The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 117 - Penaklukan Dungeon 2


__ADS_3

“Tidak ada monster?” Ucap salah seorang Player di pasukan penaklukan Dungeon ini.


Jumlah pasukan yang awalnya lebih besar dari 12.000 orang kini hanya tersisa sebanyak 7.500an orang. Masih jumlah yang besar, tapi kerugian yang mereka derita cukup mengerikan.


Sedangkan saat ini, mereka mulai bernafas lega di sebuah gua yang dipenuhi kabut ini. Tanpa menyadari bahaya yang akan menanti mereka.


Zona kabut merupakan zona yang sama sekali tidak memiliki monster, kecuali pada lantai 10 yang hanya 1 ekor monster saja. Termasuk juga jebakan yang ada di zona ini hanya 2 jenis saja.


[Thick Fog] yang akan menghasilkan kabut putih tebal yang membatasi pandangan para penakluk Dungeon. Perangkap ini selalu aktif dan memenuhi seluruh zona kabut ini dengan kabut putih yang tebal.


Sedangkan perangkap kedua yaitu sebuah perangkap yang disamarkan dengan kabut itu. [Poison Gas] yang mengeluarkan gas dengan warna sedikit kehijauan. Meski begitu, warnanya tidak begitu terlihat di balik kabut tebal ini. Baunya? Tidak ada sama sekali.


Sementara efeknya sangatlah mematikan.


[Memberikan efek Poison kepada siapapun yang menghirupnya]


[Efek Poison dapat di stack hingga 20 kali]


[Setiap stack efek Poison akan memberikan 200 damage per detik]


[Damage yang ditimbulkan menghiraukan semua defense yang ada]


Stack atau tumpukan efek ini akan meningkat semakin lama seseorang menghirup gas beracun ini. Tentu saja, efek racun ini cukup mudah untuk dinetralisir dengan menggunakan ramuan penawar racun atau Antidote. Tapi itu semua akan percuma bila penyerbu tidak siap.


Itu karena….


“Hei! Bukankah kita memasuki zona aman?!” Teriak salah seorang player.


“Ya, kurasa ini adalah salah satu zona aman yang tidak memiliki jebakan dan sergapan monster.”


“Akhirnya aku bisa bernafas lega!”


Semua orang mulai menurunkan kewaspadaan mereka. Termasuk Jendral Agmar.


“Baiklah! Berhubung ini adalah sebuah zona aman, maka kita akan beristirahat di sini terlebih dahulu!” Teriak Jendral Agmar.


Sontak seluruh NPC maupun Player segera duduk di tanah. Mereka mulai meminum ramuan penyembuh sambil memulihkan stamina mereka. Beberapa NPC nampak telah menyiapkan makanan untuk beberapa orang.


Padahal, mereka baru saja menyerbu dan melewati Zona Reruntuhan selama 1 hingga 2 jam saja. Tapi mereka sudah nampak begitu kelelahan. Hal yang wajar karena tekanan yang ada begitu besar di zona sebelumnya.


Tak ada yang berhati-hati. Semuanya mulai menurunkan kewaspadaan mereka dan bahkan mulai saling bercanda.


‘Tick…. Tick….’


Terdengar suara jarum jam. Suara ini sangatlah pelan dan hampir tidak mungkin untuk didengarkan.


Itulah, syarat aktivasi dari perangkap kedua [Poison Gas] yang akan aktif setelah jeda waktu tertentu para penjajah memasuki lantai 6.


Sedangkan untuk lantai 7 hingga 10? Semua poison gas telah aktif dan menanti mereka.


Untung bagi para Player, karena notifikasi sistem memperingatkan akan situasi yang terjadi.

__ADS_1


[Anda telah terkena efek racun!]


[Anda telah menerima 200 damage per detik!]


[Anda telah terkena efek racun!]


[Anda telah menerima 400 damage per detik]


Semua itu terjadi seketika.


