The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 268 - Babak Akhir 4


__ADS_3

'Klangg!! Traaasss!'


'Wanita ini.... Sepertinya rumornya memang tidak berlebihan!' Pikir Robert setelah menghadapi Angie sekali lagi.


Saat ini, mereka berdua sedang bertarung satu lawan satu dimana Angie hanya menggunakan pedang emasnya.


Meski terdapat perbedaan level lebih dari 80 angka, Angie justru menekan Robert dengan keahlian dan kelincahannya.


'Zraaaat!'


Ayunan pedang secara lebar itu dilakukan oleh Angie.


Robert nampak akan menahannya tapi itu adalah sebuah kesalahan. Tangan kiri Angie yang sebelumnya tak melakukan banyak hal, kini telah memegang sebuah tombak yang dengan cepat ditusukkan ke arah dada Robert.


'Jlebb!'


"Kugghh! Sialan!" Teriak Robert dengan kesal.


Tapi Angie sama sekali tak meresponnya. Itu semua karena fokus Angie saat ini sedang berada di titik maksimum dimana Ia hanya memiliki satu tujuan, yaitu membunuh Robert.


Di sisi lain, Miyamoto dengan mudah mengungguli Rose yang kini sudah kehilangan kemampuan terbangnya karena kehilangan satu lengannya. Semua itu dikarenakan oleh Eric beberapa waktu yang lalu.


'Sraassh! Sraaasssh!


Tebasan demi tebasan katana yang begitu cepat itu mampu menetralkan semua sihir yang dilontarkan oleh Rose. Bahkan Miyamoto mampu mendekatinya dengan sangat mudah.


"Aku takkan kalah di sini!" Teriak Rose sekuat tenaga. Tapi apa daya, tebasan terakhir yang dilakukan oleh Miyamoto berhasil memenggal kepala Rose bahkan sebelum Rose sendiri menyadarinya.


Kemenangan telak pun diperoleh Miyamoto.


Akan tetapi di sisi lain, Brunhilda justru kesulitan mengalahkan Frans.


Meski berperan sebagai penyembuh, Frans justru mengubah perlengkapannya menjadi seperti seorang Ksatria. Ia mengenakan zirah putih tebal dengan perisai dan gada di tangannya. Seakan masih bisa lebih buruk lagi, Ia tetap bisa menggunakan kemampuan penyembuhannya.


'Klaang! Klaangg!'


Tiap tusukan yang diberikan Brunhilda benar-benar tak bisa menembus defense tebal milik Frans.


Tapi sebaliknya, gada besar milik Frans bisa menghancurkan Brunhilda jika mengenainya sekali saja.


Pertarungan antara kekuatan dan kecepatan pun diakhiri ketika Frans menggunakan skill [Holy Smite] yang membuatnya mampu meratakan tempat itu. Termasuk Brunhilda yang jarang melakukan leveling karena terus memburu para pemain lainnya.


Kembali di sisi dataran berbatu, Eric sedang berhadapan dengan musuh manusia pertamanya di dunia Re:Life ini yaitu Straf.


"Hah.... Kupikir siapa. Ternyata hanya kau?" Ucap Eric sambil meletakkan kembali busur dan panah nya ke dalam Inventory.


Straf yang melihat hal itu justru kebingungan.


"Apa yang kau lakukan? Menyerah?"


Tapi satu-satunya jawaban yang diberikan oleh Eric hanya memperburuk situasi ini.


"Tidak. Jika hanya untuk mengalahkan orang sepertimu, tangan kosong saja sudah cukup. Empat puluh dua."


Bersamaan dengan perkataan itu, sarung tangan besi terlihat muncul di kedua tangan Eric. Sebuah sarung tangan besi yang tak begitu tebal namun juga tak begitu tipis itu menjadi senjata utamanya.


"Meremehkanku?! Terserah saja, tapi aku yang akan pulang memba... Guuuugghh!!!"

