The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 175 - Offline


__ADS_3

...Sore Hari...


...Kediaman Erik...


"Hah...."


Udara yang sejuk dan cukup dingin berhembus dari segala arah.


Sebuah fitur dari kapsul VR kelas atas yang menjamin tubuh tetap dalam kondisi yang nyaman.


Setelah aku membuka kapsul VR milikku, aku segera ke kamar mandi untuk mencuci wajahku.


"Pada akhirnya.... Aku kalah dengan Angie. Yah, wajar saja karena dia memang sangatlah hebat. Meski sudah mengunggulinya dengan keuntungan medan pertarungan, dia masih mampu mengejarku...."


Aku terus berbicara pada bayanganku sendiri di cermin itu.


"Meskipun.... Rasa bersalah ini...."


Wajah Angie yang dipenuhi oleh kemarahan dan kesedihan itu terus terbayang di kepalaku. Dibalik perkataan-perkataannya yang cukup kasar, aku melihat suatu kesedihan yang sangat mendalam.


"Jika aku berada di posisinya dan berburu selama dua bulan, lalu orang asing mengambil mangsaku.... Tentu saja aku akan menjadi sangat kesal."


Setelah memikirkannya selama beberapa saat, aku telah memutuskannya.


"Baiklah. Setelah aku bisa login kembali, aku akan menghubungi Luna. Meski hanya sekilas, aku melihat portalnya di tengah laut itu. Mungkin saja dia membentuk Party dengan Angie? Entahlah....


Yang jelas, aku akan memberikan seluruh hadiah Quest melindungi Leviathan itu kepada mereka. Memperoleh Leviathan di pihakku saja sudah sangat menguntungkan. Benar! Aku tak boleh serakah! Bagaimana jika Angie kemudian...."


Tanpa kusadari, aku terus menerus berbicara dengan bayanganku sendiri selama lebih dari 15 menit.


Setelah membebaskan diriku sendiri dari rasa bersalah ini, aku segera keluar dari kamar mandi.


Aku mengambil beberapa cemilan dari dapur untuk kubawa ke ruang keluarga dan menonton TV.


Di sofa yang besar dan empuk itu, terlihat sosok istriku yang sedang tertawa lepas saat melihat TV.


"Hahaha! Bodoh sekali! Bagaimana bisa dia melakukannya? Buahahaha!" Teriak Elin sambil terus menerus memukul pahanya sendiri.


'Ah.... Aku sudah lama tak memiliki waktu berdua dengannya. Kesibukan pekerjaan ini membuat jarak antar kita berdua. Terlebih lagi....' Ucapku dalam hati sambil melihat sebuah meja di kamarku.


'Aku telah menyiapkan hadiah itu sejak lama, tapi entah kenapa tak ada waktu yang tepat untuk memberikannya. Apa sebaiknya kulakukan sekarang?'


Tanpa berpikir lebih lama lagi, aku memeluk Elin dari belakang sofa.


"Huh? Erik? Apa yang kau lakukan?" Tanya Elin sambil sedikit mengerutkan dahinya.


"Elin.... Bukankah kita sudah lama tidak makan berdua di luar?" Tanyaku sambil sedikit mencubit pipinya.

__ADS_1


"Apakah kau mau mengajakku makan di luar? Maaf saja, Elin yang Agung ini sedang sibuk menikmati acara komedi. Lagipula, aku sangat yakin kau pasti akan mengajakku makan di Grandia Mall kan?" Tanya Elin tanpa melihatku sama sekali. Matanya masih fokus untuk menonton acara di TV itu.


"Ba-bagaimana kau bisa tahu?!" Tanyaku penuh rasa terkejut mendengar ucapan Elin.


"Tentu saja, itu karena dari 8 kali kita makan di restoran, 7 diantaranya adalah di Grandia Mall. Sedangkan satu sisanya gagal karena kau lebih menyukai masakan ibu."


Mendengar balasan itu, hatiku seakan tercabik-cabik.


'Sialan.... Apakah aku memang sepayah itu?!'


"Satu kesempatan. Jika kau tidak mampu menarik minatku mengenai lokasi makan kita, maka menyerahlah untuk hari ini. Setelah menonton acara ini, aku sudah memiliki jadwal yang sangat padat." Balas Elin dengan nada yang tegas.


"Jadwal yang padat? Bukankah pagi tadi kau bilang bahwa hari ini adalah hari liburmu?"


"Sibuk untuk bermalas-malasan! Enyahlah dari sini jika kau memang tidak memiliki ide tempat yang menarik! Kau menggangguku saja!" Teriak Elin kesal.


Aku mulai berpikir keras setelah mendengarkan perkataannya.


