
Melihat notifikasi itu, aku cukup senang. Bagaimana tidak, aku memotong jumlah pasukan barbar di hadapanku setidaknya 1/5 nya. Dengan kata lain, aku membunuh 20% pasukan barbar yang menyerbu Dungeon Perbatasan ini hanya dengan sebuah skill!
Akan tetapi….
‘NGIIIIIIING!!!’
Suara sialan ini terus menerus terngiang di kepalaku dengan sangat keras. Tak hanya itu….
[Anda telah kehabisan Stamina!]
[Mengalami efek Paralysis selama 30 detik!]
[Anda tidak dapat bergerak selama 30 detik!]
[Anda telah menerima 3.000 damage!]
[Anda telah menerima 3.000 damage!]
[Anda telah menerima ….]
Aku berusaha sekuat tenaga untuk mengatakan kepada Elin bahwa aku membutuhkan Stamina Potion dan Health Potion. Meski begitu, aku merasa suara seakan tak keluar dari tubuhku. Tidak…. Aku benar-benar tak bisa menggerakkan tubuhku.
Di pandanganku yang saat ini sedikit kabur, aku melihat Elin dan Lucien meneriakkan sesuatu kepadaku. Tapi aku sama sekali tak bisa mendengarnya. Entah apa yang mereka coba katakan tapi maafkan aku, aku tak dapat mendengar kalian.
Sepertinya, efek Tuli atau Deaf ini juga berdampak ke seluruh pasukan yang ada di dalam dinding ini. Termasuk Elin dan juga Lucien.
Melihat tubuhku yang tersungkur lemas, Elin segera mengeluarkan botol dengan cairan berwarna kuning. Itulah botol Stamina Potion. Sungguh benar-benar seorang rekan yang bisa diharapkan. Meski begitu, ada yang lebih gawat daripada Stamina Pointku.
Health Pointku yang terus menerus berkurang setiap detiknya karena efek Internal Bleeding sangatlah mengerikan. Kini aku hanya memiliki 30% Health Point yang tersisa.
Tanpa menunggu lebih lama, Elin dengan segera meminumkan Stamina Potion itu kepadaku.
Ia nampak masih berusaha untuk meneriakkan sesuatu kepadaku dengan wajah yang panik dan tegang. Tapi sekali lagi maafkan aku, aku sama sekali tak dapat mendengarnya.
Segera setelah meminum Stamina Potion itu, aku bisa menggerakkan tubuhku kembali.
Tanpa banyak menunggu, aku segera mengambil Health Potion dari dalam Inventoryku dan meneguknya secepat mungkin. Bagaimana pun, Health Point milikku saat ini sudah sangat kritis yaitu hanya tersisa 10% saja.
‘Glek…. Glek….’
Dengan segera, Health Pointku kembali ke titik penuh atau 100%. Akan tetapi, itu tak berlangsung lama. Itu semua karena efek Internal Bleeding yang masih ada di tubuhku. Lebih tepatnya di tangan kananku yang telah patah dan hancur.
Rasa sakit yang kurakan sebelumnya masih tersisa. Aku berusaha sekuat mungkin untuk menahannya.
Hanya dalam waktu kurang dari 5 detik, Health Pointku telah kembali turun ke tingkat 90%. Tanpa menunggu jeda, aku segera menggunakan skill [Ex Recovery] untuk memulihkan Abnormal Status yang kuderita dengan menggunakan tangan kiriku.
Aku bahkan tak sempat untuk mengambil tongkat sihirku yang kini telah tergeletak jauh di tanah.
[Ex Recovery telah memulihkan Abnormal Status yang Anda derita!]
[Efek Internal Bleeding telah sembuh!]
[Efek Fractured Bones telah sembuh!]
[Efek Deaf telah sembuh!]
Tapi aku tak pernah menyangka. Notifikasi terakhir yang menyembuhkan ketulianku hanyalah awal dari neraka yang akan kuhadapi.
“Aaaaarrrgh!!!”
__ADS_1
“Gyaaaaah!!!”
“Tolong aku! Kakiku terjepit batu dinding!”
“Siapa pun! Tolong selamatkan kawanku! Dia tertimpa dinding di bagian perutnya!”
