
Aku segera mengintip ke arah luar Dungeon melalui celah di dekat pintu masuk utama. Di luar gerbang itu, nampak sekitar sepuluh ribu lebih orang sedang berkumpul.
Sebagian besar menggunakan zirah besi yang ringan. Nampaknya mereka adalah prajurit dari suatu kerajaan. Akan tetapi aku tahu bahwa lambang api menyala di bagian dada zirah itu merupakan lambang Kerajaan Farna.
Sedangkan orang-orang yang lainnya nampaknya merupakan Player. Mereka memiliki perlengkapan yang sangat berbeda antar satu dengan yang lainnya.
Aku merasa yang cukup berbahaya dari mereka semua adalah para Player. Meski begitu, aku sangat yakin dengan pertahanan Dungeon milikku.
“Aku tak menyangka akan menerima sebanyak ini pengunjung di hari pertama. Kurasa ini adalah hal yang bagus! Ah, sebelum itu, aku harus menghabiskan seluruh levelku saat ini agar dapat meraup banyak level nantinya. Ascension!” Teriakku pada diriku sendiri.
Sebuah cahaya emas berbentuk lingkaran nampak mulai mengelilingi tubuhku secara perlahan. Nampaknya ini merupakan efek yang akan terjadi ketika menggunakan Ascension untuk meningkatkan Growth Point.
...[Tentukan jumlah level yang ingin dikorbankan!]...
...[Level yang ingin dikorbankan harus berada pada kelipatan 25]...
Notifikasi sistem itu muncul di hadapanku.
“Mengingat kini aku memiliki level 218…. Mungkin aku akan mengorbankan 200 level dan memperoleh 8 Growth.” Ucapku sendiri sambil mengetikkan angka di jendela sistem di hadapanku.
...[200 Level telah berhasil dikorbankan!]...
...[Jumlah Rebirth yang dilakukan telah bertambah 1]...
...[Anda telah mendapatkan 8 Growth Point!]...
...[Anda bisa menambahkannya ke Stats yang diinginkan!]...
“Huh? Apakah melakukan Ascension untuk menaikkan Growth terhitung sebagai Rebirth?” Tanyaku sendiri keheranan. Bagaimana lagi, nama skill itu saja berbeda! Meskipun, efeknya sama dengan Ascension yang memiliki nilai tukar yang lebih baik.
Aku dengan segera mengalokasikan 8 Growth Point yang ku peroleh.
3 Point akan pergi ke Stats Stamina. Bagaimana pun, aku telah merasakan pahitnya kehabisan Stamina Point. Aku tak ingin hal buruk itu terulang kembali.
Setelah itu, aku memberikan 2 Point ke Strength. Alasanku cukup sederhana yaitu meningkatkan kekuatan tubuh virtualku ini. Aku ingin menggunakan Skill [Amplify] dengan lebih nyaman. Ku harap peningkatan ini sudah cukup.
Sedangkan sisa 3 Point akan masuk ke Intelligence. Bagaimana pun, aku adalah seorang Summoner sekaligus juga seorang penyihir. Aku selalu membutuhkan Mana Point yang lebih banyak dan juga daya serang yang lebih tinggi.
Segera setelah aku selesai mengalokasikan 8 Growth Point itu, cahaya emas yang mengitari tubuhku seakan masuk ke dalam tubuhku. Jujur saja sebuah efek yang cukup indah jika kau bertanya padaku.
“Baiklah…. Sekarang, mari kita panen level lagi! Dengan jumlah musuh sebanyak itu, aku yakin akan kembali ke level 200 dalam sekejap!” teriakku percaya diri sambil kembali ke lantai 21 melalui lingkaran sihir teleportasi yang ada.
Aku segera memasuki sebuah ruangan di ujung lantai 20. Sebuah ruangan tahta dengan singgasana emas di ujung ruangan.
Sedangkan di hadapan singgasana itu nampak sebuah meja emas. Di atasnya terdapat sebuah buku berlapiskan besi. Sebuah buku kuno.... Tentu saja palsu. Itu hanya berperan sebagai pengecoh.
__ADS_1
Di sebelah singgasana itu, terlihat 4 orang yang sudah berdiri disana. Mereka nampak menanti sosok yang pantas duduk di singgasana emas itu.
“Selamat datang, Tuan Eric.” Ucap mereka semua sambil sedikit menundukkan kepalanya.
“Terimakasih. Bagaimana dengan persiapannya?” Tanyaku singkat kepada mereka semua.
“Seluruh persiapan telah matang. Semua perangkap mulai dari lantai 1 hingga lantai 20 dapat beroperasi dengan baik. Sedangkan seluruh Spawn Point yang berisi ratusan monster juga hanya menunggu datangnya para penyusup itu. Untuk harta, Anda bisa melihatnya sendiri.” Balas Lucien rinci.
Aku hanya mengangguk sambil melanjutkan langkah kaki ku menuju singgasana emas itu. Sesaat setelah aku duduk di atas singgasana itu, nampak jelas pemandangan harta yang begitu melimpah.
