The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 215 - Mata-mata


__ADS_3

Pertempuran antara Kerajaan Farna dan Kerajaan Salvation terus berlanjut.


Pada saat ini, Kerajaan Farna sedang dalam posisi bertahan dan mengalami kerusakan cukup parah pada beberapa Kota.


Hal yang wajar karena Kerajaan Farna tidak bisa menyerang begitu saja. Semua itu dikarenakan oleh kemampuan seorang Player bernama Alice. Dengan kemampuan teleportasinya, maka kerajaan Farna tidak tahu kapan mereka akan diserang.


Sebaliknya, Salvation akan mampu menyerang sesuka hatinya bahkan bisa kabur kapan saja dengan kemampuan Teleportasi milik Alice.


Saat ini, Arlond sedang sibuk memikirkan hal itu. Bagaimana sebaiknya dia menyerang? Jika dia menyerang, siapa yang akan mempertahankan Kerajaan Farna?


Sedangkan kerugian yang dialami oleh Kerajaan Farna mencapai angka 30.000 prajurit lebih yang merupakan NPC. Sementara kematian yang berasal dari kalangan Player cukup banyak, namun tidak bisa dikatakan kerugian karena mereka akan dibangkitkan lagi beberapa hari lagi.


Sementara itu, kerusakan yang ada di pihak Kerajaan Salvation dapat dikatakan tidak ada. Hal yang wajar karena jarak antara kedua Kerajaan itu terpaut jauh dan Salvation bersembunyi di balik batas Kerajaan lainnya.


Mereka mampu menyerang secara sepihak berkat kekuatan Teleportasi milik Alice.


Meski begitu, kerugian prajurit mereka tidaklah sedikit. Justru lebih banyak daripada Kerajaan Farna.


Pada saat ini, Kerajaan Salvation telah kehilangan lebih dari 60.000 NPC secara total dari seluruh garis depan pertempuran. Sedangkan prajurit yang merupakan Player sudah tidak dapat terhitung lagi.


Angka yang sangat besar karena mereka melakukan penyerangan secara mendadak dan sangat agresif. Ditambah dengan pertahanan Kerajaan Farna yang begitu kokoh dan kuat, maka kerugian Kerajaan Salvation melambung tinggi hingga ke langit.


Pada akhirnya, Chris sebagai Raja Salvation memutuskan untuk menarik seluruh pasukannya dan membiarkan mereka semua beristirahat selama satu hari.


Alasannya sederhana.


Yaitu karena kegagalan penyusup yang dilakukan oleh tiga orang Anggota Guild Salvation dengan tujuan untuk membunuh Pahlawan Farna.


Oleh karena itu, Chris memerintahkan Alice dan Neo untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai sosok yang disebut sebagai Pahlawan Kerajaan Farna itu.


Sementara itu, Anggota Guild Salvation yang lain telah menanti giliran mereka. Termasuk ketiga orang sebelumnya yang akan segera kembali bergabung karena hanya menerima restriksi selama satu hingga beberapa hari saja.


Meski begitu....


"Apa yang kau maksud dengan pertanyaan itu, Alice?" Tanya Neo kebingungan mendengar pertanyaan Alice itu.


"Sudah kubilang. Bagaimana menurutmu mengenai Chris? Atau haruskah aku menjawab terlebih dahulu agar kau paham apa yang ku maksud?" Tanya Alice sekali lagi.


Mendengar hal itu, Neo tak mampu berkata-kata dan hanya terdiam.


Mereka berdua bahkan melupakan misi mereka yang sebenarnya untuk melakukan mata-mata. Dan kini, Neo terfokus pada apa yang ditanyakan kepadanya.


'Menurutku mengenai Chris? Apa maksud dari pertanyaan itu? Apakah Alice berniat untuk mengkhianati Chris?' Pikir Neo dalam hatinya.


Pada saat itu juga, Neo segera menjawab pertanyaan yang dianggap bodoh itu.


"Untuk apa bertanya padaku. Dari awal hingga akhir, jawabanku akan selalu sama. Chris adalah sosok yang berwibawa dan memiliki ambisi yang sangat besar terhadap dunia ini. Oleh karena itu, aku akan selalu mendukungnya hingga akhir, entah seperti apapun perjalanan yang harus dilalui." Jawab Neo dengan tatapan mata yang sangat tajam.


Mendengar hal itu, Alice justru nampak terkejut.


"Aku sama sekali tak menduga bahwa kau akan berbicara seperti itu mengenai Chris. Kau membuatku terkejut, Neo." Balas Alice dengan mata yang terbuka cukup lebar. Sebuah ekspresi yang bahkan jarang Ia tunjukkan kepada siapapun.

__ADS_1


Pada saat itu juga, Neo menggunakan Unique Skill [Truth Seeker] miliknya untuk mengetahui kebenaran dari perkataan Alice.


Notifikasi sistem pun muncul di hadapannya.


[Anda telah menggunakan Unique Skill : Truth Seeker!]


[Superkomputer Genesis sedang melakukan analisa....]


[Berhasil!]


[Target tidak berbohong!]


