The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 174 - Hasil Akhir


__ADS_3

...Selatan Pelabuhan Tortuga...


...Tengah Laut...


Aku mencoba menggunakan skill [Water Manipulation] beberapa kali. Meskipun, itu hanya berakhir dengan kegagalan yang cukup memalukan. Tak hanya menghabiskan seluruh Mana Point ku, skill itu juga sangat sulit untuk dikendalikan. Aku merasa bahwa latihan untuk membiasakan diri masih diperlukan.


Oleh karena itu, aku segera menyimpan skill itu dan fokus bertarung seperti biasanya.


Pertarunganku dengan Angie terus berjalan dengan sengit selama lebih dari 1 jam. Meskipun kini Angie mulai mengungguliku karena kecepatan gerakan dan adaptasinya, tujuan awalku telah terpenuhi.


‘Syukurlah semua sudah baik-baik saja.’ Ucapku sambil melirik tubuh Leviathan yang kini telah sepenuhnya berada di dalam laut. Bar HP miliknya juga telah mencapai tingkat yang sangat aman yaitu 73%.


Akan tetapi….


‘Zraatt!! Zraatt!!’


Angie mulai menyerangku dengan lebih agresif. Itu semua karena Ia telah memutuskan untuk tidak memikirkan keberadaan Leviathan dan fokus untuk menyerangku.


“Eric! Aku akan membunuhmu! Aku pasti akan membunuhmu!!” Teriak Angie sekuat tenaga sambil terus mengayunkan tombaknya.


“Jangan katakan sesuatu yang seseram itu Angie! Tak sepantasnya….”


“Diam! Aku tak ingin mendengar apapun dari mulut seseorang yang mencuri mangsaku! Kau tahu betapa sulitnya perjuangan kami untuk menghabisinya?!” Teriak Angie kesal memotong perkataanku.


Di puncak kemarahan itu, Angie melakukan kesalahan terbesarnya. Atau mungkin lebih tepat jika kusebut sebagai kesempatan emas terbesarku. Ia nampak terdiam di udara dan bersiap melempar tombaknya.


Posisi Angie berada diatasku, sedangkan aku berada di bawahnya. Dengan kata lain, aku lebih dekat dengan permukaan laut daripada Angie.


‘Kesempatan! Extermination Ray!’ Teriakku dalam hati sambil segera mengarahkan Oracle Staff milikku ke arahnya. Di ujung tongkatku, sudah terdapat 3 buah lingkaran sihir amplifikasi berwarna merah yang telah kusiapkan sejak sebelumnya.


Sebuah lingkaran sihir berwarna putih muncul di bagian terujung tongkatku. Diikuti dengan putaran 3 lingkaran sihir berwarna merah itu dengan sangat cepat.


‘4 detik saja…. Jika dia tetap diam di sana selama 4 detik maka aku akan menang!’ Pikirku dalam hati.


Tanpa kusadari, Angie juga memikirkan hal yang sama tentang diriku.


‘3 detik…. Jika Pria sialan itu tetap diam selama 3 detik maka….’


Meskipun aku merasa bahwa ini adalah kesempatan emas untuk mengalahkannya, aku menjadi sedikit ragu setelah melihat deskripsi skill yang akan digunakan oleh Angie. Aku mampu melihatnya dengan skill Clairvoyant dari Oracle Staff milikku.


[Earth Piercing Spear]


[Rarity : Legendary]


Konsumsi Mana : 350.000


Konsumsi Stamina : 120.000


Efek : Mengumpulkan seluruh energi pendekar di ujung tombak untuk menembus bahkan seluruh bumi. Memberikan damage sebesar 1.200 – 24.000% total Attack Power pengguna yang mengabaikan 33% Defense target.


Jumlah damage didasarkan atas seberapa lama pengguna mengumpulkan energi di ujung tombak. Mulai dari 1.200% dengan 1 detik pengumpulan energi hingga 24.000% dengan 60 detik pengumpulan energi. Semakin besar energi yang dikumpulkan, beban pengguna akan semakin besar.


‘Sialan….’ Teriakku dalam hati setelah membaca sekilas skill yang sedang digunakan oleh Angie.


4 detik ini terasa begitu lama. Itu semua karena aku sama sekali tak tahu kapan Angie akan melemparkan tombaknya. Begitu juga sebaliknya.

__ADS_1


Aku menjaga mataku tetap terbuka dengan lebar. Semua itu untuk bersiap kapanpun Angie melemparkan tombaknya ke arahku yang berada di bawahnya.


1 detik….


2 detik….


3 de….


‘ZRAAAATTTTT!!!’


‘WUOOOSSSHH!!!’


Tekanan udara yang sangat kuat menghempaskan segalanya di tengah lautan ini. Angie telah melemparkan tombaknya sekuat tenaga. Cahaya dan petir keemasan itu menyambar semua tempat.


Tapi tepat sebelum tombak itu menembus diriku….


‘SHUOOOOSSSHH!!!’


Sinar cahaya putih yang sangat terang dan berukuran cukup besar itu telah mengenai tubuh Angie terlebih dahulu. Wajar saja karena kecepatan cahaya yang mampu melelehkan segalanya itu jauh lebih cepat daripada lemparan tombak Angie.


