
Pertempuran berakhir setelah kematian 3 gajah rakasasa terakhir itu. Seluruh Barbarian yang pada awalnya terlihat sangat bengis dan tak kenal takut, kini mulai melarikan diri sambil terbirit-birit.
Melihat pemandangan ini, Elin tak membiarkan kesempatan emas ini hilang.
“Buru mereka semuanya!”
Dan begitulah, pasukan Barbar yang sejumlah lebih dari 300.000 orang yang berniat untuk menyerbu peradaban…. Kini berakhir dengan diburu oleh Prajurit Salvation dan Monster.
Meskipun, setelah meneriakkan perintah itu Elin telah terjatuh lemas di tanah. Wajar saja karena Ia telah mengambil sebagian besar komando pasukan selama lebih dari 4 jam pertempuran yang sengit.
Pada akhirnya, tak ada satu pun Barbarian yang selamat dari perburuan yang dilakukan pada saat mereka berusaha untuk kabur.
Sedangkan korban di pihak kami?
Dari sekitar 30.000 prajurit Salvation, setidaknya 20.000 telah gugur dalam pertempuran ini. Sedangkan sisanya mengalami luka ringan hingga berat.
Sedangkan untuk monster…. Dari jumlah awal sebesar 120.000 pasukan monster, kini hanya tersisa sekitar 5.000 saja. Wajar saja karena mereka bertempur di barisan paling depan.
Akhirnya…. Pertempuran ini selesai dengan kemenangan yang mengerikan. Menurut Elin, kemenangan seperti ini disebut dengan ‘Pyrrhic Victory’ atau sebuah kemenangan yang sangat merugikan bagi pihak pemenangnya.
“Hah…. Aku ingin beristirahat sebentar.” Ucap Elin sambil bersandar di dinding yang telah hancur itu.
“Aku setuju denganmu.” Balas Chris yang duduk bersandar pada pedang besarnya.
“Aku juga, kurasa aku akan log out.” Ucapku kepada mereka semua.
“Hei hei hei…. Tunggu dulu! Jika kalian semua log out….” Teriak Neo sambil berdiri dari duduknya.
Tapi tak ada yang mendengarkannya. Malahan, semua player termasuk para petinggi Guild telah log out meninggalkannya.
“Siapa yang akan mengurus…. Sialan, aku akan meminta ganti ruginya lain kali.” Lanjut Neo yang mengetahui semua orang telah Log Out.
...***...
...Bekas Kerajaan Rena...
...Benteng tak berpenghuni...
Di dalam benteng ini, nampak puluhan ribu pemain yang siap bertarung melawan invasi barbarian. Wajar saja karena ini adalah salah satu jalan terdekat yang memisahkan antara Barbarian dengan Peradaban.
__ADS_1
Jika mereka melakukan invasi? Tentu saja akan melalui benteng ini.
Tapi, semangat mereka yang berapi-api dengan segera padam karena suatu notifikasi sistem. Sebuah [World Notification] yang menandakan kemenangan Peradaban dan kekalahan Barbarian yang melakukan invasi.
...[Invasi yang dilakukan oleh Headhunter Clan dari Barbarian Horde telah berhasil dihentikan!]...
...[Seluruh Player dan NPC yang berpartisipasi dalam menahan serangan mereka akan memperoleh imbalan yang sesuai!]...
Luna yang melihat notifikasi ini nampak sangat kebingungan. Bagaimana tidak, Ia bahkan belum melihat sosok Barbarian yang menyerbu ini!
Sedangkan Evalina?
“Sialan! Apa-apaan ini?! Kenapa sudah ada yang mendahuluiku?!”
Yah, bisa dibilang ini adalah balasan karena Guild Seven Star sering memonopoli World Quest bagi diri mereka sendiri. Contoh sederhananya yaitu ketika kemunculan Behemoth’s Right Hand. Sudah hal yang wajar jika kali ini mereka akan didahului oleh orang lain.
“Luna! Cepat cari tahu siapa yang mendahului kita!!!” Teriak Evalina dengan keras.
“Tapi…. Memangnya ada tempat yang lebih dekat dengan Barbarian daripada kastil ini?”
Dengan balasan itu, semua orang mulai terdiam. Mereka sadar bahwa ini adalah tempat yang paling dekat dengan Barbarian.
...***...
Pandanganku seketika berubah setelah menekan tombol Log Out. Aku melihat atap rumahku yang biasa saja, serta kasur yang biasa saja. Tanpa berbasa-basi lagi, aku segera mandi dan makan.
“Ah kakak. Aku sudah memikirkan mengenai apa yang sebaiknya kau lakukan dengan uangmu.” Ucap adikku yang saat ini sedang duduk santai di sofa sambil menonton TV.
