
Hari terus berganti.
Erik yang sampai saat ini masih terus merawat istrinya, masih menyempatkan dirinya untuk melakukan latihan ekstra di dalam Re:Life.
Begitu pula hari ini.
"Arahan tembakanmu sudah bagus, Tuanku. Tapi kurasa akan lebih baik jika kau menjaga postur tubuhmu agar tetap seimbang. Dengan begitu...."
Seorang wanita berambut pirang yang begitu menawan, serta telinga panjang yang runcing itu nampak menjelaskan semua kekurangan Eric dalam memanah di Hutan Wooden Elf ini.
Namanya adalah Luvelia. Ia adalah Wooden Elf yang sangat berbakat yang ditemui oleh Eric beberapa bulan yang lalu. Oliver yang telah diberi perintah untuk mengasah bakat Elf ini, telah melaksanakannya dengan sangat baik.
Bahkan saat ini, bisa dibilang Luvelia adalah salah satu bawahan Eric yang paling kuat. Meskipun, masih berada di bawah tingkatan Lucien.
Hal yang wajar karen Luvelia masih sangat muda di dunia ini.
Kembali ke latihan memanah.
Sejak Eric kalah ketika melawan Angie di PvP beberapa waktu yang lalu, Ia telah memutuskan untuk mencari tahu kelemahan dan kekurangannya. Dan jawabannya sangatlah jelas, yaitu fleksibilitasnya dalam bertarung sebagai penyihir sangatlah rendah.
Eric memang memiliki kekuatan yang sangat besar serta daya hancur yang mengerikan. Semua itu dibuktikan dalam cabang kompetisi Team Boss Raid sebelumnya. Tapi ada satu kekurangan fatal dalam hal itu.
Yaitu Eric tak bisa mempertahankan dirinya sendiri dari serangan mendadak dan cepat seperti Angie. Oleh karena itu, dalam pertarungan yang sesungguhnya Eric selalu membutuhkan perisai tambahan berupa bawahan atau anggota party yang lain.
Tapi saat ini, Eric sedang berusaha keras untuk menghapuskan kelemahan itu dan sedikit demi sedikit belajar dari fleksibilitas Angie yang sama sekali tak bisa ditaklukkan oleh lawan-lawannya.
Eric tidak ingin terlalu bergantung pada orang lain pada saat bertarung.
Dan disinilah dia, sedang belajar teknik memanah bersama dengan Luvelia.
"Terimakasih banyak, Luvelia. Aku akan mencobanya sekali lagi."
Segera setelah hari mulai gelap, Eric akan berhenti berlatih memanah dan kembali ke Dungeon Origin. Di sana, gurunya yang lain telah menanti dengan sabar.
"Fufufu.... Akhirnya kau datang juga. Raja Kegelapan yang Agung." Ucap seorang Vampir Pria yang begitu menawan, Lucien.
__ADS_1
"Apakah kau sudah siap untuk mati hari ini, wahai putra kegelapan?" Balas Eric sambil melepas tongkat sihirnya lalu kini hanya menggunakan tangan kosong.
"Kalau soal itu.... Biarkanlah dewa kematian yang menjawab!"
Lucien segera bergerak maju dan mengarah ke Eric. Ia melancarkan pukulan dan cakar tanpa ampun. Itu karena Lucien paham betul bahwa Eric dapat hidup kembali.
Sebagai bawahannya yang paling kuat dan sedikit kurang waras, Lucien menerima mentah-mentah perintah 'lawanlah aku seakan ingin membunuhku' dan berhasil membunuh Eric enam kali selama latihan ini dilakukan.
Tentu saja, Eric menerima hal itu dengan santai. Lagipula, kematian Eric sama sekali tak berarti. Level yang hilang? Dia bisa memperolehnya kembali dalam hitungan jam.
Tapi keterampilan bertarung menghadapi kematian itulah yang Ia butuhkan untuk bisa berkembang melampaui batasan 'status' dan juga 'level'. Yaitu pengalaman bertarung.
'Bruuk! Traakk! Bruukk'
Pukulan demi pukulan terus dilancarkan oleh kedua orang itu. Eric yang memiliki Agility serta Strength yang lebih rendah daripada Lucien tentu saja akan cukup dirugikan.
Meski begitu, Eric bisa membuat gerakan yang sangat tepat dan efisien sehingga mampu meminimalisir perbedaan kekuatan yang ditentukan oleh sistem itu.
Di sisi lain, Lucien mendominasi pertarungan di tengah lapangan barak ini.
