The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 249 - FFA PvP 2


__ADS_3

"Hadirin sekalian! Kompetisi yang paling dinanti dan juga yang paling terakhir, akan segera dimulai! Apalagi jika bukan Free For All PvP!" Teriak sang pembawa acara dengan penuh semangat.


Total 4.000 pemain yang telah terseleksi dan mengikuti Free For All PvP ini telah bersiap di dalam stadion raksasa ini. Kapsul dalam jumlah yang sama banyaknya berjejer rapi, menunggu untuk pemain yang ada di sebelahnya untuk memasukinya.


Tak hanya itu, seluruh penonton yang memutuskan untuk menjadi 'Supporter' akan bersiap untuk memilih pemain dukungan mereka.


Di bangku ruangan Supporter VIP yang berada di dunia virtual ini, terlihat banyak orang yang duduk dengan rapi melihat beberapa monitor besar.


Hal ini dilakukan agar penonton dapat menyaksikan pertandingan secara Real-Time dan tidak ketinggalan sedikitpun. Maka dari itu, menontonnya secara langsung dari dunia virtual adalah jawabannya.


"Bagaimana menurutmu?" Tanya seorang Pria tua yang mengenakan setelan bangsawan dan berkumis putih itu. Ia terlihat sedang meneguk sebuah minuman berwarna merah tua yang terlihat begitu nikmat.


"Aku rasa Angie yang akan memenangkan pertandingan ini." Balas wanita yang mengenakan gaun merah itu.


"Angie ya? Bagaimana menurutmu dengan kandidat yang lain?"


"Tak ada kesempatan melawan jenius itu. Aku akan memberikan semua dukunganku kepada Angie." Balas wanita pirang bergaun merah itu.


Lisa yang duduk di belakang mereka dengan mengenakan setelan pakaian pantai, atau lebih tepat disebut dengan pakaian renang itu nampak sedikit kesal.


'Orang-orang ini.... Apakah terlalu meremehkan Tuan Erik? Tidak.... Sepertinya ini memang sesuai dengan perkataan Tuan Erik. Kekalahannya di PvP akan menurunkan dukungan kepadanya secara drastis. Dengan begitu keuntungan yang masuk jika menang....'


Lisa terus memikirkan hal itu sambil mengamati monitor besar yang ada di dinding, sambil sesekali melihat melalui tablet hologramnya.


Tapi tanpa di sangka....


'Pak!'


Seseorang menepuk pundak Lisa dengan cukup keras. Secara refleks, Lisa segera membalik badannya dan melihat siapa orang itu.


"Yo, Lisa. Semuanya baik-baik saja?" Sapa wanita yang tak terlalu tinggi, serta memiliki rambut merah yang pendek itu.


"Nyo-Nyonya Elin?! Kenapa kau ada di sini?! Bukankah Tuan Erik bilang bahwa...."


"Psssttt! Aku tak mau terlalu menarik perhatian orang. Lagipula, rasa mual itu takkan begitu buruk jika aku hanya duduk diam. Setidaknya aku bisa menahan jika hanya setingkat ini." Balas Elin memotong perkataan Lisa sambil menutupi wajahnya dengan jubah abu-abu itu.


Pada akhirnya, Lisa mau tak mau harus bisa menerima keadaan ini.


"Nyonya Elin. Mengenai peluang kemenangan Tuan Erik....'


"Aku tak tahu. Tapi kita harus mendukungnya sebaik mungkin. Lagipula.... Dia bukan lagi orang yang sama seperti sebelumnya, yang terkurung dalam belenggu sihir." Balas Elin sambil tersenyum tipis.


Lisa sama sekali tak memahami apa maksud dari perkataan Elin. Hal yang wajar karena Lisa hanya bermain Re:Life untuk melepas stress dengan berenang di sungai atau laut, serta menghubungi Erik jika diperlukan.


Status? Equipment? Strategi? Meski sedikit mengetahuinya, Lisa bukanlah ahli dalam hal itu.


Mengabaikan kebingungannya sendiri, akhirnya Ia memutuskan untuk mempercayakan segalanya kepada Elin.


Pada saat itulah, pertandingan dimulai.


Penonton yang melihat pertandingan dari balon udara raksasa yang menyerupai pesawat ini duduk dengan tenang sambil sesekali melihat secara langsung melalui jendela.


4.000 pemain yang telah Log In, kini tersebar ke seluruh wilayah pulau dengan ukuran yang cukup besar serta beberapa zona itu. Zona awal kedatangan Player telah di setting agar tidak bertemu dengan monster berlevel tinggi.


Tak ada satu pun Player yang berdekatan satu sama lain. Setidaknya, mereka akan berjarak sejauh 5 kilometer antara satu player dengan yang lainnya.

__ADS_1


Termasuk Erik.


...***...


...Pulau Kompetisi...


...Wilayah Timur...


