The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 129 - Kembali ke Dungeon Origin


__ADS_3

“Naga Kuno, Ruderioss?” Tanyaku dengan mulut menganga.


“Benar sekali. Ia adalah Naga Gurun pertama yang ada di dunia ini. Tentu saja yang terkuat. Makhluk biasa seperti kita jangankan untuk mengalahkannya, menggoresnya pun takkan pernah bisa.” Balas Cathy yang kini telah duduk dan kembali memainkan pasir dengan wajah tanpa ekspresi.


“Lalu…. Apa hubungannya dengan reruntuhan barusan? Jangan katakan bahwa?!” Ucapku seketika setelah menyadarinya.


“Reruntuhan itu adalah Kuil Suci bagi para Penyembah Ruderioss. Bagaimana pun, Ruderioss memiliki kekuatan yang setara dengan Dewa. Mungkin dua yang paling terkenal bagi manusia adalah Julia dan Celestine? Sekuat itulah dia. Maka dari itu, memasuki Kuil itu merupakan cara tercepat untuk bunuh diri.”


Cathy kembali menjelaskan situasi dengan rinci. Aku pun mulai memahaminya.


Bahkan pada saat melawan Inquisitor Leo yang hanya merupakan Wakil dari para Dewi saja, aku sudah kesulitan. Apalagi melawan makhluk yang setara dengan Dewa di dunia virtual ini? Tidak mungkin! Tapi….


“Bukankah itu berarti…. Terdapat harta yang besar di dalamnya?” Tanyaku kembali kepada Cathy.


“Aku tidak yakin. Bagaimana pun, tempat itu adalah sebuah kuil. Sekali lagi, aku sangat menyarankan untuk menjauhi tempat itu.” Balas Cathy.


Melihat Cathy bersikeras dengan perkataannya, aku pun sadar bahwa tempat itu pasti sangat berbahaya. Terlebih lagi bagi Cathy yang merupakan seorang NPC, maka kematian juga berarti akhir bagi dirinya. Tak sepertiku yang dapat hidup kembali. Oleh karena itu….


“Cathy, aku paham dengan perasaanmu. Tapi aku akan hidup kembali meskipun mati. Oleh karena itu, aku tetap akan masuk untuk menjelajahi reruntuhan atau pun kuil itu. Sedangkan kau…. Aku akan memintamu untuk kembali ke Dungeon Origin. Aku memiliki tugas baru untukmu.” Jelasku.


Mendengarkan jawabanku, Cathy nampak sedikit sedih dan lega pada saat yang bersamaan.


“Baiklah, Tuanku. Aku akan melakukannya.”


Aku pun kembali berasimilasi dengan Cathy dan terbang ke Kota Perbatasan. Segera setelah itu, aku melakukan teleportasi ke Dungeon Origin.


...***...


...Di sebuah Kastil...


...Dungeon Origin...


...Lantai 5...


“Tuan Eric? Siapa Wanita itu?” Tanya Oliver dengan wajah kebingungan setelah melihatnya.


“Namanya adalah Catherine. Kau bisa memanggilnya Cathy. Aku ingin kau memperkerjakannya sebagai penilai suatu material. Nanti kau akan paham dengan sendirinya mengenai kemampuan mata miliknya.” Balasku kepada Oliver sambil memperkenalkan Cathy.


“Mohon bantuannya, Tuan Oliver.” Ucap Cathy sambil membungkukkan badannya.


Melihat itu, Oliver hanya mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


“Hentikan sikap formal itu padaku, Cathy. Terutama karena kau adalah pilihan langsung dari Tuan Eric. Ngomong-ngomong, beberapa saat yang lalu Ratu Vampir, Asmodeus menitipkan salam untukmu Tuan Eric.” Ucap Oliver kepadaku.


Mendengar nama itu, Cathy nampak sedikit terkejut.


“Ah, Deus ya? Apa yang Ia katakan?” Tanyaku singkat.


“Segeralah membuat slime yang kuat. Begitulah perkataanya.” Balas Oliver.


Sialan. Deus itu sejak jaman dahulu selalu memintaku untuk membuat Slime sebagai monster yang kuat. Aku sudah membuktikannya lebih dari 73 kali bahwa Slime itu tidak dapat melakukan Evolusi.


Setiap kali melakukannya, hanya kegagalan yang menantiku. Aku sudah tahu hal itu dan menyampaikannya kepada Deus. Tapi Ia terus saja memintaku untuk mengulanginya lagi dan lagi.


Tanpa kusangka, Cathy segera angkat bicara tepat sebelum aku membuka mulutku.


“Tuan Eric. Bisakah kau menyerahkan masalah Slime itu padaku? Yang Mulia mengatakan hal yang sebenarnya.”


“Cathy. Aku tidak tahu bagaimana hubunganmu dengan Deus. Tapi aku telah mencoba….”


Sebelum aku sempat menyelesaikan alasanku kepada Cathy, Ia segera memotongnya.


“Itu karena Slime bukanlah makhluk yang bisa melakukan evolusi seperti itu. Tidak seperti monster yang lain, Slime adalah monster yang tidak memiliki arah evolusi.” Jelas Cathy.


