The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 157 - Hasil Akhir


__ADS_3

“Evan!” Teriakku dengan sangat keras.


Segera setelah mendengar itu, Ia memahaminya dan mundur sejauh mungkin.


Leo dan Evalina yang sama sekali tak mengerti apa yang terjadi terlihat kebingungan. Tapi mereka berdua memahami satu hal yang sama.


‘Penyihir ini merencanakan sesuatu yang buruk! Aku harus segera menghentikannya!’ Pikir mereka berdua.


Dengan pemikiran yang setengah matang itu, akhirnya mereka memilih sebuah keputusan terburuk yang bisa mereka ambil dalam keadaan ini. Yaitu mengejarku sekuat tenaga dan berusaha untuk membunuhku.


Evalina nampak mengubah bola cahayanya menjadi tombak dan mengarahkannya kepadaku.


Tapi kini, tongkat sihirku yang telah membawa 3 buah lingkaran sihir [Amplify] membuat kekuatan skillku berikutnya akan menjadi 4 kali lipat lebih kuat. Skill itu adalah….


‘Self Destruct!’ Teriakku dalam hati.


Tubuhku mulai diselimuti cahaya merah yang cukup terang.


‘Jleb!’


Salah satu tombak cahaya milik Evalina berhasil mengenai tubuhku. Tapi itu bukanlah masalah besar. Dengan Health Point milikku yang kini masih berada pada kisaran 60% sudah cukup untuk memberikan damage yang besar dengan skill ini.


Hanya dalam waktu kurang dari 1 detik. Aku segera melepaskan ledakan itu. Sebuah ledakan yang akan mengubah pandangan seluruh pemain di dunia tentang kekuatan.


‘DUUUUUUUUUUUAAAARRR!!!’


Ledakan dengan ukuran yang melebihi 80 meter itu membumingahuskan segalanya. Termasuk pasukan Undead milik Evan yang kini sedang bertarung dengan Holy Knights dan pasukan manusia lainnya. Tentu saja mereka juga mati seketika.


Bersamaan dengan itu, Health Point milikku menurun dengan drastis dan kini hanya tersisa 5% atau sekitar 11.000 HP saja.


Saat aku mencoba membuka mataku….


‘Jleebbb!!!’


Sebuah pedang besar telah menancap tepat di jantungku.


[Anda telah menerima 82.242 damage!]


[Anda telah menerima damage yang sangat besar!]


‘Sialan! Apa-apaan ini?!’ Teriakku dalam hati.


Tapi seakan tak ingin membiarkan diriku tenang, notifikasi sistem kembali melanjutkan pemberitahuannya.


[Anda telah mati!]


[Sebagai hukuman atas kejahatan Anda, sistem memberikan restriksi Log In selama 30 hari!]


[Peluang jatuhnya Item telah meningkat drastis karena kejahatan Anda!]


[Item : Obsidian Staff telah jatuh!]


[Item : Obsidian Armor telah jatuh!]


[Item : Ring of Ultimate Intelligence telah jatuh!]


[Item : Robe of the Dead telah jatuh!]


[139.327 koin emas telah jatuh!]

__ADS_1


[481 Full Mana Potion telah jatuh!]


[ …. ]


[Bersiap untuk melakukan Log Out secara paksa!]


Notifikasi sistem itu terus menerus muncul untuk memperjelas kekalahanku dalam bertarung. Tapi sesaat sebelum pandanganku di dunia virtual ini memudar, aku melihat sosok Evalina dan Leo yang telah menjadi cahaya putih.


‘Pedang ini…. Apakah milik Evalina? Sialan…. Tapi setidaknya, aku telah menyingkirkan 2 orang terkuat di dalam pasukan musuh. Evan, aku menyerahkan sisanya padamu.’ Ucapku dalam hati sambil melihat sosok Evan yang masih berdiri tegak dengan pedang hitam kehijauan miliknya.


Dari tubuhku, nampak keluar sosok Wanita berambut pirang yang sangat anggun.


“Kau telah bertarung dengan baik, Eric. Sisanya, aku akan membereskannya untukmu.” Ucap Wanita bernama Deus itu.


