
Tanpa aba-aba, kedua pemain itu pun maju dengan cepat. Mereka saling menghadapi satu sama lain.
Di satu sisi, Angie terlihat menggunakan pedang emas di tangan kanannya dan tombak perak di tangan kirinya.
Sementara itu, Eric terlihat membawa dua buah belati di kedua tangannya.
Pada saat keduanya bertemu....
'Sraaaat!!!'
Eric meluncur dan mengayunkan tebasan belati ke arah kaki Angie. Tapi gerakan sederhana seperti itu sangat mudah untuk ditebak sehingga Angie mampu untuk menahannya dengan sangat mudah dengan dua senjatanya.
Seakan itu hanyalah pengecoh, Eric segera berlari menjauhi Angie sambil melemparkan dua buah belatinya itu kepada Angie.
'Traang! Traang!'
Angie menahannya lagi dengan pedangnya.
Tapi kini, di hadapannya, terlihat sosok seorang Pria yang telah memegang tongkat sihir.
Angie yang menyadari bahwa hal buruk akan segera terjadi memaksanya untuk secepat mungkin mendekati Eric.
Tapi pada saat yang bersamaan, sebuah dinding api yang mengelilingi tubuh Eric pada jarak sekitar lima meter itu memaksa Angie menghentikan langkahnya.
Ia dengan cepat memikirkan langkah terbaik untuk mengatasi dinding api itu.
Hanya dalam waktu setengah detik, Angie telah memutuskannya dan segera melempar tombak perak itu dengan tangan kirinya.
'Jleb!'
[Anda telah memberikan 4.964 damage!]
Melihat hal itu Angie merasa sangat yakin bahwa Eric masih berada di dalam. Ia dengan cepat memutuskan untuk melewati dinding api itu meski harus menerima sedikit damage.
[Anda telah menerima 3.865 damage!]
Angie sangat siap untuk menebaskan pedang emasnya, serta menembakkan Magic Gun miliknya yang kini telah terisi dan berada di tangan kirinya.
Tapi apa yang menantinya....
'Sreeett!'
Ternyata Eric sengaja menerima lemparan tombak itu untuk memancing Angie masuk ke dalam lingkaran api itu.
Ia dengan sigap menangkap tangan kiri Angie dan segera membanting tubuh Angie ke tanah.
'Blaaaarrr!'
Tak berhenti di situ, Eric berniat untuk mematahkan tangan kiri Angie. Tapi sungguh disayangkan karena pistol yang telah terisi peluru itu segera ditembakkan oleh Angie.
Eric yang sempat menyadari hal itu segera melepaskan tangan kiri Angie dan mundur untuk menghindari tembakan itu.
'Duaaaaarrr!
Tembakan dua buah peluru itu meleset. Kini menyisakan Angie yang tak lagi memiliki elemen kejutan dengan menggunakan pistolnya. Meski begitu Ia sudah cukup puas karena berhasil menghindari maut yang ada di hadapannya.
Angie pun segera memutar tubuhnya dan melompat agar mampu berdiri dengan cepat. Dalam pikirannya hanya ada satu hal, yaitu entah bagaimana caranya harus bisa mengisi kembali peluru sihir itu.
__ADS_1
Sementara itu, Eric sedang dibingungkan dengan kondisi saat ini.
Jika Ia memilih menggunakan Silent Killer dan justru meleset, maka statusnya akan semakin menurun dan membuatnya semakin sulit untuk mengalahkan Angie.
Pada saat itulah Ia memutuskan untuk terus mencoba mengungguli Angie dengan teknik beladiri tangan kosongnya.
Tapi di saat yang bersamaan, Angie adalah Angie. Ia tetaplah seorang pemain jenius yang mampu beradaptasi dengan sangat cepat dalam pertarungan yang sulit diprediksi ini.
Ia segera memahami pola bertarung Eric dengan tangan kosong itu. Maka dari itu, Ia dengan cepat melompat mendekati Eric sambil mengayunkan pedang emasnya itu secara horizontal.