...Dekat dengan Pantai...


'Wuooosshh.... Wuooosshh....'


Suara ombak yang menerpa bibir pantai ini terdengar begitu nyaman di telinga. Sedangkan pemandangan pohon kelapa yang bergerak kesana kemari karena terpaan angin, sudah cukup untuk memperdaya siapapun yang melihat keindahannya.


Tapi semua itu tak berguna di hadapan Pria berambut hitam dan bermata agak kemerahan ini.


"Sialan, memikirkan mengenai skenario terburuk.... Aku benar-benar berada di sisi terluar pulau? Kalau begini rencana Farming serta Levelingku akan terganggu. Aku harus segera pergi. Ah tunggu." Ucap Eric pada dirinya sendiri sambil menghentikan larinya.


Setelah beberapa saat terdiam dan menoleh kesana kemari, Ia akhirnya melihat sesuatu.


"Aku tarik kembali perkataanku. Aku sangat beruntung datang di sini!" Teriak Eric sambil tersenyum begitu lebar.


Di kejauhan, Ia melihat sebuah kapal yang berukuran kecil menabrak sebuah batu. Memang peluangnya tak terlalu besar untuk memiliki harta di dalamnya jika ini adalah dunia nyata.


Tapi di dalam sebuah game?


Tentu saja peluangnya cukup besar!


"Biarkan semua pedagang selesai menjual buahnya!" Teriak Eric dengan cukup keras sambil menatap ke arah kamera hologram yang mengikutinya.


"Hmm? Apa yang dia maksud?"


"Entahlah. Aku sama sekali tak memahami perkataannya."


"Hah.... Aku pikir mendukung Erik bisa saja menjadi keputusan yang tepat. Tapi kurasa, Angie atau Miyamoto jauh lebih cocok untuk menerima dukunganku. Aku tak jadi mendukungnya."


"Aku setuju denganmu."


Beberapa orang nampak mulai menggumamkan berbagai hal setelah melihat dan mendengar teriakan Erik.


Di bangku belakang, terlihat sosok dua orang wanita yang tersenyum puas.


'Kau benar-benar gila, Erik!'


Mereka adalah Elin dan juga Lisa yang memahami maksud dari perkataan Erik.


Pada intinya, Erik meminta agar mereka berdua tidak mendukungnya terlebih dahulu.


Jika Erik yang terkenal cukup kaya itu tak memperoleh dukungan bahkan dari para bawahannya, maka semua penonton akan berpikir dua kali untuk mendukung Erik. Terlebih lagi melihat kekalahan mutlak pada saat Erik melawan Angie.


Berdasarkan dari sistem hadiahnya, hanya pemain yang memenangkan kompetisi ini dan juga orang yang mendukungnya saja yang akan memperoleh hadiah.


Dengan kata lain, mendukung Erik yang pastinya akan dikalahkan oleh Angie adalah tindakan yang bodoh.


Tapi justru itulah yang diincar oleh Erik.

__ADS_1


Ia mengharapkan tak ada satu orang pun yang mendukungnya hingga batas dukungan ditutup yaitu setelah 12 jam berlalu di dunia game.


Sedangkan batas awal hingga dukungan bisa dilakukan yaitu 6 jam setelah pertandingan dimulai.


Pembatasan waktu ini dibuat agar penonton tidak mendukung pemain yang jelas-jelas akan memenangkan permainan ini. Termasuk juga agar pemain yang baru saja memulai tidak memperoleh keuntungan berlebih karena besarnya dukungan yang diterima. Bisa dikatakan agar pemain yang tak memiliki pendukung juga bisa bertahan di fase awal pertandingan ini.


Dengan begitu, semua hadiah baik pemenang pemain ataupun pendukung akan dikuasai olehnya.


Tentu saja, itu jika Ia bisa memenangkan pertandingan ini.


Kembali ke pulau kompetisi....


'Tap! Tap!'


Seorang wanita berambut pirang nampak menekan menu sistemnya untuk melihat sesuatu.


[Angie]


[Ras : Manusia]


[Level : 1]


Health Point : 35


Mana Point : 10


Stamina Point : 12


Attack Power : 1


Magic Power : 1,25


Defense : 0,5


[Status]


STR : 1


AGI : 1


INT : 1


VIT : 1


STA : 1


DEX : 1


[Stats Point Tersedia : 10]


[Catatan Khusus Developer]


Sistem Growth telah dihapus dan digantikan dengan alokasi poin yang diperoleh ketika level up. Setiap naik level, akan memperoleh 10 status poin dan juga 2 talent point.


"Menghapus sistem Growth ya? Lalu menggantinya dengan distribusi manual? Menarik!" Ucap wanita pirang bernama Angie itu sambil tersenyum puas.

__ADS_1


Kini, pertarungan sengit antar semua pemain di sebuah panggung yang cukup adil akan segera dimulai.


__ADS_2