
Waktu terus berlalu semenjak benteng perbatasan selesai dibangun.
Seberapa lama? Mungkin telah beberapa bulan berlalu. Persepsiku akan waktu mulai rusak karena terus menerus membandingkan waktu di dunia ini dengan dunia nyata.
Hari demi hari dilalui oleh para Prajurit Salvation dan Goblin dengan berburu Barbarian.
Semuanya berjalan dengan sangat lancar. Setiap barbarian yang diburu menjatuhkan beberapa koin perunggu, daging keras dan juga sesekali item. Sungguh Drop yang cukup menggiurkan mengingat jumlah mereka sangat banyak.
Meski begitu, para Prajurit Salvation enggan memakan daging itu. Lagipula mereka adalah manusia. Memakan daging yang dijatuhkan dari monster yang memiliki wujud mirip dengan manusia mungkin cukup berat bagi mereka.
Tapi tidak demikian bagi para Goblin….
“Tuanku! Daging ini sangatlah enak!”
Setelah puas melihat perburuan hari ini sukses besar, aku memutuskan untuk Log Out. Aku telah bermain selama lebih dari sepuluh jam hari ini. Setidaknya aku perlu beristirahat.
Lagipula, berdasarkan pengamatan dari Neo maka penyerangan pasukan Barbar masih cukup lama. Setidaknya jika penyerangannya berbenturan dengan jadwal Kompetisi Internasional yang aku jalani, Oliver dan Lucien ada disini.
Berbicara mengenai Lucien….
Aku memberanikan diriku untuk mengintip status miliknya. Bagaimana pun, status ini membuat Neo pingsan seketika saat melihatnya.
[Lucien, Vampire Earl]
[Ras : Vampir]
[Rarity : Epic]
[Level : 194]
Health Point : 129.650
Mana Point : 51.287
Stamina Point : 30.338
Attack Power : 7.285
Magic Power : 20.489
Defense : 2.843
[Status]
STR : 4.334
AGI : 5.122
INT : 2.955
VIT : 2.758
STA : 2.167
DEX : 1.576
[Growth Point]
STR : 22
AGI : 26
INT : 15
VIT : 14
STA : 11
DEX : 8
__ADS_1
Ia masih mengenakan perlengkapan seadanya. Yaitu sebuah set pakaian bangsawan berwarna hitam dengan gaya Eropa pada masa Tudor.
Lucien bahkan belum menggunakan senjata apapun. Meski begitu, Ia memiliki kekuatan yang mengerikan.
Kenapa aku belum memberikan perlengkapan yang lengkap kepada Lucien?
Itu karena antrean pekerjaan yang dimiliki oleh Tasmith masih sangat banyak. Termasuk set aksesori tambahan untuk Elin, Rina, Oliver, Liz dan juga dirinya sendiri.
Tentu saja Tasmith juga harus mengerjakan pesanan Dungeon untuk dijual di wilayah Kerajaan Salvation.
Aku juga berencana untuk memberikan hadiah kepada Lucien.
Mungkin aku akan mencoba Skill [Ascension] mengenai peningkatan Rarity milik Lucien. Tapi itu akan kupikirkan setelah kompetisi selesai karena aku harus mengorbankan 200 levelku.
Selain itu….
Sekitar 80.000 pasukan Goblin yang sudah terlatih dan 12.000 Prajurit Salvation berjaga di sini. Termasuk juga banyak petinggi Salvation yang memiliki kekuatan besar. Tentunya dalam hal level dan skill.
Dengan adanya dinding pertahanan yang cukup kuat, aku yakin mereka akan mampu menahan pasukan Barbar yang menyerang. Oleh karena itu, aku tak perlu khawatir.
“Lucien. Aku akan menyerahkan semua yang terjadi di sini. Kau bebas untuk berburu selama aku tidak disini. Mungkin bagimu sekitar….”
“Sekitar tiga setengah hari. Tenang saja, Tuan Eric! Aku sudah terbiasa. Semoga kegelapan selalu menyertaimu!” Balas Lucien memotong perkataanku sambil terbang jauh.
Aku masih tidak paham mengenai kegelapan-kegelapan yang selalu diocehkan oleh Lucien.
...[Bersiap untuk Log Out]...