[Anda telah memberikan 147.123 damage!]


[Anda telah memberikan …. ]


[Target telah …. ]


Tapi sebelum aku sempat membaca seluruh notifikasi sistem itu….


Tombak yang seharusnya ikut meleleh dan lenyap bersamaan dengan Angie, nampak menembus seluruh sinar panas dari Extermination Ray milikku.


‘ZRAASSSHHH!!!’


Tombak itu menembus dadaku dengan sangat cepat dan memberikan lubang yang sangat besar di tubuhku.


[Anda telah menerima serangan di titik vital!]


[Anda telah menerima 4.138.649 damage!]


[Anda telah menerima damage tambahan yang mengabaikan Defense sebesar 682.964 damage!]


[Anda telah mati!]


Meskipun aku sudah bersiap dengan serangannya, aku tak menyangka bahwa damage yang dihasilkan akan sebesar ini.


‘Sialan! Bukankah damage tambahannya saja sudah cukup untuk membunuhku?!’ Teriakku penuh kesal dan rasa terkejut.


[Bersiap untuk melakukan Log Out secara paksa!]


Seakan tak ingin aku mati dengan tenang, notifikasi tambahan segera muncul di hadapanku.


Sebuah notifikasi….


Yang akan mengubah pandangan Player di seluruh dunia akan kekuatan yang sebenarnya.


[Lemparan Tombak sang Pendekar Tombak Legendaris telah melubangi bumi!]

__ADS_1


[Dewi pelindung dan penjaga bumi, Gaia, telah turun tangan untuk menghentikan kehancuran ini!]


[Seluruh kerusakan akibat lemparan tombak itu sedang diperbaiki!]


‘Apa-apaan ini?!’


Aku pun memberanikan diriku untuk sedikit melirik apa yang terjadi di lautan ini.


Tapi itu adalah keputusan yang sangat buruk.


Apa yang kulihat….


Hanyalah sebuah bukti bahwa perbedaan kekuatan antara seorang Pendekar Tombak Legendaris dengan seorang penyihir biasa sangatlah jauh.


Yang ada di balik tubuhku, adalah sebuah lubang rakasasa. Sebuah lubah yang menembus bumi entah hingga seberapa dalam. Pada lubang itu, nampak jelas seluruh air lau yang masuk dengan sangat kuat ke dalamnya.


‘Angie…. Kekuatan ini….’


Sebelum sempat menyelesaikan ucapanku dalam hati, sistem telah memaksaku untuk log out.


Tapi aku sudah cukup senang. Karena sebelum itu, aku telah melihat notifikasi yang kuharapkan.


[Player : Angie telah mati!]


...***...


...Di dunia nyata...


...Sesaat setelah pertarungan antara Eric dan Angie...


[Sebuah serangan yang mampu melubangi bumi?! Siapa yang mampu melakukannya?!]


Seluruh media berita yang membahas mengenai Re:Life dihebohkan akan hal itu. Hal yang wajar karena notifikasi yang sama muncul di hadapan semua player saat itu.


“Jika kalian tidak percaya, lihatlah hasil tangkapan layarku mengenai notifikasi sistem itu! Notifikasi itu termasuk dalam [World Notification] yang memberikan informasi kepada semua orang disana!” Teriak salah seorang MeTuber pemula sambil menunjukkan screenshot notifikasi itu.


[Lemparan Tombak sang Pendekar Tombak Legendaris telah melubangi bumi!]


[Dewi pelindung dan penjaga bumi, Gaia, telah turun tangan untuk menghentikan kehancuran ini!]


[Seluruh kerusakan akibat lemparan tombak itu sedang diperbaiki!]


“Siapa sebenarnya pendekar tombak ini?!” Tanya MeTuber itu.


Di sisi lain….


“Apa yang kau katakan Nico?!” Tanya salah seorang pembawa acara berita itu.


“Sudah kubilang, aku kebetulan sedang ingin meliput seorang Player yang disebut sebagai Penyihir Agung itu di daerah Kerajaan Farna. Tepatnya di Pelabuhan Tortuga. Akan tetapi aku sangat beruntung karena bisa melihat pertarungan yang luarbiasa itu secara langsung.


Bahkan aku merekamnya! Tapi sayangnya, aku sangat terlambat karena aku datang setelah memasuki babak akhir pertarungan.” Jelas Nico sambil memutar video pertarungan itu.


“Lalu apakah kau mengetahui sosok sebenarnya sang pendekar tombak legendaris itu?” Tanya kembali sang pembawa acara.


“Aku tak tahu. Tapi aku sangat yakin bahwa yang menjadi lawannya adalah seorang Player yang disebut sebagai Penyihir Agung bernama Eric. Itu semua berdasarkan informasi dari para prajurit yang kutanyai. Kabarnya Eric sedang melindungi pelabuhan itu dari serangan Sea Serpent.” Jelas Nico sambil menunjukkan salah satu foto Eric di dunia game dengan Player lain.

__ADS_1


Pada saat itulah, nama Eric mulai melambung tinggi. Ke arah yang positif tentunya.


__ADS_2