
Eric segera memasuki kapal itu dengan perlahan. Ia bersiap akan apapun yang mungkin akan menyergapnya.
Peluang besarnya adalah monster yang mungkin berlevel 1 hingga 20.
Sebelum memasuki tempat itu, Eric mengalokasikan 10 stats point miliknya ke beberapa tempat.
[Eric]
[Ras : Manusia]
[Level : 1]
Health Point : 60
Mana Point : 20
Stamina Point : 18
Attack Power : 4
Magic Power : 2,5
Defense : 1
[Status]
STR : 4
AGI : 6
INT : 2
VIT : 2
STA : 1
DEX : 1
[Stats Point Tersedia : 0]
Tak hanya itu, Eric juga mengalokasikan 2 Talent Point awal yang diperolehnya.
[Talent]
Archery : 0
Swordmanship : 1
Spearmanship : 0
Assassination : 1
Spell Mastery : 0
Guarding : 0
Setiap Talent Point yang di alokasikan pada salah satu jenis bakat dasar, maka akan meningkatkan kekuatan dan daya serang ketika menggunakan senjata yang bersangkutan.
Selain itu, peningkatan Passive Skill seperti peningkatan damage, kecepatan gerak, Mana, Defense dan lain sebagainya juga dipengaruhi oleh Talent. Termasuk perolehan Active Skill.
Dengan kata lain, Player yang fokus pada Talent Swordmanship akan memperoleh Skill yang berhubungan dengan pedang serta meningkatkan daya hancurnya. Begitu juga dengan Talent yang lain.
Akan tetapi, saat ini Eric hanya memiliki tangan kosongnya untuk bertarung.
Oleh karena itu, Ia bergerak dengan sangat hati-hati agar tidak mati konyol bahkan sebelum pertarungan dengan pemain lain dimulai.
Pada saat Eric memasuki kapal itu....
'Kreeeek....'
Suara langkah kakinya terdengar begitu nyaring ketika menginjak lantai tua itu. Bahkan secara perlahan sekalipun.
__ADS_1
Bersamaan dengan suara itu....
'Ciiittt! Ciiitt!'
Beberapa ekor tikus yang berukuran sebesar setengah badan manusia itu bergerak mendekati Eric untuk menyerangnya.
'Sialan! Giant Rat di awal permainan?!' Teriak Eric kesal dalam hatinya. Ia pun segera menutup pintu kapal itu dan segera berlari keluar ke arah pantai.
'Senjata.... Aku butuh senjata apapun itu!' Pikir Eric dalam hati sambil terus melihat kesana kemari.
'Braaakk!'
Beberapa ekor Giant Rat itu masih mengejar Eric setelah menghancurkan pintu kayu yang sudah tua itu.
'Yang benar saja?!'
[Giant Rat]
[Level : 18]
Health Point : 1.120
Mana Point : 0
Stamina Point : 640
Attack Power : 48
Magic Power : 0
Defense : 14
Melihat status mengerikan dari tikus raksasa itu, Eric segera mempercepat langkahnya sambil mengambil batu yang berukuran sekepalan tangannya.
'Wuoosh!'
Lemparan batu itu tepat mengenai kepala tikus raksasa itu. Tapi notifikasi yang muncul di hadapannya hanya membuat Eric sangat kesal.
'Itu artinya tidak memberikan damage sekali, dasar sistem bodoh!'
Beberapa menit kejar-kejaran berlalu. Kini Eric terus berlari ke arah Barat hingga mencapai hutan yang cukup lebat ini.
Dengan gesit, Ia segera memanjat pohon itu untuk bersembunyi dari serangan Giant Rat.
Rencana sederhana ini membuahkan hasil yang begitu luarbiasa. Bahkan, mereka lari terbirit-birit menjauhi hutan itu!
'Tunggu! Lari? Kenapa?!'
Saat Eric menyadarinya, monster yang jauh lebih mengerikan telah ada di sebelahnya.
"Kaaaaaaaaaaakkkk!" Teriak monyet berlevel 28 itu sambil berusaha mencakar Eric.
'Wuuush!'
Eric mampu memprediksinya dan menghindarinya dengan baik.
'Untung saja aku meletakkan cukup banyak point di agility. Tapi situasi ini....'
Melihat sekelilingnya yang telah dipenuhi oleh monyet yang bersiap menerkam Eric, Ia hanya bisa memutar otaknya sekuat tenaga.
Hingga akhirnya, keputusan bulatnya telah tercapai hanya dalam waktu 0.2 detik saja.
Saat monyet yang bahkan mampu membunuh Eric dengan sekali serang itu kembali mengayunkan lengannya, Eric dengan sigap dan cepat menarik lengan monyet itu sehingga mengenai tepat di wajahnya sendiri.
[Anda telah memberikan 211 damage!]
'Tak cukup dalam!'
Pada saat itu juga, puluhan monyet lebih mulai melompat ke arah Eric berada.
Menyadari bahaya yang begitu besar, Eric memutuskan untuk segera kabur dari tempat itu. Ia melompat dan turun dari pohon itu lalu segera berlari kembali ke arah Timur. Tujuannya?