Teriakan yang sangat keras dari berbagai tempat segera memasuki telingaku. Meski suara yang kudengar sangat keras, tak ada seorang pun yang meresponnya. Bahkan tak ada yang memahami perkataan mereka.
Itu semua dikarenakan mereka semua mengalami efek yang sama denganku. Sebuah efek sederhana yang akan menjadi mengerikan ketika berada di situasi ini. Deaf atau Tuli.
Satu…. Sepuluh…. Dua puluh…. Seratus….
Aku melihat banyak sekali korban di pihakku akibat sihirku sendiri. Aku tak menyangka bahwa efeknya akan semengerikan ini. Tanpa kusadari, aku telah menggigit bibirku sendiri.
‘Sialan…. Apa gunanya skill sehebat ini jika sebagian kawanku terkena dampaknya?!’ Teriakku dalam hati.
Kepalaku mulai berpikir dengan cepat. Mencari sebuah solusi untuk menyelamatkan sebanyak mungkin dari para korban di pihakku. Hanya dalam waktu yang sangat singkat, aku segera menemukan jawabannya.
Tanpa membiarkan para Prajurit Salvation dan juga para monster menderita lebih lama lagi, aku segera menggunakan kembali skill [Amplify]. Tapi aku tak menunggu hingga 30 detik untuk memperoleh efek peningkatan 100%. Aku hanya menunggu 5 detik dan memperoleh peningkatan sebesar 65%.
Skill yang kugunakan berikutnya?
“Ex Healing Area!” Teriakku sekuat tenaga sambil mengangkat tongkat sihirku setinggi mungkin.
Setelah Casting Time selama 5 detik, muncul sebuah lingkaran sihir raksasa di tanah. Lingkaran sihir itu memiliki warna hijau dan memiliki pola dedaunan yang indah.
Efek dari Ex Healing Area mempengaruhi hampir seluruh wilayah benteng ini. Setidaknya, sejauh pemandanganku maka seluruh prajurit yang terluka telah masuk ke dalam area sihir penyembuhan.
Notifikasi yang muncul di hadapanku membuatku sedikit lega.
[Anda telah menyembuhkan 5.739 Health Point!]
[Anda telah …. ]
Tapi itu semua belum berakhir. Aku memahaminya semenjak mengalaminya sendiri.
Meskipun Health Point para prajurit yang terluka telah disembuhkan, kemungkinan besar mereka masih menderita luka internal maupun eksternal yang dapat membahayakan nyawa mereka.
Oleh karena itu….
“Purify! Recovery! Ex Recovery!”
Aku terus menerus melontarkan skill penghilang Abnormal Status seperti Bleeding dan sebagainya. Setidaknya kepada sebagian dari mereka yang terlihat memiliki luka yang parah.
Hampir 2 menit telah berlalu, dan aku mulai melihat sebagian besar dari para prajurit itu kembali kesakitan.
“Sialan! Overdrive! Reset Ex Healing Area!” Teriakku sekuat tenaga.
Aku kembali menggunakan skill Ex Healing Area. Meskipun…. Kini aku tak menggunakan Amplify karena masih berada dalam waktu Cooldown.
[Anda telah menyembuhkan …. ]
‘Sialan…. Jika terus seperti ini maka tak akan sempat untuk menyelamatkan mereka! Selain itu, pasukan barbar itu mulai bergerak.’ Pikirku dalam hati.
Aku dengan segera membuat keputusan ini.
“Semuanya! Dengarkan aku! Siapapun yang telah sembuh dan memperoleh pendengarannya kembali dengarkan ini! Bantulah siapapun yang ada di dekat kalian!
Angkat batuan yang menimpa mereka! Berikan Health Potion! Ambil saja di gudang! Aku yang akan menggantinya! Mengerti?! Jika iya segeralah bergerak!” Teriakku dengan sangat lantang.
__ADS_1
Beberapa orang yang telah sembuh dari skill Purify dan Recovery milikku segera bergerak. Para penyihir yang memahami situasi ini segera melafalkan sihir mereka.
Setidaknya, mereka membantuku dengan skill sepele yang memiliki cooldown 60 detik seperti Purify dan Recovery.
