The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 258 - FFA PvP 11


__ADS_3

Suatu hal yang jauh diluar dugaan semua penonton segera terjadi.


Tiga orang kandidiat yang digadang-gadang mampu bertahan hingga sepuluh besar itu, justru bertemu di hari ke tiga ketika pertandingan masih dalam babak pertengahan akhir.


Ketiga orang itu tentu saja Eric, Angie dan juga Robert.


Di satu sisi, Eric menganggap Robert yang terdiam diri di tempat itu adalah sasaran yang empuk.


Sementara itu, Angie menganggap bahwa Robert harus segera disingkirkan karena pertumbuhan kekuatannya yang melampaui nalar bahkan dirinya sendiri.


Pada saat itulah...


"Arrow Rain!" Teriak Eric dengan keras sambil melompat ke udara. Incarannya sangat mantap yaitu tubuh Robert yang bahkan belum bergerak sedikitpun sejak menerima tembakan mematikan Eric barusan.


Ratusan anak panah yang seakan terbuat dari cahaya itu melesat ke arah Robert. Tapi Ia sama sekali tak berusaha untuk menghindar dan justru mengeluarkan sebuah perisai dengan ukuran yang sangat besar.


Dengan suara yang lirih, Ia mengeluarkan sebuah skill Tanker yang sangat sederhana.


"Block."


Ratusan anak panah itu seketika terpental ketika mengenai perisai itu. Tak ada damage yang berhasil diberikan oleh Eric.


Tak ingin melepaskan kesempatan emas ini, Angie yang telah mengisi dua buah peluru ke dalam Magic Gun miliknya telah berada tepat di belakang punggung Robert.


"Mati kau!" Teriak Angie dengan kuat sambil menarik pelatuknya.


'Duaaaaarrrr!'


Ledakan dari pistol yang sangat kuat itu seharusnya mampu melubangi kepala Robert.


Tapi apa yang terjadi sebenarnya adalah Angie yang menembak udara, serta dirinya yang menerima hujan panah dari Eric.


'Sreeeettt!'


Di kejauhan, terlihat sosok Robert yang terlempar cukup jauh. Meski begitu, Ia bersikap cukup tenang sambil membersihkan debu di tubuhnya.


"Kau lama sekali, Rose. Apa saja yang kau lakukan selama dua hari ini?" Tanya Robert sambil tetap menjaga pandangannya ke arah Angie.

__ADS_1


Dari langit, terlihat sosok perempuan berambut kecoklatan yang seakan turun dari langit dengan menggunakan sapu terbangnya.


"Maafkan aku, Robert. Tapi mencarimu di pulau yang luas ini sekaligus melakukan leveling adalah hal yang mustahil. Bersyukurlah aku tiba tepat waktu." Balas wanita bernama Rose itu.


Ia adalah seorang pemain yang berdarah Eropa yang justru sangat jarang terlihat.


Meski begitu, performanya dalam kompetisi ini sangatlah luarbiasa.


Ia bahkan telah menduduki peringkat ke tiga sebagai pemain dengan level tertinggi meski menghabiskan hampir 70% waktunya untuk terbang kesana kemari demi bergabung dengan Robert.


"Baiklah, sekarang karena kita telah bersama... perlukah membasmi dua ekor nyamuk yang mengganggu ini?" Tanya Robert dengan wajah tanpa ekspresinya itu.


"Tentu saja. Memastikan kemenangan adalah perintah mutlak dari Tuan William."


Di sisi lain, Eric yang telah bergegas menyembunyikan dirinya di balik bayangan pepohonan itu merasa ngeri melihat tiga orang yang ada disini.


'Haruskah aku kabur? Atau mempersiapkan diri untuk membunuh salah satu dari mereka? Lagipula, kenapa bisa ada pistol di dunia game ini?!'


Sebelum sempat menyelesaikan kebingungannya, Angie melangkah mendekati pepohonan yang cukup rimbun itu dan berkata.


Ia sama sekali tak bisa melihat keberadaan Eric karena kemampuan bersembunyi dan juga kamuflase Eric telah berada di tingkat yang sangat tinggi. Meski begitu, Ia menyadari apa yang baru saja terjadi.


Harapan kecil yang ada di hatinya, adalah membunuh Robert sebelum Ia menjadi tak terkalahkan.


Mendengar tawaran dari Angie, Eric sempat ragu.