__ADS_1


Belum sempat berbicara, Eric telah memperpendek jarak antara dirinya dengan Straf murni hanya dengan menggunakan kecepatan nya. Tak hanya itu, Ia berhasil mendaratkan pukulan telak tepat di perut Straf.


[Anda telah memberikan 3.128 damage!]


'Hanya pukulan seperti itu saja tapi apa-apaan damage ini?!' Pikir Straf kaget setelah menerima damage itu. Ia pun segera menggunakan kembali skill bersembunyinya untuk menjauhi Eric.


Tapi sayang sekali responnya itu justru sangat terlambat.


Eric yang hanya menggunakan tangan kosong itu justru memiliki lebih banyak keunggulan jika dibandingkan dengan pada saat Eric menggunakan busur dan panah.


Keunggulan itu adalah....


'Sreeeett! Braaaak!'


Eric menarik tangan kanan Straf dengan cepat lalu memutar tubuhnya dan membantingnya dengan sangat keras.


'Blaaaaarrr!!!'


Tanah di sekitar pun mulai remuk. Termasuk tubuh Straf. Skill bersembunyi milik Straf pun gagal untuk di aktifkan karena menerima damage.


Tak berhenti di sana, Eric masih belum melepaskan pegangan tangan kanan Straf. Ia dengan segera memutar kembali tubuhnya dengan cepat bersamaan dengan tangan itu.


Suara yang cukup mengerikan pun terdengar begitu keras.


'Kleeetaakkk!'


Eric berhasil mematahkan dan meremukkan tulang di tangan kanan Straf hanya dalam waktu sekitar 3 detik saja.


Ia kemudian melanjutkannya dengan perlahan setelah melepaskan tangan kanan Straf.


'Bruk!'


"Jadi, dimana kehebatanmu barusan? Aku seharusnya menyimpan kemampuan ini untuk melawan Angie nantinya di akhir kompetisi. Tapi karena tak ada yang melihat maka tak masalah bagiku."


[Anda telah menerima 583 damage!]


[Anda telah menerima .... ]


Rentetan notifikasi itu muncul terus menerus semenjak Eric menginjak punggung Straf.


"Sialan kau! Matilah!" Teriak Straf sambil melemparkan pisau kecil yang dilumuri oleh cairan berwarna kehijauan.


'Tap!'


Eric dengan mudah menangkap pisau itu dengan tangan kirinya.


"Hmm? Apa yang terjadi jika pisau ini mengenai ku?" Tanya Eric seakan tak memiliki dosa apapun.


Straf yang masih terus menggeliat akhirnya membuat Eric kesal. Ia pun memutuskan untuk mematahkan kedua kakinya terlebih dahulu sehingga Assassin ini takkan lagi bisa kabur.


"Guaaaaah! Sialaaaan! Sialaaaaaan!!!" Teriak Straf dengan sangat keras.


Pada akhirnya, Eric menduduki tubuh Straf yang hanya bisa terletetak di tanah itu.


"Kau tahu? Aku sebenarnya tak memiliki dendam apapun padamu. Tapi karena kau mengincarku lagi, setidaknya aku akan menyiksamu sebelum membunuhmu." Ucap Eric sambil memainkan pisau yang sebelumnya dilemparkan oleh Straf itu.


Straf yang hanya bisa meronta-ronta kesakitan dan ingin untuk kabur itu akhirnya menyadari situasinya yang saat ini. Yaitu Ia sama sekali tak memiliki harapan untuk bertahan hidup.

__ADS_1


"Sekarang katakan. Apakah kau suka uang?" Tanya Eric dengan tenang. Ia sesekali melirik ke arah udara dimana terdapat dua kamera hologram yang sedang merekamnya. Satu merupakan kamera yang terus merekam Eric, sementara satu lagi merupakan kamera Straf.


Mendengar pertanyaan itu, Straf sedikit kebingungan. Akan tetapi Ia segera memantapkan hatinya setelah memahami tak ada maksud lain lagi dari Eric.


