
Beberapa hari telah berlalu semenjak percobaan pertamaku memasuki Dungeon Elf itu. Kini persiapanku telah matang. Aku telah memiliki 20 Goblin Knight dan Goblin Magician, serta 10 Kobold Warrior yang siap membantuku.
Tak hanya itu, aku juga telah menyimpan 500 monster tingkat rendah di dalam Soul Container milikku. Mereka sangat penting untuk digunakan baik sebagai perisai maupun penyerang dalam kondisi yang mendadak.
Aku juga telah mencoba untuk menggunakan skill [Dungeon Manifestation] di dalam lorong yang kecil itu.
Tapi notifikasi yang menyatakan bahwa ruangan terlalu kecil terus menerus muncul. Hasilnya, aku tidak dapat menggunakan skill itu. Jika kuingat kembali, pada saat aku menggunakannya di Dungeon Origin memang berada di ruangan yang cukup besar.
‘Jadi inilah batasan dari skill itu, ya?’ Pikirku dalam hati.
“Baiklah, sekarang aku telah siap untuk mencoba Dungeon itu lagi.” Aku pun melangkahkan kakiku. Tapi kini 5 ekor Goblin Knight berada di depanku sambil menyiapkan perisai mereka untuk menahan anak panah yang mungkin muncul.
‘Clank!’
Suara anak panah yang membentur perisai itu terdengar dengan jelas. Sesuai dugaanku, pola Dungeon alami yang dibuat oleh sistem dapat diprediksi. Aku pun bergegas meminta para Goblin itu untuk memperpendek jarak.
Tapi sebelum itu….
‘Wuuoossh!! Wuoooosssh!!!
Ratusan anak panah tiba-tiba melayang ke arahku dan seluruh pasukanku.
“Sialan! Jika seperti ini bagaimana seseorang dapat menaklukkan Dungeon ini?!” Teriakku kesal pada diriku sendiri.
“Eric! Segeralah persiapkan perisai Mana! Dark Elf memang memiliki kemampuan panah yang kuat, tapi kekuatan mereka yang sebenarnya….” Teriak Deus di dalam pikiranku.
Tanpa menunggu lama aku mempercayai perkataan Deus. Bagaimanapun, Ia merupakan Veteran di dunia ini. Apa jadinya jika aku tidak mempercayainya? Meski begitu, aku juga memilah tiap saran yang diberikan agar tidak tertipu lagi.
“Mana Shield!” Teriakku sambil mengarahkan kedua lenganku ke depan.
Seketika muncul sebuah perisai dengan bentuk lingkaran di hadapanku. Ukurannya cukup besar untuk menutupiku dan seluruh pasukan milikku. Perisai itu memiliki penampakan yang tembus pandang dengan warna biru yang cukup indah.
Tiba-tiba api dengan ukuran yang sangat besar membakar seluruh tempat ini. Untung saja aku sudah menyiapkan perisai Mana tepat waktu. Jika tidak….
[Anda telah menerima 11.363 damage!]
[Mana Shield telah menahan damage yang Anda terima!]
[Mana telah berkurang sebesar 34.089]
[Anda telah menerima … ]
Notifikasi itu terus menerus muncul di hadapanku. Nampaknya api itu merupakan sihir yang dilontarkan oleh Dark Elf yang ada di hadapanku. Bahkan sihir itu mampu menguras Mana milikku hingga tersisa 10% saja. Benar-benar sihir yang kuat.
“Sekarang! Maju!” Teriakku kepada seluruh pasukan. Aku yang masih terdiam di tempat segera meneguk Full Mana Potion yang ada di Inventoryku.
Dark Elf yang hanya sendirian di lorong ini terlihat kesulitan menangani puluhan Goblin Knight dan Goblin Magician yang menyerbunya. Aku juga terus menerus melontarkan Magic Missile dan Magic Barrage kepada Dark Elf itu. Tanpa kuduga, pertahanannya cukup lemah karena notifikasi yang kuterima.
[Anda telah memberikan 1.842 damage!]
[Anda telah memberikan 1.135 damage!]
[Anda telah …. ]
Setelah pengeroyokan selama 10 menit itu selesai, akhirnya aku berhasil…. Membunuh Dark Elf pertamaku.
[Anda berhasil mengalahkan Dark Elf!]
[Memperoleh 361.753.228 Experience Point!]
[Anda telah naik level!]
[Anda telah naik level!]
