The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 43 - Hari Libur


__ADS_3

Setelah kembali ke dalam Dungeon, aku dan Elin memperkenalkan Oliver dan menjadikannya pemimpin para goblin. Nampaknya selama 1 minggu lebih kami meninggalkan Dungeon, mereka semua bekerja dengan sangat baik.


Seluruh wilayah kerja Dungeon telah berkembang dengan cukup pesat. Tempat tinggal yang ada bahkan sudah mampu untuk menampung 25 ribu goblin baru. Tapi aku memutuskan untuk memanggil goblin lain kali.


Ya, aku ingin menambah variasi monster yang ada disini.


“Bagaimana kalau kau menambahkan Orc dan Kobold?” Tanya Elin kepadaku.


“Tentu saja aku mau menambahkan mereka. Tapi masalahnya adalah, tidak muncul notifikasi dari sistem yang menyatakan aku mampu membuat kontrak dengan mereka.” Jawabku sambil berjalan mengelilingi Dungeon ini.


Benar. Sejak aku membuat kontrak dengan goblin, aku tidak memperoleh notifikasi sistem yang menyatakan aku dapat membuat kontrak dengan Kobold maupun Orc.


“Memangnya apa yang kau lakukan saat memperoleh notifikasi itu?”


“Aku hanya mengalahkan goblin seperti biasa. Tiba-tiba notifikasi itu muncul. Bukankah saat ini aku terus menerus mengalahkan Kobold dan Orc?” Jelasku.


Ya. Goblin penjaga yang ada di dalam Dungeon terus menerus melakukan pembasmian monster di sekitar. Kobold dan Orc. Para Goblin itu terus membantai mereka setiap mereka Respawn. Termasuk Dungeon Orc itu.


“Lihat ini! Bahkan levelku telah kembali ke angka 16 setelah dihisap oleh Behemoth! Ini membuktikan para goblin itu terus bekerja dengan keras.” Jawabku sambil menunjukkan jendela statusku pada Elin.


Meskipun Elin juga mampu melihatnya sendiri.


“Aah…. Entahlah, Eric. Aku sedikit lelah setelah pertempuran ini. Aku sedang tidak ingin berpikir! Oi Goblin! Tolong siapkan aku makanan!” Teriak Elin sambil duduk di sebuah kursi di jalanan Dungeon ini.


“Akan saya siapkan dengan segera, Nona Elin! Apakah Tuan Eric juga ingin sesuatu untuk dimakan?” Tanya Goblin yang sedari tadi menemani kami berdua.


“Aku tidak perlu.” Jawabku singkat sambil tersenyum.


Goblin itupun segera meninggalkan kami dan mempersiapkan masakan untuk Elin.


Dungeon yang saat ini kami tinggali jauh lebih mirip dengan sebuah kota daripada sebuah dungeon. Ya, kota di bawah tanah. Suasana yang ramai, bangunan yang padat penduduk serta banyaknya goblin yang seakan berbincang satu sama lain. Sesekali mereka nampak saling bertukar barang.


Kebanyakan dari goblin ini masih berada di tingkat Normal. Oleh karenanya mereka belum mampu berbicara dengan bahasa manusia.


5 lantai Dungeon. Di setiap lantai terdapat kota yang dapat ditinggali setidaknya 15 ribu goblin saat ini. Struktur bangunan yang ada terbuat dari kayu serta lampu yang digunakan terbuat dari obor dan batu sihir. Jujur saja pemandangan ini cukup indah untuk dinikmati.


Tapi saat aku melirik keadaan Elin….


“Aaah…. Tolong siapapun layani aku! Beri aku pijatan! Kipasi aku! Oi kalian semua dengar?!”


Para goblin yang ada disekitarnya segera mengabulkan permintaannya.


Beberapa goblin bertugas untuk memijatnya. Di kanan dan kirinya terdapat goblin yang mengipasi dengan kipas yang nampaknya terbuat dari kulit hewan itu. Elin yang duduk dengan santai di kursi itu sambil memakan makanan yang telah disiapkan oleh para goblin.


‘Jujur saja bukankah Ia terlihat terlalu menikmati semua ini?’ Pikirku dalam hati dengan mata yang menyipit.

__ADS_1


Tapi itu bukanlah masalah. Seluruh goblin yang aku panggil terikat dengan kontrak kuat. Tak hanya itu, mereka nampaknya juga sangat menghormati aku dan Elin. Mungkin karena kami memperlakukan mereka dengan baik? Entahlah.


“Elin, bagaimana kalau kita berlibur terlebih dahulu? Mungkin selama beberapa hari.” Ucapku kepada Elin yang sedang bersantai itu.


“Setuju!!!” Jawab Elin dengan segera sambil mengangkat tangan kanannya yang memegang garpu.


“Baiklah kalau begitu, aku akan Log Out terlebih dahulu. Aku ingin menyelesaikan biaya perawatan adikku.”


“Oke, aku rasa aku akan tinggal disini selama beberapa saat dulu sebelum Log Out. Pelayanan mereka sangat baik kau tahu? Ah benar juga! Setelah kau kembali aku akan menugaskanmu untuk memberikan sigil kepada seluruh goblin!” Teriak Elin seakan memerintahku. Tapi aku tak mempermasalahkannya.


Semua ini bisa terjadi karena Elin selalu mendukungku.


“Baiklah, setelah aku kembali ya?” Jawabku singkat dan aku segera keluar dari dunia maya ini.


[Anda telah berhasil Log Out!]


