
"Bisnis denganku? Kau bisa mengirimkan proposalnya ke Grandia Group melalui email yang tertera di website resmi kami. Sekian dan terimakasih." Balas Eric sambil berusaha berjalan melewati mereka berenam.
'Bruuk!'
Tanpa disangka, Pria berambut kecoklatan yang memiliki tinggi sekitar 190cm itu menghadang Eric. Namanya adalah William pemimpin dari semua orang itu.
"Maaf tapi kami tak bisa membiarkanmu pergi seenaknya." Ucap William dengan menatap ke bawah dengan wajah yang sombong.
Memang benar bahwa Eric memiliki tinggi tubuh yang hanya mencapai sekitar 175cm. Akan tetapi postur tubuh Eric yang saat ini sangat terlatih dan cukup berotot. Mungkin hanya karena menganggap Eric memiliki tubuh yang lebih pendek membuat William sangat percaya diri bisa mengalahkannya kapan saja hanya dengan kekuatan fisiknya.
"Hmm? Kau sengaja menghalangi jalanku? Katakan apa maumu sekarang sebelum aku membuat babak belur wajah sombongmu itu." Ucap Eric dengan tatapan yang sangat tajam.
"Masbro.... Bolehkah aku menghajar Pria itu?!" Ucap Rendy dengan wajah kesalnya. Jika urusan baku hantam, bahkan Eric sekalipun masih satu langkah di belakang Rendy.
"Tidak. Kita lihat dulu apa yang ada di balik wajah sombongnya ini. Berbicara dengan berdiri sangatlah tidak nyaman. Bagaimana jika kita pergi ke ruang tunggu sebelah?" Ucap Eric dengan senyuman tipis sambil menunjuk ke arah samping kanannya.
"Ternyata penduduk dari negara miskin itu cukup cerdas juga untuk berbicara ya?" Ucap William dengan wajah yang sangat menghina. Tapi Eric hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
Akan tetapi dalam hatinya dipenuhi dengan pikiran untuk membalikkan semua keadaan saat ini demi keuntungannya.
'Jadi ini adalah orang yang disebutkan oleh Straf? Sesuai perkataannya. Orang ini sangatlah licik. Tapi mari kita lihat, seberapa lama dia bisa mempertahankan wajah sombongnya itu."
Eric pun membuka pintu ruangan itu dan menyalakan lampu serta pengatur suhu ruangan.
Eric, Lisa dan juga Rendy duduk di sofa sisi kiri. Sedangkan William, Rose, Margrett, Robert, Antonio dan Frans duduk di sofa sisi kanan.
"Jadi percepatlah. Aku ingin segera mencari udara segar di luar gedung ini." Ucap Eric sambil memasang wajah malasnya.
"Kalau begitu aku takkan menahan diri. Aku akan mengampuni dirimu jika kau menyerahkan seluruh hadiah yang kau peroleh dalam kompetisi ini." Ucap William dengan wajah liciknya.
Mendengar hal itu, Eric hanya menghela nafasnya.
"Hah.... Kupikir apa. Ternyata hanya seorang pencuri berkedok pemain? Ternyata negara Barat sangat miskin hingga perlu mencuri dari negara miskin yang lain?" Ucap Eric dengan tatapan yang tajam sambil menyindir.
Akan tetapi William hanya tertawa puas melihat tingkah Eric.
"Hahaha! Bersantai lah selagi kau mampu Eric. Itu karena aku mengetahui rahasia besarmu." Ucap William sambil melirik ke arah Rose.
__ADS_1
Rose sendiri merupakan wanita yang sangat anggun di dunia nyata. Dengan setelan gaun merahnya yang begitu indah membuat mata siapapun bisa terperdaya oleh pesonanya.
Tentu saja hal itu sama sekali tak berpengaruh pada Eric dan Rendy.
Saat ini, Rose terlihat sedang sibuk memperhatikan suatu perangkat seperti tablet berwarna putih dengan layar hologram itu.
Sebuah alat untuk mendeteksi kebohongan yang akan dilakukan oleh targetnya. Dan tentu saja, saat ini targetnya adalah Eric.
Sementara itu, Margrett nampak sibuk merekam semua hal yang terjadi di ruangan ini dengan ponselnya.
Setelah menyadari semua hal itu, Eric segera menyusun rencana balasan yang sangat mengerikan bagi pihak Eropa itu.
"Kau tahu? Aku bisa menyeret kalian ke pengadilan jika merekam hal pribadi orang lain tanpa izin."
Mendengar hal itu, Rose langsung tersentak dan kaget. Begitu pula Margrett yang dengan segera menyimpan ponselnya.
Pada saat William melirik ke arah samping kanannya, Rose segera menggelengkan kepalanya. Hal itu menunjukkan bahwa Eric sama sekali tak berbohong perihal akan menyeret mereka semua ke hadapan meja hijau.
"Hmm.... Ternyata kau cukup cerdas ya?" Ucap William sambil sedikit menyipitkan matanya. Ia mulai menyadari bahwa orang yang dihadapinya saat ini bukanlah orang biasa yang dapat diremehkan.