__ADS_1
'Setidaknya tikus sialan itu lebih mudah untuk diatasi!'
...***...
"A-ampuni kami!"
"Kami minta maaf karna telah berlagak! Tolong, ampuni kami!"
Beberapa pemain nampak memohon ampun di hadapan seorang wanita berambut pirang yang membawa tongkat kayu itu.
"Hah? Mengampuni? Lalu apa maksud kalian sebelumnya menyerangku dengan membawa lebih dari 8 orang?"
Beberapa saat sebelumnya, Angie disergap oleh 12 pemain. Mereka semua berpikir bahwa menyerang Angie dengan modal batu dan ranting pohon sudah cukup, mengingat jumlah mereka yang cukup banyak.
Terlebih lagi Angie yang hanya membawa sebuah tongkat kayu dengan panjang dua meter itu nampak takkan bisa memberikan perlawanan apapun.
Akan tetapi, kenyataan sangatlah pahit.
Meski mereka semua sama-sama memiliki level 1, kemampuan Angie dalam bertarung bahkan tanpa menggunakan skill sekalipun jauh melampaui mereka semua.
Gerakannya yang begitu lincah dan juga sulit diprediksi, kemudian serangannya yang begitu akurat untuk mengenai titik vital selalu memberikan Critical Hit yang menghasilkan damage 2x lipat.
Mental penyerang yang lemah itu segera runtuh ketika melihat Angie membantai 3 orang hanya dalam waktu kurang dari 20 detik.
"Sialan! Sialan! Sialan! Apa-apaan ini?! Kenapa dia begitu...."
'Bruk! Brakk!'
Ayunan tongkat Angie itu dengan cepat mematahkan rahang lawannya dan segera mengirimnya ke dunia nyata.
Beberapa orang yang masih hidup nampak berusaha melarikan diri sekuat tenaga. Tapi melihat mereka semua, Angie hanya berdiam diri di tempat sambil melihat ke arah kamera hologram yang sedang merekam pertarungan mereka.
"Aku tak tahu siapa yang membayar beberapa orang bodoh itu untuk menyerangku. Tapi ada satu hal yang pasti." Ucap Angie sambil melihat ke arah kamera hologram itu dengan tatapan yang sangat tajam.
Setelah menjeda perkataannya selama beberapa saat, Angie terlihat tersenyum lebar lalu mulai kembali berbicara.
"Terimakasih banyak atas hidangan yang lezat ini. Berkat kalian, aku langsung naik ke level 4. Siapapun yang mengirim pemain bodoh itu, sebaiknya kalian mengirim lebih banyak orang untuk membuatku semakin kuat."
Perkataan itu membuat merinding siapapun yang mendengarnya.
12 orang yang seharusnya menyergap dan membunuh Angie tepat saat Angie masih memiliki level sebesar 1, justru dihabisi dan kini hanya tersisa 3 orang saja.
Tak hanya itu, rencana menghabisi Angie justru berakhir dengan kegagalan yang sangat buruk.
Jangankan untuk membunuhnya.
Mengirim 12 orang itu justru membuat Angie semakin kuat dan semakin memantapkan posisinya sebagai calon pemenang terkuat di kompetisi ini.
Di atas kapal terbang tempat para Supporter menonton....
"Hmm? Apa-apaan itu? Menyewa pemain untuk membunuh pemain lain? Apakah hal seperti itu bahkan diperbolehkan dalam aturan?"
"Memangnya mereka benar-benar disewa? Bisa jadi mereka hanya bekerjasama untuk membereskan lawan terkuatnya di awal pertandingan."
"Kau benar. Bekerjasama diperbolehkan dalam kompetisi ini. Oleh karena itu, kemampuan untuk mencari rekan dan saling mempercayai satu sama lain sangatlah penting."
Obrolan antar penonton VIP ini terdengar cukup ramai namun tidak berisik.
Semuanya berbicara dengan tenang dan suara yang tak dibesar-besarkan.
Sedangkan di sisi belakang....
Terlihat seorang wanita yang mengenakan pakaian renangnya dengan rambut hitam yang indah itu, serta seorang wanita yang menutupi seluruh wajahnya dengan jubah abu-abu itu.
Saat ini, mereka berdua sedang pusing bukan main.
Alasannya sederhana sekali. Itu karena apa yang ditampilkan di layar tablet hologram mereka....
Terlihat sosok Eric yang sedang berlarian kesana kemari karena dikejar oleh puluhan monyet dan juga puluhan tikus raksasa.
Dari siaran itu, sesekali terdengar nyanyian Eric yang begitu merdu dan menyayat hati.
__ADS_1
"Game developer sialan! Kalian bilang zona awal hanya memiliki monster tingkat rendah yang lemah?! Lalu apa-apaan mereka semua ini?! Hah?! Tunggu dulu.... Apa?! Kepiting raksasa merah ini juga memiliki level 24?! Kenapa mereka juga mengejarku?! Sialan! Apa yang sebenarnya terjadi?!"