...[Bersiap untuk memindahkan kesadaran]...
Setelah notifikasi sistem itu muncul, kesadaranku telah kembali ke dunia nyata. Tepatnya di dalam kapsul VR yang aku gunakan.
Hal yang pertama kulakukan setelah keluar dari dalam kapsul adalah mengecek ponselku. Bagaimana tidak, penyelenggara Event itu mengatakan akan memberitahukan hariku berkompetisi. Tapi sudah hampir sebulan berlalu dan aku belum menerimanya!
“Eh? Sudah ada?”
[Pengumuman tentang jadwal pertandingan Anda telah ditentukan. Jadwal tanding untuk PVP bagian penyisihan awal yaitu 14 Mei hingga 21 Mei 2073. Jadwal tanding untuk Solo Boss Raid yaitu 18 Mei 2073. Jadwal tanding untuk Lomba Lari yaitu 22 Mei 2073. Untuk informasi lebih lanjut silahkan kunjungi laman resmi Re:Life Official.]
[Catatan : Pemain diharapkan hadir paling lambat 3 hari sebelum jadwal tanding. Seluruh biaya akomodasi akan ditanggung oleh pihak Re:Life Official. Pemain hanya perlu menunjukkan identitas dan bukti pendaftaran Kompetisi.]
“A-akhirnya!!! Akhirnya sudah ditentukan! Setelah hampir sebulan menanti!” Teriakku kegirangan setelah membaca pesan ini.
Bagaimana tidak. Aku mulai berpikir bahwa aku telah tersisihkan secara berkas atau apalah itu. Tapi kenyataannya aku telah diterima!
Saat aku masih larut dalam kebahagiaanku, tiba-tiba ponselku berdering.
[Elina memanggil….]
Aku dengan segera mengangkatnya.
Nampaknya Elin juga telah diterima dan memperoleh jadwal tandingnya di Kompetisi Internasional ini. Untuk cabang yang Ia ikuti yaitu PVP, Solo Boss Raid, Lomba lari dan juga Quest Pencarian Orang Hilang.
Elin juga mengajakku untuk berangkat bersama dari Yogyakarta. Ia telah memesan tiket pesawat untuk keberangkatan kemari esok hari. Tepatnya tanggal 2 Mei 2073.
Pada awalnya aku menolak untuk berangkat bersama karena akan merepotkan dirinya. Akan tetapi, Elin memberikan alasan yang cukup logis padaku.
“Memangnya kau pernah naik pesawat sebelumnya, Erik? Apakah kau yakin bisa mengurus semua kebutuhanmu sendirian? Apakah kau bisa berbahasa inggris di jepang nantinya? Tenang saja! Aku sudah memesan 2 tiket untuk keberangkatan dari Yogyakarta!”
Yah, aku akhirnya menerima tawarannya.
...***...
5 Mei 2073.
“Kalian berdua, berhati-hatilah di luar sana. Bersikaplah baik selama di negera asing. Jaga diri kalian baik-baik ya.” Ucap Ibuku penuh khawatir sambil terus menerus menanyaiku mengenai kelengkapan barang bawaanku.
Tiket penerbangan untuk ke Tokyo, Jepang telah sejak lama dipesan oleh Elin. Sedangkan penginapan di sana juga telah diurus oleh Elin. Ia telah memesan dua kamar di sebuah hotel mewah. Bahkan harga sewa permalamnya mencapai 16 juta Rupiah!
Tentu saja, semua biaya akan ditanggung oleh pihak pengembang Re:Life. Jadi untuk apa kami menahan diri?
__ADS_1
Meskipun diminta untuk membayar, itu juga bukanlah jumlah yang besar lagi bagiku dan Elin. Setidaknya, aku ingin menikmati pengalaman pertamaku di luar negeri sebaik mungkin.
“Tenang saja Ibu. Aku baik-baik saja.” Balasku singkat.
“Pesan Ayah hanya satu, Erik.” Ucap Ayahku sambil membisikkan sesuatu di telingaku.
“Gi-gila! Tak mungkin aku melakukan itu pada Elin kan?!”
Mendengar perkataannya yang sangat tidak masuk akal, aku segera menjauh dengan ekspresi kaget.