Semua itu terjadi hanya dalam waktu sekitar 2 detik saja.


Segera setelah notifikasi sistem itu selesai, Neo segera kembali bertanya kepada Alice dengan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya.


"Lalu bagaimana menurutmu mengenai Chris? Sekarang saatnya bagimu untuk memberikan jawaban bukan?" Ucap Neo dengan tatapan yang lebih tajam daripada sebelumnya.


Mendengar hal itu, Alice hanya tersenyum tipis. Wajahnya yang cukup kecil dengan rambutnya yang sepanjang bahu dengan warna pirang itu nampak sangat manis.


Tapi pada saat yang bersamaan, penampilannya itu sungguh mengerikan.


Wajar saja karena selama bermain... tidak. Selama hidup, Alice sangat jarang membuat sebuah ekspresi yang kompleks seperti ini.


Paling jauh Alice hanya akan memperlebar atau menyipitkan matanya tanpa ada ekspresi di bagian wajah yang lain.


Segera setelah itu, Alice memberikan pendapatnya.


"Chris terlalu serakah dan tak segan-segan untuk mengambil hak orang lain untuk dirinya sendiri. Bahkan Ia juga sama sekali tak segan-segan kepada bawahannya sendiri. Dengan sikap yang seperti itu, ambisinya hanya akan membawakan banyak sekali musuh di masa depan.


Alice pun mengakhiri jawabannya yang begitu panjang itu dengan sebuah senyuman yang lebar. Ia juga nampak memejamkan matanya dan sedikit memiringkan kepalanya.


Akan tetapi di balik semua itu....


Air mata nampak mengalir tipis di wajahnya yang begitu putih dan lembut itu.


Tapi Neo tetaplah Neo.


Semenjak Ia memiliki kekuatan [Truth Seeker] yang memungkinkan dirinya mengetahui kebenaran perkataan seseorang, sudah menjadi kebiasaan baginya untuk menggunakan skill itu kepada lawan bicaranya.


Termasuk....


Rekan kerjanya sendiri yang bahkan selalu bersamanya sejak awal bergabung di Guild Salvation itu.


Jawaban yang Ia peroleh?


[Anda telah menggunakan Unique Skill : Truth Seeker!]


[Superkomputer Genesis sedang melakukan analisa....]


[Berhasil!]

__ADS_1


[Target tidak berbohong!]


Tentu saja, Alice mengatakan hal yang sejujurnya dari lubuk hatinya yang terdalam.


Tapi sebelum Neo sempat membalas perkataan Alice, wanita berambut pirang itu telah menekan beberapa tombol di jendela menu miliknya.


Akan tetapi, tepat sebelum Alice menekan tombol [Log Out], Alice sempat mengatakan beberapa hal terakhir baginya.


"Neo. Seluruh waktuku yang kuhabiskan bersamamu, sungguh sangat menyenangkan. Aku sangat menikmati permainan ini bahkan hingga detik ini. Akan tetapi, kurasa ini adalah yang terakhir kalinya aku akan bermain."


Bersamaan dengan kalimat terakhirnya itu.


Alice berubah menjadi cahaya putih yang begitu indah. Ia telah Log Out dari dalam game di tengah-tengah misinya yang sangat krusial itu.


Neo sama sekali tak menyangka bahwa hal ini akan terjadi.


Seorang rekan kerja yang seharusnya sangat kompeten dan profesional dalam menyelesaikan pekerjaannya itu, justru akan Log Out tepat di depan matanya.


Ia bahkan meninggalkan pekerjaan penting itu seakan sama sekali tidak ada beban bagi dirinya.


Kini....


Hanya tersisa Neo sendirian di tengah gelapnya sebuah rumah tua.


Ia nampak menunjukkan ekspresi yang rumit yang bahkan Ia sendiri tak mampu memahaminya.


'Tik....'


Sebuah tetesan air, entah darimana... nampak terjatuh mengenai lantai kayu yang dipenuhi dengan debu itu.


Dibalik wajahnya yang nampak dipenuhi dengan ekspresi yang antara sedih, marah, kesal, dan kebingungan itu....


Neo mulai mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya.


"Aku.... Aku juga tahu bahwa semua perkataanmu itu adalah benar. Tapi.... Apakah aku bisa pergi semudah itu sepertimu? Jika saja aku bisa.... Setidaknya...."


'Tik...'


Neo nampak menjeda perkataannya selama beberapa saat.


Hingga akhirnya... Seluruh pikirannya telah tertelan satu emosi yang paling kuat.


Kesedihan.


"Setidaknya.... Ajaklah aku untuk ikut bersamamu.... Bukankah kita... adalah partner yang tak terpisahkan bahkan hingga saat ini?"


Bersamaan dengan kalimat terakhirnya, Neo terjatuh ke lantai tua itu untuk merenungi semua hal yang terjadi hingha saat ini.


Tugas mata-mata?


Ia telah melupakannya bahkan sejak Alice melontarkan pertanyaan itu kepadanya.

__ADS_1


Sebuah pertanyaan....


Yang menggeser keseimbangan kekuatan di dunia ini.


__ADS_2