Segera setelah itu, pandanganku berubah dan kembali ke dunia nyata. Di hadapanku, terlihat dengan jelas sebuah atap dari mesin kapsul yang kugunakan untuk bermain Re:Life. Cahaya biru yang indah menyelimuti tubuhku yang sedang berbaring di dalam kapsul ini.


...***...


Sementara itu….


‘Eric…. Terimakasih. Pengorbananmu ini, takkan ku sia-siakan.’ Ucap Evan dalam hati sambil memungut seluruh item dan kantong berisi koin emas itu. Semuanya tergeletak di tanah dan menunggu untuk diambil siapapun.


‘Sekarang permasalahannya adalah Lorelei di sisi Utara. Kurasa aku harus…. Eh?!’ Teriak Evan dengan kaget dalam hatinya.


“Jadi kau yang bernama Evan? Hmm…. Kekuatanmu sungguh luarbiasa. Sekarang, apa rencanamu? Apakah ada musuh yang kuat disini?” Tanya Deus dengan senyuman yang lebar kepada Evan.


“Kau…. Siapa kau?” Tanya Evan kebingungan.


“Hah dasar. Aku yang bertanya kenapa kau malah balik bertanya kepadaku? Aku adalah Deus, sahabat Eric! Sekarang katakan, dimana aku bisa bertarung dengan musuh yang sangat kuat?!” Teriak Deus sambil menyilangkan kedua lengannya.


Mendengar hal itu, Evan nampak kebingungan. Bagaimanapun, Wanita yang ada di hadapannya nampak begitu lemah. Meski begitu, Ia mengatakan hal yang di luar nalar.


[Nama : Asmodeus]


[Ras : ???]


[Level : 472 (Weakened)]


‘A-apa maksudnya ini?! Bagaimana mungkin monster seperti ini….’


Belum sempat menyelesaikan perdebatan dengan dirinya sendiri, sebuah kalimat yang cukup tajam telah menusuk Evan.


“Kenapa kau mengintip levelku? Kau bisa tanya langsung padaku. Yah, meskipun saat ini kondisiku sedang melemah. Jika aku telah memperoleh kembali seluruh kekuatanku yang hilang, maka setidaknya aku akan berada di level 650.” Balas Deus tanpa ekspresi.


“Le-level 472 kau bilang sedang melemah?! Apa-apaan in?!”


Pada akhirnya, Evan kehilangan sebagian kewarasannya lagi setelah mengetahui status yang sangat mengerikan dari Deus.


Sejak bergabungnya Deus dalam pertempuran itu secara langsung, hasil akhirnya telah dipastikan.


Bahwa kemenangan akan berada di pihak Evan.


...***...


...12 Januari 2074...


...Kulon Progo...


...DIY...

__ADS_1


...[Berita hari ini!]...


...[Pertempuran di Kota Lesta berakhir dengan kekalahan telak pasukan manusia!]...


...[Apakah ini akhir dari Kerajaan Farna?]...


Saat melihat headline dari berita yang muncul itu, perasaanku menjadi sedikit lega.


‘Evan, nampaknya kau berhasil memenangkan pertempuran itu dengan mutlak ya? Aku tak tahu bagaimana caramu mengalahkan Sainteess itu tapi….’


Saat aku masih berbicara pada diriku sendiri dalam hati, sebuah video nampak ditampilkan di acara berita itu.


“Berikut ini adalah situasi akhir dari Kota Lesta di Wilayah Kerajaan Farna! Kota yang dulunya sangat hijau dan makmur itu, kini telah ditutupi oleh es yang sangat tebal!” Ucap seorang pembawa acara berita itu.


‘Hah? Es? Apa maksudnya ini? Bukankah kekuatan dari Lorelei adalah….’ Pikirku dalam hati.


“Hari ini, kami telah mengundang orang yang telah merekam seluruh alur pertempuran itu! Nico, silakan masuk!” Teriak pembawa acara itu sambil diiringi dengan tepuk tangan yang sangat meriah.


“Terimakasih atas sambutannya.” Balas Nico sambil tersenyum lalu duduk di salah satu kursi.


“Jadi, bisakah kau ceritakan kepada kami bagaimana pertempuran itu berlangsung?” Tanya sang pembawa acara.


