
...Wilayah Kerajaan Suci Celestine...
...Di Luar Kota Livia...
“Apakah kau yakin mereka membawanya kemari?” Tanyaku kepada Wooden Elf wanita itu. Ia mengenakan jubah hitam gelap dariku hingga menutupi seluruh tubuh dan kepalanya.
“Sangat yakin.” Balasnya dengan tegas.
Aku pun hanya mengangguk mendengar jawaban itu dan segera memperhatikan apa yang ada di hadapanku.
Sebuah kota….
Dengan dinding putih yang menjulang tinggi. Di balik dinding itu nampak beberapa bangunan yang sangat tinggi dengan banyak menara. Sebuah bangunan…. Yang disebut sebagai gereja.
Tak hanya itu, penduduk di kota ini sangatlah padat. Meski begitu, tak ada satu pun pedagang yang terlihat di kota ini. Semua urusan perdagangan diselesaikan oleh pasukan militer jauh di perbatasan Kerajaan ini.
Setelah mempersiapkan diriku, aku segera berdiri dan melangkah keluar dari hutan ini.
‘Sreett!!’
“Apa yang kau pikir akan kau lakukan?” Tanyaku dengan nada sinis sambil menghalangi Wooden Elf itu.
“Aku harus membalaskan dendam kaumku! Aku harus….”
“Bodoh. Ini adalah wilayah manusia yang sangat membenci keberadaan monster. Memasuki tempat itu sama saja bunuh diri bagimu. Itu termasuk kalian, Lucien, Cathy, Rianne.” Balasku memotong perkataannya.
Elin yang sedari tadi hanya terdiam nampak mulai berdiri.
“Serahkan saja masalah ini pada kami berdua. Tenang saja, kami akan menyelamatkan dan membunuh sebanyak mungkin musuh.” Ucap Elin sambil tersenyum tipis.
“Kalian bertiga, berjagalah di sini. Lucien, bersiagalah jika sewaktu-waktu aku memanggilmu.” Ucapku sambil mengosongkan Soul Container milikku. Bukan masalah apapun. Aku hanya berusaha waspada karena ini adalah wilayah yang asing bagiku.
Jika saja mereka mengetahui kekuatanku yang sebenarnya, maka karirku di dunia game ini akan segera berakhir.
“Apakah kau sudah siap, Elin?” Ucapku sambil mengenakan topeng perak dengan motif garis biru berbentuk segienam itu.
“Tentu saja.” Balas Elin sambil melakukan hal yang sama denganku.
Segera setelah itu, kami pun berjalan untuk memasuki tempat ini. Sebuah tempat yang memiliki label suci. Tentu saja, aku dan Elin harus mengantri bersama dengan pendatang lain untuk melakukan pemeriksaan.
Pada saat mendekati gerbang….
“Lepaskan topeng itu dan sebutkan darimana asalmu.” Ucap salah seorang penjaga itu.
Aku pun menurutinya sambil menggunakan skill [Clairvoyant] milikku untuk mengintip statusnya.
[Feris]
[Ras : Manusia]
[Level : 96]
‘Lemah sekali….’ Pikirku dalam hati sambil membiarkan penjaga itu memeriksa diriku.
Hingga pada akhirnya, mereka pun mempersilahkanku dan Elin masuk.
“Silakan. Jaga sikap kalian ketika berada di dalam kota.” Ucap penjaga itu sambil membuka jalan.
“Merepotkan sekali….” Bisik Elin kepadaku dengan suara yang lirih.
“Wajar saja, mereka sangat hati-hati semenjak kekalahan mereka saat menyerang Kota Lesta.” Balasku dengan nada yang lirih.
__ADS_1
Kami berdua pun mengelilingi kota yang luarbiasa besar ini. Ukurannya bahkan menyamai Ibukota Kerajaan Farna yaitu Forgia meskipun Kota Livia ini bukanlah Ibukota Kerajaan Suci Celestine.
