The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 262 - FFA PvP 15


__ADS_3

"Angie!" Teriak Eric kepada Angie yang kini sedang menghadapi Minotaurus itu hanya dengan sebuah tongkat kayu.


"Aku mengerti!"


'Kletak!'


Pada saat itu juga, tongkat kayu yang merupakan senjata terakhir yang dimiliki oleh Angie itu pun patah.


Meski begitu, Ia sama sekali tak panik. Ia justru nampak sangat tenang sambil melompat mundur secara perlahan.


Di wajahnya terlihat melukiskan senyuman yang tipis.


Sesaat setelah Angie mundur, sebuah anak panah yang dibalut dengan api dan juga petir itu melesat dengan sangat cepat. Arahnya sangat jelas yaitu jantung Minotaur.


'Zraaaaaat! Duaaarr!!!'


Ledakan yang sangat besar terjadi. Bersamaan dengan itu, notifikasi damage yang menggembirakan terlihat di hadapan Eric.


[Anda telah memberikan 362.956 damage!]


[Minotaurus telah mati!]


[563.917.994 Experience Point telah diperoleh!]


[57% Experience Point telah dibagikan kepada Player : Angie!]


[Anda telah naik level!]


[Anda telah naik level!]


[Anda telah .... ]


Kini, level mereka berdua melejit dengan sangat drastis.


Eric saat ini telah mencapai level yang sangat tinggi yaitu level 174. Sedangkan Angie saat ini telah mencapai level 163.


Tak hanya di situ....


[Anda telah memperoleh 'Kunci Tua']


Seketika, Eric dan Angie tersenyum lebar setelah melihat sebuah kunci yang cukup tua dan sudah berkarat itu.


Pikiran mereka berdua searah, yaitu bahwa ada suatu harta di tempat ini yang dijaga oleh Minotaurus itu.


Mereka pun memulai penjelajahan di ngarai yang gelap gulita ini.


Satu-satunya petunjuk yang mereka miliki, hanyalah sebuah kunci tua yang entah akan membuka pintu yang mana.


...***...


...Bagian Tengah Pulau...

__ADS_1


...Gunung Berapi Vesuvius...


Kelima Player Eropa itu segera membentuk tempat persembunyian dan pertahanan yang terbaik di dalam gunung berapi itu.


Berkat bantuan sihir milik Rose, mereka berhasil membuat sebuah ruangan yang cukup sejuk meski berada di dalam gunung berapi. Sebuah ruangan yang terbentuk dari batuan itu hanya memiliki luas sekitar 4 x 4 meter saja.


Akan tetapi, itu semua sudah cukup untuk menjamin kemenangan mereka.


"Kalau begitu, kita akan bersembunyi di sini sampai babak akhir. Level kita semua sudah cukup tinggi untuk melawan siapapun yang tersisa dari pertarungan berdarah yang akan terjadi di luar sana." Ucap Robert sambil merebahkan tubuhnya di ruangan yang hanya disinari oleh bola cahaya yang di buat oleh Rose.


Antonio yang sedikit tidak setuju dengan rencana ini pun mengungkapkan kekesalannya.


"Aku ingin bertarung! Bersembunyi seperti tikus bukanlah gayaku!"


"Diamlah. Selama kita bisa menang dan memperoleh bayaran dari semua hadiah itu, aku tak peduli lagi." Balas Margrett sang pemanah itu.


"Aku setuju. Membiarkan mereka semua bertarung adalah keputusan terbaik. Lalu pada saat itu juga, kita akan membunuh siapapun yang akan bertahan hingga akhir pertarungan itu." Lanjut Frans sang penyembuh.


Pada akhirnya, kelima Player yang dipandang memiliki kekuatan terbesar itu pun memutuskan untuk menghabiskan sisa waktunya yang selama 20 jam lebih itu dengan bersembunyi.


Keputusan yang logis....


Jika saja tidak terdapat Player lain yang juga bekerjasama dan memiliki kekuatan yang sama besarnya.


...***...


...Di tengah Hutan...


'Tap! Tap! Tap!'


Seorang wanita dengan rambut kehijauan itu nampak berlari dengan sangat cepat, melewati seluruh pepohonan dan juga bebatuan yang menghalangi jalannya.


Jika ada yang tak bisa dihindarinya?


Ia akan menghancurkan semua itu dengan Rapier miliknya.


'Blaaaarrr!!!'


Batu yang besar itu hancur lebur hanya karena tusukan Rapier milik wanita bernama Brunhilda itu.


