarbiasa, Erik! Aku tak menyangka akan ada orang yang mampu memojokkanku seperti ini bahkan dengan skill set yang jauh di bawahku! Jika saja kau belum memiliki istri maka aku sudah pasti akan menikahimu!" Teriak Angie sambil memelukku dengan sangat erat di hadapan seluruh kamera.
Mengabaikan berita mengenai pendekar tombak legendaris ataupun player yang bisa menahan tombak yang bahkan mampu melubangi bumi itu....
Aku sangat yakin kejadian barusan yang akan menjadi masalah terbesar bagiku.
Semua itu diperjelas dengan senyuman 'nakal' para wartawan yang sedang merekam hal itu.
"Ini dia! 'Scoop' besar!"
Yah, mendengar hal itu saja sudah membuatku siap untuk mati dibunuh Elin.
...***...
...Ruang Tunggu Pemain...
"Kenapa kau melakukan itu?!" Teriakku kesal di dalam ruang tunggu yang hanya berisi aku dan Angie itu.
"Ma-maaf. Hanya refleks saja. Hehehe...." Ucap Angie sambil mengalihkan pandangannya dariku.
__ADS_1
"Ka-kau.... Apakah kau tahu apa yang akan terjadi padaku? Hah.... Aku sudah bisa membayangkan wajah kemarahan Elin...." Ucapku sambil menghela nafasku.
Mendengar keluh kesahku, Angie justru melontarkan perkataan yang semakin tidak masuk akal.
"Kalau begitu, maka biarkan aku ikut bersamamu untuk menemui Elin! Dengan begitu aku bisa menjelaskan segalanya secara langsung!"
Perdebatan ringan pun terjadi antara diriku dengan Angie. Meski perdebatan cukup alot, pada akhirnya Angie menang dengan cara 'mengikutiku' pulang dan menemui Elin untuk menjelaskan segalanya.
Segera setelah itu, kami berdua mulai membahas masalah pekerjaan.
"Angie. Aku telah menawarkan jasamu dan kelompokmu itu kepada Arlond. Dia dengan senang hati akan menerima permintaanmu dan bahkan memberikan salah satu lokasi terbaik di Kerajaan Farna.
Akan tetapi, dia ingin bertemu denganmu dan kelompokmu secara langsung terlebih dahulu di Istana Kerajaan Farna. Semua itu untuk membahas mengenai detail kontrak kerja dan batasan-batasannya." Jelasku kepada Angie dengan rinci.
Mendengar hal itu, Angie nampak sedikit memperlebar pandangannya.
"Hmm.... Tak kusangka kau memiliki hubungan yang sedekat itu dengan orang nomor satu di Kerajaan Farna. Tapi mengabaikan hal itu, aku sangat tertarik dengan tawarannya. Mungkin aku akan segera menemuinya bersama dengan kelompokku malam ini." Balas Angie sambil meminum wine langsung dari botolnya itu.
Aku pun cukup senang karena Angie menerima dengan baik mengenai hal itu.
Pada saat kami berdua masih mengobrol mengenai kerjasama antara Rebellion dan juga Kerajaan Farna, seseorang masuk dengan tiba-tiba.
Ia adalah seorang wanita dengan tubuh yang tak terlalu tinggi. Rambut hitamnya yang hanya mencapai lehernya itu nampak sedikit menutupi mata kirinya.
Dengan dandanan kaos dan celana yang serba hitam dengan corak kemerahan, wanita itu nampak duduk di salah satu kursi yang cukup jauh dariku dan Angie.
"Maksudmu Assassin yang sedang menjadi perbincangan sejak Elin mengundurkan diri itu? Sepertinya iya, memangnya kenapa?" Tanyaku sambil berbisik ke arah Angie.
Wanita itu nampak cukup tenang sambil menonton televisi dengan wajahnya yang terlihat malas.
Tapi tanpa kuduga, bisikan kami berdua yang cukup pelan itu terdengar olehnya.
"Angie ya? Dan juga penyihir gadungan yang tak pernah menggunakan kekuatannya yang sebenarnya. Kenapa membicarakanku diam-diam seperti itu?" Tanya Cecilia bahkan tanpa melirik ke arah kami berdua.
