
Di tengah padang rumput yang luas ini, pertarungan antara diriku dengan Angie akan segera dimulai.
Saat ini Angie terlihat sedang mengecek kondisi berbagai senjatanya. Jujur saja apa yang Ia lakukan terkesan memamerkan skill dan kemampuannya sehingga membuat lawan dapat menyusun strategi.
Akan tetapi, refleks dan kemampuan improvisasi Angie dalam pertarungan adalah yang terbaik di seluruh dunia ini. Bahkan beberapa ahli menyebutkan bahwa refleks seperti itu hanya bisa diperoleh akibat pertemuan antara bakat dengan kerja keras.
'Bisakah aku menang melawan monster sepertinya?' Tanyaku dalam hati sambil menggenggam erat Oracle Staff milikku.
Hitung mundur terus terjadi selama aku berpikir. Hingga akhirnya....
...[GO!]...
'Srraaatt!'
Seperti yang kuduga, Angie segera melesat dengan sangat cepat ke arahku setelah pertandingan dimulai.
Bahkan kecepatannya itu dapat menyamai kecepatan Elin.
Kemungkinan besar semua itu disebabkan oleh statusnya yang gila. Tapi aku belum bisa untuk melihat statusnya karena telah disibukkan oleh pertarungan ini.
Dengan segera, aku menggunakan salah satu skill tingkat [Rare] milikku.
'Thorn Vine!' Teriakku dalam hati sambil mengarahkan tongkat sihirku ke jalur pergerakan Angie.
'Srrruuugg!'
Perakaran tanan yang berduri segera tumbuh dari bawah tanah. Luasannya mencapai sekitar 5 meter.
'Brrruukk!! Sreeegg!'
Angie yang masih berlari dengan cepat tiba-tiba jatuh tersungkur di tanah karena perakaran yang muncul dengan tiba-tiba dari bawah tanah itu.
Melihat kesempatan itu, aku dengan segera melancarkan sebanyak mungkin serangan kepada Angie.
"Magic Barrage!"
Rentetan 60 peluru sihir itu segera melesat ke arah Angie. Seharusnya Ia akan menerima damage yang cukup fatal karena serangan ini. Akan tetapi apa yang kulihat justru sebaliknya.
'Zraat! Zraaatt! Zraaatt!!'
Angie mengayunkan tombaknya dengan sangat cepat sehingga tak hanya memotong perakaran itu melainkan juga seluruh peluru sihir yang mengarah kepadanya.
Dengan kata lain, tak ada satupun seranganku yang mengenainya kecuali perakaran berduri itu.
"Sialan!" Teriakku sambil segera berlari menjauhi Angie sambil terus menembakkan berbagai jenis sihir ke arah Angie.
Di saat yang bersamaan, aku juga terus menerus mengulang dua jenis sihir yaitu [Amplify] dan juga [Overdrive]. Lingkaran sihir merah amplifikasi itu sengaja kusimpan untuk serangan penentu.
Tak ingin memberiku kesempatan untuk kabur, Angie segera mengejarku dengan cepat.
__ADS_1
"Kau takkan bisa kabur dariku, Eric!"
Teriakan itu jujur saja membuatku sedikit ketakutan. Tapi di sisi lain aku cukup senang.
'Dengan begini maka pola seranganmu akan jauh lebih mudah untuk dibaca, Angie!' Pikirku dalam hati sambil mempersiapkan mantra sihirku.
Tepat sebelum Angie menusukkan tombaknya ke arahku....
'Stone Spear!' Teriakku dalam hati sambil mengarahkan tongkat sihirku ke belakang, bahkan tanpa melihat sama sekali.
Meski begitu, seranganku tepat sasaran.
Sebuah pilar batu yang menyerupai tombak itu muncul dari bawah tanah dengan kecepatan yang luarbiasa. Aku telah mengatur sudut kemiringannya sehingga ketika aku menghentikan dorongan [Stone Spear] itu, seharusnya Angie akan terlempar cukup jauh dan memberikanku kesempatan untuk menyusun strategi.
'Srruuuugg! Bruukk!'
Tombak batu itu mengenai tepat di bagian perut Angie. Ia nampak sedikit kesakitan karena tombak batu itu telah diamplifikasi sebanyak 2 kali. Kekuatan, ukuran dan kecepatannya tentu saja jauh berbeda jika dibandingkan dengan yang aslinya.
Terlebih lagi dengan Magic Powerku yang kini berada pada angka 200.000 lebih, tentunya akan membuat kekuatan Stone Spear itu meningkat.
"Sialan kau, Eric!" Teriak Angie kesal setelah menerima pukulan telak dari tombak itu.
Setelah beberapa saat, aku segera menghentikan dorongan tombak itu sehingga Angie terlontar cukup jauh ke arah Timur.