Aku tak pernah menyangka bahwa Ayahku mengatakan hal itu padaku. Sedangkan Elin yang kebingungan saat melihatnya mulai bertanya padaku.
“Erik? Ada apa?”
“Ti-tidak ada apa-apa! Se-sekarang ayo kita berangkat!”
...***...
“Huwaaaah! Jadi inikah Tokyo?!” Teriak Elin kegirangan.
Aku yang baru saja keluar dari bandara itu hanya bisa menganga melihat kemegahan kota ini. Gedung pencakar langit ada dimana-mana. Papan reklame yang masih sering kujumpai di Yogyakarta telah tergantikan oleh Drone yang memproyeksikan layar hologram.
Di udara nampak banyak sekali Drone yang terbang kesana kemari sambil membawa barang ataupun memproyeksikan iklan.
Tak hanya itu, pekerjaan kebersihan juga telah digantikan oleh robot tipe Humanoid. Nampaknya robot ini mampu mengerjakan tugas-tugas kompleks. Bahkan dapat berbicara dengan manusia.
Aku dan Elin menikmati pemandangan kota futuristik ini. Sebuah kota yang nampaknya masih sedikit jauh bagi beberapa kota di Indonesia.
Meskipun, Kota Jakarta tidak terlalu tertinggal jauh jika dibandingkan dengan Tokyo. Jakarta hanya kalah dalam bidang robotik dan AI. Setidaknya itulah menurut Elin.
Beberapa saat kemudian, sebuah mobil taksi berhenti di depan kami berdua. Yah, karena tak memiliki kendaraan tentu saja Elin memutuskan untuk menggunakan jasa taksi online.
Tapi kami berdua cukup terkejut ketika mulai memasuki mobil ini. Ya, itu semua karena….
“Ke-kenapa tidak ada pengemudinya?!” Teriakku ketakutan.
Elin juga merasa cukup ngeri dengan mobil ini. Ia membayangkan bagaimana jika kemudi otomatis ini akan menabrak sesuatu. Tapi kenyataannya jauh dari itu.
Di kursi kemudi, muncul sebuah hologram yang menyerupai manusia secara tiga dimensi dengan warna biru. Hologram itu nampak menoleh ke kursi belakang.
“Please choose your language.”
Aku dan Elin terdiam selama beberapa saat. Meski begitu, mobil ini telah mulai berjalan ke tujuan yang telah ditentukan oleh Elin saat memesannya.
“I-Indonesian….” Ucap Elin dengan wajah yang sedikit ketakutan.
“Bahasa Indonesia telah dipilih. Selamat datang di Tokyo, Tuan Erik dan Nona Elina. Kami akan menemani perjalanan kalian berdua hingga tiba ke Imperial Hotel Tokyo. Perkiraan waktu perjalanan yaitu 49 menit dan 34 detik. Silakan tanyakan apapun kepada kami.”
Hologram itu mulai berbicara dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Tak hanya itu, Ia nampak memberikan senyuman yang ramah kepada kami berdua. Bukankah hologram ini sangat keren?!
“Ka-kau…. Sebenarnya apa? Manusia? Robot?” Tanyaku kebingungan. Aku sendiri tidak yakin apakah hologram ini mampu memahami pertanyaanku.
“Kami adalah sebuah AI yang diproyeksikan menjadi hologram dengan wujud manusia di mobil ini. Meski begitu, kami semua terhubung ke Mainframe dan Server di berbagai lokasi perusahaan kami. Hal itu mampu meningkatkan kecerdasan kolektif kami semua.”
Hologram itu mampu menjawab pertanyaanku dengan baik. Setelah itu, dinding yang memisahkan antara kami semua runtuh begitu saja. Lagipula, bukankah aku sudah sering berinteraksi dengan AI di dalam game Re:Life? Untuk apa aku kebingungan saat ini.
Pada akhirnya, perjalanan kami berjalan dengan sangat lancar. Elin bahkan sangat menginginkan sebuah AI untuk menemani dirinya sendiri di rumah. Entah apakah hal itu mampu dicapai….
...___________________________________...
...[Sebelum lanjut membaca]...
...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...
...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...
...[Tak ada ruginya bagi kalian]...
...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...
__ADS_1