"Ti-tidak ada. Hanya penasaran saja mengenai sosok yang baru saja kemari." Jawabku dengan sedikit terpatah-patah.
Tapi Cecilia nampak menghiraukan jawabanku dan kembali berbicara.
"Tak seperti penyihir gadungan itu, aku akan menghabisimu dan mengambil buku kuno itu untuk diriku sendiri, Angie." Ucap Cecilia sambil segera berdiri dan berjalan mendekati Angie.
"Heh.... Perkataan yang menarik. Mari kita lihat apakah kau bisa merealisasikan perkataan sebesar itu." Balas Angie dengan senyuman dan tatapan yang tajam.
Tanpa membalas, Cecilia segera membalik badannya dan berbicara pada dirinya sendiri.
"Suasana udara disini sangat tidak nyaman karena adanya penyihir gadungan itu. Kurasa aku akan mencari tempat menonton tv yang lain sambil menunggu pertandinganku.'
Dan dengan begitu, Cecilia segera meninggalkan ruangan ini sama misteriusnya seperti kedatangannya.
"Apa maksudnya dengan semua itu?" Tanya Angie sambil tersenyum tipis keheranan dengan tingkah Cecilia.
__ADS_1
Akan tetapi aku sedikit memikirkan mengenai sosoknya. Pada saat itulah aku segera teringat bagaimana dia bisa mengetahui bahwa aku tak menggunakan kekuatan penuhku.
Dia adalah salah satu anggota Seven Star.
Aku pernah bertarung dengan kelompok itu tapi aku tak melihat kemampuannya secara langsung. Termasuk Cecilia.
Sebelum aku berkata apapun, Angie segera berbicara pada dirinya sendiri.
"Kau memang menarik, Erik. Mengenai sosokmu yang sebenarnya aku takkan bertanya lebih lanjut tapi.... Bisakah kau menjanjikan satu hal untuk menutup mulutku ini?" Tanya Angie diluar topik pembicaraan ini.
Setelah mendengar permintaannya, aku hanya bisa keheranan.
Bagaimana tidak, dia ingin aku membantunya dalam melakukan penaklukan salah satu boss yang bahkan bagi kelompok Angie masih sulit untuk dikalahkan.
"Jika kau menerima dan mampu menyelesaikan permintaan kami ini, tak hanya kami akan merahasiakan sosokmu yang sebenarnya. Tapi kami juga akan membantumu untuk banyak hal di masa depan nanti. Kau hanya perlu menyebutkannya dan kami akan segera memenuhinya.
Tentu saja, syaratnya cukup sederhana. Kau membantu kami mengalahkan boss itu dan seluruh jarahannya akan menjadi milik kami."
Jujur saja sebuah permintaan yang sangat menggiurkan. Akan tetapi....
'Apakah aku bisa mempercayainya?'
Setelah beberapa saat berpikir, aku pun jatuh pada satu kesimpulan akhir.
"Tak ada pilihan lain bagiku selain menerimanya kan? Baiklah, kalau begitu bersiap-siaplah untuk menerima permintaan berat dariku." Balasku sambil mengulurkan tanganku.
Angie menjabatnya dengan segera dan membalas.
"Selama itu tidak mengganggu rencanaku, maka dengan senang hati kami akan memenuhinya."
Aku pun segera pulang dan kembali ke hotel.
Tanpa menyadari bahwa itu adalah keputusan yang salah.
Seharusnya....
Aku memilih untuk berputar-putar dan tidak kembali ke hotel.
Kenapa? Itu semua karena....
"Erik. Berani-beraninya kau membawa wanita lain, terlebih lagi wanita itu kemari segera setelah mengetahui aku sedang hamil." Ucap Elin sambil memberikan tatapan sinis di belakangku.
Saat aku menoleh ke belakang, terlihat sosok Angie yang sedang menyamar dengan menggunakan masker dan sebagainya.
Dengan penampilannya yang sangat mencurigakan itu, Angie mengucapkan kalimat yang memiliki daya hancur setara dengan bom atom.
"Elin, aku kemari untuk menjelaskan semuanya!"
Aku lupa bahwa dia bilang akan mengikutiku pulang.
__ADS_1