Bangunan demi bangunan….
Kami berdua mengecek semuanya hingga hari menjadi gelap.
“Sialan. Bukankah tidak ada apapun disini?” Ucapku kesal sambil duduk di sebuah taman kota. Penerangan yang ada hanyalah lentera yang terdapat pada beberapa sudut jalanan saja.
“Bersabarlah. Mungkin saja mereka bersembunyi dengan baik. Sekarang, haruskah kita beristirahat?” Tanya Elin sambil tersenyum nakal ke arahku.
Tapi aku segera menepisnya dan membalas.
“Nanti saja istirahatnya. Kita harus terus mencari tempa…. Tunggu.”
“Hah? Ada apa?” Tanya Elin kebingungan mendengar tingkahku.
Aku tak menjawab pertanyaan Elin. Bahkan, aku mengabaikannya dan fokus untuk memikirkan sesuatu. Sebuah tempat yang sama sekali belum ku coba.
“Elin. Kurasa kau tak perlu ikut. Itu hanya akan membuatmu muak saja.” Ucapku sambil berdiri dari kursi kayu itu lalu segera mengenakan topeng perakku.
“A-apa?! Tidak! Aku akan ikut!” Teriak Elin kesal.
“Kau yakin? Tak ada jalan kembali setelah kau ikut.” Tanyaku sekali lagi untuk memastikan.
Elin hanya mengangguk beberapa kali dan mendekatiku.
“Kalau begitu…. Persiapkan hatimu.”
Kami pun berjalan di tengah gelapnya malam ini.
Tujuannya adalah suatu tempat yang bahkan tak pernah terpikirkan olehku. Jaraknya pun tidak terlalu jauh dari taman ini.
Sebuah tempat….
“Eric? Bukankah ini Gereja?” Tanya Elin kebingungan.
“Bukankah Elf itu bilang, bahwa yang membawa kaum mereka adalah wakil Dewi? Aku tak pernah menyangka bahwa mereka akan terang-terangan melakukan ini.” Balasku dengan nada datar. Aku pun mempersiapkan [Oracle Staff] milikku.
“Magic Missile.” Ucapku singkat sambil mengarahkan tongkatku ke pintu gereja yang terkunci rapat ini.
‘Duarrr!’
Bersamaan dengan ledakan itu, pintu gereja ini pun hancur lebur dan membukakan jalan kepada kami berdua.
Tak ada apapun di dalam ruangan besar ini. Hanya terdapat barisan kursi serta patung Dewi yang mereka sembah. Tapi pada saat kami berdua mencoba memasukinya lebih dalam....
Terdapat sebuah ruangan di bawah tanah gereja ini. Sebuah ruangan yang tertutup oleh pintu besi besar yang nampak mulai berkarat.
Aku pun segera menghancurkan pintu besar itu dengan skill [Fire Blast] tanpa amplifikasi.
'Duuuuaarrr!'
Pintu itu pun hancur berkeping-keping setelah menerima ledakan api yang cukup besar itu.
Tapi apa yang ada di hadapan kami…. Tidak. Aku sudah mempersiapkan diriku untuk hal ini. Hanya saja, bagaimana dengan Elin?
Aku pun menoleh ke arahnya.
Di sampingku, terlihat seorang gadis kecil yang telah terjatuh di tanah. Ia nampak menutupi mulutnya seakan ingin muntah. Tak hanya itu, matanya yang indah itu terbuka selebar mungkin serta dibanjiri oleh air mata.
Penyebabnya sangat sederhana.
__ADS_1
“Apanya yang suci. Bukankah kalian jauh lebih hina daripada binatang buas?” Ucapku lirih sambil melangkahkan kakiku memasuki bangunan… yang seharusnya merupakan tempat paling suci itu.
Ratusan orang yang ada di dalamnya nampak terkejut dengan hancurnya pintu itu. Terlebih lagi setelah melihat diriku memasuki ruangan besar ini.