Esensi dari latihan ini adalah memberikan Eric peluang untuk belajar improvisasi dalam sebuah pertarungan.
Di tengah pertarungan yang sulit diprediksi dan diukur dengan pikiran saja, improvisasi sangatlah penting. Terlebih lagi kemampuan adaptasi.
Tak hanya itu, dengan latihan ini Eric akan mampu mengembangkannya dalam sebuah kemampuan bertarung jarak dekat.
'Braaaak!'
Pukulan yang sangat kuat dari Lucien itu melemparkan Eric hingga ke ujung lapangan sekaligus mengakhiri latih tanding babak pertama yang berlangsung selama 8 menit ini.
"Fufufu.... Lemah sekali, wahai penguasa bayangan. Apakah kau sudah tak bisa melanjutkannya lagi?" Tanya Lucien sambil menutupi setengah wajah dengan tangan kanannya.
"Diam saja kau, dasar musuh cahaya. Aku akan menghabisimu setelah ini. Heal!" Ucap Eric sambil segera menyembuhkan tubuhnya.
Latihan itu pun terus berlanjut hingga Eric mampu mengalahkan Lucien yang sama sekali tak menyembuhkan tubuhnya pada babak ke 21.
__ADS_1
Setelah itu, Eric tidak segera Log Out. Akan tetapi dia pergi menemui Knox untuk berlatih teknik menggunakan berbagai senjata jarak dekat secara langsung oleh ahlinya.
"Tuan Eric, akan lebih baik jika kau mengayunkannya seperti ini. Lalu kau bisa melanjutkannya dengan ayunan ke arah ini. Apakah kau bisa mengerti, Tuanku?" Tanya Knox dengan wajah sangarnya namun sangat ramah.
Eric yang nampak membawa pedang besi tumpul itu segera mencobanya dengan mengayunkan pedang ke udara.
Knox terus memperhatikan Tuannya berlatih. Di dalam hatinya, terbesit suatu pertanyaan.
'Jika Tuan Eric terus menajamkan kemampuannya seperti ini.... Kemungkinan dia akan....'
Tapi pikirannya terhenti di tengah karena melihat Eric melakukan kesalahan dalam mengayunkan pedangnya.
"Tidak, tidak. Bukan seperti itu, Tuanku. Tapi seperti ini. Lihatlah aku baik-baik."
Knox pun segera memperagakannya dengan baik. Semua yang diajarkannya murni merupakan kemampuan berpedang, bukan sebuah skill.
Eric yang sejak awal 'terpaksa' menjadi penyihir karena skill set yang diperolehnya, kini terlihat begitu bahagia karena bisa belajar berpedang dengan benar.
Lagipula, sejak pertama dia bermain game Re:Life, Eric selalu menggunakan pedang hingga menemukan buku kuno Summoner itu.
Pelatihan pun berlanjut selama beberapa jam. Hingga akhirnya, Eric memutuskan untuk Log Out karena sudah begitu larut malam di dunia nyata.
"Aku akan menantikan sesi pelatihan yang berikutnya!" Teriak Eric sambil mulai menghilang dan berubah menjadi cahaya putih di hadapan Knox.
'Tuanku.... Meskipun tak berbakat, kemauan dan tekadnya untuk berlatih sangatlah luarbiasa. Aku yakin dengan semua kerja keras ini, kau bisa menjadi sangat kuat suatu hari nanti.'
Knox pun mengakhiri pikirannya dan kembali bekerja. Bagaimanapun, dia adalah pemimpin dari semua prajurit yang ada di semua Dungeon milik Eric.
Di dunia nyata....
"Fuuuh.... Cukup melelahkan juga pelatihan hari ini. Tapi setidaknya, aku bisa menyiapkan rencana untuk Free For All PvP." Ucap Erik pada dirinya sendiri.
Ia segera pergi untuk mencari santapan ringan di dalam lemari pendingin itu. Segera setelah makan makanan ringan dan membasuh wajahnya, Ia kembali berbicara pada dirinya sendiri di pantulan cermin itu.
"Aku tahu kau takut jika melawan orang itu lagi. Tapi setidaknya, pertandingan FFA ini akan memberiku kesempatan lebih baik. Sekarang.... Bagaimana caraku farming dengan efisien di sebuah pertandingan dimana semua level dan juga skill pemain di reset?"
__ADS_1
Setelah memikirkan sejenak, Erik tersenyum puas ketika memperoleh jawaban yang menurutnya cukup tepat. Segera setelah itu, Ia memutuskan untuk tidur.