The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 199 - Pengembangan Militer


__ADS_3

...Kerajaan Farna...


...Kota Forgia...


Di dalam istana yang sederhana ini, nampak dua orang yang berdiri tepat di hadapan sang Raja.


Salah seorang dari mereka yaitu Pria yang mengenakan jubah abu-abu dengan corak keemasan. Sedangkan yang satunya lagi adalah seorang Wanita yang mengenakan zirah bersisik berwarna hitam.


“Terimakasih banyak atas bantuanmu, Eric! Aku tidak tahu apa yang akan….” Teriak Arlond sambil berusaha bersujud di hadapanku setelah menerima seluruh koin emas milikku. Tapi dengan sigap, aku segera menghentikannya. Bukan tanpa alasan, tapi aku memang tidak suka diperlakukan seperti itu.


“Tenang saja. Lagipula, sudah kewajibanku untuk mendukungmu dan Kerajaan ini hingga makmur. Lalu, bagaimana rencanamu?” Tanyaku singkat kepada Arlond.


Elin yang ada di sampingku nampak berdiri sambil melihat-lihat kondisi di dalam ruang tahta ini.


Arlond pun segera menjelaskan rencananya secara mendetail. Jujur saja rencana itu sangat sederhana. Bagaimana tidak, untuk menanggulangi kemampuan Teleportasi milik Alice, Ia hanya akan meletakkan sebanyak mungkin pasukan di seluruh titik tempat yang vital.


Meskipun menggunakan bantuan lingkaran sihir teleportasi milikku yang menghubungkan ke berbagai Kota dan Desa di wilayah Kerajaan Farna, tetap saja akan kalah cepat jika dibandingkan dengan Teleportasi milik Alice.


Oleh karena itu, aku setuju dengan keputusan Arlond.


Lebih dari itu, pasukan yang terbentuk akan sangat bermanfaat untuk masa depan. Sebagai contoh, membantu peperangan Kerajaan Ilandis dengan Kekaisaran Avertia adalah salah satu opsi yang sangat bagus.


Selain itu, Arlond juga berencana untuk mendirikan dinding pertahanan yang kuat di seluruh Kota. Sedangkan untuk di Desa, Arlond setidaknya berencana untuk membangun dinding dari kayu.


Tentu saja, semuanya harus dilengkapi minimal dengan Balista atau alat peluncur panah raksasa. Jika memungkinkan, maka juga akan dilakukan pemasangan Catapult di atas dinding pertahanan itu untuk melontarkan batuan-batuan.


Hal itu sudah cukup untuk menahan pasukan Salvation.


Meski begitu masalahnya adalah….


“Player ya? Lagipula kita tidak tahu ada berapa banyak orang kuat yang ada di pihak Kerajaan Salvation.” Ucapku setelah menyadari hal itu.


“Kau benar, Eric. Player adalah yang paling merepotkan karena mereka dapat hidup kembali setelah 1 hari waktu dunia nyata atau 10 hari dunia virtual.” Balas Arlond.


“Jujur saja aku sangat ingin ikut serta dalam perang ini tapi….”


Mendengar ucapanku, Arlond segera menempuk pundakku dan berkata.


“Hentikan itu. Aku paham mengenai posisimu yang masih terikat hubungan kerjasama dengan Salvation. Tapi tenang saja. Itu karena proyek ‘Pahlawan’ yang kau usulkan telah selesai. Penjaga, panggil mereka berenam kemari.” Ucap Arlond dengan suara yang cukup keras.


“Mereka sudah siap? Gila…. Kurasa aku baru saja melakukan Ascension beberapa waktu yang lalu tapi…. Hah…. Mereka benar-benar gila.” Ucapku keheranan.


Segera setelah itu, nampak 6 orang dimana 3 orang merupakan Pria, dan 3 lagi merupakan Wanita. Mereka nampak mengenakan perlengkapan tingkat Unique buatan Tasmith dahulu. Sungguh, penampilan mereka yang berjalan secara perlahan dengan barisan yang rapi itu sudah sangat sesuai dengan sebutan Pahlawan.

__ADS_1


“Hoo…. Kali ini kau benar-benar menciptakan monster yang sangat mengerikan, Arlond.” Ucap Elin dengan mata yang nampak bercahaya. Ia menggunakan Unique Skill : Observer miliknya untuk melihat seluruh status dan kekuatan mereka berenam.


Mendengar hal itu, Arlond nampak tersenyum tipis.


“Semua ini berkat Eric. Aku tak pantas untuk menerima pujianmu. Jadi bagaimana menurutmu, Elin? Apakah mereka cukup kuat?” Tanya Arlond penasaran.


Aku yang baru saja selesai mengamati kemampuan mereka menggunakan Legendary Skill : Clairvoyant yang berasal dari Oracle Staff milikku ini segera paham.


“Jangan bercanda, Arlond. Setiap individu itu bahkan lebih kuat daripada Lucien dari segi status saja. Meskipun, dalam pertarungan yang sesungguhnya pengalaman dan keterampilan yang akan menentukan hasilnya.” Jelasku kepada Arlond.


“Aku setuju dengan Eric. Kemampuan mereka sangat luarbiasa. Dengan mereka berenam sebagai penjaga Kerajaan Farna, aku yakin takkan ada masalah besar dengan pertempuranmu melawan Salvation.” Lanjut Elin.


Kemudian kami melanjutkan diskusi mengenai rencana persiapan perang Kerajaan Farna melawan serangan dari Kerajaan Salvation.


