The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 230 - Sisi Lain


__ADS_3

Setelah sesi wawancara yang singkat itu, Hilda berjalan ke arahku dengan langkah yang sangat tegas.


"Pertarungan yang menarik. Kau pantas untuk memenangkan pertandingan barusan." Ucap Hilda sambil mengulurkan tangannya ke arahku.


Tanpa ragu sama sekali, aku segera menjabat tangannya dan membalas.


"Terimakasih. Jujur saja aku sudah sangat panik ketika menyadari kengerian Rapiermu. Kemenanganku ini sebagian besar karena item yang ku miliki memberikan bonus yang lebih besar kepada statusku daripada milikmu."


Mendengar hal itu, mata Hilda nampak sedikit melebar seakan terkejut.


"Daripada item milikku? Apakah kau bisa melihat status dari setiap item yang kukenakan pada pertandingan barusan?" Tanya Hilda dengan wajah yang keheranan.


'Sialan! Aku keceplosan!'


Setelah menjaga wajah dan emosiku tetap tenang, aku segera menjawab pertanyaan Hilda


"Aah.... Aku memiliki skill yang mampu melihat status item dari jarak tertentu."


Mendengar jawabanku yang terdengar begitu aneh itu, Hilda hanya memberikan senyuman yang tipis dan ramah.


Sambil berjalan melewatiku, Ia membisikkan suatu hal yang membuat seluruh bulu kudukku berdiri.


"Aku menantikan hari dimana aku bisa bertemu dengan sosok bernama Tasmith itu."


Sebelum sempat bertanya bagaimana Ia bisa mengetahui nama itu, Hilda telah pergi dengan langkah yang begitu cepat.


'Entahlah.... Mungkin lain kali aku akan menanyakan hal itu kepadanya.' Pikirku dalam hati sambil menghela nafasku.


...***...


...Kekaisaran Avertia...


...Wilayah Barat...


Di tengah gurun yang begitu tandus dengan suhu yang sangat menyengat, nampak dua orang sedang berjalan.


Salah seorang merupakan Pria berkulit cukup gelap dengan tubuh yang ditutupi dengan jubah hitam serta kepala yang ditutupi kain hingga menyerupai sorban.


Sedangkan seorang lagi merupakan Wanita dengan kulit yang cukup putih namun memiliki sisik berwarna merah pada beberapa bagian tubuhnya. Tak hanya itu, Ia juga memiliki ekor yang menyerupai reptil dengan ukuran yang cukup besar dan panjang berwarna merah.


Tak lupa, sepasang tanduk yang ada di kepala wanita itu hanya menambah kengeriannya.


"Seharusnya ada di sekitar sini jika aku mengacu pada petunjuk ini." Ucap sang Pria sambil memandangi kertas yang telah usang itu.


Sang wanita hanya terdiam mengikuti langkah kaki Pria itu. Seakan-akan Ia memang tidak tertarik sama sekali dengan apapun yang dilakukan oleh pria itu.


"Sebuah tombak yang menusuk bumi di sebelah Utara akan menunjukkan arah dari kegelapannya pada saat mendekati terbenamnya matahari pada bulan ke sembilan." Ucap Pria itu sambil memperhatikan sekelilingnya.


Ia memandangi sebuah menara besar yang terlihat di Utara. Menara itu nampak memberikan bayangan ke arah Timur karena sinar senja.


Meski begitu, Pria itu nampak tak begitu puas.


"Aku telah mencobanya 18 kali dan masih saja tak mampu menemukannya. Apakah aku salah mengartikan petunjuk keduanya?" Tanya Pria itu sambil membaca kembali kertas usang itu.


"Berdirilah tepat di bawah sang penempa.... Apa maksudnya ini?"


'Bruk!'


Pada akhirnya, Pria itu memutuskan untuk melempar tubuhnya ke padang pasir yang luas dan gersang ini.


Ia berbaring dengan perasaan yang dipenuhi kegelisahan.


