The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 148 - Elin Vs Prince


__ADS_3

...Tempat Tinggal Keluarga Kerajaan...


Di tengah reruntuhan bangunan ini, nampak 3 orang sedang berdiri. Di sisi kiri nampak seorang gadis kecil dengan zirah yang telah rusak parah. Sementara di sisi kanan nampak 2 orang Pria yaitu Pangeran Triston dan Pangeran Wilfred.


Triston merupakan seorang Tanker dengan perlengkapan zirah yang sangat tebal dan keras. Bahkan hingga sekarang, zirahnya masih utuh dan terlihat tidak mengalami kerusakan sama sekali. Tak hanya itu, Ia juga memiliki skill Support seperti Heal dan Recovery.


Sedangkan Wilfred adalah seorang Mage atau Magic Caster. Ia mengenakan jubah yang berlapis emas di beberapa sisinya. Sementara senjata utama yang Ia kenakan adalah sebuah Magic Device berupa sarung tangan sihir.


“Wilfred. Kau berlindunglah di belakangku. Aku akan menghadangi gadis itu. Pada saat kau menemukan celah, serang dia.” Ucap Triston.


“Dimengerti. Kumohon berhati-hatilah kakak. Aku akan menggunakan pedang satu tangan untuk membantumu.” Ucap Wilfred karena Mana yang ada di tempat ini telah lama kering.


Sedangkan Elin?


Ia masih mengatur nafasnya karena Stamina Point miliknya sudah hampir habis dan kini hanya tersisa 5% saja.


‘Meskipun telah memiliki Skill Legendaris ini, nampaknya penggunaan Stamina seorang Assassin tetaplah tinggi karena banyak bergerak. Kurasa aku harus melakukan Rebirth beberapa kali lagi untuk kutambahkan di Stamina.’ Ucap Elin dalam hati.


Perbedaan kekuatan antara Elin dengan kedua Pangeran itu?


Elin memiliki level sebesar 218 dengan total Growth Point mencapai angka 52. Ia baru melakukan rebirth sebanyak 4 kali.


Di sisi lain, Triston memiliki level sebesar 296 dengan total Growth Point mencapai angka 94 yang lebih dari setengahnya berada di Vitality. Sedangkan Wilfred sedikit lebih rendah yaitu memiliki level 231 dengan total Growth Point sebesar 68 yang hampir setengahnya berada di Intelligence.


Perbedaannya cukup jauh. Meski begitu, pertarungan yang terjadi saat ini masih dalam kondisi seimbang.


Alasannya cukup sederhana.


Belati milik Elin yang memiliki damage sangat besar tak mampu untuk menembus pertahanan milik Triston. Sementara itu, Triston yang memiliki gerakan cukup lambat serta damage yang rendah tak mampu untuk memberikan goresan kepada Elin.


Wilfred di sisi lain telah kehilangan kemampuannya untuk menggunakan sihir sejak Elin menguras habis Mana yang ada di daerah ini. Oleh karena itu, Ia tak mampu menyerang dengan baik.


Sekitar satu menit berlalu. Meski begitu, tak ada satupun dari mereka yang bergerak.


Hingga pada akhirnya….


‘Kurasa ini sudah cukup.’ Ucap Elin dalam hati setelah mengetahui Stamina Point miliknya telah mencapai 20%.


‘Tap tap tap!!!’


Elin segera berlari dengan sangat cepat. Tujuannya sangat jelas yaitu segera menyingkirkan Pangeran Wilfred yang masih dalam kondisi tak mampu untuk menggunakan sihir.

__ADS_1


‘Ttraaang!!!’


Sesaat sebelum belati milik Elin mampu menebas kepala Wilfred, sebuah perisai raksasa telah menghalangi serangannya.


“Jangan berpikir kau bisa menyakitinya pada saat aku masih hidup!” Teriak Triston.


Tapi Elin menghiraukan perkataannya. Ia segera memutar tubuhnya dan melompat di udara. Gerakan yang dibuat Elin sangat sulit untuk dipercaya karena Ia bisa melewati perisai itu dan telah berada di belakang Wilfred dalam waktu kurang dari 1 detik.


‘Bagaimana dia bisa?!’ Teriak Triston dalam hati. Ia berusaha sekuat tenaga untuk membalik badannya secepat mungkin dan menahan serangan Elin yang diarahkan ke Wilfred.


‘Slash!! Slaassshh!!!’


Elin segera memutar tubuhnya dengan cepat. Ia melancarkan dua tebasan sederhana tanpa bantuan Skill.


Pada saat itu, Elin telah berhasil memotong kedua tangan Wilfred yang mencoba untuk menahan serangannya dengan sebilah pedang.


“Gyaaaaahhh!!!” Teriak Wilfred kesakitan setelah menerima serangan itu.