[Anda telah …. ]
__ADS_1
[Anda …. ]
“Gi-gila!!!” Teriakku setelah mendapati notifikasi yang terus menerus muncul itu.
Hanya dengan membunuh satu Dark Elf, aku mampu naik sebanyak 40 level lebih. Kini levelku yang telah mencapai 143 membuatku sangat bahagia.
“Haruskah aku melakukan Rebirth nantinya setelah meningkatkan levelku disini?!” Tanyaku pada diriku sendiri dengan penuh semangat.
Rebirth merupakan sebuah skill tingkat Normal yang akan diperoleh siapapun setelah mencapai level 151. Sebuah skill yang sangat berguna untuk melampaui batasan level.
Tiba-tiba Deus menjawab pertanyaanku.
“Melakukan Rebirth memang hal yang baik, Eric. Tapi jika kau kembali ke level 1 sepenuhnya, maka kau akan sulit berburu di sini!” Jelas Deus.
Memang benar. Seluruh monster yang ada di dunia ini nampaknya merupakan monster tingkat tinggi. Jika aku kembali ke level 1 itu sama artinya dengan bunuh diri.
Meskipun, dengan kemampuanku sebagai seorang pemanggil aku dapat memperoleh EXP jika berdiam diri selama beberapa saat dari monster panggilanku.
“Aku akan meminjamkanmu Skill baru, Eric. Skill ini akan jauh lebih berguna daripada Rebirth itu. Terimalah dan jangan lupa kembalikan padaku nantinya.” Ucap Deus dari dalam pikiranku.
[Anda telah memperoleh Legendary Skill : Ascension!]
[Ascension]
Rarity : Legendary
Konsumsi Mana : 300.000
Efek : Menaikkan potensi Individu dengan cara mengorbankan sebagian level yang dimiliki. Pengguna Skill dapat menentukan arah peningkatan potensi yang diinginkan. Arah peningkatan yang mungkin dipilih :
Peningkatan Growth Point sebanyak 1 setiap 25 level yang dikorbankan.
Peningkatan Rarity suatu Individu sebanyak 1 tingkat. Hanya dapat dilakukan pada rarity Epic ke Unique dan Unique ke Legendary. Level yang dibutuhkan : setidaknya 200 level untuk peningkatan dari Epic ke Unique dan setidaknya 400 level untuk peningkatan dari Unique ke Legendary.
Batasan Khusus :
Level yang dikorbankan merupakan level Individu yang ingin ditingkatkan.
Pengguna Skill dapat mengorbankan levelnya sendiri sebagai ganti level Individu yang diinginkan.
Aku yang melihat penjelasan Skill yang diberikan oleh Deus hanya bisa terbelalak. Itu semua karena skill ini memiliki sinergi yang sempurna dengan Dungeon Master milikku.
Jika melihat dari efeknya saja, skill ini merupakan versi yang lebih tinggi daripada Rebirth.
Aku yang mudah naik level karena banyaknya bawahanku sangat cocok dengan skill ini. Itu karena aku mampu mengorbankan sebagian levelku untuk meningkatkan kemampuan monster bawahanku.
“Deus…. Apa kau yakin?” Tanyaku dengan nada lirih di dalam lorong itu.
“Hah! Tentu saja aku sangat yakin Eric! Sebagai gantinya berjanjilah untuk terus melindungiku! Kalau kau sudah menjadi cukup kuat, maka bantulah aku dalam menaklukkan dunia bawah ini!” Balas Deus dengan penuh semangat.
Meskipun Deus masih memiliki status yang cukup tinggi, semua itu tidak berarti di dunia bawah yang kejam ini. Ia yang menjadi musuh seluruh iblis jika diketahui masih hidup, maka akan diburu habis-habisan.
Jika membandingkan kekuatannya di dunia manusia? Mungkin saat ini kekuatan Deus hanya seperempat dari kekuatan Leo. Karena efek pelemahan yang dialami Deus bukanlah karena rendahnya level, melainkan kutukan yang diberikan musuh kepadanya.
Kutukan itu sebenarnya dapat hilang dengan sendirinya. Waktunya? Sesuai dengan notifikasi Quest yaitu sekitar 20 tahun. Tapi Deus belum memberitahuku cara untuk mempercepatnya.
Sungguh, kenapa aku bisa seberuntung ini menemukan rekan yang sangat kuat?