"Hari ini adalah tanggal 30 di bulan ini dalam dunia game. Jika aku melewatkan petunjuk ini maka aku harus menunggu satu tahun lagi, dengan kata lain.... 36 hari di dunia nyata...."


Ia terus menggumamkan seluruh isi hatinya.


Wajar saja karena Ia tak ingin membuang-buang waktu sedikitpun untuk menyelesaikan teka-teki ini. Ia harus segera memecahkan misteri ini dan memperoleh petunjuk yang selanjutnya.


Waktu terus berlalu dan matahari nampak mulai bersiap untuk meninggalkan dunia virtual ini.

__ADS_1


Meski begitu, sosok wanita yang merupakan Fire Draconic itu terus menerus berdiri dan diam ditempat dengan sikap yang begitu siaga.


"Kau tak perlu serius seperti itu setiap saat. Lagipula aku telah memperoleh kembali pedang dan zirahku berkat bantuanmu kan, Valis." Ucap Pria itu sambil melirik ke arah wanita bernama Valis itu.


Tapi tanpa disangka, Ia segera membalasnya.


"Tolong jangan terlalu akrab denganku atau kau akan menyesal, penempa manusia."


"Hahaha.... Masih saja seperti itu. Bukankah kita telah bersama di dunia ini dalam waktu yang cukup lama?"


Percapakan ringan pun terus terjadi selama Pria itu menunggu datangnya waktu yang disebutkan dalam petunjuk itu.


"Hah.... Penempa ya.... Apa maksudnya dengan berdiri di bawah...."


Pada saat itu juga, Pria itu menyadarinya setelah memandangi langit yang begitu luas dan dipenuhi dengan bintang-bintang itu.


"RASI BINTANG!" Teriaknya dengan keras sambil segera berdiri dan memperhatikan langit.


Ia terus menoleh ke segala arah memperhatikan berbagai rasi dan jenis bintang yang terbentuk.


Melihat tingkah Pria itu, Valis nampak tersenyum tipis yang sangat sulit untuk diketahui orang lain. Dalam hatinya, Ia berkata.


'Sikap pantang menyerahmu itulah yang membuat Yang Mulia Arroth begitu tertarik padamu, Aamori.'


Beberapa menit berlalu dan matahari telah mulai terbenam. Akan tetapi Pria bernama Aamori itu baru saja menemukan lokasi yang dimaksud.


Ia segera berlari ke arah rasi bintang yang membentuk seperti palu tempa.


Setelah sampai disana, Ia segera menoleh ke arah Utara.


Dari salah satu jendela di menara yang telah ditinggalkan semana ratusan tahun itu, terlihat seberkas cahaya yang cukup terang.


Berkas cahaya itu menunjuk ke suatu arah di sisi Selatan.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Aamori dengan segera berlari sekuat tenaga. Valis sang Draconic terus mengikuti langkah Aamori tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.


Tepat sebelum cahaya itu menghilang, Aamori telah melihat lokasi jatuhnya cahaya itu. Sebuah lokasi yang disebutkan dalam petunjuk.


Aamori kemudian menggali dan menggali....


Siang dan malam Ia lalui dengan kegiatan yang sama selama beberapa hari. Cahaya yang menunjukkan lokasi itu pun terlihat beberapa kali dan membuatnya yakin bahwa Ia berada di tempat yang tepat.


Hingga akhirnya, setelah 6 hari lebih menggali dengan menggunakan sekop....


'SRRRRUUUGGGG!!!'


Pasir yang menjadi pijakan Aamori dan yang Ia gali selama ini mulai runtuh hingga membuatnya terjatuh ke bawah.


Tapi apa yang ada disana adalah sebuah ruangan yang begitu besar. Sebuah ruangan yang nampak seperti kuil dan dibangun dengan batuan yang indah.


Meski nampak telah ditinggalkan selama ratusan tahun, bangunan ini masih berdiri dengan begitu kokohnya.


Aamori pun segera menyalakan lilin untuk membuatnya mampu melihat dalam gelapnya reruntuhan di bawah padang pasir ini.


Ia berjalan secara perlahan diikuti oleh Valis untuk mencari sumber cahaya yang lebih baik.


