
"Jadi bagaimana, Eric? Apakah kau menerima bisnis yang adil ini? Jika tidak, aku bisa membeberkan tentang dirimu kepada seluruh dunia. Termasuk juga persembunyianmu!" Tanya William dengan nada sombongnya.
Eric pun memutuskan untuk sedikit lagi menggali informasi mengenai William dan sosoknya yang sebenarnya di dunia virtual itu.
"Jadi, Kau tahu bahwa aku membangun persembunyian baru di wilayah Utara Pegunungan Alpa?" Tanya Eric dengan sebuah pertanyaan jebakan yang tentu saja Ia sebutkan secara asal.
"Ya, tentu saja. Bahkan aku tahu bahwa kau sedang berusaha mendekati Raja dari Kerajaan Farna. Kau berusaha begitu keras untuk tampil baik di hadapan pemain bernama Arlond itu demi memperoleh kepercayaannya kan? Dengan berpura-pura sebagai seorang penyihir yang hebat! Kemudian diam-diam kau akan mulai menguasai Kerajaan itu sedikit demi sedikit!"
Perkataan William barusan tentu saja sangatlah bertentangan dengan kenyataan.
Sekaligus membuktikan bahwa seluruh tindakan Eric mengendalikan Kerajaan Farna sama sekali tidak diketahui oleh siapapun.
Tapi saat ini yang terpenting bagi Eric adalah menguak mengenai identitas yang sebenarnya dari sosok bernama William itu.
Dan untuk itu, aktingnya pun harus berlanjut.
"Ba-bagaimana kau tahu bahwa aku berencana untuk mendekati Raja dari Kerajaan Farna lalu menguasainya?!" Ucap Eric dengan wajah yang dibuat-buat terlihat begitu gugup.
William pun tersenyum lebar.
"Tentu saja aku tahu! Jaringan informasi kami sangatlah kuat karena kami ada dimana-mana!" Teriak William dengan penuh percaya diri.
Di dalam hatinya, Ia jauh lebih bahagia lagi.
'Dasar bodoh! Dia secara tak sadar membeberkan informasinya sendiri! Sekarang aku justru memperoleh....'
Tapi sebelum sempat menyelesaikan perkataannya di dalam hati, William dikejutkan dengan sosok Eric yang tersenyum lebar di hadapannya.
"Fufufu.... Kurasa sudah cukup untuk akting hari ini. Wajahku juga sudah cukup lelah." Ucap Eric sambil tertawa menirukan logat Lucien.
William yang seakan tak mempercayai perkataan Eric barusan segera menoleh ke arah Rose.
Tapi Rose hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat, menunjukkan bahwa Eric sama sekali tidak berbohong.
'Tunggu dulu?! Perkataannya barusan tidak bohong?! Tapi.... Bukankah kebohongannya barusan....'
"Biar kujelaskan satu hal padamu, amatir." Ucap Eric sambil menunjuk tepat di dahi William.
Setelah diam beberapa saat, Eric melanjutkan perkataannya sambil menghina William sebaik mungkin.
"Aku sengaja berbohong barusan untuk membuatmu percaya bahwa alat rongsokan itu benar-benar bisa mendeteksi kebohongan. Padahal yang sebenarnya terjadi, alat rongsokan yang dibawa pelayanmu itu hanya bisa menebak apakah seseorang berbohong atau tidak dari beberapa parameter seperti raut wajah, detak jantung, nafas dan lain sebagainya.
Dan sekarang, kau telah jatuh di dalam perangkap ku wahai pedagang besar." Ucap Eric dengan senyuman lebarnya.
Pada saat mendengar perkataan Eric yang sangat sulit dipercaya itu, William justru seakan mengiyakan perkataan Eric dengan ekspresi wajahnya yang kesal dan marah.
"A-apa kau bilang?! Aku tidak...."
Menyela perkataan William, Eric segera membalasnya.
"Ah jadi tebakan asalku itu benar? Atau salah? Yah aku tidak peduli. Lagipula Federasi Pedagang cukup layak untuk dijarah."
__ADS_1
"Hahaha! Akhirnya kau mengakui bahwa kau memiliki kekuatan Summoner kan?! Kalau begitu...."
Eric pun menyela dengan sangat cepat.
"Tidak. Aku tidak lagi memiliki kekuatan Summoner sejak dikalahkan oleh Inquisitor dari Kerajaan Suci Celestine. Skill mengerikan itu telah disegel dan hilang." Balas Eric dengan senyuman tipis dan wajah yang sangat meyakinkan.
William yang mengetahui bahwa alat deteksi kebohongannya sudah tak bisa lagi dipercaya kini hanya bisa bergantung pada insting dan pengalamannya.
'Apakah yang dikatakannya itu benar? Atau hanya sebuah gertakan saja?' Pikir William dalam hatinya.
Tapi seakan telah mengetahui bahwa William yang saat ini sedang bimbang, Eric pun memberikan dorongan kuat untuk memaksa William mempercayai kondisinya saat ini.
"Itulah kenapa aku memperkenalkan diriku sebagai Penyihir Agung. Itu semua karena aku telah kehilangan kekuatan pemanggilan monster milikku dulu.
Bahkan semua itu telah dibuktikan oleh para pemain di hadapan kamera dengan menggunakan item penilai untuk mengintip seluruh kemampuan yang aku miliki. Mengingat lagi, siapa orang yang memaksaku melakukan itu? Scarlet?" Ucap Eric dengan wajah yang sangat meyakinkan.
