The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 277 - Permintaan


__ADS_3

...Dungeon Origin...


...Lantai 5...


Di dalam bangunan yang kini telah menjadi cukup megah itu, terlihat sosok seorang Pria yang sedang duduk dengan wajah murung.


Rambut putihnya menutupi sebagian wajahnya.


"Tuan Evan.... Adakah yang bisa kami bantu?" Tanya seorang pelayan wanita dari ras Goblin itu.


Namun Evan hanya menggelengkan kepalanya dengan ringan sambil berkata dengan suara yang begitu lirih.


"Eric.... Dimana Eric...."


'Braakk!'


Tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangan itu dengan sangat kuat.


"Evan! Apa yang terjadi?! Aku baru saja kembali untuk mengatur bisnis dan ada apa denganmu?!" Tanya Pria yang tak lain adalah Eric itu.


"Eric.... Maafkan aku.... Mungkin aku telah mengacaukan semuanya.... Tolong, maafkan aku...."


Eric sama sekali tidak bisa memahami maksud dari perkataan Evan.


Tapi setelah menjelaskan semua yang terjadi secara rinci, akhirnya Eric memahaminya.


"Raja Iblis Kuno kau bilang? Mengambil alih kekuatanmu? Menyebarkan tanah kematian yang akan melahap apapun yang menyentuhnya? Sialan! Tak bisa dibiarkan!


Aku baru saja mulai menghasilkan uang dari Kerajaan Farna setelah semua investasi besar itu! Tapi apa-apaan ini?! Dasar Developer sialan! Ini adalah sebuah Bug! Cepat bereskan semua ini sebelum aku kehilangan lebih banyak uang lagi!"


Tanpa Evan duga, Eric justru meneriakkan hal-hal yang tak masuk akal baginya.


"Eh? Soal itu? Kau masih memikirkan uang bahkan pada kondisi seperti ini?" Tanya Evan kebingungan.


Tapi pertanyaannya itu justru membuatnya harus menghadiri kuliah singkat mengenai bagaimana Eric berjuang dan mengorbankan banyak sekali uang demi Kerajaan Farna.


Pada saat kuliah singkat itu baru berlangsung selama beberapa puluh menit....


"Tuan Eric. Yang Mulia memanggilmu." Ucap seorang vampir wanita yang memasuki ruangan itu.


Mendengar hal itu Eric merasa sangat yakin bahwa Deus telah menyiapkan sesuatu untuk semua masalah ini. Lagipula Deus sendiri lah yang meminta Eric membiarkan tingkah Evan agar memanggil Raja Iblis Kuno itu. Semua itu agar Deus bisa melahap kekuatannya.

__ADS_1


Tapi di luar dugaan Deus, Abaddon yang bangkit justru jauh lebih kuat daripada yang dibayangkan olehnya.


"Evan, apakah kau mau ikut menemui Deus? Dia nampaknya akan mempersiapkan sesuatu untuk menangani Abaddon."


Evan yang mendengar tawaran itu hanya bisa mengangguk ringan dan mengikuti langkah kaki Eric.


...***...


...Istana Deus...


Di hadapan Eric dan juga Evan, terlihat sosok Deus yang sedang duduk di kursi kayu berwarna merah darah itu sambil meminum minuman yang juga berwarna merah.


Di sekelilingnya terlihat sosok 9 orang Vampir yang merupakan bangsawan terkuat pilihan Deus sendiri.


"Akhirnya kau datang juga, Eric. Dan kau.... Bocah yang membuat Abaddon bangkit? Selamat datang di istanaku." Ucap Deus dengan nada datar.


Ia terlihat meletakkan gelas kaca itu di meja dan mulai berdiri dari duduknya.


"Aku akan langsung kepada intinya. Jujur saja, mengalahkan Abaddon sangatlah mustahil. Terlebih lagi Ia telah menyerap kekuatan suci berkat bantuan seseorang." Ucap Deus sambil melirik ke arah Evan.


Evan hanya bisa menundukkan kepalanya setelah mendengar itu dan hanya bisa merasa bersalah.


"Beberapa mata dan telingaku yang ada di sana telah melihat dua buah Artifak surgawi milik Celestine dan juga Julia. Artifak itu seharusnya menghancurkan jiwa Abaddon. Tapi karena Ia berada di dalam boneka kayu itu, Ia justru memperoleh kekuatan tambahan. Membuat dirinya jauh lebih kuat dari yang sebelumnya."


Deus menjelaskan semua itu sambil berjalan perlahan mengelilingi ruangannya dan melihat-lihat beberapa dekorasi yang ada.


Sedangkan 9 Vampir bangsawan yang ada di ruangan ini hanya terus berlutut dan menundukkan kepalanya.


"Bukankah itu sangat buruk?! Iblis yang juga memiliki kekuatan suci.... Kurasa...." Teriak Eric secara refleks.