“Tentu saja. Bagi kalian yang belum menonton videoku, saat ini masih dapat diakses secara gratis di MeTube sebelum aku menguncinya menjadi Premium beberapa hari lagi.” Jelas Nico sambil tersenyum.


Tentu saja, meskipun MeTube memberikan uang berdasarkan jumlah penonton tapi jumlahnya tidak terlalu besar. Oleh karena itu, terdapat fitur penguncian premium dimana penonton harus membayarkan sejumlah uang untuk dapat melihat video itu.


Kembali ke Nico.


“Pertempuran diawali dengan keunggulan jumlah yang mutlak dari pihak pasukan gabungan. Akan tetapi, keseimbangan kekuatan dengan segera bergeser setelah terjadi hujan asam yang secara misterius muncul di atas barisan pasukan. Serangan dadakan Undead yang muncul dari belakang barisan pasukan musuh juga memperburuk kondisi pasukan gabungan.


Tak hanya itu, setiap langkah pasukan gabungan menyebabkan ledakan dari bawah tanah. Kematian terus menerus bermunculan dan menyebabkan kondisi pertempuran menjadi sangat ricuh.


Hingga akhirnya, Wakil Dewi Celestine yaitu Evalina maju untuk bertarung tapi secara misterius terlempar jauh dari barisan pasukan. Kemudian….”


Nico terus merangkum kejadian pertempuran itu secara rinci. Tentu saja, semua orang memperhatikannya dengan seksama termasuk diriku.


Setelah rangkuman yang cukup panjang, akhirnya Nico telah sampai di bagian yang kunantikan. Yaitu bagian dimana aku telah terbunuh.


“Setelah kematian Evalina dan Inquisitor yang bersamanya oleh ledakan besar, muncul sosok monster baru yang sangatlah kuat. Wujudnya seperti seorang Wanita dengan rambut pirang dan menggunakan tongkat berbentuk cakar. Di video yang kuambil, terlihat sosoknya selama beberapa menit melawan Sainteess Lorelei dengan sengit.


Wanita itu segera terbang ke arah utara dan tanpa ampun menggunakan sihir yang sangat kuat. Aku sendiri bahkan tidak menyangka sihir seperti itu ada di dunia Re:Life.


Hasilnya adalah seperti yang dilihat sekarang. Seluruh tempat di Kota Lesta menjadi beku. Kemenangan dengan segera berada di tangan Necromancer bernama Evan itu. Meskipun….”


Nico nampak sedikit memberikan jeda dalam perkataannya. Pembawa acara yang melihatnya nampak kebingungan.


Tapi dengan segera, Nico melanjutkan penjelasannya.


“Necromancer bernama Evan itu mengusulkan perdamaian. Ia meminta dirinya diberikan jaminan untuk hidup damai di Kota Lesta. Seluruh Player dan NPC harus menerima itu. Jika tidak, Ia mengancam akan mengirimkan 1 juta lebih Undead dan juga 500.000 lebih Zombie ke seluruh dunia.” Jelas Nico.


Pembawa acara yang mendengar hal itu nampak sangat terkejut. Tapi bukan karena ancaman dari Evan, melainkan karena usulan perdamaian itu.


“Lalu…. Apa yang pihak manusia pilih?” Tanya pembawa acara itu.


“Sainteess Lorelei sebagai wakil tertinggi Dewi Julia di tempat itu memutuskan untuk menerima perdamaian ini setelah melihat kekuatan mutlak dari musuhnya. Tentu saja dengan syarat bahwa Evan dilarang meninggalkan Kota Lesta. Sebagai gantinya, seluruh manusia termasuk Player dilarang untuk mendekati Kota Lesta. Akhirnya, kesepakatan terbentuk dan kedamaian kembali diperoleh.”


Mendengar penjelasan dari berita itu, aku menjadi sangat lega.


“Hah…. Setidaknya, sesuai dengan rencana. Terimakasih Deus, kau telah memberikan bantuan yang sangat besar kali ini. Dengan begini, aku bisa kembali melakukan pembangunan dengan damai tanpa adanya ancaman dari pihak para Dewi lagi.

__ADS_1


Bagaimanapun, mereka telah mengalami kerugian besar dengan kematian sebagian besar pasukan mereka di pertempuran itu.” Ucapku sendiri sambil merebahkan diriku di sofa.


__ADS_2