Koin emas, perlengkapan tingkap Epic hingga Unique mulai dari pedang hingga zirah, bahkan nampak beberapa permata dan aksesori kerajinan Tasmith yang begitu indah.
Jika orang awam melihatnya, mereka pasti akan menganggap semua ini merupakan artifak dan senjata suci. Tapi kenyataannya cukup jauh dari itu. Bagaimana pun, penampilan seluruh harta yang ada di sini sangatlah indah dan membutuhkan banyak sekali modal.
Aku tersenyum puas setelah melihat semua persiapan dan usahaku membuahkan hasil hingga mencapai titik ini.
‘Aku tak pernah menyangka, seorang pedagang monster menjadi seorang penguasa Dungeon? Hahaha…. Aku selalu ingin tertawa ketika mengingat diriku yang dulu.’ Pikirku dalam hati sambil memperhatikan harta di yang ada di hadapanku.
“Activate…. Far Seeing Eye!” Ucapku sambil mengarahkan lenganku di hadapanku.
[Far Seeing Eye]
Tipe : Trap
Konsumsi Mana : 200.000 pada saat di Install
Konsumsi Emas : 500 Koin Emas
Efek : Membuat sebuah mata yang mampu melihat dari jarak jauh. Hasil penglihatan akan diproyeksikan di hadapan pengguna Skill. Proyeksi berupa layar itu dapat diberikan kepada orang lain.
Batasan : Hanya dapat dipasang dan digunakan pada tempat dengan status Dungeon.
Seketika, muncul sebuah layar hologram yang menampilkan pemandangan di lantai satu. Tidak berhenti sampai di sana, aku juga mengaktifkan beberapa Far Seeing Eye lainnya di lantai 1 dan kuberikan kepada Lucien dan Oliver.
Tujuannya adalah untuk memantau pergerakan para pasukan penjajah Dungeon ini.
Skill ini merupakan sebuah Skill yang kuperoleh saat teknik Dungeon Mastery milikku meningkat. Tentu saja, aku masih memiliki skill baru lainnya.
Sedangkan efek khusus dari Dungeon Treasure?
...[Dungeon akan di reset dari seluruh kerusakan dan kematian monster yang ada di dalamnya setiap hari!]...
...[Dungeon memiliki status selayaknya Dungeon alami!] ...
...[Pemilik Dungeon dapat melakukan editing terhadap Informasi Dungeon!]...
__ADS_1
...[Otoritas Dungeon dapat dibagikan dengan orang lain]...
...[Perolehan EXP dari membunuh penjajah akan meningkat sebesar 100%]...
...[Dungeon akan terlihat lebih indah dan meningkatkan daya tarik bagi semua orang!]...
Bukan efek yang luarbiasa, tapi setidaknya kerusakan di pihakku akan sebesar 0 karena Dungeon ini akan di reset setiap harinya. Oleh karena itu, aku sangat puas dengan hasil ini. Terlebih lagi efek kedua yang membuat Dungeon ini seperti Dungeon alami.
Tak hanya itu, kemampuan untuk membagikan otoritas Dungeon sangatlah penting. Aku telah membagikannya kepada Elin untuk mengatur informasi Dungeon dan juga membuat gosip soal keberadaan Dungeon ini.
“Informasi Dungeon yang terlihat bagi orang lain….” Ucapku pada diriku sendiri sambil mengotak-atik jendela menu yang ada di hadapanku.
...[Treasure!]...
...[Dungeon Treasure]...
...[Boss : Tidak Diketahui]...
...[Rekomendasi Level : 80]...
...[Rekomendasi Party : Tidak Diketahui]...
...[Hadiah]...
...[500.000 Koin Emas]...
...[Peti Berlian]...
...[Artifak Kuno]...
...[Buku Kuno]...
...[Random Unique Skill]...
“Eh?! Apa-apaan informasi yang menyesatkan ini?! Hahaha!!!” Aku tertawa keras setelah melihat informasi yang ada di hadapanku.
Wajar saja karena mulai dari rekomendasi level hingga hadiah yang akan diperoleh ketika menaklukkan Dungeon sama sekali tidak masuk akal.
Sebagai permulaan, jebakan yang ada di lantai 1 dengan susunan tempat yang sederhana itu saja bisa memberikan lebih dari 20.000 damage.
Itulah jebakan dari [Bomb] yang akan meledak ketika Player menginjaknya. Tak hanya itu, masih banyak jebakan lain yang tak kalah mematikan. Bahkan itu belum menghitung monster yang akan menyergap mereka!
Sungguh, suatu informasi yang sangat menyesatkan. Bahkan aku belum selesai tertawa terbahak-bahak hingga saat ini.
“Hahaha…. Mereka semua…. Aku harap mereka semua tidak membuat harapan yang terlalu tinggi. Yah, meskipun mereka tak akan pernah bisa menaklukkan Dungeon ini tanpa seizinku.” Ucapku pada diriku sendiri.
__ADS_1
Oliver, Lucien, Tasmith dan Liz yang berdiri di sampingku nampak sedikit kebingungan dengan sikapku yang tertawa dan berbicara pada diriku sendiri.
“Tuanku, apakah kau baik-baik saja?”