Kapsul yang ada di hadapanku terbuka secara perlahan. Aku pun segera bangun dari dalam kapsul itu. Tanpa basa-basi, aku segera pergi ke lokasi penukaran uang.


“Jadi Anda akan menarik sebanyak 12 ribu Gold? Apakah itu sudah benar?” Tanya seorang pegawai loket penukaran uang.


“Ya, itu benar.” Jawabku singkat.


“Baiklah. Untuk hasil akhir setelah pemotongan berbagai pajak, Anda akan memperoleh sebesar 473 juta Rupiah. Apakah Anda akan mengambilnya secara cash atau ditransfer ke rekening?”


“473 juta ditransfer ke rekening atas nama Bapak Indra Prasetya, apakah benar?”


“Ya.”


Dan begitulah, hampir seluruh penghasilanku selama beberapa hari ini membantu Chris lenyap. Ya, aku tidak mempermasalahkannya. Yang jelas kini keluargaku mampu membiayai adikku dan juga untuk melakukan pemesanan tangan dan kaki Bionic untuk Rina.


Aku pun masih memiliki sekitar 4 juta di rekening pribadiku dan juga 2 juta yang tersebar di dompet dan tas pinggangku. Oleh karena itu aku masih belum butuh untuk menarik lebih banyak lagi mengingat aku setidaknya masih memiliki 3000 koin emas di akunku.


Seketika ponselku berdering. Aku pun dengan segera mengangkatnya.


“Halo, Ayah? Ada apa?”


“A-apa maksud uang ini Eric?! Apakah kau menjual organ tubuhmu?!” Teriak Ayahku dengan suara yang sangat keras.


“Hahaha…. Tentu saja tidak, Ayah. Aku memperolehnya setelah menukarkan penghasilanku di Re:Life.” Jawabku dengan tawa.


“Ah, jadi begitu. Ya! Jadi begitu ya? Hahaha…. Tapi bukankah jumlah ini terlalu besar?”


“Aku akan menjelaskannya di rumah sakit nanti. Apakah Ayah, Ibu atau Rina ingin titip makanan? Aku berencana untuk beli nasi goreng seafood.”


Ayahku pun segera menanyai Ibu dan Rina yang saat ini ada di sebelahnya.

__ADS_1


“Kalau begitu Ayah titip 3 bungkus ya. Dan juga kalau ada belikan ayam bakar. Nampaknya Rina sangat ingin makan itu.”


“Oke.”


Aku segera menutup ponselku dan membeli makanan. Tentu saja bukan di warung sialan yang bahkan memintaku untuk membayar meskipun belum dimasak.


Malam yang ramai ini hanya meningkatkan suasana hatiku. Jam yang ada di ponsel tuaku menunjukkan angka 20:11.


‘Haruskah aku membeli ponsel baru setelah ini? Hahaha….’ Pikirku dalam hati.


Akhirnya, kebutuhan biaya rumah sakit yang nampaknya mustahil untuk dicapai kini telah selesai. 2 Bulan. Aku telah mampu menyelesaikannya selama 2 bulan.


Setelah semua pesanan siap, aku menuju ke rumah sakit dengan menggunakan jasa taksi online. Biaya yang diminta oleh pengemudi taksi ini sekarang nampak tidak begitu mahal. Mungkin karena aku mampu menghasilkan jutaan dalam sehari?


Meski begitu, aku tidak boleh sombong. Aku tahu itu. Jika aku terlalu berhura-hura dan melemparkan uangku kesana kemari, aku akan bangkrut dalam waktu yang singkat. Aku harus bisa menahan diriku.


“Ah, selamat datang Nak.” Sapa Ayahku yang melihat diriku muncul dari balik pintu.


“Pesanannya sudah siap! Mari kita semua makan. Ah dan juga aku mendapatkan ayam bakar ini. Ukurannya cukup besar untuk kita makan bersama. Aku juga membawa beberapa minuman dan cemilan.” Jawabku sambil menunjukkan banyaknya barang bawaanku.


“Selamat makan!”


Adikku yang keadaannya sudah sehat saat ini nampak mulai ceria kembali. Mungkin lebih ceria daripada sebelumnya. Apapun itu, aku merasa sangat bahagia melihat dirinya telah kembali bahagia.


Aku pun menceritakan mengenai bagaimana perjuanganku untuk menghasilkan uang di Re:Life kepada keluargaku. Daripada disebut perjuangan… lebih mirip jika disebut bersenang-senang. Tapi tentu saja aku butuh komitmen untuk sampai di sana.


Ayahku menanggapinya dengan sangat baik dan bahkan mendukungku sekarang. Ibuku yang sejak awal sudah suportif kepadaku kini menjadi lebih suportif lagi.


Tangan dan kaki Bionic yang akan digunakan oleh Rina telah dipesankan oleh Ayahku dan hanya perlu melunasinya saja. Pembuatannya membutuhkan penyesuaian pengguna dan waktu pengerjaan yang cukup lama. Akan tetapi, hasilnya sudah dipastikan bagus. Bahkan mampu melebihi anggota badan organik.


“Ah iya Kakak. Kwudengar tangan dan kwaki bwionik pwesanankwu akan jadi beberapa hari lagi. Kwatanya tangan dan kwaki itu jauh lwebih hebat dwaripwada ywang asli!” Ucap Rina dengan mulut penuh makanan sambil memegang ayam di tangan kirinya.


“Telan dulu baru ngomong!”


...___________________________________...


...[Sebelum lanjut membaca]...


...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...


...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...


...[Tak ada ruginya bagi kalian]...


...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...

__ADS_1


__ADS_2