"Ya.... Aku.... Aku bermain game ini sekali lagi untuk uang." Balas Straf dengan suara yang lemas.


Mendengar hal itu, Eric justru cukup senang.


"Kalau begitu, pelankan suaramu setelah ini. Dengan begitu aku akan membayarmu dengan sangat magal. Jadi katakanlah padaku, siapa yang memintamu untuk memburuku? Apakah murni keinginanmu? Atau...."


Seakan melihat berkas cahaya yang membawa harapan baru, Straf akhirnya membeberkan semuanya dengan membisikkan semua informasi itu kepada Eric. Semua itu diperolehnya dengan harga yang sangat murah bagi Eric yaitu beberapa juta dollar saja.


Mendengar semua jawaban itu, Eric tersenyum sangat lebar. Itu karena Ia tak hanya memperoleh identitas orang yang memburunya, tapi juga rahasia yang ada di belakang mereka.


"Terimakasih banyak. Sekarang matilah dan tunggu aku di dunia nyata. Aku pasti akan membayar semua informasi itu."


Eric pun segera berdiri dan membunuh Straf dengan menggunakan pisau berlumuran cairan hijau itu.


Pada akhirnya, Straf mati dengan bahagia karena tujuannya memainkan game ini tidak sepenuhnya hilang.


...***...


'Tap! Tap! Tap!'


Eric berjalan secara perlahan mendekati Gunung Vesuvius itu.


Pemandangan yang ada sangatlah mengerikan. Sebuah gunung berapi yang memiliki ukuran raksasa itu terus menerus memuntahkan batuan panas dan juga lahar yang mematikan.


Tapi apa yang jauh lebih mengerikan lagi justru berada tepat di hadapannya.


Sosok seorang wanita berambut pirang dengan zirah besi ringan itu terlihat sedang mencabut tombak dari tubuh targetnya yang mengenakan zirah hitam pekat. Sementara itu, pedang di tangan kanannya terlihat sedang menembus tepat di jantung seorang Pria yang menggunakan katana itu.


Melihat kejadian itu, Eric hanya bisa terkagum atas sosok yang selama ini menjadi panutannya itu.


"Yo, Angie. Apakah kau menunggu terlalu lama?" Tanya Eric sambil berjalan mendekatinya.


Angie terlihat mengayunkan kedua senjatanya itu beberapa kali seakan sedang membuang darah yang mengotori senjatanya itu.


Setelah itu, Ia menjawab dengan wajah gembira.


"Tidak, kau datang di saat yang sangat tepat Eric. Sudah ku duga, takkan ada yang bisa membuatku lebih bersemangat bertarung selain dengan dirimu." Ucap Angie sambil melirik ke arah jasad Robert dan juga Miyamoto yang kini telah berubah menjadi cahaya.


Mendengar perkataan Angie, Eric hanya bisa tersanjung. Bagaimana tidak? Sosok yang Ia anggap sebagai panutan, sebagai guru, dan juga sebagai pemain terbaik itu, justru menganggap Eric sebagai satu-satunya lawan yang pantas baginya.


"Aah jadi begitu? Jujur saja aku merasa tidak layak menerima pujian itu. Tapi kau benar, Angie. Aku pun juga merasakan hal yang sama."


Di hadapan kedua pemain itu, terlihat satu hal yang sama. Yaitu sebuah notifikasi yang menunjukkan kondisi saat ini.


...[Sisa Pemain : 2]...


...[Sisa Waktu - 00:05:54]...


Hanya sekitar lima menit.


Lokasi pertandingan pun juga semakin menyempit.


Pada akhirnya, pertarungan antara dua pemain terbaik di dunia itu pun akan berlangsung di hadapan gunung berapi yang terus memuntahkan berbagai hal yang mematikan.

__ADS_1


Sebuah pertarungan....


Yang akan mengukir sejarah dan menunjukkan arti kekuatan yang sebenarnya di dalam dunia virtual itu.


__ADS_2