The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 198 - Ketua Cabang


__ADS_3

...Di dalam Gedung Kantor Re:Life...


...Yogyakarta...


“Silakan masuk, Tuan dan Nyonya.” Ucap salah seorang karyawan sambil menunjukkan jalannya kepada kami berdua.


“Terimakasih.” Ucapku singkat dengan wajah datar.


Dibalik pintu itu, terlihat sosok seorang Pria yang sangat tampan. Ia memiliki rambut yang cukup panjang dan diikat ekor kuda. Dengan mengenakan jas biru yang begitu pas dengan tubuhnya, tak diragukan lagi bahwa Ia adalah Pria paling tampan yang pernah aku jumpai di dunia ini.


Oleh karena itu aku tahu….


‘Ia pasti orang yang sangat menjengkelkan.’ Ucapku dalam hati. Tentunya dengan menjaga wajahku tetap datar.


“Aah. Selamat datang, Tuan Erik. Nyonya Elin. Silakan duduk.” Ucap Pria itu sambil berdiri dari kursinya dan sedikit membungkukkan badannya.


Aku dan Elin hanya mengangguk ringan lalu segera duduk di sebuah kursi yang telah disediakan.


“Jadi…. Ada urusan apa hingga harus bertemu dengan diriku?” Ucap Pria itu.


Di meja yang ada di hadapan kami, terlihat sebuah papan nama dengan latar hitam dan tulisan dengan warna emas.


[Ketua Cabang Re:Life Yogyakarta]


[Arya Wiguna]


“Tuan Arya. Kami ingin menukar uang dalam jumlah yang sangat besar, lalu pegawai di bagian penukaran uang itu meminta kami kemari untuk menemui Anda.” Ucapku sambil menunjukkan sebuah kertas yang telah ditandatangani oleh pegawai itu.


“Hoho…. Baru pertama kali di daerah Yogyakarta ini ada seorang Player yang harus menemuiku untuk melakukan Top Up. Jadi, berapa banyak jumlahnya?” Tanya Arya dengan nada yang begitu menjengkelkan di telingaku. Tentu saja, Ia dengan santainya sambil meminum kopi di cangkir putih dengan motif unik itu.


“Satu Triliun Rupiah.” Balasku singkat.


‘Ttraang!! Pyaarr!’


Seketika, Arya kehilangan tenaganya dan membuat cangkir yang Ia pegang terlepas dan jatuh ke meja. Cairan hitam yang panas itu mengalir ke segala arah, dengan tambahan berupa keramik yang tajam.


“A-apa aku tidak salah dengar? Sa-satu Tri-triliun Rupiah?!” Teriak Arya dengan wajah yang dipenuhi oleh rasa keheranan.


“Itu benar. Aku bahkan harus membekukan beberapa usahaku di daerah Kaliurang, Gunung Kidul dan juga Bantul untuk ini. Bahkan, aku harus menjual beberapa tanah yang sudah direncanakan untuk dibangun sebelumnya.” Jelasku kepada Arya.


“Y-ya! Te-tentu saja! Ha-haha…. Haha?”


“Ada apa, Tuan Arya? Kenapa kau begitu kebingungan seperti itu?” Tanya Elin yang sedari tadi hanya terdiam dan mendengarkan percakapan kami berdua.


“Ehem! Maafkan aku. Tapi itu jumlah yang sangat diluar nalar manusia biasa. Apakah Anda yakin, Tuan Erik?” Tanya Arya sekali lagi.


“Jika tidak yakin, maka aku takkan pernah kemari kan?”


Pada akhirnya, kami berdua harus menandatangani berbagai surat dan pernyataan mengenai tindakan kami. Tentu saja, mengeluarkan uang sebesar itu untuk bermain game pasti harus ada perjanjian tertulis yang berlapis-lapis. Itu semua karena perusahaan tak ingin untuk dituntut ketika suatu saat orang yang melakukan Top Up menyesali perbuatannya.


Segera setelah penjelasan dan pengurusan administrasi yang lebih dari satu jam itu berlangsung….

