The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 236 - Hal tak Terduga


__ADS_3

Meskipun pada akhirnya Angie benar-benar menemui Elin di kamar hotelku, nampaknya kekhawatiranku cukup sia-sia.


Mereka berdua nampak begitu cocok satu sama lain. Candaan mereka bahkan terdengar begitu jelas dari luar kamar hotel ini.


Sesekali terlihat sosok Angie yang membuatkan Elin masakan keahliannya.


Segera setelah itu, mereka berdua menikmati hidangan itu sambil menonton berbagai rekaman pertandingan PvP yang telah berlangsung.


Tentu saja sambil membahas dan melakukan berbagai pengandaian untuk meningkatkan kesiapan mereka pada pertarungan mendatang yang mungkin saja terjadi.


'Hah.... Aku senang mereka tidak berkelahi mengingat bagaimana sikap keras kepala Elin dan sikap santai Angie. Meski begitu....' Ucapku dalam hati sambil tersenyum sekaligus merenung mengenai kejadian ini.


Setelah mempersiapkan diri dan membulatkan tekadku, aku dengan segera mengutarakan isi hatiku.


"Elin! Kapan aku bisa masuk ke kamar! Aku sudah ingin mandi dan tidur! Tolong buka pintunya!"


Jawaban yang cukup keras dan menyayat hati pun terdengar dari bibir kecil Elin.


"Kau bisa masuk setelah menghindari pelukan Angie sebelumnya!"


"Bagaimana aku bisa melakukannya?! Bukankah hal itu sudah terjadi?!" Balasku kesal dengan permintaan tak masuk akal Elin.


"Aku tak peduli tapi kau harus bisa melakukannya sebelum memperoleh ijin untuk masuk!"


Pada akhirnya, Angie berhasil meyakinkan Elin untuk meredakan kemarahannya kepadaku.


Dan akupun....


Bisa menikmati kamar mandi dan tidur di sofa ruang tengah, sementara Elin tidur dengan Angie di kamar.


...***...


...Stadion Kompetisi...


"Dan inilah akhirnya! Pertandingan final antara dua pemain terkuat di dunia ini! Mari kita sambut...."


Sang pembawa acara pun nampak memberikan intro yang begitu meriah kepada dua pemain.


Di sisi Barat, ada Angie sebagai pendekar tombak legendaris.


Sedangkan di sisi Timur, Cecilia masuk dengan santai sebagai seorang Assassin.


Mereka berdua nampak berjabat tangan sebelum memasuki kapsul untuk memindahkan kesadaran ke dunia virtual.


Aku dan Elin hanya bisa melihat dari kursi penonton reguler yang telah ku pesan sebelumnya.


"Erik, siapa menurutmu yang akan menang?" Tanya Elin sambil memakan berbagai makanan ringan di hadapannya. Mulutnya yang biasanya begitu halus dan lembut itu kini dipenuhi dengan saus.


Aku pun segera mengelap noda di wajahnya dengan sapu tangan dan menjawab pertanyaan Elin.

__ADS_1


"Aku belum bisa menebak siapa yang akan memenangkan pertarungan ini. Lebih baik tunggu hingga area pertarungan terlihat."


Elin nampak mengangguk dan kembali memakan kentang gorengnya dengan saus yang cukup banyak.


Jujur saja aku sedikit khawatir mengenai pola makannya yang berubah drastis ini.


Tapi pada saat aku menanyakannya....


"Bukankah di dalam perutku sedang ada calon bayi? Tentu saja aku harus makan dua kali lipat untuk bagian bayiku juga!"


Entahlah aku harus berkomentar seperti apa mengingat Elin mengucapkannya dengan mata yang berbinar dan dipenuhi semangat itu.


Pada saat itu juga, area pertandingan pun mulai terlihat.


"Hutan yang lebat ya?" Ucapku pada diriku sendiri sambil melihat layar hologram raksasa di tengah stadion ini.


"Kalau medannya seperti ini, kurasa Cecilia memiliki kesempatan untuk menang." Ucap Elin sambil terus memasukkan makanan ke mulutnya.


"Tapi bukankah selama ini Cecilia hanya menang karena kecepatan dan kelincahannya? Kurasa hal itu saja takkan bisa dibandingkan dengan kekuatan Angie." Balasku kepada Elin.


"Aku setuju denganmu."


Kami berdua terus melakukan spekulasi yang mendalam sesaat sebelum pertandingan itu dimulai.


Di layar, terlihat sosok Angie yang memegang tombak perak keemasannya.