“Uhuk! Buaah!!!”


“Sialan! Apa ugh….”


Semua orang mulai nampak batuk dan mengeluarkan darah. Beberapa diantara mereka bahkan terlihat menggaruk-garuk bagian dada mereka.


Sedangkan yang memiliki level tinggi?


“Kita akan kabur! Siapapun yang sanggup berlari segeralah keluar dari lantai….”


‘DUUUAAARRR!!!’


Terdengar suara yang sangat keras. Dari kejauhan, nampak pintu masuk yang menghubungkan antara lantai 6 dan tangga ke lantai 5 telah tertutup dengan rapat. Sebuah pintu raksasa yang terbuat dari besi.


Menghancurkannya? Mungkin saja, tapi sangatlah sulit untuk dilakukan dalam kondisi yang dipenuhi gas racun seperti ini.


“Sialan! Kita telah salah karena masuk ke Dungeon ini tanpa persiapan ma… Uhuk!!!”


Ratusan orang telah tumbang dalam sekejap. Mereka mati karena efek racun telah terakumulasi hingga stack ke 10. Dengan kata lain, mereka akan menerima 2.000 damage tiap detiknya hanya dengan berada di gua raksasa ini.


Para NPC dan Player segera mengeluarkan Antidote mereka. Beberapa orang yang tidak membawanya di saku mereka, atau di Inventory bagi player harus merangkak ke tumpukan perlengkapan yang dibawa oleh regu Supporter.


Hasilnya?


Hanya dalam 5 menit, lebih dari 3.000 orang telah tewas.


Aku yang melihatnya cukup puas di satu sisi, tapi sangat kesal di sisi lain.


“Bukankah aku sudah meminta untuk menyetel jebakan agar tidak terlalu sulit? Percuma saja jika mereka semua tewas dan tidak bisa sampai ke lantai 20.


Itu karena mereka akan menganggap Dungeon ini mustahil untuk ditaklukkan dan takkan kembali kemari untuk kedua kalinya.” Ucapku kepada Oliver yang bertugas dalam mengawasi pembangunan Dungeon ini.


“Maafkan aku, Tuanku. Tapi aku sudah mengatur dan menyusun jebakan itu agar menjadi selemah mungkin. Tak kusangka mereka akan mati semudah itu.” Balas Oliver.


Lucien yang mendengarkan percakapanku dengan Oliver segera bergabung untuk memberikan pendapatnya.


“Tuanku. Bagaimana jika kita menonaktifkan seluruh perangkap segera setelah hanya tersisa beberapa orang saja? Selain itu, mungkin kita juga bisa menghabisi para monster yang keluar dari Spawn Point.


Sedangkan untuk para penjaga lantai yang berperan sebagai ‘Zone Boss’ yang sangat mematikan itu, kita bisa mengungsikan mereka ke Dungeon Origin.”


Penjelasan Lucien sangatlah masuk akal. Bagaimana pun, aku hanya ingin mereka merasakan mudahnya Dungeon ini beserta tantangan yang ada. Setelah itu, aku harus menunjukkan kekayaan yang ada di lantai 20 lalu menghabisi mereka sebagai Boss Dungeon ini.

__ADS_1


Dengan begitu, orang-orang akan berbondong-bondong untuk berusaha menyelesaikan Dungeon ini.


Oleh karena itu, jika mereka hanya tersisa beberapa orang maka….


“Terus awasi mereka! Segera setelah jumlah mereka berada dibawah angka 100, habisi seluruh monster yang ada. Lucien, tarik mundur seluruh Boss di tiap Zona. Mereka terlalu berharga untuk mati.


Bagaimana pun, mereka bukan monster biasa yang akan respawn setelah mereka mati. Kedepannya, mereka akan menjadi mesin pembunuh yang akan menghabisi apapun yang menjajah Dungeon ini. Mengerti?”