__ADS_1


“Terimakasih banyak atas kerjasama dan dukungan Anda kepada Re:Life. Uang Anda telah diterima dengan baik dan saat ini telah masuk ke akun Anda menjadi 8.7 juta koin emas.” Ucap Arya sambil membungkukkan badannya.


“Ya. Sama-sama.” Ucapku puas setelah melihat notifikasi Top Up itu berhasil di ponsel milikku yang terhubung dengan akun Re:Life milikku.


Aku dan Elin pun segera berdiri dan berencana untuk melangkah pergi dari ruangan ini. Akan tetapi….


“Mohon tunggu sebentar! Tuan Erik! Nona Elin!” Teriak Arya dengan keras sambil berlari menghadangi kami berdua.


Tentu saja, aku dan Elin kaget melihat hal ini.


“Huh? Maaf, tapi bukankah urusan kita telah selesai? Apalagi yang Anda inginkan, Tuan Arya?” Tanyaku dengan senyuman yang seakan mengejek.


“Bukan hal yang buruk tapi…. Tuan Erik. Kami seluruh staff dari Kantor Re:Life cabang Yogyakarta sangat mendukung Anda untuk mengikuti kompetisi internasional. Meskipun tidak menggunakan kekuatan Dungeon Master milik Anda, aku yakin bahwa Anda akan….”


“Tunggu dulu!” Teriakku memotong perkataan Arya.


“Apakah ada yang salah, Tuan Erik?” Tanya Arya.


“Bagaimana kau bisa mengetahui mengenai kekuatanku?!” Teriakku kesal dan kebingungan yang bercampur menjadi satu.


“Ah, soal itu? Tentu saja, beberapa staff berpangkat tinggi dapat melihat aksi seluruh pemain di dunia virtual itu secara Real Time. Meskipun tidak secara langsung, kami juga dapat merekam beberapa pemain. Tentu saja, Anda yang memiliki kekuatan sebesar itu akan ada di pantauan kami.” Jelas Arya sambil memejamkan matanya.


“Hah?! Melihat seluruh tindakan kami? Apa-apaan itu?! Berarti kalian….”


Sebelum sempat menyelesaikan perkataanku, Arya memotongnya dengan senyuman yang sangat menjengkelkan.


“Fufufu…. Tenang saja. Rahasia Anda aman bersama kami. Hanya beberapa staff saja yang bisa melihat pemain secara spesifik. Dan juga, hampir seluruh staff disini adalah pendukungmu, Penyihir Agung.


‘Bruk!’


Aku pun terjatuh di lantai.


Mengalami petualangan yang buruk itu saja sudah membuatku gila. Apalagi mengetahui banyak orang melihatku?!


“Ini…. Apakah tidak termasuk pelanggaran privasi?” Tanyaku dengan suara yang lemas.


Melihat kejadian ini, Elin mulai berbicara pada dirinya sendiri.


“Oh…. Jadi ini yang disebut sebagai ‘regulasi melalui pengawasan yang dilakukan oleh beberapa ahli dan petinggi’ ya? Aku baru paham maksud dari kebijakan privasi itu sekarang. Yah, bukan masalah besar juga karena kita harus menandatangani dan menyetujui hal itu untuk bisa bermain.”


“Benar sekali, Nyonya Elin. Kebijakan privasi yang disediakan oleh Re:Life telah mencakup permasalahan itu. Tentu saja, kami hanya menyimpannya untuk diri kami sendiri dan menggunakannya untuk referensi.” Ucap Arya.


Aku yang sudah kehilangan separuh kesadaranku saat ini tak mampu mendengarkan perkataan Arya dengan jelas. Yang bisa kulakukan hanyalah terus menggunakan skill [Meratapi Hidup] milikku yang kini telah meningkat ke rarity Epic.


“Sepertinya Tuan Erik sedikit syok dengan hal ini. Itulah kenapa kami selalu meminta Anda untuk membaca seluruh kebijakan privasi yang ada sebelum bermain. Kalau begitu, aku akan bertanya pada Anda, Nyonya Elin.” Ucap Arya sambil terus menghadangi pintu keluar.