Setelah diam sesaat dan memperhatikan sosok Eric yang bahkan malah terlihat sedang menyepelekan situasi saat ini dengan membersihkan lubang hidungnya, William pun dengan segera mengeluarkan kartu as miliknya.
Sesuai dugaannya, Eric nampak terkejut mendengar perkataan William. Ia terlihat sedikit melebarkan matanya.
Akan tetapi dalam hatinya justru berkata lain.
'Orang ini.... Bukankah dia terlalu ketinggalan jaman? Aku sudah lama tak mendengar julukan Summoner dari orang asing seperti dirinya.'
Dengan niatan yang jauh lebih licik daripada William, Eric justru mengikuti permainannya.
"A-apa?! Kau.... Bagaimana kau bisa mengetahui tentang hal itu?!" Teriak Eric terkejut dengan akting yang tak kalah saing dengan para aktor terkenal.
Pada saat William melirik ke arah Rose, Ia terlihat menggelengkan kepalanya. Hal yang menandakan bahwa tak ada kebohongan sama sekali di dalam perkataan Eric.
Mengetahui bahwa dirinya telah memenangkan pertarungan kata-kata ini, William pun tersenyum sangat puas.
"Kau membuat kesalahan besar dengan membantu Chris pada saat itu, Eric. Kami bahkan mengetahui lokasi persembunyianmu di dalam Pegunungan Alpa." Ucap William dengan penuh rasa percaya diri.
__ADS_1
Eric yang menyadari bahwa itu memang salah satu kesalahan besarnya pun cukup kesal. Akan tetapi, Ia tetap menjaga posturnya dan menyadari satu hal yang pasti.
Yaitu sebuah kenyataan bahwa lawan bicaranya bukanlah orang yang bisa diremehkan. Oleh karena itu, Ia mempersiapkan sebuah jebakan yang sangat sederhana.
"Bagaimana kau mengetahui hal itu, William?" Tanya Eric dengan wajah seriusnya yang tentu saja hanyalah akting saja.
"Sayang sekali aku tak bisa memberitahukan sumbernya. Tapi satu hal yang pasti, Eric. Jaringan informasiku sangatlah luas sehingga bisa mengetahui hampir semua kejadian di seluruh dunia virtual itu." Balas William dengan wajah sombongnya yang begitu layak jika dipukul sekuat tenaga.
Menyadari bahwa menarik informasi dari lawannya cukup sulit, Eric mulai terdiam dan memikirkan langkah berikutnya sambil berpura-pura panik.
William pun tak melepaskan kesempatan emas itu. Dengan cekatan, Ia juga mengeluarkan kartunya yang lain.
"Aku juga sudah tahu bahwa kau telah dikalahkan oleh pasukan suci yang dipimpin para Inquisitor itu. Lalu dengan cepat kau segera membangun kekuatan yang baru."
Mendengar hal itu, Eric menjadi sangat yakin.
'Orang ini.... Meskipun informasinya tidak lengkap tapi masih berani berbohong seperti itu dihadapanku? Menarik!' Pikir Eric dalam hatinya. Tentu saja, untuk memperlancar tindakannya, Eric masih terus berakting untuk mengikuti permainan William.
Dan dengan sebuah kalimat sederhana, William telah jatuh di perangkap terbesar Eric.
"I-itu tidak benar! A-aku berhasil mengalahkan se-semua Inquisitor dan pasukan suci itu!" Teriak Eric dengan keras serta nada yang cukup gugup.
William yang secara refleks menoleh ke arah Rose segera menyadarinya ketika melihat Rose menganggukkan kepalanya.
'Orang ini.... Kebohongannya sangat mudah sekali dibaca. Bahkan tanpa alat itu sekalipun aku tahu kapan dia berbohong!' Pikir William dalam hatinya sambil tersenyum puas seakan telah memenangkan pertarungan kata-kata ini.
Tapi di sisi lain, Eric yang melihat reaksi William justru tersenyum sangat lebar dalam hati dan menjaga wajahnya terlihat panik di luar.
'Nikmatilah rasa sombongmu itu untuk kali ini. Tapi alat pendeteksi kebohongan itulah yang akan menjadi makam bagi dirimu sendiri.' Pikir Eric dalam hatinya.
Pada saat itu juga, Eric merasa sangat bersyukur karena dipertemukan dengan Elin. Seorang mantan pembohong dan pengendali orang terhebat yang dikenal oleh Eric. Bisa belajar dari orang itu secara langsung membuat Eric yang saat ini telah melampaui gelar manipulator.
Tak hanya itu, sekolahnya dalam bidang bisnis di dunia VR itu selalu menekankan istilah Poker Face dan juga Akting. Itu karena dalam negosiasi, kemampuan menjaga raut wajah bahkan memanipulasinya adalah sebuah aset besar untuk memenangkan kontrak yang sangat menguntungkan.
Termasuk juga kemampuan untuk memprediksi pikiran lawan bicara yang sedang dihadapi.
Beberapa hal itu adalah sebuah kemampuan sederhana namun sangat sulit untuk dikuasai.
__ADS_1
Sebuah kemampuan yang menjadi bekal terbesar Eric dalam dunia bisnis yang begitu kejam.