"Kau benar. Sangat buruk. Bahkan tak ku sangka Arroth yang dulunya merupakan sosok yang disebut penghancur besar itu tak bisa mengalahkannya dan justru kabur sambil memperlihatkan ekornya." Lanjut Deus.


"Tunggu dulu, bukankah Arroth...."


"Dia adalah salah satu naga kuno. Tapi saat ini dia hanya fokus dalam menempa dan membuat kerajinan. Meski begitu, kekuatannya yang dahsyat itu sekalipun sama sekali tak bisa menggores Abaddon yang saat ini. Dengan kata lain...."


"Dunia ini akan hancur...." Ucap Evan mengikuti arah pembicaraan ini.


Tapi tanpa di sangka, Deus justru membuka matanya lebar-lebar seakan tak bisa mempercayai apa yang didengarnya.


"Kehancuran dunia? Itu tidak akan terjadi." Balas Deus dengan wajah masam.

__ADS_1


"Eh, apa maksudmu? Bukankah sudah sangat jelas bahwa kekuatan Abaddon begitu besar?" Tanya Evan kebingungan.


Deus nampak menuangkan cairan berwarna merah darah dari dalam botol kaca berwarna hijau itu ke dalam gelasnya. Segera setelah itu, Ia kembali duduk di kursi kayu merahnya dan mengambil sebuah buku dengan sampul kulit itu. Deus terlihat membuka buku itu dan membolak balikkan halamannya selama beberapa saat sambil menikmati minuman itu sebelum kembali berbicara.


"Ada dua hal yang seharusnya mencegah Abaddon untuk menghancurkan dunia ini. Yang pertama adalah keberadaan dua Dewi dengan pengikut terbesar di dunia ini.


Kekuatan para Dewa dan Dewi ini didasarkan atas jumlah pengikutnya. Dengan kata lain, kekuatan Celestine dan Julia saat ini sangatlah besar. Jika mereka menyadari keberadaan Abaddon dan memutuskan untuk turun ke dunia manusia ini, kematian Abaddon sudah dipastikan." Jelas Deus sambil membaca buku itu.


"Kalau begitu ayo segera beritahu Kerajaan Suci Celestine dan...." Teriak Evan dengan penuh semangat. Tapi Deus segera menolaknya.


"Aku tak ingin keterlibatan mereka jika bisa. Kekuatan mereka yang terlalu besar itu akan menyucikan semua kejahatan di dunia ini. Tentu saja aku termasuk." Balas Deus sambil membalik halaman buku itu.


Sementara itu, Eric hanya terdiam mendengarkan semua penjelasan itu. Hal yang wajar karena semua informasi ini adalah hal baru baginya untuk semakin memahami dunia permainan ini.


Setelah membalik beberapa halaman, Deus kembali berbicara.


"Kemudian yang kedua adalah keberadaan Guardian di Menara Kebijaksanaan. Mereka adalah wakil terkuat dari setiap ras di dunia yang dipenuhi manusia ini. Elf, Dwarf, Fairy, Giant, Siren dan Manusia. Mereka adalah penjaga keseimbangan dunia ini sejak dahulu kala dan akan terus menjaganya hingga akhir dunia ini.


Kekuatan dan pengaruh mereka masih jauh di bawah seorang Dewi, tapi mereka masih jauh lebih kuat daripada Abaddon yang saat ini. Dengan kata lain, dunia takkan pernah hancur selama keenam Guardian ini masih ada."


Deus mengakhiri penjelasannya dengan menutup buku itu.


"Jadi, apa yang sebaiknya kita lakukan? Apakah harus meminta bantuan dari Guardian itu?" Tanya Eric.


"Tujuanku tetap sama. Yaitu untuk membalaskan dendamku kepada Abaddon dan juga melahap kekuatannya. Oleh karena itu, Eric. Bisakah kau membangun Dungeon hanya untuk hal itu? Sebuah Dungeon terkuat dengan tujuan hanya untuk melawan Abaddon."


Mendengar hal itu Eric segera tersadar. Itu karena efek spesial yang diberikan pada Dungeon tergantung pada seberapa luas gambaran pembuatnya.


Jika mengatakan bahwa efek khususnya adalah meningkatkan produksi, arti yang luas itu akan menyebabkan lemahnya efek yang diperoleh karena akan dibagi ke dalam beberapa aspek.


Tapi sebaliknya, jika efek spesialnya hanya memiliki satu arti seperti meningkatkan kekuatan pada malam hari, atau lebih spesifik lagi meningkatkan kekuatan jika melawan target tertentu....


Maka bonus yang diperoleh akan semakin besar.


Dengan senyuman yang lebar, Eric membalas pertanyaan Deus dengan lantang.


"Serahkan saja padaku! Membuat Dungeon? Bukankah itu adalah suatu hal yang hanya bisa dilakukan oleh diriku ini?!"


Mendengar jawab itu, Deus terlihat tersenyum tipis sambil berkata.


"Terimakasih, Eric. Aku berjanji akan memberikan imbalan yang besar padamu nantinya."

__ADS_1


__ADS_2