
Sesaat setelah cahaya itu membungkus kami berempat, pemandangan kota bawah tanah seketika berubah menjadi pemandangan suatu bagian dalam kastil. Desainnya sangat indah dan memiliki cukup banyak. Orang-orang nampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing di dalam kastil ini.
“Selamat datang di Kastilku, Eric.” Ucap Chris.
“Terimakasih, Chris. Aku tahu kau memang orang baik yang sangat dapat dipercaya.” Balasku dengan senyuman.
“Oh? Tentu saja kalau itu! Aku adalah orang yang selalu berterus terang! Jika aku tidak menyukainya maka aku akan mengatakannya secara langsung! Berhubungan dengan itu… Neo! Apa yang kau lakukan daritadi?!” Teriak Chris.
“Apakah kalian tidak menyadarinya?” Jawab Neo dengan lemas.
“Hah? Apakah yang kau maksud kota monster itu? Sungguh luarbiasa! Aku sangat kagum dengan kemampuanmu Eric! Aku ingin membangun kerjasama antar kerajaanku dengan kota monster milikmu itu sekarang!” Teriak Chris dengan lantang sambil duduk di kursi.
“Ah, jika kau tidak masalah tentu saja aku dengan senang hati menerima permintaanmu itu.” Balasku dengan segera. Tapi nampaknya ada yang keberatan dengan pembicaraan kami berdua.
“Bukan soal kota monster itu! Tapi soal Eric!” Teriak Neo.
“Hah? Sudah kubilang apa yang kau maksud Neo? Aku tidak bisa memahamimu. Apa yang terjadi denganmu?” Tanya Chris dengan penuh rasa heran.
Alice setelah mengantarkan kami semua sudah pergi entah kemana. Nampaknya Ia memang menjadi alat transportasi seluruh anggota Guild Salvation.
“Eric adalah Penguasa Dungeon Legendaris yang muncul di berbagai berita itu!!!” Teriak Neo sekuat tenaga.
“Eh?”
“Ah, ya. Aku belum mengatakannya ya? Lagipula Neo juga bisa melihatnya kan? Hahaha….” Balasku sambil tersenyum.
“Eeeh!!!”
...***...
“Jadi begitulah kejadiannya.” Jelasku kepada Chris dan Neo.
Ya, aku menceritakan semua yang aku alami hingga menjadi seorang Dungeon Master dan juga mengenai pengembangan kotaku. Tapi aku menahan beberapa informasi penting seperti peningkatan Trait monster, keberadaan monster tingkat tinggi seperti Oliver dan Tasmith, serta beberapa hal kecil lainnya.
“Jadi begitu ya? Baiklah sekarang aku paham.” Jawab Chris. Sedangkan Neo hanya menganggukkan kepalanya saja.
“Lalu apa yang kau inginkan sekarang, Eric? Aku tahu kau ingin memperoleh beberapa buku sihir di tempatku karena kau sedang diburu di Kerajaan Farna. Tapi apakah hanya itu?” Lanjut Chris.
“Apakah kau ada ide untuk itu?” Tanyaku.
“Karena Elin tidak ada kau nampak bingung untuk melakukan apa, ya? Tunggu sebentar. Aku akan memikirkan sesuatu. Sebelum itu, Neo. Tolong minta beberapa anggota untuk mencarikan buku sihir yang cocok untuk Eric. Pikirkanlah sesuatu yang dapat membuatnya menjadi lebih kuat.” Jawab Chris.
“Baiklah, Chris. Lagipula aku juga sedang tidak ada pekerjaan sekarang. Kita juga tidak bisa membiarkan seorang PK berkeliaran di kerumunan kan? Hahaha….” Balas Neo sambil melirik ke atas kepalaku. Aku hanya tertawa pahit mendengan lelucon Neo.
“Ah untuk anggaran dananya, aku hanya memiliki….”
__ADS_1
“Hentikan itu, Eric. Aku yang akan menanggungnya. Tidak, Kerajaanku yang akan menanggungnya.” Jawab Chris sambil mengarahkan tangannya kepadaku.
“Apakah kau yakin, Chris?”
“Ya, sebagai gantinya…. Aku punya permintaan kecil untukmu, Eric.”
“Katakan saja, Chris. Jika aku bisa melakukannya, maka akan aku usahakan.”
“Aku benar-benar menyukai sifat itu, Eric. Kalau begitu aku akan langsung ke intinya. Aku ingin kau membangun Dungeon di bawah tanah kastilku ini.” Jawab Chris dengan tegas.
“Eh? Membangun Dungeon di bawah kastilmu ini? Untuk apa? Kau juga tahu kan bahwa biayanya….”
“Sudah kubilang jangan pikirkan soal biaya. Untuk tujuannya sebenarnya ada 3.” Jawab Chris memotong perkataanku.
“Yang pertama adalah sebagai penghubung antara Kota Origin milikmu dengan Kota Reinard. Dengan memanfaatkan skill Teleportation Circle milikmu itu, aku yakin hubungan kerjasama antara kita berdua dapat berjalan dengan lebih baik.”