"Cih. Player menjijikkan itu. Bekerja sama di tengah pertempuran yang seharusnya menjadi panggung yang adil ini? Aku bisa memahami jika mereka membentuk Party yang acak dengan siapapun yang mereka temui di dalam pulau ini.


Akan tetapi, membuat perjanjian di dunia nyata dengan lebih dari 10 pemain untuk menguasai pertempuran ini? Sangat menjijikkan!"


Brunhilda nampak berbicara pada dirinya sendiri. Akan tetapi yang sebenarnya terjadi, Ia sedang mengejar salah satu Player dari kelompok Eropa itu. Pemuda yang mengenakan pedang besar itu nampak tak bisa lari dari kejaran Brunhilda yang memiliki fokus utama pada Agilitynya.


"Pergi! Jangan mendekat atau aku akan membunuhmu!" Teriak Pemuda itu sambil melirik ke arah belakangnya.


Sosok Brunhilda yang awalnya sangat jauh itu, kini hanya berjarak sekitar 20 meter saja.


Yang terjadi 5 detik berikutnya ....

__ADS_1


'Stab! Stab! Stab!!'


Tujuh tusukan Rapier itu berhasil menguras 95% lebih Health Point milik pemuda itu.


Brunhilda kemudian menghentikan serangannya dan memutuskan untuk menginterogasinya setelah memojokkan Pemuda itu.


"Sekarang, katakan padaku. Siapa yang ada di belakang semua ini?" Tanya Brunhilda dengan tatapan yang sangat kejam.


"Kau! Bukankah kau dulunya juga melakukan apapun untuk uang?! Dasar mantan Mercenary Seven Star!" Teriak pemuda itu sambil memelototi Brunhilda.


Meski menerima provokasi yang cukup mengerikan itu, Brunhilda masih tetap tenang sambil memperhatikan setiap perubahan ekspresi pada wajah pemuda itu.


Hingga akhirnya, Brunhilda mengeluarkan kartu as miliknya.


"Benar. Aku akan melakukan apa saja. Tapi untuk saat ini bukan uang yang ku inginkan. Melainkan informasi. Itu karena informasi ini akan jauh lebih berharga daripada mempertaruhkan diriku di tengah pertarungan yang sangat sengit ini.


Sekarang, apakah kau siap untuk menerima siksaan selama 20 jam lebih? Aku tak keberatan untuk menemanimu selama itu di mengetahui pemimpin kalian."


Tapi sungguh mengecewakan.


Pemuda yang terlihat sok kuat itu justru mengurungkan seluruh niatnya hanya setelah menerima siksaan beberapa menit saja.


Segera setelah itu, Ia membeberkan segala informasi yang dimilikinya bahkan yang tak ditanya sekalipun juga ikut dibeberkan.


Brunhilda kemudian membiarkan Pemuda itu pergi. Di wajahnya yang cukup mengerikan itu, terlihat senyuman yang begitu lebar.


'Sekarang, kepada siapa aku akan menjual informasi ini?'


...***...


Setelah beberapa jam menyusuri ngarai yang gelap ini dengan sihir sederhana [Candle Fire] yang Eric dan Angie kuasai demi penjelajahan ini, mereka berdua akhirnya menemukannya.


Sebuah pintu raksasa di tengah ngarai yang dipenuhi dengan monster berlevel 200 lebih itu.


Mereka berdua berhasil bertahan hanya dengan modal anak panah sebagai senjata utama mereka yang dijadikan seperti tombak pendek.


"Eric. Coba gunakan kuncinya." Ucap Angie sambil terus meningkatkan kewaspadaannya pada lingkungan sekitar. Ia berusaha mencari apapun yang mungkin dapat memicu jebakan atau memanggil monster yang berbahaya.


Tanpa menjawab, Eric hanya mengangguk sambil mengeluarkan kunci tua itu dari dalam Inventorynya.


Segera setelah Eric memasukkan kunci itu....


'KLAK!!'


"Berhasil?" Ucap Eric keheranan.


Ia akhirnya membuka pintu raksasa itu secara perlahan bukan karena hati-hati. Melainkan karena berat pintu itu yang luarbiasa besar menyebabkan Eric hanya bisa membukanya secara perlahan.


Segera setelah pintu itu terbuka setengahnya, mata mereka berdua dikejutkan dengan sambutan cahaya emas yang begitu indah dan cukup menyilaukan.


Sebuah cahaya....

__ADS_1


Yang berasal dari harta tiada ujung di dalam ruangan yang sangat megah ini.


__ADS_2