Bagaimana jika beberapa saat kemudian Angie akan menusuknya dari belakang? Melawan Pria pengguna pedang itu saja sudah sangat merepotkan. Jika memanfaatkan momen pertarungan yang sengit, maka Angie dapat dengan mudah membunuh Eric.


Seakan menyadari keraguan di hati pemanah itu, Angie kembali berbicara sambil terus memperhatikan Robert dan juga wanita penyihir yang nampaknya masih sibuk membagi item itu.


"Jika aku mengkhianatimu di sini, maka aku sendiri akan mati. Dan itu adalah hal terakhir yang aku inginkan di kompetisi ini. Maka dari itu, tenanglah. Kita bisa bertarung dengan adil setelah membereskan mereka."


Eric akhirnya sependapat dengan perkataan Angie dan melepaskan skill kamuflase beserta stealth miliknya.


"Baiklah. Aku akan menerima saranmu itu, Angie." Ucap Eric sambil memperlihatkan dirinya secara perlahan.


"Huh? Eric? Apa itu kau? Kenapa kau menggunakan busur dan panah?" Tanya Angie dengan senyuman yang tak terbendung.

__ADS_1


"Ceritanya akan panjang. Sekarang, bisakah kau membantuku menjaga jarak? Aku akan mencari sekaligus membuatkan celah untukmu." Balas Eric sambil melirik ke arah Angie.


Angie segera memasukkan Magic Gun miliknya yang telah terisi dua buah peluru itu ke dalam Inventorynya, lalu segera mengeluarkan sebuah tombak besi tingkat normal.


"Tenang saja, aku akan membuatnya sibuk selama mungkin! Kau cukup membantuku dari belakang sambil berusaha membunuh penyihir itu. Kau siap?"


Dengan anggukan, kedua orang itu pun akhirnya melakukan gencatan senjata dan membentuk aliansi sementara.


Sebuah aliansi, yang akan dikenang dalam sejarah pertarungan PvP untuk waktu yang sangat lama.


...***...


...Ruang penonton VIP...


"Hmm.... Nampaknya Tuanmu itu akan segera kalah dalam pertandingan ini. Perjuangannya sudah cukup bagus, tapi takkan bisa menghentikan kami." Ucap William sambil memperhatikan layar hologram besar yang ada di bagian depan.


Lisa yang masih dibingungkan dengan kondisi ini segera berbicara.


"Aku tak bisa membuat keputusan semacam itu tanpa persetujuan Tuan Eric. Tidakkah kau memahami hal itu?"


"Tentu saja aku paham. Lagipula, Eric akan segera Log Out setelah ini dan kita bisa membicarakan bisnis kecil ini nanti. Kalau begitu, sampai jumpa lagi Nona Cantik."


Lisa yang mendengar hal itu merasa jijik dan ingin muntah. Tapi Ia menyadari bahwa ekspresi wajah sangatlah penting dalam berbisnis. Maka dari itu, Ia terus menekan wajahnya untuk tetap datar tak mengeluarkan ekspresi sedikitpun.


'Wanita yang tangguh. Aku penasaran bagaimana Eric bisa memperoleh orang-orang sehebat itu? Ah, tak penting. Lagipula sekarang.... Tunggu?!'


Robert yang hendak pergi merasa sangat terkejut setelah melihat apa yang ada di balik layar itu.


Sosok dua orang pemain, Pria berambut hitam dan bermata merah serta seorang Wanita berambut pirang dengan paras yang sangat ideal itu, berdiri berdampingan.


Sebuah kejadian yang seharusnya sangat mustahil mengingat hubungan mereka berdua yang seharusnya sangat buruk.


Di satu sisi yaitu Angie yang hanya berbekal tombak tingkat normal dan level 121 itu seakan tak gentar sama sekali menghadapi lawannya.


Sedangkan di sebelahnya, seorang pemain yang bahkan baru fokus untuk menggunakan panah beberapa saat yang lalu nampak begitu percaya diri. Levelnya yang hanya mencapai 118, serta perlengkapan tingkat menengah yang bisa dijumpai dimana saja itu seakan telah lebih dari cukup baginya untuk menghadapi dua orang monster yang ditempa sangat keras oleh Eropa.


Pertarungan epik yang akan menjadi penentu pertandingan ini pun segera dimulai.

__ADS_1


__ADS_2