“Yang kedua adalah sebagai tempat persembunyian beberapa barang berharga dan juga pertahanan akhir Kerajaan Salvation, lebih tepatnya Kota Reinard ketika terjadi peperangan. Kami juga dapat mengungsi dengan mudah ke wilayahmu.”
“Yang terakhir yaitu sebagai tempat latihan para anggota Guild kami. Termasuk para petinggi Guild sepertiku, Alice dan Neo. Mendengar kemampuanmu untuk menciptakan Dungeon dan memanggil monster serta meletakkan Spawn Point…. Aku rasa ide itu sangat bagus untuk meningkatkan levelku dan levelmu secara bersamaan.” Jelas Chris dengan sangat rinci.
Benar juga. Kemampuanku sebagai Dungeon Master mampu menghasilkan EXP jika Dungeon yang kubuat dijajah oleh orang. Mereka yang membunuh monster panggilanku juga akan memperoleh EXP. Selama aku mengaturnya menjadi seaman mungkin dan hanya sebagai tempat berlatih… aku yakin kedua belah pihak akan diuntungkan.
“Baiklah. Aku paham mengenai alasanmu, Chris. Aku juga sangat setuju dengan rencanamu. Kapan aku dapat memulai membangunnya?” Tanyaku kepada Chris.
“Kau dapat memulainya setelah Neo kembali. Kau adalah seorang Legenda, Eric. Tidak sepantasnya kau tetap lemah seperti itu.”
Tapi aku sadar bahwa diriku saat ini masih sangat lemah. Semua kekuatanku berasal dari monster panggilanku saja. Apa jadinya jika aku dihadapkan pada situasi dimana monster panggilanku tidak mampu membantuku? Atau melawan musuh yang terlampau kuat sehingga membahayakan nyawa mereka?
Tentu saja aku tidak ingin membiarkan mereka yang hanya memiliki satu nyawa mati sia-sia. Oleh karena itu, untuk pertarungan yang teramat sulit cukup aku saja yang mati.
“Terimakasih banyak, Chris. Ngomong-ngomong dimana Aamori?” Tanyaku sambil mengubah topik pembicaraan.
“Ah, Aamori? Dia ada di tempat kerjanya sekarang. Tapi karena masih sibuk bekerja, dia tidak ingin diganggu sama sekali.” Balas Chris.
‘Ugh… hal itu mengingatkanku pada seseorang.’
...***...
“Apa maksudnya ini?”
“Tentu saja tugas untuk kita.” Jawab seorang wanita dengan rambut perak dan mata merah. Ia memberikan sebuah informasi Quest kepada seorang gadis di depannya.
[Quest Tersembunyi]
[Ancient Enemy of Gods]
__ADS_1
[Rank : SS]
[Misi]
Berikan hukuman Dewi Celestine kepada musuh abadinya, Summoner, dengan menangkapnya dan membawanya ke Katredal Suci di Kerajaan Suci Celestine. Jika tidak memungkinkan, maka bunuhlah Summoner dengan menggunakan pedang suci yang telah diberkati.
Misi akan selesai jika Summoner berhasil sampai ke Katredal Suci atau terbunuh dengan senjata suci.
[Tambahan Informasi]
Dapat membagikan Quest kepada orang lain akan tetapi hadiahnya akan dibagi sebanyak anggota yang ikut serta. Informasi terakhir yang diperoleh yaitu Summoner berada di sekitar Kaki Pegunungan Alpa, Kerajaan Farna. Sumber Informasi : Inquisitor Leo Celestica.
[Hadiah menyelesaikan misi]
Memperoleh 30 Growth Stats yang dapat didistribusikan sesuka hati.
Memperoleh 2.000.000 koin emas dari Dewi Celestine.
Memperoleh senjata suci : Heaven’s Spear of Celestine
Meningkatkan Afinitas dengan Kerajaan Suci Celestine sebanyak 10%
Meningkatkan Afinitas dengan Dewi Celestine sebanyak 1%
Memperoleh hak untuk meminta salah satu Divine Blessing dari Dewi Celestine.
[Konsekuensi Kegagalan Misi]
Summoner akan bertahan hidup, meningkatkan peluang kehancuran dunia.
Menerima hukuman dari Dewi Celestine : Restriksi Log In selama 30 hari waktu dunia nyata.
“Jadi, apa yang akan kau lakukan, Luna? Brunhilda dan Grund sudah setuju untuk ikut serta. Tapi yang lain menolak karena takut kehilangan level. Jujur saja aku harap kau mau ikut. Karena tanpa kekuatanmu, mencari Summoner seperti mencari sebuah jerami di tumpukan jarum.” Jelas wanita itu.
“Baiklah, Evalina. Aku akan ikut. Tapi pastikan bahwa misi ini akan berhasil ya? Aku tidak ingin menerima restriksi selama 30 hari.”
“Tenang saja soal itu, memangnya siapa yang pernah selamat setelah berhadapan denganku secara langsung? Hahaha….” Jawab wanita dengan nama Evalina yang terpampang jelas di atas kepalanya.
...___________________________________...
...[Sebelum lanjut membaca]...
...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...
...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...
__ADS_1
...[Tak ada ruginya bagi kalian]...
...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...