'Wuuoossh!'


Ia kemudian menyalakan sebuah obor dengan lilin kecilnya. Lalu setelah menemukan sebuah dinding dengan lingkaran sihir yang cukup aneh di tengahnya, Ia mulai berpikir.


"Jebakan? Atau suatu pintu masuk ke tempat yang sebenarnya?" Tanya Aamori pada dirinya sendiri.


Setelah beberapa saat berpikir, Ia akhirnya memutuskan untuk mencoba meletakkan tangan kanannya di tengah lingkaran sihir itu.


Pada saat itu juga....


'Wwwuuuooooossshh!'


Tekanan angin yang begitu kuat berhembus dari berbagai arah. Bersamaan dengan hal itu, terdengar suara yang muncul entah darimana.

__ADS_1


"Selamat datang, wahai penempa yang agung!"


Bersamaan dengan itu, dinding itu terbuka dan memperlihatkan ruang harta yang begitu megah dan melimpah.


Emas dan berbagai peralatan dengan tingkat yang setara seperti artifak tersebar di berbagai tempat.


Sesekali, Aamori melihat beberapa pedang dan senjata lainnya.


"Sungguh.... Sebuah mahakarya yang sesungguhnya." Ucap Aamori sambil meletakkan kembali pedang berwarna hitam pekat dengan motif emas itu.


Aamori kemudian melangkahkan kakinya ke arah sebuah altar di puncak tangga ruang harta ini.


Dan di atas altar itu, Ia menemukan salah satu peninggalan Arroth.


[Ring of Burning Blaze]


[Rarity : Mythical]


[Pembuat : Arroth]


[Atribut]


Health Point : + 840.000


Health Point : + 120%


Mana Point : 320.000


Mana Point : + 60%


Stamina Point : 450.000


Stamina Point : + 80%


Attack Power : + 8.450


Magic Power : + 4.150


Defense : + 2.800


[Efek Khusus]


Primordial Fire


Cincin ini dibuat dengan menggunakan api purba yang sangat kuat dan murni. Memberikan tambahan elemen [Fire] sebesar 400% untuk seluruh serangan yang dilakukan oleh pengguna cincin.


Meningkatkan kekuatan serang semua skill dan sihir berelemen api sebesar 200%. Meningkatkan ketahanan pengguna terhadap api sebesar 150% (ketika menerima serangan berelemen api, tubuh akan meregenerasi Health Point sebesar 50% dari damage).


Lord of Fire


Sebagai penguasa api, pengguna dapat mengendalikan api dengan bebas.


Memungkinkan pengguna untuk menciptakan api dengan panas dan kekuatan yang tergantung pada jumlah Mana yang digunakan.


Passive Effect : Meningkatkan kualitas tempa item sebesar 30%.


Memberikan pengguna akses terhadap Mythical Skill [Blessing of the Fire Lord]. Meningkatkan seluruh atribut status sebesar 200% selama 1 menit. Mengubah seluruh serangan dan sihir menjadi elemen api dan menguatkan daya hancurnya sebesar 500% selama 1 menit. Meningkatkan regenerasi Health Point sebesar 2.000% selama 1 menit.


[Deksripsi Khusus]


Salah satu dari enam produk gagal yang dibuat oleh Arroth. Ia sangat membenci item ini dan menyimpannya jauh di bawah padang pasir sehingga tak ada satu pun manusia yang melihat sisi buruknya.


Melihat seluruh informasi itu, Aamori hanya bisa menganga dan membelalakkan matanya.


"Item sekuat ini hanyalah produk gagal?!"


Akan tetapi, Aamori cukup senang.


Bukan karena cincin yang kekuatannya tiada tara bagi seluruh manusia dan Player.

__ADS_1


Melainkan karena petunjuk berikutnya yang terukir dengan jelas di balik cincin merah keemasan itu.


Valis yang melihat seluruh kejadian ini nampak tersenyum cukup lebar karena Aamori kini telah selangkah lebih dekat dengan tujuannya.


__ADS_2