Sedangkan di sisi lain, terlihat sosok Cecilia yang mengenakan perlengkapan serba hitam bahkan dengan masker yang menutupi dari leher hingga hidungnya.


Dengan dua buah pisau yang berwarna hitam pekat yang berada di kedua sisi lengannya itu, Ia nampak membuat postur yang aneh. Posturnya menyerupai binatang buas yang berjalan dengan empat kaki.


"Jadi dia tak menggunakan senjata di tangannya, melainkan meletakkannya di lengannya?" Ucapku pada diriku sendiri.


Segera setelah pertandingan dimulai, hal yang jauh di luar ekspektasi kami berdua terjadi.


Bahkan sang komentator acara pertandingan pun juga ikut ambil bicara.


"Su-sungguh luarbiasa sekali! Tapi cara bergerak macam apa itu?! Kini, Cecilia bergerak dan melompat kesana kemari seperti seekor rubah! Sebuah penampilan yang tak pernah Ia tunjukkan sebelumnya!"


Cecilia bergerak dengan pola dan cara bertarung yang jauh berbeda dari biasanya.


Terlihat dengan sangat jelas bahwa sebelumnya Ia hanya menyembunyikan kekuatannya.


'Jadi itu maksudnya kenapa memanggilku dengan sebutan gadungan....' Pikirku dalam hati.


Elin yang melihat pertarungan itu dengan seksama nampak terkagum-kagum.


Bagaimana tidak.


Cecilia mampu menutupi kelemahannya dalam segi Status dengan menggunakan teknik dan gaya bertarung yang jauh berbeda namun sangat efisien.

__ADS_1


Angie yang melihat pergerakan itu merasa kesulitan. Hal yang wajar bahwa selama masa pertandingan ini, Ia terus menerus bertarung melawan manusia. Sedangkan selama di dunia game, Ia terus bertarung dengan monster.


Menghadapi sosok yang bertarung dengan cara seperti monster tapi dengan kecerdasan setinggi manusia.


'Kurasa ini akan sedikit merepotkan. Tapi....' Pikir Angie dalam hatinya.


Cecilia terus menerus melompat dari satu pohon ke pohon yang lainnya sambil mengayunkan lengannya untuk menebaskan pisau di lengannya.


Damage yang kecil namun terjadi secara terus menerus itu mengikis Health Point milik Angie secara perlahan.


'Tap! Sreeet! Tap! Sreetttt!'


Beberapa puluh detik berlalu dengan Angie yang berada dalam posisi bertahan. Angie hanya diam di tempat sambil menahan sebanyak mungkin serangan yang dilancarkan kepadanya.


Segera setelah mulai memahami pola gerakan Cecilia yang begitu rumit itu, Angie segera menusukkan tombaknya ke arah yang dia anggap akan menjadi lokasi berikutnya Cecilia berada.


Akan tetapi....


'Staaaab!'


'Tap!'


"Jangan meremehkan Assassin, Angie." Ucap Cecilia sambil berdiri tepat di ujung tombak Angie tanpa menerima sedikitpun luka.


"Kau! Selama ini menyembunyikan kekuatanmu di kompetisi ini?!" Teriak Angie kesal sambil mengayunkan tombaknya ke atas sehingga mampu memotong tubuh Cecilia.


Tombak yang seharusnya memotong tubuh Cecilia itu, ternyata hanya memotong sebuah bayang-bayang yang tak nyata.


"Kemampuan ini...." Ucap Angie pada dirinya sendiri.


Ia segera menoleh ke berbagai sudut hutan yang cukup gelap itu.


"Kau benar-benar beruntung karena memperoleh tempat di tengah hutan gelap ini. Akan tetapi, bagaimana jika...."


Sebelum Angie sempat menyelesaikan perkataan dan tindakannya....


'Ttraaang!'


Tombak milik Angie tertahan oleh pisau yang ada di tangan kiri Cecilia.


"Menghancurkan hutan ini? Silakan saja. Kemampuanku memang meningkat di tengah kegelapan. Tapi bahkan tanpa kegelapan...."


Pada saat itulah Angie tersadar.


Terdengar puluhan suara langkah kaki yang menginjak dedaunan di tanah.


Pada saat Angie melihat ke sekitar, terdapat puluhan 'Cecilia' dengan perlengkapan dan penampilan yang sama persis.


Melihat hal itu, Angie tersenyum lebar.

__ADS_1


"Menarik sekali! Cecilia!"


__ADS_2