Eric pun memberikan gestur ringan kepada Lisa. Asisten pribadinya yang telah lama melayani Eric itu pun segera menyadari apa maksud dari Eric.
Dengan segera, Lisa mengeluarkan tablet hologram dan memutar video ketika eksekusi Scarlet di Kerajaan Farna. Termasuk juga ketika banyak pemain mengekspose seluruh skill yang dimiliki oleh Eric.
Lisa segera memberikan tablet itu kepada William dan kawan-kawannya dengan santai dan sikap yang acuh.
Semua orang Eropa yang melihat hal itu segera membelalakkan matanya. Mereka menyadari kenyataan bahwa Eric sama sekali tidak berbohong mengenai hal itu.
Pada saat mereka semua masih dibingungkan dengan kenyataan yang sangat pahit itu, Eric segera berdiri dari duduknya dan berkata.
"Maaf tapi tawaran kalian sungguh tak menarik sama sekali. Kalian bebas menyebarkan ataupun membocorkan informasi itu. Tapi aku sangat yakin, semua orang justru akan mencela atau menertawai kalian."
Dengan tatapan yang tajam itu, membuat William mau tak mau harus mengakui kekalahannya.
Tapi apalah daya manusia dihadapan kekayaan sebesar itu? William pun akhirnya menggunakan cara terakhirnya yang paling buruk dan barbar.
'Bruuukk!!'
Willam memukul wajah Eric dengan sangat keras. Meski itu adalah cara terakhirnya, tapi sebagian besar tindakannya didasarkan atas rasa kesal dan kemarahannya karena kalah dalam adu bicara dengan Eric.
Jauh di luar ekspektasinya, Eric justru tersenyum lebar setelah menerima tinju yang cukup kuat itu di wajahnya.
Dari balik senyumannya yang penuh kelicikan itu Eric berkata.
"Satu."
Lisa yang sejak tadi telah cukup menjauhi mereka berdua kini telah berdiri dengan tenang di depan pintu.
"Kau pikir bisa seenaknya menghinaku seperti itu hah?! Apa kau tidak tahu siapa aku?!" Teriak William sambil kembali melayangkan tinjunya yang kedua ka arah wajah Eric.
'Braaaaakkk!'
Pukulan yang cukup kuat itu membuat Eric sedikit memuntahkan darah dari bibir dan juga hidungnya.
Tapi sama seperti sebelumnya, Eric hanya tersenyum puas sambil berkata.
__ADS_1
"Dua."
Rose dan juga Robert yang ada di belakang berusaha keras untuk menghentikan tindakan William.
"Hentikan! Apa kau tahu apa yang baru saja kau lakukan?!" Teriak Rose dengan wajah yang sangat panik.
Tapi apalah daya seorang wanita di hadapan pria yang bertubuh besar seperti William.
Sesaat sebelum Robert berhasil menghentikannya, William telah melayangkan tinju ketiga yang tepat mengenai wajah Eric.
'Braaaaaaaakkk!!!'
"Tiga." Ucap Eric dengan senyuman yang semakin lebar pada setiap pukulan yang diterimanya.
Meski menerima pukulan sekuat itu sebanyak tiga kali, Eric masih berdiri tegap di posisinya yang sebelumnya. Tanpa sedikitpun goyah maupun terdorong.
Segera setelah pukulan ketiga itu, Eric mulai mengangkat wajahnya yang sedikit berdarah itu sambil berkata.
"Lisa. Kau merekam semuanya kan?" Tanya Eric dengan tatapan paling bahagia yang pernah dia perlihatkan.
"Tentu saja, Tuan Eric. Diriku sebagai saksi telah melaporkan tindakan kekerasan ini kepada pihak berwenang." Ucap Lisa dengan nada datarnya seperti biasa.
William yang menyadari apa yang baru saja Ia perbuat kini tak bisa lagi menarik mundur seluruh tindakannya.
Ia merasa cukup ketakutan setelah Lisa mengatakan 'Pihak Berwenang' karena kekerasan semacam ini di tempat publik pada jaman sekarang dilarang keras.
Jika dilaporkan kepada pihak berwenang dan memang terbukti bersalah, bukan karena membela diri, maka hukuman yang diperoleh bisa cukup berat tergantung dari situasi yang ada.
Di tengah kebimbangan William antara ketakutan atas tindakannya atau marah karena perilaku Eric, pada saat itulah....
"Ternyata, bahkan manusia dari negara maju sekalipun jauh lebih barbar daripada manusia di negara miskin seperti tempatku. Apa yang diajarkan oleh sekolah kalian? Cara mencuri? Cara berkelahi? Sungguh tidak beradab!" Teriak Eric sebagai upaya terakhirnya untuk memprovokasi William.
Dan tentu saja, sebagai seorang dengan harga diri yang tinggi untuk dihina seperti itu....
'Wuuoossh!'
Tangan kanan William telah diayunkan dengan sangat cepat sekali lagi ke arah wajah Eric.
Tapi pada saat itu juga....
'Tap!'
Tangan seseorang terlihat menahan pukulan William itu dengan mudah.
Seseorang dengan tubuh yang memiliki tinggi setara dengan Eric namun sedikit lebih berisi dan berotot.
Seorang Pria dengan rambut hitam pendek seperti seorang prajurit itu berkata dengan nada yang dipenuhi kekesalan.
"Masbro... bukankah sudah cukup membiarkan para binatang ini berkeliaran dengan bebas?"
Dengan senyuman yang sangat kejam itu, Eric membalas perkataan Rendy.
__ADS_1
"Kau benar juga. Bagaimana jika kita sedikit menjinakkan mereka semua?"