
“Eh?! Eeeeeeeh?!! Ka-kau…. Ma-maafkan aku, Tuan Muda!” Teriak Pria itu dengan wajah ketakutan sambil membungkukkan badannya kepadaku.
“Sudahlah, hentikan itu. Aku tak terlalu mempermasalahkan….”
Belum sempat menyelesaikan perkataanku, terdengar suara teriakan yang cukup mengerikan bagiku.
“Erik!!! Apa yang kau lakukan di sana?! Kau harus selalu ikut denganku sebagai bentuk pembelajaranmu!!!”
Elin menghampiriku sambil berlari. Tak hanya itu, Ia juga menyeretku dengan kuat di sepanjang jalan.
“E-Elin! Tunggu dulu! Aku bisa berjalan sendiri!” Teriakku memohon ampun kepada Elin.
“Jika kau berjalan sendiri nanti kau akan hilang lagi entah kemana! Sekarang ikuti aku!” Teriak Elin sambil terus menyeretku.
Dalam sekejap, kami telah kembali ke ruang kendali.
“Dasar! Sudah kukatakan jangan berkeliaran sendirian. Lagipula dengan pakaian seperti itu, maka kau akan dianggap seperti orang asing! Setidaknya gunakanlah pakaian yang….”
Elin terus menerus mengomeliku selama beberapa saat. Aku hanya bisa mendengar seluruh perkataannya. Yah, itu karena sebagian besar perkataannya walaupun menyakitkan tapi bertujuan untuk membantuku.
Setelah ceramahnya yang cukup panjang dan lebar, Ia mengirimiku suatu Link melalui pesan di ponselku.
“Elin, apa maksudnya ini?” Tanyaku kebingungan.
Link atau tautan yang dibagikan oleh Elin yaitu sebuah situs yang menyediakan jasa kursus. Bukan kursus sembarangan, tapi sebuah kursus untuk para pebisnis muda.
Tujuan utama dari kursus ini yaitu mencetak individu yang karismatik serta memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat.
Tak hanya itu, dengan mengikuti kursus ini maka semua peserta akan memperoleh kemampuan pengambilan keputusan yang kuat dan menguntungkan.
Tentu saja, itu hanyalah iklan dari situs ini. Terlebih lagi, kursus ini telah menerapkan teknologi Accelerated Thoughts seperti di Re:Life.
“Kau harus menghadiri kursus itu. Aku sudah mendaftarkanmu dan membayar biayanya. Meskipun terlihat besar, aku yakin itu hanyalah jumlah yang cukup kecil bagi dirimu yang saat ini.” Jelas Elin.
Ia kemudian meneruskan penjelasannya mengenai jadwal kursus dan lain sebagainya. Termasuk juga mengenai diriku yang harus mulai sedikit mengurangi jam mainku di Re:Life.
“Ini, penasehatku telah menyusun jadwal harian barumu.” Ucap Elin di akhir penjelasannya.
Di selembar kertas yang sederhana itu, terlihat dengan jelas sebuah niat penyiksaan.
...***...
...27 Juni 2073...
Pada pagi hari, aku harus bangun pada pukul 04.00 lalu sarapan ringan dan berolahraga. Tentu saja kini aku sudah jarang pergi ke taman, melainkan ke Gym.
Aku telah berlangganan di salah satu Gym besar yang buka selama 24 jam. Untuk ke sana, aku berlari sebagai bentuk pemanasan selama 20 menit.
Setelah jam di ponselku menunjukkan angka 06.40, alarm akan berbunyi menandakan diriku harus segera pulang. Tentu saja dengan berlari hingga ke rumah sebagai bentuk pendinginan.
Sesampainya di rumah, aku akan beristirahat sejenak sambil memakan sarapanku.
__ADS_1
Menu makananku? Dua potong dada ayam rebus, dengan sedikit karbohidrat berupa nasi ditambah sayuran dan buah-buahan yang setinggi gunung. Aku memakannya sambil mempersiapkan materi kursusku.
Segera setelah itu, aku akan mandi dan mempersiapkan diriku. Tentu saja, aku menggunakan sebuah setelan jas yang cukup rapi. Elin memperingatkanku untuk selalu menjaga penampilanku agar aku tidak diremehkan oleh orang lain.