'Ayo Erik! Pikirkan suatu tempat yang menarik untuk Elin! Suatu tempat yang.... Tunggu dulu!'


Seketika, aku memperoleh suatu ide yang cukup cemerlang.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku segera mengutarakannya.


"Aku dengar dari beberapa teman SMA ku, terdapat sebuah restoran yang cukup syahdu di sekitar puncak Merapi. Bagaimana menurutmu?" Tanyaku kepada Elin.


"Elin? Ah, jadi kau tidak suka di sana? Baiklah maafkan aku. Aku akan segera mengenyahkan diriku dari...."


Sebelum aku sempat menyelesaikan perkataanku, sebuah tangan yang cukup kecil dan lembut itu menggenggam tanganku.


"Aku.... Akan segera bersiap-siap. Kita akan berangkat jam 7 malam. Kau setuju kan?" Tanya Elin dengan wajah yang sedikit memerah.


'Hohoho.... Nampaknya Elin menyukai tempat seperti itu? Bagus!' Teriakku dalam hati sambil tersenyum puas.


"Baiklah Elin, aku akan menghubungi Pak Jarwo dan sekalian mengajak Lisa beserta Rendy. Mereka bisa sekalian menikmati waktu istirahat disana. Tentu saja berbeda meja dengan kita. Kau tak masalah dengan itu kan?" Tanyaku panjang lebar.


Elin hanya mengangguk perlahan.


Jujur saja, wajahnya yang memerah itu sangatlah manis.


Tanpa kusadari....


'Cup!'


"Aaah! Maaf Elin! Tubuhku bergerak sendiri karena...."


"Jika kau ingin melakukannya, maka lakukanlah dengan benar...." Ucap Elin memotong perkataanku sambil segera menciumku kembali.

__ADS_1


Pada saat kami berdua menikmati waktu antara pasangan suami dan istri....


'Awawawawawawaw....'


Terlihat seorang gadis yang menutupi wajahnya secara setengah-setengah di balik pintu itu.


'Kakak! Jangan lakukan hal seperti itu di tempat umum! Setidaknya pikirkanlah adikmu ini!'


...***...


...Malam Hari...


......Pukul 20.49......


Pada akhirnya, Pak Jarwo tidak jadi membawa mobil sedan. Melainkan mobil keluarga yang memiliki cukup banyak kursi. Mobil ini adalah mobil pribadi milik Pak Jarwo yang baru saja dibelinya.


Kenapa harus ganti mobil? Itu semua karena....


"Hahaha! Kalian terlihat manis sekali duduk berdua di belakang sana!" Teriak Elin di kursi tengah itu sambil membalik badannya.


Di kursi paling belakang, terlihat sosok seorang bocah laki-laki dengan rambut yang di cat pirang. Di balik tampangnya yang cukup sangar, terlihat jelas bahwa wajahnya mulai memerah.


Alasannya sangat sederhana. Itu karena....


"Kak Elin! Berhentilah menggodaku! Lagipula kenapa aku harus duduk bersamanya?!" Teriak Rina penuh rasa kesal. Meski begitu, terlihat wajahnya yang sedikit malu-malu dan mulai memerah.


"Hahaha! Erik lihatlah tingkah mereka berdua? Bukankah mereka sangat menggemaskan? Aaah aku iri dengan darah muda seperti kalian hahaha!"


Elin terus menerus mentertawai mereka berdua dengan puas. Sedangkan aku?


"Rina tenanglah. Rendy adalah seorang pria yang baik. Dia sangat jujur dan merupakan pekerja keras. Kau tahu? Dia bahkan terlalu menjiwai perannya sebagai bodyguard hingga mengikutiku kemanapun aku pergi di Re:Life." Ucapku sambil melirik ke arah Rendy dengan tatapan yang sedikit mengejek.


"Masbro! Bukankah kita sudah sepakat untuk melupakan masalah itu?!" Teriak Rendy sambil menutupi wajahnya.


Pada akhirnya, mobil ini terus berjalan ke arah Gunung Merapi. Perjalanan yang jauh ini terasa begitu singkat karena suasana kendaraan yang cukup meriah.


Pak Jarwo dan putrinya, Lisa, yang berada di depan juga turut berbicara di setiap kesempatan.


"Tuan Erik, apakah tak masalah bagimu untuk pergi selarut ini? Besok ada rapat pada pukul...."


"Lisa bisakah kau berhenti membahas pekerjaan pada saat bersantai?! Dasar maniak kerja!" Teriakku memotong perkataan Lisa.


Tentu saja, kami semua tertawa lepas saat itu.


Tapi tanpa ku sadari....


Rina dan Rendy nampak saling melirik satu sama lain. Di ujung semua itu, mereka mulai saling berpegangan tangan.

__ADS_1


__ADS_2