“Langsung saja ke intinya, kami sedang sibuk.” Balas Elin singkat.


“Apakah kalian akan mengikuti kompetisi internasional berikutnya yang akan diadakan beberapa minggu lagi?” Tanya Arya sambil tersenyum lebar.


Elin pun segera menjawabnya dengan nada yang datar.

__ADS_1


“Hah…. Kompetisi itu lagi? Sepertinya tidak. Lagipula aku dan Erik sudah mengalami pahitnya….”


“Setiap medali emas yang kalian peroleh akan diberikan imbalan yang sesuai. Kalian bisa memilih uang, item legendaris, material legendaris, atau bahkan buku kuno.” Ucap Arya singkat.


Mendengar hal itu, seketika kesadaranku kembali masuk ke dalam tubuh ini.


“Buku kuno?!” Teriakku dan Elin dengan keras.


“Ya, itu adalah hadiah yang baru saja kami masukkan ke dalam daftar pada Kompetisi Internasional kali ini. Oleh karena itu….”


Belum sempat menyelesaikan perkataannya….


“Kami akan ikut!”


Melihat reaksi kami berdua, Arya hanya bisa tersenyum tipis.


‘Dengan begini…. Setidaknya beberapa medali emas telah diamankan untuk Indonesia. Semoga saja kami bisa memperoleh setidaknya juara 3 tahun ini.’ Pikir Arya dalam hati.


Sedangkan kami berdua?


Aku dan Elin masih heboh mengenai cabang kompetisi apa yang sebaiknya diikuti.


......***......


...Kantor Kepala Cabang...


Setelah menyelesaikan semua urusan pendaftaran Kompetisi Internasional dan Cabang yang kami inginkan, Arya sekali lagi menghadangi kami berdua.


"Apalagi sekarang?" Tanya Elin dengan wajah datarnya.


"Aku hanya penasaran.... Kenapa kalian memilih untuk menggelontorkan uang demi meningkatkan kekuatan militer Kerajaan Farna. Bukankah lebih baik dan lebih mudah jika kalian menggunakan pasukan monster itu?


Ah, tidak ada maksud apapun. Hanya saja sebagai salah satu penggemar terbesar kalian berdua, aku hanya ingin mendukung kalian untuk menentukan pilihan yang terbaik." Jelas Arya panjang lebar.


Mendengar hal itu, tanpa sadar aku dan Elin tersenyum tipis.


"Kau sebenarnya Pria yang baik ya? Walaupun menjengkelkan. Erik, jelaskan padanya." Ucap Elin sambil kembali duduk di kursi.


"Hah.... Kau ini.... Informasi ini aman kan? Jika iya aku akan menjelaskannya." Tanyaku pada Arya.


"Tentu saja! Bahkan sampai mati pun...."


"Oke cukup. Alasannya ada beberapa tapi.... Pada intinya, aku tidak ingin dunia mengetahui bahwa Kerajaan Farna memiliki hubungan denganku secara khusus. Memang aku pernah membantu mereka sebagai penyihir tapi.... Hanya itu saja. Selain itu aku juga tak ingin memusuhi Chris secara terang-terangan." Jelasku singkat.


Arya pun nampak sedang memproses seluruh informasi itu. Hingga akhirnya....


"Aah.... Jadi begitu. Kau ini.... Nampaknya benar-benar serakah ya? Tak ingin merusak hubunganmu dengan Chris, tapi juga ingin mendukung Farna sebaik mungkin. Mempertahankan kedua hubungan itu maka kau bisa memperoleh keuntungan yang sangat besar, ya? Hah.... Kau membuatku terkagum Erik."


Arya pun melanjutkan pembicaraannya secara terus menerus sambil membahas mengenai aksiku di dalam dunia itu. Tentu saja, termasuk Elin.


Tanpa kami sadari....

__ADS_1


Puluhan klien telah mengantri di depan ruangan Ketua Cabang ini. Tentunya dengan masalah yang lebih mendesak daripada obrolan kami.


__ADS_2