“Si-siapa?! Pe-penjaga!!!” Teriak salah seorang Pria botak yang bahkan tak memiliki sehelai kain pun di tubuhnya. Ia nampak kesal karena aku tiba-tiba datang untuk mengganggu kesenangannya.
“Tu-tunggu dulu!! Se-senjataku!!!”
“Siapa saja! Ce-cepat singkirka….”
Puluhan peluru sihir dari skill [Magic Missile] telah melesat ke arah kepala mereka. Sebagian besar mati seketika. Meski begitu, beberapa diantaranya mampu menghindar dengan baik dan selamat.
Aku pun melangkah semakin dalam ke ruangan ini.
‘Tap! Tap! Kraakk!!’
Suara langkah kakiku terdengar begitu nyaring di dalam ruangan besar yang sunyi ini.
Tapi aku tetap terdiam dan tak menunjukkan sedikitpun ekspresi meskipun ditutupi oleh topeng perak ini.
‘Wuuoosh!! Sraasshh!!’
Salah seorang Pria yang sempat berlari nampak menembakku dengan panah. Tapi semua itu sia-sia karena efek pasif dari topeng perakku ini dapat menyambar serangan jarak jauh apapun yang memberikan damage di bawah 3.000 poin dengan petir ungu.
‘Daaaarr! Daarr!’
Kilatan-kilatan kecil nampak bermunculan di hadapanku karena menyambar beberapa anak panah.
“A-apa…. Siapa kau?!” Teriak salah seorang Pria dengan rambut panjang sambil mengenakan jubah putihnya yang dihiasi oleh beberapa ornamen emas itu.
Beberapa saat berlalu….
Aku hanya terdiam sambil mengamati keadaan di sekitar ruangan ini.
Mengamati musuh? Tidak….
Musuh yang ada di tempat ini sama sekali bukanlah masalah. Bahkan jika ingin, aku bisa membumihanguskan bangunan ini bersama dengan ribuan penduduk yang ada di sekitarnya.
Tapi aku tidak memperdulikan hal itu.
Itu karena semua pikiranku telah terfokus pada suatu hal.
Di sekeliling ruangan yang seharusnya menjadi tempat untuk berdoa ini, nampak puluhan wanita muda yang tergeletak tak berdaya. Mereka memiliki berbagai ciri yang berbeda.
Sebagian nampak memiliki telinga runcing yang panjang. Sebagian lagi nampak seperti ras Draconic yang pernah ku jumpai di reruntuhan Ruderioss. Sedangkan sisanya merupakan wanita dengan ras yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Meski memiliki perbedaan, semuanya memiliki satu kesamaan. Yaitu luka dengan jumlah yang luarbiasa banyak di tubuh mereka.
Aku pun mendekati salah seorang wanita yang sedang tergeletak tak berdaya itu.
“To… tolong a… ku….” Ucap salah seorang wanita itu dengan suara yang sangat lirih. Tak ada sehelai pun kain yang menutupi tubuhnya yang telah penuh dengan bekas luka itu.
Mendengar hal itu, aku hanya mengangguk secara perlahan lalu berdiri dan menggunakan skill Area milikku.
“Healing Area….”
Seketika, sebuah lingkaran sihir yang besar muncul dan mencakup hampir seluruh ruangan ini. Semua yang terluka, baik itu kawan maupun lawan, segera sembuh.
Sedangkan aku?
Aku kembali mendekati wanita itu. Seluruh tubuhnya nampak sembuh secara perlahan. Meskipun, sebagian luka nampak tak bisa menghilang dengan sempurna sehingga menyisakan bekas. Bersamaan dengan itu, aku mengeluarkan puluhan lembar kain dari inventoryku dan memberikannya kepadanya.
__ADS_1
Setelah suasana cukup membaik, aku pun menanyakan suatu hal yang sangat sederhana.
“Bagaimana seharusnya aku membalas perlakuan para hewan biadab ini untuk kalian?”