“Kau!!! Beraninya!!!” Teriak Triston dengan keras setelah melihat situasi ini.


Tapi Elin sama sekali tak menggubrisnya. Ia segera berlari dan meluncur di tanah.


Tubuh Elin yang ramping mamungkinkannya untuk melewati kedua kaki Triston. Tak hanya itu, Elin juga berhasil menggores kaki bagian belakang Triston yang tak tertutupi oleh zirah.


“Ugggh!!!” Teriak Triston.


Seketika, kakinya yang terluka di bagian belakang lututnya itu tak mampu untuk menahan beban zirahnya yang begitu tebal dan berat.


‘Bruukk!!!’


Triston terjatuh dan berlutut di tanah.


Tanpa memberi kesempatan untuk bergerak, Elin segera membalik tubuhnya dan kembali menyerang Wilfred. Tapi incarannya saat ini sangatlah jelas.


“Aku akan memenggal kepalamu.” Ucap Elin sambil mengayunkan kedua belatinya secara bersamaan ke arah leher Wilfred.


Wilfred yang masih mengalami syok parah karena kehilangan kedua lengannya tak mampu untuk melakukan apapun. Ia hanya bisa untuk menunggu nasibnya yang kini berada di tangan Elin.


‘Slaassh!!!’


Kedua belati Elin berhasil menebas leher Wilfred.

__ADS_1


‘Bruk… bruk…’


Terlihat dengan jelas kepala dari Pangeran Wilfred yang menggelinding jatuh dan mulai berubah menjadi cahaya putih.


“Tidak…. Wilfred….” Ucap Triston yang masih kesulitan untuk berdiri itu.


“Sekarang, hanya kau yang tersisa. Apakah ada permintaan terakhir?” Tanya Elin sambil berjalan secara perlahan mendekati Triston.


“Iblis…. Apa yang sebenarnya kalian inginkan dari kami? Kenapa kau melakukan semua ini? Bahkan adikku….” Ucap Triston dengan suara yang tersedu-sedu.


Meskipun terhalang oleh helm yang tebal dan hampir menutupi seluruh wajahnya, semua orang pasti tahu bahwa Ia sedang menangis.


“Yang kami inginkan? Sederhana saja. Kami ingin menguasai Kerajaan ini.” Ucap Elin sambil mengayunkan belatinya ke arah lengan Triston.


‘Slash! Slash!!’


Belati milik Elin menebas dengan cepat pada bagian yang tak terlindungi oleh zirah itu.


‘Tes… tes…’


Darah nampak mulai mengalir dari balik lengannya. Semuanya menetes ke tanah.


Triston yang telah kehilangan kemampuan geraknya mulai kehilangan semangat.


“Bagaimana…. Belati sekecil itu…. Bisa membuatku menjadi seperti ini?” Tanya Triston kebingungan dengan suara yang cukup lirih.


“Ini adalah kemampuan dari Crimson Blood Dagger milikku. Siapapun yang terkena tebasan dari belati ini akan mengalami pendarahan yang parah serta kehilangan kemampuan geraknya jika serangan tepat mengenai sendi target. Kuharap jawaban itu telah mampu memuaskanmu.” Jelas Elin dengan rinci.


Mendengar perkataan Elin, Triston nampak tersenyum tipis.


“Segera akhiri penderitaanku. Kini yang kurasakan hanyalah rasa sakit di kedua lengan dan kakiku. Jika memungkinkan, aku mohon…. Ampuni penduduk yang tak mampu untuk bertarung.” Ucap Triston sambil tersenyum.


“Tentu saja. Kami berniat untuk menguasai Kerajaan, bukan melakukan pembantaian masal. Kalau begitu, selamat tinggal Pangeran Pertama Triston. Kau adalah lawan yang tangguh, aku takkan menang jika bukan karena belati dan kemampuan langkah gurun ini.”


Segera setelah mengatakan hal itu, Elin segera menusukkan belatinya tepat di jantung Triston.


Tak hanya sekali.


Ia perlu menusukkannya beberapa kali hingga Triston benar-benar mati. Tubuh Triston segera berubah menjadi cahaya putih yang indah.


Pada akhirnya, Elin berdiri sendirian di tengah reruntuhan bangunan yang dibalut cahaya malam itu. Dalam pikirannya, hanya ada satu hal.

__ADS_1


‘Eric. Kuharap kau tidak menyesal karena telah memilih jalan ini. Segera, seluruh NPC dan Player di dunia ini akan memusuhimu karena tindakanmu. Terlebih lagi kau bekerjasama dengan seorang musuh umat manusia.’ Ucap Elin dalam hatinya.


Bersamaan dengan itu, Ia segera meneguk beberapa botol Potion dan berlari ke arah Istana.


__ADS_2