The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 45 - Dungeon Orc 2


__ADS_3

“Ugh! Sialan! Kenapa Orc ini begitu kuat?!” Teriakku saat melawan mereka.


Aku menggunakan Mana Orb yang diberikan oleh Luna dulu sebagai senjata utamaku. Seranganku? Tentu saja dengan menggunakan sihir.


“Windtalk! Lightning Strike!”


‘Duar.’


Suara ledakan kecil terdengar setelah aku melontarkan sihir petirku.


Tapi dibalik asap yang muncul dari ledakan itu, Orc dengan tubuh besar dan berotot itu masih nampak begitu sehat. Kulitnya yang berwarna abu-abu kecoklatan serta ada sedikit corak hijau bahkan belum meneteskan darah sedikitpun.


“Sialan! Bisakah kau segera mati?!”


Orc itu melaju ke arahku sambil mengayunkan pedang besarnya ke arahku. Aku mampu menghindari sebagian besar serangannya. Meskipun, setiap kali terkena serangan damage yang kuterima cukup fatal.


[Anda telah menerima 1.419 damage!]


“Uh…. Tuan Eric. Apakah kami perlu membantu Anda?” Tanya Oliver kepadaku.


“Kalian diam saja! Orc ini adalah rivalku! Aku harus menang disini!” Teriakku terhadap mereka.


“Ah, maafkan kami!” Jawab mereka dengan berlutut.


Meskipun semangatku berapi-api, kemampuanku tak mampu membandinginya. Benar saja, diriku yang masih level 16 ini jelas tidak mampu mengalahkan Orc dengan level 47 hanya berbekalkan semangat saja.


Pada akhirnya, setelah perjuangan selama 20 menit melawan Orc yang bahkan hanya menjaga jalan masuk ke dungeon serta menghabiskan 12 botol Health Potion, aku menyerah.


Oliver memukul Orc itu dengan tangan kosong. Setelah menerima pukulan Oliver, Orc itu mati seketika.


‘Sialan…. Bukankah Oliver terlalu kuat?’ Pikirku dalam hati.


Setelah mengalahkan Orc itu, Oliver berlutut di hadapanku dan menyarankan sesuatu.


“Tuan Eric. Bagaimana jika Anda berlindung di belakang dan biarkan kami yang mengalahkan mereka untuk sementara waktu? Dengan demikian Anda dapat memperoleh kembali kekuatan Anda yang hilang dengan lebih cepat.” Jelas Oliver.


Ya, aku sudah menceritakan semua kepadanya. Oliver nampaknya memahami konsep level dengan baik dan kehilangan level bukanlah segalanya. Ia juga paham mengenai konsep Party dan hubungan antara Tuan dan Panggilan.


Dengan kata lain, Oliver memahami jika aku hanya berlingdung di belakang mereka aku akan memperoleh EXP. Benar-benar kecerdasan yang mengerikan.


Bahkan tidak sampai 30 menit.


“Eh? Kita sudah didepan ruang Boss?” Tanyaku terkejut.


“Ya, Tuanku. Bossnya merupakan seekor Orc Lord dengan level mencapai 60. Saya mohon untuk berhati-hati.” Jelas Oliver.


Goblin Warior dan Shaman yang ikut berperan untuk menjagaku dari sesuatu yang tak diduga, sementara Oliver berperan menjadi damage dealernya. Sedangkan aku berperan sebagai Leecher atau hanya mencuri EXP yang diperoleh dari mengalahkan monster.


Meskipun aku duduk santai di dalam kota dungeon, aku juga akan memperoleh EXP dari setiap panggilanku yang mengalahkan monster. Jujur saja aku mulai memahami betapa overpowernya skill Summoner ini.


“Mari kita mulai, Tuan Eric!” Teriak Oliver sambil memegang pedang besar di tangan kanannya dan memasuki ruangan boss itu.


“Siapa yang berani mengganggu diriku, Orc Lord yang a….”


[Boss Dungeon telah dikalahkan!]


[10 koin emas telah dijatuhkan oleh Orc Lord]

__ADS_1


[Sebuah peti perunggu telah dijatuhkan oleh Orc Lord]


[Anda memperoleh 117.610 Experience Point!]


[Anda telah naik level!]


[Anda telah naik level!]


[Anda telah naik level!]


[Anda telah….]


Meskipun banyak notifikasi yang muncul di hadapanku, wajahku sangat datar. Tidak, aku sedikit kesal akan situasi ini.


Bagaimana tidak, bahkan boss dungeon belum menyelesaikan kalimat pembukanya! Ia langsung mati dalam sekali tebasan yang diberikan oleh Oliver. Aku pun memandangi Oliver dengan mata sipit karena iri akan kekuatannya.


‘Sialan! Bukankah skill ini terlalu kuat hingga aku tidak memiliki peran apapun?’ Pikirku dalam hati.


‘Tunggu….’


Sesaat setelah melihat aksi Oliver, aku jadi paham mengenai jati diriku. Ya, aku adalah seorang Summoner.