Aku menjelaskan perintah dengan panjang lebar.


“Aku mengerti, Tuanku. Akan segera ku laksanakan.” Lucien segera mengangguk dan pergi ke lantai 21 untuk menggunakan Teleportation Circle dan menjemput seluruh Zone Boss yang ada.


“Oliver, kau bersiaplah untuk membawa beberapa bawahanmu dan hancurkanlah semua jebakan yang ada. Termasuk, habisilah seluruh monster yang ada disana. Kau bisa melakukannya tanpa terluka dengan jebakan dan serbuan monster sendiri kan?” Tanyaku kepada Oliver.


“Tentu saja, Tuanku. Aku akan bersiaga mulai dari lantai 10.” Balas Oliver sambil segera pergi menuju ke lantai 21 untuk menggunakan lingkaran sihir teleportasi.


Sedangkan Liz dan Tasmith?


Mereka masih berada di sisiku untuk membantuku mengawasi pergerakan para pasukan penakluk Dungeon itu.


...***...


...Dungeon Treasure...


...Zona Kabut...


...Lantai 10...


“Huh…. Sialan…. Apakah kali ini akan kembali muncul jebakan seperti di lantai sebelumnya?” Tanya Jendral Agmar dengan nafas yang sangat kelelahan.


Tak hanya itu, Ia juga nampak menutupi hidung dan mulutnya dengan kain yang tebal. Semua itu demi mengurangi efek racun yang memasuki tubuhnya.


Hampir 3 jam telah berlalu semenjak kerusuhan yang terjadi di lantai 6 akibat munculnya gas racun. Meskipun mereka seharusnya bisa sampai ke lantai 10 dengan cepat, mereka hanya bisa berjalan dengan lambat sambil terus menerus meneguk Antidote dan Health Potion.


Jumlah mereka?


Hanya tersisa 6 orang saja.


“Agmar, bukankah Dungeon ini terlalu mengerikan?” Tanya seorang wanita dengan tipe penyihir itu dengan wajah penuh rasa takut.


“Tidak! Kita saja yang terlalu ceroboh untuk memasuki dungeon ini tanpa persiapan yang matang dan hanya mengandalkan jumlah yang besar! Jujur saja aku ingin keluar dari sini sekarang juga.” Balas seorang Pria dengan pedang panjang dua tangan. Seorang dengan tipe Warrior.


“Tapi kita tak bisa kembali lagi. Seluruh pintu menutup sesaat setelah kita melewatinya. Meskipun bisa kembali, para monster di lantai 1 hingga 5 masih menunggu kita.” Jelas seorang gadis dengan sebuah harpa di tangan kirinya.


“Bagaimana dengan persediaan Potion kalian? Apakah masih cukup untuk menahan racun yang akan muncul di lantai ini?” Tanya seorang pria dengan tubuh kurus. Perlengkapannya yang seperti seorang ninja memperjelas statusnya sebagai seorang Assassin.


“Aneh…. Aku tak merasakan adanya racun di lantai 10 ini! Bahkan….” Ucap seorang gadis dengan pakaian seperti seorang pendeta yang serba putih dengan alur biru. Sudah sangat jelas bahwa Ia merupakan seorang Healer atau penyembuh.


“Ka-kau benar! Bahkan…. Beberapa tanah nampak mengalami kerusakan?!” Teriak Agmar. Ia merupakan seorang Tanker dengan perlengkapan zirah berat yang kini mulai terlihat agak usang.


Dan begitulah….

__ADS_1


6 orang Player yang tersisa di lantai 10 ini, melanjutkan penjajahan Dungeon ini. Mereka terus bergerak dengan sangat hati-hati di setiap langkahnya, membuat penjelajahan mereka menjadi sangat lama.


Tanpa mereka sadari, seluruh monster dan perangkap yang terpasang telah dimusnahkan oleh Oliver beserta bawahan Elit miliknya.


__ADS_2