Eric menghindarinya dengan mudah. Tapi itu adalah apa yang sangat diinginkan oleh Angie.
Ketika Eric menunduk untuk menghindari tebasan pedang itu, Angie telah memutar tubuhnya dengan cepat dan melayangkan tendangan yang kuat ke arah kepala Eric. Sebuah serangan dengan dua alternatif hasil.
Jika Eric tak menghindar, maka Ia akan mampu selamat dari tendangan itu namun harus menerima tebasan Angie.
Tapi jika menghindari tebasan itu....
'Tap! Sreeett!'
Diluar dugaan Angie, Eric juga telah mempersiapkan dirinya. Ia sangat paham bahwa lawannya adalah seorang jenius yang tak mungkin melayangkan serangan sederhana seperti barusan.
Dengan demikian, Eric mempersiapkan tangan kirinya untuk menahan tendangan Angie. Dan ketika tendangan itu mengenai tangan kiri Eric, Ia dengan segera menangkap dan mencengkeramnya sekuat tenaga dengan kedua tangannya.
'Wuuussh!'
Eric dengan cepat bersiap untuk membanting tubuh Angie ke arah dinding api yang ada di belakangnya.
Angie pun dengan pasrah harus menerima kenyataan itu. Tapi memanfaatkan ketidakberdayaan kakinya, Angie dengan segera memasukkan kembali pedang emasnya lalu mengeluarkan dua buah peluru baja dari inventorynya dengan cepat dan memasukkannya ke dalam Magic Gun yang berada di tangan kirinya.
'Klak!'
Tapi pada saat yang bersamaan, Angie menembakkan pistolnya ke arah kepala Eric tanpa ragu dan tanpa jeda.
'Duaaaarrr!'
Eric yang hanya memiliki sedikit waktu untuk merespon, ditambah Angie yang menembak tanpa mengincar dengan akurat, menyebabkan Eric harus menerima salah satu peluru sihir yang dipercepat dengan petir itu.
Meski hanya menggores pipinya, peluru sihir itu mampu memberikan damage yang menguras lebuh dari 70% Health Point miliknya. Benar-benar sebuah senjata pembunuh yang sangat mengerikan.
Tapi tak ingin melepaskan momen ini, Eric dengan sigap menarik lengan kiri Angie yang sedang mengarahkan pistol itu ke wajahnya. Ia lalu membalik dan memutar tubuhnya dengan cepat sehingga mampu menghancurkan persendian tangan kiri Angie dan meremukkan tulangnya.
[Tangan Kiri Anda telah mengalami patah tulang!]
[Anda takkan bisa menggerakkan tangan kiri Anda lagi!]
[Anda telah menerima 8.672 damage!]
Notifikasi itu muncul di hadapan Angie yang masih sulit menerima kenyataan saat ini.
Tapi tak ingin terhanyut dalam keadaan itu, Ia dengan segera melompat keluar dari dalam dinding api itu, mengamankan dirinya dari serangan sihir api milik Eric.
Eric yang tak ingin kehilangan lokasi Angie pun segera melepaskan sihir dinding api itu dan berlari mengejarnya. Ia kini mengeluarkan busur dan panahnya lalu menembaki Angie dari kejauhan.
Angie yang kini hanya memiliki satu tangan mulai kesulitan untuk menahan seluruh serangan Eric. Meski begitu Ia masih bisa menghalau semua panah yang mengarah padanya.
Sesekali, batuan panas yang diselimuti oleh lahar itu akan melayang di atas kepala mereka berdua. Eric yang tak ingin melewatkan kesempatan itu menembakkan panahnya untuk menghancurkan batu itu menjadi berkeping-keping, menghasilkan hujan batuan yang cukup mematikan.