“Eh?! Kau serius?!” Teriakku kaget mendengarnya. Senyum yang lebar mulai muncul di wajahku.
Wajar saja karena selama ini aku sangat kebingungan dalam memanfaatkan uang ini. Jika aku menggunakannya tanpa pikir panjang, yang ada uang ini akan habis untuk membeli barang-barang yang tak berguna.
“Ya, aku serius. Coba lihat saja berkas yang kuletakkan di meja kamarku.” Balas adikku.
Dengan segera, aku berlari dan memasuki ruangan adikku. Ruangannya sangat sederhana dengan sebuah kasur di pojok, banyak rak yang terisi penuh dengan buku serta komputer di dekat jendela.
Sedangkan kapsul VRnya nampak diletakkan di ujung kamarnya yang dekat dengan pintu. Di samping lemari pakaiannya yang cukup besar, terlihat AC yang masih menyala dengan suhu yang cukup dingin.
“Jadi ini yang dia maksud?” Ucapku sambil melihat berkas yang ada di meja komputernya.
__ADS_1
Aku pun mencoba membaca beberapa hal di dalam berkas itu. Jujur saja aku mulai merasa mual setelah melihat beberapa halaman yang penuh angka, denah tulisan-tulisan kecil beserta banyaknya rumus.
Sedangkan saat aku mulai mendekati halaman akhir, rasanya aku ingin muntah setelah melihat beragam grafik, tabel dan simbol-simbol yang seperti tulisan untuk memanggil iblis.
“Sialan, apakah ini matematika yang dikerjakan anak SMA jaman sekarang? Kurasa aku belum pernah mengambil mata pelajaran seperti ini…. Tunggu, apakah sudah pernah? Entahlah.” Ucapku pada diriku sendiri sambil menutupi mulutku.
Tapi bahkan otakku yang tak terlalu pintar ini memahami garis besar dari apa yang ingin disampaikan oleh adikku.
“Jadi dia menyarankan untuk membeli lahan yang cukup luas di wilayah Kulon Progo, terutama yang dekat dengan Bandara Internasional Yogyakarta. Segera setelah itu, dia ingin aku membangun apartemen mewah disana?” Ucapku pada diriku sendiri.
Tanpa kuduga, seseorang menjawabnya dari balik pintu.
“Aku tak menyangka kau akan memahaminya, Kak. Tapi ya, begitulah kira-kira rencana yang kubuat untuk memutar uang yang terlampau banyak milikmu itu” Balas adikku sambil tersenyum.
“Uh…. Aku tak terlalu memahami detailnya, tapi apakah dengan begini aku dapat mulai menghasilkan uang di dunia nyata?” Tanyaku kebingungan.
“Hahahaha…. Menghasilkan? Jangan meremehkan bisnis properti, Kak. Jika perhitunganku tepat, maka uangmu akan mengganda dalam tiga…. Mungkin dua tahun saja.” Balas adikku, Rina sambil tertawa.
“Eh?! Mengganda?! Apakah kau serius?!” Tanyaku dengan wajah yang kaget.
Wajar saja karena selama ini aku hanya menghasilkan uang dari dalam game. Kupikir akan sangat sulit untuk menghasilkan uang di dunia nyata. Tapi yang terjadi justru sebaliknya?!
“Ya, aku serius Kak. Tapi ada sedikit masalah tentang rencanaku. Sebagai permulaan, aku masih menempuh pendidikan. Yang kedua, aku masih dibawah umur. Kemudian yang ketiga, aku tak berpengalaman di lapangan jadi mungkin saja aku akan ditipu oleh banyak orang. Oleh karena itu….”
Adikku terus menjelaskannya sambil duduk di kasurnya.
Setelah beberapa saat, Ia kembali membuka mulut kecilnya itu.
“Apakah Kak Elin ingin membantuku dalam mengerjakan rencana ini? Tidak…. Aku ingin Kak Elin yang akan memimpin bisnis Kakak di dunia!” Teriak adikku sambil tersenyum lebar.
Mendengar hal itu, aku kembali tersadar. Meskipun Elin tidak menempuh pendidikan yang tinggi karena beragam masalah pada masa SMAnya, Ia tetaplah seseorang yang sangat pintar.
Terlebih lagi, Ia telah berpengalaman dalam pahitnya kehidupan dan dunia bisnis. Oleh karena itu….
“Baiklah! Aku akan segera…. Tunggu, kami berdua masih lelah setelah apa yang terjadi di dunia game. Mungkin aku akan menghubunginya esok hari. Bagaimana?” Tanyaku kepada adikku.
“Tak perlu terburu-buru juga, Kak. Yang jelas jangan terlalu lama karena banyak orang yang mengincar tanah itu.” Balas adikku.
Segera setelah diskusi berat kami berakhir, aku segera kembali ke kamarku untuk tidur.
__ADS_1