‘Diin diin!!!’
Terdengar suara klakson mobil yang cukup keras. Ia adalah supir pribadiku yang menyimpan mobilku dirumahnya. Wajar saja karena rumahku cukup sempit dan tidak memungkinkan untuk menyimpan sebuah mobil.
Elin memberinya tugas untuk menjemputku pada pukul 07.40 dan mengantarku ke tempat kursus. Jaraknya tidak terlalu jauh jika menggunakan kendaraan. Tanpa menunggu lama, aku segera memasuki mobil itu.
“Selamat pagi, Tuan Muda.” Sapa supir itu ramah. Ia merupakan seorang Pria yang sudah cukup tua. Usianya berada pada kisaran 45 tahun.
“Selamat pagi.” Balasku sambil tersenyum.
Mobil itu dengan segera melaju ke tujuan kami yaitu Entrepreneur Training Program. Sebuah tempat kursus bagi calon-calon pengusaha.
“Saya akan kembali pada pukul 16.40, Tuan Muda.” Ucap supir itu sambil menundukkan sedikit kepalanya.
Menurut penjelasan, kursus ini dimulai pada pukul 08.00 hingga 17.00. Mungkin lebih tepat menyebutnya sebagai kembali ke sekolah.
“Terimakasih. Jaga dirimu.” Balasku singkat sambil melangkah memasuki gedung besar ini. Sebuah gedung dengan 12 lantai yang isinya penuh dengan kelas untuk berbagai bidang.
“Ruang 8 E…. Ruang 8 E….” Ucapku sambil melihat-lihat jadwal di ponselku. Wajar saja karena tidak seperti peserta kursus lainnya yang hanya menghadiri 1 atau 2 kelas per minggu, aku menghadiri 7 kelas.
Dengan kata lain, ruang kelas yang harus aku hadiri akan berganti setiap harinya.
Segera setelah sampai di dalam ruangan, beberapa orang mulai menyambutku. Aku segera duduk di kursi yang masih kosong.
Tentu saja bukan dunia Re:Life. Melainkan sebuah dunia virtual yang memiliki fokus utama yaitu pendidikan.
“Salam kenal, namaku Pram Anggara. Aku adalah seorang peserta baru dalam pelatihan ini.” Ucap seorang Pria muda yang duduk di sebelahku.
Ia memiliki penampilan yang menawan. Dengan rambut yang disisir rapi ke satu sisi serta setelan jas yang rapi, ketampanannya seakan tiada tandingannya. Meskipun…. Sebagian besar peserta yang ada di sini sangatlah tampan dan cantik.
“Salam kenal, Pram. Namaku Erik.” Balasku kepadanya singkat.
Tanpa kusangka, Pram mulai menunjukkan ekspresi yang kebingungan setelah mendengar perkataanku.
“Erik? Jangan katakan bahwa nama lengkapmu adalah Erik Prasetya?!” Tanya Pram sambil sedikit memperkeras suaranya.
“Ah…. Ya, nama lengkapku adalah Erik Prasetya.” Balasku sambil membuat senyuman.
“Kau…. Apakah kau benar-benar seorang pemuda yang telah membangun….”
Belum sempat Pram menyelesaikan perkataannya, seisi kelas segera menjadi sunyi. Ini semua terjadi karena pembimbing kelas ini sudah mulai memasuki ruangan.
Tak ingin membuat Pram dihantui oleh rasa kebingungan dan penasaran, aku menatapnya sambil mengangguk dan memberikan senyuman. Di wajah Pram kini nampak sebuah senyuman namun dengan ekspresi yang sedikit lemas. Entah apa yang dia pikirkan.
“Salam sejahtera bagi kita semua!” Ucap Pria yang menjadi pembimbing kelas ini. Seisi kelas segera menjawabnya dengan serentak, termasuk diriku.
Segera setelah itu, pembimbing kelas segera membuka dengan kalimat yang biasa dia ucapkan.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Ia meminta seluruh peserta untuk segera memasuki kapsul yang ada di sebelah bangku masing-masing.
Semua orang kini telah berpindah ke dalam dunia pendidikan virtual. Sebuah dunia dimana informasi dalam jumlah yang tak terhitung, serta buku yang tak terbatas dapat dimiliki oleh semua orang.