__ADS_1
Ketika Eric berhasil mendekati targetnya, Angie dengan segera membalikkan badannya lalu menendang Eric sekuat tenaga untuk menjauhkan dari dirinya. Ia memahami bahwa satu-satunya kesempatan bagi dirinya untuk menang adalah menguras darah Eric secara perlahan dari jarak yang aman.
Tapi jauh dari ekspektasi keduanya....
Saat ini waktu yang tersisa menunjukkan angka 5 detik.
Eric yang melihat hal itu segera membuang semua rencana murahannya lalu mengalihkan dirinya pada sebuah skill yang bisa membunuh lawannya jika mengenai titik vitalnya.
Sebuah skill bernama Silent Killer yang memakan 5% status point miliknya itu pun melesat dengan sangat cepat, bersamaan dengan 6 buah tembakan lainnya yang juga merupakan Silent Killer.
Jika tembakan itu meleset sekali pun, setidaknya Angie takkan memiliki waktu untuk menyerang balik Eric.
Tapi diluar dugaannya, Angie yang melihat sisa waktu itu justru membalik badannya dan beralih untuk mengejar Eric.
Ia dengan mudah menghancurkan semua anak panah Silent Killer itu dengan pedang emas di tangan kanannya.
Eric yang melihat kejadian itu sedikit kesal karena kemampuan Angie bahkan masih berada di atasnya meski hanya memiliki satu tangan.
Pada saat waktu pertandingan hanya tersisa 2 detik saja, Angie dengan segera mengayunkan pedang emasnya tepat ke arah leher Eric.
Semua penonton merasa tegang atas apa yang terjadi. Pertarungan yang awalnya didominasi oleh Eric itu, kini beralih dimana Angie mampu mengenai leher Eric dengan pedang tingkat legendaris itu.
Sebuah notifikasi pun muncul di hadapan layar semua penonton.
[Target telah terkena serangan mematikan!]
[Target telah terpenggal!]
[Target telah mati!]
[Target telah mati!]
Notifikasi yang cukup membingungkan itu membuat semua orang berdebat akan siapa yang akan memenangkan pertandingan ini.
Hingga akhirnya, waktu pertandingan pun berakhir.
Dunia virtual yang hanya hidup selama empat hari itu pun ditutup, memaksa kedua pemain terakhir yang ada di dalamnya keluar dari sana.
Termasuk juga para penonton VIP yang berada di dunia itu.
Pada saat dua kapsul terakhir yang ada di stadion pertandingan itu terbuka, terlihat wajah Eric yang nampak begitu kesal. Sedangkan Angie nampak tersenyum manis seakan dipenuhi dengan kebahagiaan.
Wajah yang dengan jelas menggambarkan ekspresi mereka berdua itu pun tertangkap oleh kamera. Membuat semua orang berspekulasi akan hasil akhir dari pertandingan itu.
Apakah Eric kalah sehingga Ia terlihat begitu kesal? Atau kah Angie begitu bahagia karena Ia menang?
Di saat semua penonton masih kebingungan siapa yang memenangkan pertandingan barusan....
Layar hologram yang menjelaskan semuanya pun akhirnya muncul, bersamaan dengan pemutaran ulang kecepatan 0.25x.
Terlihat pada layar, sosok Angie yang telah berhasil mengayunkan pedangnya dan mengenai leher Eric.
Tapi sesaat sebelum itu, Eric juga telah berhasil menancapkan sebuah anak panah tepat ke jantung Angie. Sebuah anak panah yang dibumbui dengan skill [Silent Killer] itu mampu membunuh Angie seketika.
Meski begitu, pedang yang telah diayunkan oleh Angie masih berhasil melanjutkan gerakannya dan akhirnya memenggal kepala Eric.
Hasil akhir pun menunjukkan....
__ADS_1
Bahwa Eric menang tipis karena lebih dulu membunuh Angie dengan anak panah yang dia tancapkan ke jantung Angie menggunakan tangan kanannya.
Sebuah kemenangan yang hanya memiliki selisih waktu sekitar 0.024 detik.