
Pada saat aku mencoba melihat status dari Item itu…
[Ethereal Silver Mask]
[Rarity : Legendary]
[Pembuat : Tasmith]
[Tipe : Accessory]
[Atribut]
Defense : 1.120
Health Point : + 24.000
Health Point : + 40%
Mana Point : + 40.000
Mana Point : + 40%
Mana Regen : + 30%
Intelligence : + 30%
Agility : + 20%
[Efek Khusus]
Ultimate Disguise
Topeng ini mampu menyembunyikan seluruh informasi yang dimiliki oleh pengguna jika dalam kondisi [Real] atau nyata. Jika topeng dalam kondisi [Disguised] atau tersembunyi, maka informasi yang disembunyikan hanyalah Level, Status, dan Skill yang dimiliki.
Super Charged Tanzanite
Permata Tanzanite yang memiliki afinitas sangat ekstrim terhadap sihir air dan petir ini telah menyerap kekuatan petir dalam jumlah yang luar biasa. Meningkatkan kemampuan sihir elemen petir sebesar 250% dan memberikan imunitas atau ketahanan terhadap serangan elemen petir sebesar 100%.
Memberikan Legendary Passive Skill [Electric Force Barrier] yang dapat menahan seluruh damage dari serangan tipe [Missile] atau jarak jauh dengan damage dibawah 2.500 poin setelah kalkulasi akhir dengan status Defense. Skill hanya akan aktif jika topeng dalam kondisi [Real] atau nyata.
Ultimate Rune of Intelligence
Item ini telah dibuat dengan sempurna dan telah ditanamkan Rune tingkat tertinggi. Meningkatkan status Intelligence sebesar 40% dan maksimum Mana sebesar 20%.
Setelah membaca informasi yang sangat panjang itu, secara tak sadar aku telah menganga selama lebih dari 5 menit.
Meskipun, aku memang telah memesan item ini secara pribadi kepadanya beberapa bulan yang lalu. Tasmith telah gagal puluhan kali dalam membuat Item yang mampu menyembunyikan Informasi seperti status itu.
Tapi tak kusangka….
Ia benar-benar terus mencobanya berulang kali hingga berhasil.
“Tuanku?” Tanya Tasmith kebingungan melihat tingkahku.
“A-ah…. Ya! Ini adalah hasil yang sangat luarbiasa! Bahkan kau mampu menjadi seorang legenda?! Sungguh luarbiasa! Aku pasti akan memberikan hadiah luarbiasa untukmu!” Teriakku kebingungan karena kehabisan kata-kata.
“Terimakasih. Kalau begitu…. Bisakah aku meminta suatu hal yang sedikit egois?” Tanya Tasmith sambil terus memegangi 2 topeng itu.
“Tentu saja! Katakan apapun. Selama aku bisa memenuhinya, pasti akan kuberikan untukmu.” Balasku sambil tersenyum dan menyilangkan kedua lenganku.
__ADS_1
“Kalau begitu aku takkan sungkan. Bisakah aku hidup tenang dan beristirahat dari pekerjaan selama…. 2 tahun? Aku ingin memberikan sebagian waktuku kepadanya.” Ucap Tasmith sambil melirik ke arah Liz.
‘Aaah…. Jadi begitu? Menarik sekali. Aku penasaran apa yang akan mereka hasilkan nantinya.’ Ucapku dalam hati sambil tersenyum memandangi pasangan yang berbeda ras ini.
Setelah beberapa saat memikirkannya, aku pun segera membalas perkataan Tasmith.
“Tentu saja! Tapi…. Aku ingin kau memasang Rune pada jubah dan tongkat sihirku ini. Sekaligus melakukan Enhancement. Tenang saja, aku akan memberikan semua bahannya. Apakah kau mau?” Tanyaku kepada Tasmith.
Tanpa ku sangka, Tasmith dengan segera mengiyakannya.
“Sesuai dengan perintahmu. Tuanku.”
‘Hmm…. Kenapa dia begitu sopan kepadaku? Entah kenapa…. Aku malah merasa aneh dan sedikit jijik dengan perubahan sikapnya ini. Tapi baiklah, tak begitu masalah juga.’ Pikirku dalam hati.
Setelah itu aku memutuskan untuk pergi ke Kota Lesta untuk menengok kondisi Kerajaan Undead milik Evan.
...***...
...Kota Lesta...
...Bawah Tanah...
Pemandangan di tempat ini cukup mengerikan. Di dalam sebuah gua raksasa ini, terdapat banyak sekali bangunan yang sangat tinggi dan besar. Semuanya memiliki kesamaan yaitu memiliki bahan utama dari tulang-tulang yang berukuran besar serta bebatuan dengan warna hijau gelap.
Kota raksasa yang ada di bawah Kota Lesta ini merupakan gabungan dari 6 buah Necropolis yang susunannya membentuk segi enam. Semuanya tertata dengan rapi karena desain yang dirancang oleh Evan.
Di sebuah kastil tulang raksasa….
Aku melangkahkan kakiku.
‘Tap! Tap!’
Sedangkan Evan sendiri masih sibuk di laboratorium pribadinya.
‘Kreek….’
“Evan?” Tanyaku ketika memasuki ruangan dengan cahaya kehijauan yang cukup gelap ini.
“Hmm? Eric?” Tanya Evan sambil sedikit melirikkan matanya.
Segera setelah itu, Ia melanjutkan perkataannya yang terhenti di tengah jalan.
“Maaf aku sedang sibuk membuat Elixir baru. Katakan saja apa perlumu.” Ucap Evan sambil menuangkan berbagai cairan dan bubuk beserta kristal-kristal kecil ke dalam tabung dari kaca itu.
“Aah…. Aku hanya ingin mengetahui bagaimana kabarmu. Nampaknya kau sedang baik-baik saja kan?” Tanyaku singkat.