Tentu saja, terdapat lebih dari 4 orang penjaga yang akan menjaga ruang kelas selama kami semua berada di dalam kapsul.
Di dalam dunia itu, waktu berjalan 10 kali lebih cepat. Dengan kata lain, 9 jam waktu dunia nyata yang berlalu ketika mengikuti kelas ini akan menjadi 90 jam. Aku belajar mati-matian dengan sedikit istirahat selama 90 jam di dunia virtual ini.
17.05
“Sampai jumpa lagi, Pram.” Ucapku kepada kawan baruku itu.
“Ya, sampai jumpa lagi Erik.”
Aku dan Pram mulai akrab selama pembelajaran selama 90 jam itu. Ia merupakan seorang anak dari pengusaha roti yang tidak terlalu besar. Ia mengikuti program ini setelah Ayahnya menjual salah satu tokonya. Bagaimana pun, biaya per hari mengikuti kelas ini mencapai lebih dari 10 juta Rupiah!
“Tuan Muda.” Sapa supir pribadiku itu sambil sedikit menundukkan kepalanya.
“Kita telah terlambat 5 menit dari jadwal. Maafkan aku karena kelas barusan sedikit molor karena banyak peserta termasuk diriku yang antusias dalam sesi diskusi. Bisakah kita sampai di Gym tepat waktu? Aku ingin beristirahat disana.” Jelasku kepada Pria bernama Jarwo itu sambil memasuki mobil.
“Akan saya usahakan, Tuan Muda.” Balas Jarwo. Mobil ini segera bergerak dengan cukup cepat menuju tujuan berikutnya.
Sedangkan aku? Aku menikmati makanan diet yang telah diatur oleh seorang ahli gizi di Gym untukku. Dua potong dada ayam, sedikit nasi dan gunung sayur serta buah-buahan.
17.20
Aku telah sampai di Gym. Tapi aku tidak segera berolahraga. Kenapa? Itu karena aku baru saja selesai makan. Jika aku langsung melakukan aktivitas yang berat maka akan terjadi permasalahan dalam pencernaanku.
Oleh karena itu, aku beristirahat sejenak hingga pukul 18.00 lalu mulai berolahraga. Selama istirahat, aku juga tidak bisa bersantai-santai. Aku terus menerus mengotak-atik ponselku untuk melihat berbagai kabar dari Elin mengenai berbagai hal.
Pembangunan Dungeon Training Ground untuk para Player Cina, pembangunan Grandia Apartment, jadwal kegiatan dan rapat para eksekutif Grandia Group dan masih banyak lagi.
Aku tidak boleh melewatkan sedikit pun dari hal itu. Bagaimana pun, hampir seluruh kekayaan yang ku miliki saat ini berasal dari Liu Ying. Untung saja, pembangunan yang dilakukan oleh para monster berjalan dengan sangat cepat dan diprediksi akan selesai dalam 2 minggu lagi.
Tepat setelah jam di ponselku menunjukkan angka 18.00, maka aku segera mulai melatih tubuhku. Tentu saja aku tak melupakan pemanasan berupa lari di Treadmill.
Latihan yang kulakukan? Aku menyerahkan semuanya kepada PT atau Personal Trainerku.
“Selamat datang kembali, Erik! Hari ini kita akan melatih otot kaki! Apakah kau sudah siap?!” Teriak PT itu dengan penuh semangat. Aku segera menjawabnya dan mengikuti seluruh arahannya.
20.10
Aku telah kembali di rumahku tercinta.
Tapi aku belum bisa bersantai. Itu karena aku masih harus mandi lalu makan malam. Menu makan malamku cukup sederhana yaitu dada ayam rebus, sedikit nasi hambar dan juga buah dan sayuran.
Setelah semua beres, jam di ponselku telah menunjukkan angka 20.40. Aku memiliki sisa waktu luang selama 1 jam dan 20 menit untuk diriku sendiri sebelum aku ‘dipaksa’ tidur oleh jadwal harianku.
Untuk apa aku menggunakannya?
Kapsul yang ada di ruanganku mulai terbuka. Segera setelah aku Log In, pandanganku berubah. Sebuah dunia virtual yang telah ku rindukan.
__ADS_1