Mendengarkan penjelasan Cathy, aku mulai sedikit memahaminya. Pada saat melakukan Evolusi pada Slime, aku memang tidak dapat menentukan arahnya. Tapi apa artinya itu?


Kalimat terakhir dari Cathy menyadarkanku.


Mungkin saja….


“Apakah kau benar-benar bisa menangani permasalahan Slime ini, Cathy?” Tanyaku dengan wajah yang masih sedikit ragu.


“Serahkan saja kepadaku. Tapi mungkin, akan membutuhkan waktu puluhan tahun untuk mencapai kesempurnaan. Sebagai gantinya, aku membutuhkan ruangan khusus dan juga puluhan ribu Slime untuk kuteliti.” Balas Cathy.


Aku pun segera menoleh ke arah Oliver. Memahami maksudku, Oliver segera mengangguk dan mulai berjalan.


“Ikuti aku, Cathy. Aku akan mempersiapkan ruang kerjamu. Tuan Eric, aku mohon bantuannya untuk mempersiapkan Slime itu.” Ucap Oliver.


“Sebelum itu, dimana Lucien?” Tayaku kepada Oliver.


...***...


“Apakah kalian mengerti?” Ucap Seorang Pria dengan Zirah Mithril dengan warna putih mengkilap itu, Agmar.

__ADS_1


“Tentu saja. Dengan begini, kita akan segera berpesta kan?! Hahaha!” Teriak seorang Wanita dengan pakaian seperti penyihir itu.


“Tenangkan dirimu, mungkin bawahan Pria itu masih mengawasi kita.” Ucap seorang pendekar pedang.


“Bukankah Agmar telah mengingatkanmu untuk berhati-hati?” Balas seorang penyembuh.


“Tenang saja! Sehebat apapun Pria yang mampu menjinakkan monster itu, Ia takkan bisa mengawasi kita setiap saat!” Teriak Agmar.


“Detection….” Ucap seorang penyihir sambil menggunakan skillnya. Ia berencana untuk mendeteksi kehadiran orang asing di dalam ruangan ini.


Hasilnya?


“Sudah kukatakan pada kalian. Aku selalu menggunakan Skill Detection setiap saat untuk mengetahui siapapun dan apapun yang ada di sekitar ruangan ini. Bahkan semut kecil pun dapat aku ketahui keberadaan dan pergerakannya. Apalagi monster hasil jinakannya.” Ucap sang penyihir.


“Baguslah kalau begitu! Mari kita berpesta malam ini!” Teriak sang pendekar pedang dengan keras.


“Untuk Penyihir dan penjinak monster bodoh bernama Eric! Aku akan memperoleh Kerajaan ini untuk diriku sendiri! Sedangkan kau, berbahagialah dengan membuang-buang sumberdaya dan tenagamu untukku!” Teriak Agmar dengan keras.


Tanpa mereka sadari….


Terdapat seseorang yang bersembunyi di dalam bayangan.


‘Fufufu…. Mereka semua bergerak sesuai dengan perkiraanmu, Tuan Eric. Segera setelah para badut ini menyelesaikan pekerjaannya, akan kupastikan mereka mengalami nasib terburuk karena telah berani menghinamu, Tuanku!’ Ucap Lucien dalam hati sambil memperhatikan setiap gerakan mereka.


...***...


“Tuanku….” Ucap seorang Wanita dengan sayap kelelawar dan penampilan yang sangat menggoda itu. Meski begitu, mata Pria itu sama sekali tidak tertarik pada keindahan yang ada di hadapannya.


“Diamlah. Aku sedang memikirkan bagaimana caranya untuk memperoleh cukup banyak jiwa. Aku membuang terlalu banyak pada saat melawan Sainteess itu berkali-kali.” Ucap Pria berambut putih itu.


“Bagaimana jika kita mulai menyerbu beberapa wilayah pedesaan?” Tanya seorang monster dengan satu mata di wajahnya.


“Kau pikir aku bandit rendahan? Ditolak.” Balas Pria berambut putih itu.


“Tapi bukankah itu awal yang bagus? Memburu monster memang mampu memanen jiwa sekaligus memperoleh EXP. Tapi karena kekuatan mereka yang tinggi dan jumlah mereka yang rendah, aku tidak yakin jika itu adalah pilihan yang terbaik.” Ucap seorang Wanita berkulit gelap dengan telinga yang runcing dan panjang itu.


“Kau mengatakan padaku untuk memburu manusia? Tapi hal itu sama sekali tidak ada tantangannya, kau tahu itu kan.” Balas Pria berambut putih itu.


“Lupakan tentang tantangan untuk saat ini. Tapi pikirkanlah mengenai jumlah Jiwa yang kau perlukan untuk membangun sebuah Necropolis.” Ucap seorang Pria dengan kulit pucat dan gigi yang bertaring tajam itu.


“Baiklah…. Biarkan aku memikirkannya terlebih dahulu….”

__ADS_1


Dan begitulah, awal mula dari pergerakan kelompok yang beranggotakan 8 orang itu ke arah Peradaban. Tapi kini, tak ada wakil dari Dewi yang akan melindungi tempat tujuannya.


__ADS_2