Aku bukanlah seorang pendekar pedang yang hebat. Aku juga bukan seorang penyihir yang agung. Apalagi seorang pertapa bijak.


Aku adalah seorang Summoner. Seorang pemanggil.


Jika aku ingin bertambah kuat, bukankah aku hanya perlu memanggil banyak bawahan yang kuat dan membiarkan mereka bertarung untukku?


Tentu saja aku masih perlu meningkatkan kekuatanku untuk situasi yang kurang baik. Tapi inilah aku.


Aku yang masih tenggelam dalam pikiranku sendiri tidak menyadari Oliver yang sejak tadi memanggilku.


“Hah? Apa itu?” Tanyaku curiga.


“Ada sebuah retakan di dinding ruangan ini.” Jawab Oliver sambil menunjuk ke arah dinding yang retak.


“Dinding yang retak bukanlah hal yang aneh Oliver. Memangnya apa yang….”


‘Duaaarr!!!’


Suara benturan keras terdengar dari arah dinding itu.


‘Eh? Apa ini?’


Dengan segera aku memerintahkan ketiga goblin yang ada disisiku untuk bersiap akan apapun yang muncul dari balik dinding itu.


“Oliver! Ambil posisi depan bersama dengan Goblin Warior ini. Shaman! Kau bersamaku untuk melawan musuh dari jarak jauh!” Teriakku dengan tegas.


“Siap! Tuanku!” Jawab mereka bersamaan.


‘Duaaarr!!!’


‘Duaaarrrrr!!!’


‘Duaaarrrrrr!!!’


‘Kira-kira apa yang akan muncul dari balik dinding itu? Apakah Boss dari dungeon ini? Tidak, bukankah sistem sudah menyebutkan bahwa boss dungeon ini telah mati?’ Pikirku kebingungan saat melihat retakan pada dinding itu semakin melebar.

__ADS_1


Hingga pada akhirnya.


‘Duaaaaarrrr!!!’


Dinding itu runtuh dan dibaliknya muncul sesosok monster. Monster yang membuat diriku sedikit nostalgia akan masa laluku.


[Minotaurus]


Rarity : ???


Level : ???


Di bagian leher minotaurus yang muncul itu, terdapat sebuah kalung besi. Ya, kalung besi tempat kunci yang pernah kucuri berada.


“D-dia! Bagaimana dia bisa sampai di sini?!” Teriakku melihat sosoknya.


Tubuhnya yang pada saat itu hanya setinggi 3 meter kini telah bertambah besar hingga menyentuh langit-langit ruangan ini. Mungkin saat ini tingginya mencapai 7 meter. Kapak besar yang Ia gunakan dulu terlihat seperti mainan karena tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya yang besar itu.


Zirah besi yang Ia kenakan telah hilang mungkin karena tidak muat dengan tubuhnya. Yang tersisa hanyalah sejenis kulit hewan yang digunakan sebagai pelindung tubuhnya.


“Hah? Level tidak diketahui? Rarity juga? Apa-apaan ini?” Teriakku kebingungan.


Oliver dan 2 goblin lain segera memahami situasinya. Monster yang muncul di hadapan mereka bukanlah monster sembarangan. Hanya melihat dari ukuran tubuhnya saja semua orang pasti tahu bahwa minotaur ini sangat kuat.


“Tuanku. Segera kabur dan tutup pintu masuk ke dungeon ini. Kami bertiga akan mengulur waktu.” Ucap Oliver dengan wajah yang sangat serius. Di tangan kanan Oliver terdapat pedang dengan ukuran yang cukup besar. Sedangkan di tangan kirinya terdapat api yang berkobar.


Goblin Warrior yang sebelumnya berdiri di samping Oliver, kini telah berdiri didepan. Bersiap untuk mengorbankan dirinya demi Raja mereka. Goblin Shaman telah melantunkan mantra untuk mengeluarkan sihirnya.


Tak ingin ditinggalkan begitu saja, aku juga segera menggunakan satu-satunya sihir serangan yang aku miliki.


“Lightning Strike.”


Tapi aku tidak segera melepaskannya. Aku menahannya di tanganku untuk melihat situasi terlebih dahulu.


Kenyataannya….


Semua sudah terlambat.


Meskipun dengan tubuh sebesar itu, Minotaur itu mampu bergerak dengan sangat cepat. Jika dibandingkan, mungkin secepat gerakan Elin.


‘Ttraaaangg!!’


Suara benturan antara kapak yang digunakan oleh minotaur itu dengan pedang besar milik Oliver terdengar begitu nyaring. Tanah disekitar tempat mereka berbenturan hancur lebur akibat tekanan yang kuat. Goblin Warrior yang seharusnya melindungi Oliver justru terlempar cukup jauh.


Begitu juga denganku dan Goblin Shaman yang ada di sebelahku.


“Apa yang sebenarnya terjadi disini?!” Teriakku melihat situasi ini.


...___________________________________...


...[Sebelum lanjut membaca]...


...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...


...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...


...[Tak ada ruginya bagi kalian]...

__ADS_1


...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...


__ADS_2