Dan begitulah. Dengan berlanjutnya pikiranku dalam hati, aku melanjutkan Farming level di dalam Dungeon Dark Elf ini selama beberapa hari. Aku yang saat ini belum berani untuk masuk lebih dalam, tapi suatu saat nanti….
...***...
...Dungeon Origin....
...Lantai 2....
__ADS_1
“Uh…. Oliver? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau murung di pojokan seperti itu?” Tanya seorang gadis dengan rambut pendek berwarna merah muda, Elin.
“Aku…. Gagal lagi dalam menjaga Tuan Eric…. Maafkan aku…. Tuan Eric….” Ucap Oliver dengan lemas.
“Huh? Memangnya apa yang terjadi dengan Eric?” Tanya Elin dengan sedikit kebingungan.
“Lingkaran sihir berwarna merah menyala di tempat Tuan Eric berdiri…. Setelah itu…. Tuan Eric menghilang….” Balas Oliver sambil terus menerus menundukkan kepalanya.
“Menghilang?”
Elin yang kebingungan segera mengecek menu Pertemanan miliknya untuk melihat status Eric.
[Eric, level 143]
[Status : Tidak diketahui]
“Hah? Tidak diketahui? Apa maksudnya ini?!” Teriak Elin kebingungan melihat status Eric yang muncul di jendela menu itu.
Status Player dalam jendela pertemanan hanya ada 2 jenis. Online dan Offline. Oleh karena itu, mendapati status tidak diketahui sangatlah aneh.
Ini semua dikarenakan Eric berada di dunia bawah. Desain Dunia game Re:Life ini cukup kompleks. Dunia bawah bukanlah dunia yang berada di bawah tanah, melainkan peta lain yang membentuk cerminan dunia manusia di Re:Life. Perbedaannya hanyalah dunia ini dikuasai oleh Ras Iblis, bukan manusia.
Saat ini, untuk pergi melintasi kedua dunia itu hanya bisa melalui teknik pemanggilan Iblis atau sebaliknya. Jika rencana Eric untuk bunuh diri dilakukan, dia hanya akan Respawn di dunia Iblis itu lagi. Tepatnya yaitu tempat pertama dia muncul, gudang tempat Asmodeus bersembunyi.
Dengan kalimat sederhana, Eric saat ini berada di dimensi lain yang tidak terhubung dengan peta utama Re:Life. Semua komunikasi di dalam game tidak dimungkinkan untuk dilakukan. Termasuk skill Teleportation milik Alice.
Apakah Eric mengetahui semua ini?
Tentu saja tidak.
Saat ini Eric masih bersantai dan berpikir bahwa dia akan dihidupkan kembali di Desa Hige setelah dia mati.
...***...
“Apa kau sudah gila, Shea?!” Teriak seorang Inquisitor yang saat ini berjalan di sebelahnya.
“Aku hanya melakukan yang terbaik untuk menjaga umat manusia. Kurasa pilihanku untuk melakukan perjanjian dengan Undead itu sangatlah tepat.” Balas Shea dengan wajah serius.
“Tapi… bekerjasama dengan musuh umat manusia…. Jika Dewi Celestine mengetahui hal ini….”
“Apa? Apakah Dewi Celestine akan memberikan kita kekuatan untuk melawan monster itu? Dia bahkan belum menggunakan kekuatan penuhnya! Tapi dia sudah mampu membinasakan 80.000 lebih pasukan gabungan Kerajaan Suci dengan Kekaisaran!
Apakah kau pikir umat manusia mampu melawannya?!” Teriak Shea sambil memelototi Pria di sebelahnya itu.
“Aku mengerti jika dia memang….”
Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Shea sudah menarik pedangnya dan mengarahkan ke leher Pria itu.
“Jika kalian berencana untuk membocorkan perjanjian ini… maka aku sendiri yang akan membunuh kalian semua! Kalian sudah tahu kan kalau aku menerima permintaannya demi kedamaian dunia ini?!” Balas Shea.
“A-aku mohon maaf…. Memang benar, semua ini demi kedamaian dunia ini.”
Pada akhirnya, suasana keheningan menyelimuti kelompok yang beranggotakan 6 Inquisitor itu. Mereka semua berjalan dalam kesunyian untuk kembali ke Katredal Suci dan melaporkan kebohongan bahwa musuh umat manusia telah berhasil dibunuh dengan pedang suci.
...___________________________________...
...[Sebelum lanjut membaca]...
...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...
...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...
...[Tak ada ruginya bagi kalian]...
...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...
__ADS_1