Melihat pemandangan para pasukan bergerak dengan sigap saling menolong satu sama lain, serta penyihir yang menggunakan skill mereka secara efisien…. Aku merasa lega dengan semua ini.
“Setidaknya…. Jumlah korban dapat kutekan seminimal mungkin. Sekarang….” Ucapku sambil membalikkan badan. Kini aku melihat ke arah Timur.
Di sana nampak terdapat cekungan yang cukup besar di tengah padang pasir itu. Cekungan berbentuk bulat yang mulai mengerucut karena terisi pasir dari sekitarnya.
Tak ada satu orang pun yang terlihat di tengah wilayah cekungan itu. Itu semua karena cekungan itu merupakan bekas ledakan besar yang kuberikan. Meskipun, beberapa gajah raksasa masih nampak sehat setelah menerima serangan itu.
Aku pun memegang erat Staff of Enigma dengan tangan kananku. Lucien yang telah memperoleh pendengarannya kembali segera mendekatiku.
“Tuanku, berikan aku perintahmu….”
Mendengar hal itu, aku hanya bisa tersenyum.
“Lucien…. Aku memerintahkanmu untuk….”
Dan begitulah, akhir dari krisis singkat yang disebabkan oleh ledakan sihirku. Meskipun tak memakan satu pun korban jiwa, aku mulai menyadari bahwa penggunaan [Amplify] hingga 3 kali masih cukup berbahaya bagiku saat ini.
Oleh karena itu, aku harus bertambah kuat. Tentu saja, melalui [Ascension] yang dipinjamkan Deus kepadaku.
...***...
“Aaa…. Tes tes, apakah kau sudah bisa mendengarku Angie?” Tanya seorang Pria dengan badan kekar, Chris.
“Chris…. Kau bilang dia adalah seorang penyihir yang baru saja berlatih. Tapi apa-apaan skillnya barusan itu?!” Teriak Angie sambil sedikit mendorong tubuh Chris.
“Hahaha…. Bukankah sudah kubilang kepadamu? Bahkan kau sekalipun takkan kecewa setelah….”
Tapi belum sempat menyelesaikan perkataannya, Angie dengan segera memotongnya.
“Kecewa?! Apakah kau meremehkan Pria itu?! Dia…. Dia lebih mirip dengan seorang monster!!! Membunuh hampir seperlima dari pasukan barbar dengan sebuah skill…. Apa-apaan itu?! Apakah kekuatan itu masih bisa dibilang adil bagi Player lain?!”
Angie nampak begitu kesal melihat kekuatan Eric.
Tentu saja, itu karena sebelum Angie bergabung di dalam dunia Re:Life Ia selalu berada di peringkat teratas. Apapun yang terjadi, Ia adalah yang terbaik.
Bahkan hingga beberapa menit sebelumnya, Ia masih merasa bahwa dirinya akan menjadi yang terkuat setelah beberapa bulan melakukan leveling dan perburuan.
Tapi sekarang?
Semua harapannya sirna setelah melihat kemampuan Eric yang melebihi monster.
Apa yang Angie saksikan bukanlah sesuatu yang bisa Ia peroleh dengan usaha yang setengah-setengah. Terlebih lagi, jika Ia masih harus membuat video. Oleh karena itu....
“Chris, maafkan aku. Tapi aku akan segera pergi dari sini. Aku tak bisa terus menerus bermalas-malasan seperti ini.” Ucap Angie sambil melompat dari atas dinding kastil di tengah padang pasir ini.
“Oi! Angie! Bukankah kau ingin leveling dengan berburu barbarian?!” Teriak Chris sekuat tenaga.
Tapi itu semua percuma karena Angie tak membalasnya dan segera berlari menuju ke dalam Dungeon untuk meninggalkan tempat ini.
Tujuannya?
Tempat manapun yang dapat membuatnya semakin kuat. Setidaknya…. Untuk memuaskan egonya sebagai seorang 'Player terkuat'.
Tanpa Eric sadari, ini adalah awal mula Angie menganggap Eric sebagai rivalnya secara sepihak. Meskipun.... dalam wujud yang terburuk.
__ADS_1