Hingga pada akhirnya….


“Sekali lagi mohon maaf karena harus membuatmu kembali dari petualanganmu, Eric!” Teriak Arlond.


“Sudahlah hentikan itu. Aku membangun Dungeon kecil disana untuk memasang lingkaran sihir teleportasi. Kembali ke tempat itu hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja. Ngomong-ngomong, aku ingin mencoba melawan Pahlawan itu sebelum kembali berpetualang. Apakah bisa?” Tanyaku sambil mengalihkan pembicaraan.


Mendengar pertanyaanku, Arlond nampak mengalihkan pandangannya kepada keenam Pahlawan yang sejak tadi masih berlutut di hadapan sang Raja.


“Bagaimana menurut kalian? Apakah kalian mau menerima tantangan Eric yang dikenal sebagai penyihir agung?” Tanya Arlond sambil berjalan mendekati mereka berenam.


“Suatu kehormatan untuk melakukan latih tanding dengan Sang Penyihir Agung!”


...***...


...Kerajaan Farna...


...Kota Forgia...


...Lapangan Latihan Barak Pasukan...


Pada akhirnya, aku melakukan latih tanding dengan Pahlawan Perisai, Alistar. Sedangkan Elin akan melakukan latih tanding dengan Pahlawan Pedang, Clever.


Tentu saja, ini hanyalah babak pertama. Kami berdua akan mencicipi kekuatan keenam pahlawan ini secara bergiliran. Tak hanya itu, tujuan dari latih tanding ini adalah untuk membentuk pengalaman para Pahlawan ini dalam melawan musuh yang kuat.


Seluruh prajurit yang ada di barak, baik NPC maupun Player nampak berkumpul membentuk lingkaran. Mereka semua berbondong-bondong untuk menonton pertarungan ini.


Beberapa Player bahkan nampak mengeluarkan kamera hologram mereka dan segera merekam kejadian ini. Hal yang wajar karena sangat jarang untuk melihat pertarungan yang hebat. Meski begitu, aku dan Arlond segera paham bahwa perekaman ini sangatlah berbahaya.


Oleh karena itu, seluruh Prajurit memberlakukan larangan perekaman dengan tegas. Tentu saja, perintah itu berlangsung dari Arlond sendiri.

__ADS_1


Meskipun…. Tak ada satu orang pun Player maupun NPC umum di Kerajaan Farna yang mengetahui bahwa peperangan sudah dekat. Tapi hal seperti ini diperlukan untuk menjaga informasi bocor.


Pada saat semua orang masih sibuk dengan dunia mereka masing-masing….


“Alistar. Berjuanglah sekuat tenaga seakan ingin membunuhku. Tenang saja, aku takkan mati.” Ucapku kepada seorang Pria berambut putih dengan zirah perak yang tebal itu. Di tangan kirinya nampak perisai raksasa yang hampir menyamai tinggi badannya. Sedangkan di tangan kanannya nampak gada yang terbuat dari Mithril yang cukup pendek.


“Baiklah, Tuan Eric. Aku akan berjuang sebaik mungkin.”


Yang berperan sebagai wasit dalam ronde pertama ini tak lain dan tak bukan adalah Elin.


“Semuanya sudah siap? Dalam hitungan ketiga, maka pertarungan akan dimulai. Satu…. Dua…. Tiga!” Teriak Elin dengan keras.


‘Sraaatt!!’


Alistar bergerak secepat mungkin ke arahku dan berusaha mengayunkan gadanya dengan kuat.


Melihat tingkahnya yang aneh itu, aku tersenyum lebar.


“Jangan lupa bahwa kau adalah seorang Pahlawan Perisai, Alistar.” Ucapku sambil menggunakan skill sederhana, Stone Wall.


‘Brruuuuukk!!! Traang!’


Gada milik Alistar menghantam dinding batu itu dengan keras. Meski begitu, Ia tak mampu menembusnya.


“Meskipun bertarung satu lawan satu…. Kau bisa menang sebagai pihak yang bertahan, kau tahu?”


Bersamaan dengan perkataanku itu, Alistar nampak pasrah.


Bagaimana tidak….


Segera setelah perkataanku itu, dinding batu itu segera runtuh. Apa yang ada di baliknya adalah diriku yang telah mengaktifkan sihir [Magic Barrage] di Oracle Staff milikku.


Pada saat itu juga….


‘Duuaarr! Duuaarr!! Duuuarr!!!’


60 buah peluru sihir menghantam tubuh Alistar dengan kuat. Ia nampak berusaha sekuat tenaga menahan semua serangan itu dengan perisai raksasanya. Tapi semua itu sia-sia di hadapan kemampuanku yang saat ini.


Pada akhirnya, Alistar kalah telah dalam pertarungan yang bahkan belum mencapai 30 detik ini. Tentu saja, aku menjaga agar HP miliknya masih berada pada kisaran 30%. Aku tak ingin NPC yang telah susah payah dilatih mati dengan cara yang bodoh seperti ini.


Meski mengalami kekalahan yang cukup memalukan, Alistar justru tersenyum lebar.


‘Inikah kekuatan dari sang Penyihir Agung? Sungguh luarbiasa…. Suatu saat nanti, aku harus bisa berdiri di samping orang-orang sehebat Tuan Eric. Untuk sekarang…. Aku harus berjuang untuk tidak menjadi beban baginya dan Yang Mulia.’ Ucap Alistar dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2