“Tenang saja. Aku mengikuti saranmu untuk membangun kekuatan secara perlahan. Kini, aku memperoleh puluhan ribu jiwa setiap harinya hanya dari Necropolis ini. Belum termasuk pemujaan Dewa Kematian oleh para Skeleton Priest. Sedangkan untuk perlengkapan, para Skeleton Craftmen sudah bekerja dengan giat sejak dahulu.”
Evan nampak menjelaskan semuanya sambil terus mempersiapkan larutannya. Kini Ia nampak menggunakan sihir api berwarna biru namuk kecil untuk memanaskan botol kaca itu.
“Syukurlah…. Berapa total pasukanmu sekarang?” Tanyaku penasaran.
“8 juta lebih Undead dapat bertempur kapan saja.” Balas Evan singkat.
“Gi-gila…. Melebihi seluruh pasukanku….” Balasku lemas.
Wajar saja karena populasi dari Origin saat ini hanya mencapai 3 juta monster saja.
“Jangan bercanda, Eric. Satu goblin dari bagian militer milikmu mampu menghempaskan puluhan Skeleton milikku. Apalagi jika kau mengirimkan Orc, Ogre, atau Desert Lizardmen itu. 8 juta pasukan milikku akan rata hanya dengan 200.000 pasukan milikmu. Kualitas mengalahkan jumlah.”
__ADS_1
Jawab Evan dengan rinci sambil mengerjakan larutannya. Kini Ia nampak menggunakan sihir es di tangan kirinya dan sihir angin di tangan kanannya untuk mengolah larutan itu.
“Hahaha…. Baiklah. Lalu bagaimana rencanamu mengenai relik untuk membuka World Rift itu?” Tanyaku singkat. Jujur saja ini adalah pertanyaan terpenting bagiku karena aku sangat ingin kembali ke dunia bawah dan menyelesaikan Quest dari Obelisk yang telah menganggur begitu lama.
“Soal itu…. Aku sedang mempersiapkan kekuatan. Aku tak ingin gagal dengan memalukan seperti sebelumnya.”
Setelah balasan itu, Evan menggunakan sihir angin [Wind Bullet] untuk menerbangkan tubuhku keluar dari laboratorium itu.
“Sudah puas kan? Sekarang biarkan aku bekerja.”
‘Braaak!!’
Lagi-lagi, Evan menggunakan sihir angin untuk menutup pintunya dengan kencang.
‘Hah…. Dasar. Sekarang saatnya untuk mengunjungi Kota Forgia.’ Ucapku sambil berdiri dan melangkah keluar dari tempat mengerikan ini.
...***...
...Istana Kerajaan...
...Kota Forgia...
Sangat kontras dengan tempat sebelumnya, Kota Forgia nampak begitu ramai dan indah. Dengan banyak sekali pekerja yang melakukan pembangunan ulang di kota ini, aku sangat yakin bahwa suatu hari nanti Kota Forgia dapat menjadi salah satu Kota terbesar di dunia ini.
Setidaknya…. Aku berharap Kota Forgia bisa berkembang dan menyaingi Ibukota dari Kekaisaran Avertia, Avarice.
“Hmm? Berpetualang?” Tanya Arlond setelah mendengar penjelasanku.
“Iya…. Apakah menurutmu aneh?” Tanyaku singkat.
‘Sluuurrp!’
Arlond nampak meneguk susu sapi dingin yang ada di hadapannya sebelum menjawab pertanyaanku.
“Sangat normal bagi pemain pada umumnya. Tapi aku tak menyangka bahwa kau akan berpetualang.” Balas Arlond sambil merapikan seluruh berkas yang ada di hadapannya.
Sebelum aku menceritakan mengenai petualangan yang ingin ku lakukan, kami berdua telah selesai membahas masalah arah pengembangan Kerajaan Farna.
Kami berdua telah sepakat untuk menjadikan Kerajaan Farna sebagai Kerajaan yang fokus dalam pertambangan, penempaan, dan militer. Tentunya, aku telah menggelontorkan modal sebesar 6 juta Koin Emas lebih kepada Arlond. Atau lebih tepatnya kepada Kerajaan Farna.
Kenapa aku begitu santai membuang uang sebanyak itu? Tentu saja karena aku tahu uang itu akan segera kembali dalam jumlah yang lebih besar ketika Kerajaan Farna telah makmur!
“Ugh…. Kau berpikir begitu? Baiklah…. Tapi apa kau memiliki saran tempat yang bagus untuk dituju?” Tanyaku singkat.
Arlon nampak mengambil peta di Inventorynya lalu membukanya di meja itu.
‘Tap!’
Jari telunjuk Arlond tanpa ragu menunjuk pada sebuah tempat di peta.
“Wi-wilayah Hutan Suci di daerah kekuasaan Dewi Celestine?!” Teriakku kaget atas tempat yang ditunjuk oleh Arlond.
Tapi Arlond nampak menggelengkan kepalanya dengan ringan sambil mulai berbicara.
“Beberapa rumor menyebutkan bahwa disana adalah tempat dari Pohon Dunia yang dipuja oleh ras Elf. Aku tak tahu apakah itu benar atau tidak, tapi…. Bukankah itu bagian yang menarik dari sebuah petualangan?” Balas Arlond sambil tersenyum lebar.
Pada saat itulah jantungku berdegup kencang karena dipenuhi oleh rasa penasaran yang besar.
Pohon Dunia? Elf?! Bukankah itu terdengar seperti penemuan yang besar?! Apalagi jika terdapat Quest Rahasia!
__ADS_1
“A-aku…. Sangat tertarik! Kurasa aku harus mengajak Elin dan Lucien! Lalu siapa lagi ya?”