Notifikasi yang muncul di hadapanku memberikan cukup informasi mengenai Angie.
[Anda telah memberikan 143.249 damage!]
Hal yang wajar karena sebagai penyihir, pertarungan jarak dekat adalah hal yang paling buruk bagiku.
Beberapa puluh detik telah berlalu dan kini di ujung tongkatku telah kembali memiliki lingkaran sihir amplifikasi sebanyak satu buah.
Aku berdiam diri di tengah luasnya padang rumput ini, menanti kedatangan Angie.
'Jika Thorn Vine dapat bekerja kepadanya, mungkin saja Poisonous Thorn Forest dapat menjadi pertahanan mutlak bagi kecepatan Angie itu.' Pikirku dalam hati sambil menyiapkan lingkaran sihir amplifikasi keduaku.
Poisonous Thorn Forest merupakan versi yang lebih tinggi daripada Thorn Vine. Sebuah skill tingkat Unique yang tidak hanya menciptakan perakaran berduri, tapi juga beracun. Bahkan luasan areanya bisa mencapai lebih dari 50 meter.
Meski begitu, aku jarang sekali menggunakan sihir ini karena alasan yang sederhana.
Dalam dunia game yang sebenarnya, aku selalu memiliki dinding pertahanan seperti Lucien. Hal itu bisa memberikanku keleluasaan dalam bertarung dan menggunakan sihir tipe ofensif yang lebih kuat seperti [Extermination Ray].
Tapi [Poisonous Thorn Forest] adalah sihir tipe defensif atau pertahanan. Jika aku menggunakannya, musuh hanya perlu mundur tanpa adanya konsekuensi.
Dengan kalimat yang lebih sederhana, skill yang terlalu kaku dan kurang berguna.
Akan tetapi ceritanya akan berbeda jika berada dalam kompetisi, dimana lawan harus menyerangku atau aku akan menyerang mereka dari balik perlindungan dinding perakaran berduri dan beracun itu.
Pada saat aku masih terus menanti terlihatnya sosok Angie....
__ADS_1
'Dia datang!'
Angie terlihat berlari dengan sangat cepat menuju ke arahku. Dengan segera, aku pun mengaktifkan skill [Poisonous Thorn Forest] yang telah diamplifikasi sebanyak dua kali.
Hutan perakaran yang berduri dan beracun seketika terbentuk di sekitarku.
Ukurannya bahkan mencapai 120 meter lebih, sehingga menutupi sebagian besar area padang rumput yang luas dan datar ini.
'Kreeseekkk' Sruuugg!!'
Angie yang masih berlari dengan sangat cepat tak bisa menghentikan langkahnya tepat waktu sehingga membuatnya menabrak semua perakaran beracun itu.
Notifikasi yang muncul di hadapanku segera membuatku tersenyum.
[Anda telah memberikan 23.510 damage!]
[Anda telah memberikan 11.684 damage!]
[Target telah terkena racun!]
[Target akan menerima 1.000 damage setiap detik!]
[Target telah terkena racun!]
[Target akan menerima 2.000 damage setiap detik!]
[Target telah .... ]
Rentetan notifikasi yang muncul itu membuatku tersenyum lebar.
Akan tetapi aku tidak segera lengah. Aku pun segera mempersiapkan kembali lingkaran sihir amplifikasi untuk melakukan serangan penghabisan kepada Angie.
Sebuah skill favoritku yang hingga saat ini selalu membantu kemenanganku.
[Extermination Ray]
Dengan potensi damage yang paling tinggi diantara semua skill yang kumiliki, aku sangat yakin bahkan goresan sedikit saja dengan skill ini akan membuat Angie segera menjadi cahaya putih.
Dari kejauhan terdengar teriakan yang begitu menyeramkan bagiku.
Teriakan itu juga diiringi dengan tawa yang mengerikan.
"Buahahaha! Eric! Kau benar-benar membuatku terdesak kali ini! Aku telah heran kenapa kau tidak terbang dan bertarung di udara, tapi ternyata ini penyebabnya?! Bagus! Ini baru yang namanya pertarungan!"
Angie meneriakkan omong kosong itu seakan Ia masih bisa selamat dari situasi ini.
Akan tetapi, kini aku telah menyiapkan sebuah lingkaran sihir amplifikasi.
Yang menjadi pertanyaan adalah...
__ADS_1
'Kapan aku harus menembakkan [Extermination Ray] ini? Mengingat cooldownnya yang begitu panjang dan tak bisa tertutupi sepenuhnya oleh [Overdrive], kemungkinan aku hanya bisa menembakkannya satu kali di pertarungan yang sengit ini....'
Pada saat itu juga, pertandingan telah mendekati babak akhir.