The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 254 - FFA PvP 7


__ADS_3

Setelah menunggu selama beberapa jam, si tua Jefra segera mengangkat sebuah senjata yang seharusnya tak pernah ada di dunia ini. Sebuah senjata yang bahkan membuat para Developer mempertanyakan mengenai tingkat kecerdasan para AI tingkat tinggi yang ada di dunia virtual itu.


"Akhirnya sudah jadi. Cobalah gunakan ini." Ucap Jefra sambil menyerahkan senjata itu kepada Angie.


"Terimakasih banyak. Aku akan selamanya...."


"Tak perlu berhutang budi padaku. Aku hanya ingin membalas kebaikan yang kau berikan kepada wanita tua bangka yang menyebalkan ini." Ucap Jefra sambil melirik ke arah Miria.


"Apa kau bilang?!"


Menghiraukan semua perdebatan antara Jefra dan juga Miria, Angie segera mencoba senjata itu.


Senjata itu memiliki wujud seperti pistol dengan dua laras yang cukup panjang dari baja tempa. Sedangkan gagangnya terbuat dari kayu Oak yang begitu indah dan halus.


Model penggunaan senjata ini yaitu harus melakukan isi ulang peluru yang dimasukkan dari bagian tengah antara gagang dengan laras pistol itu.


Pengguna dapat menembakkan satu atau dua peluru sekaligus.


Tenaga yang digunakan untuk menembakkan peluru baja itu berasal dari [Explosion Rune] yang ditanamkan dalam pangkal pistol itu.


Ketika pengguna menarik pelatuk yang ada, maka pengguna akan mengaktifkan Rune itu dengan biaya Mana Point milik mereka. Ledakan yang terjadi akan melontarkan peluru baja itu yang kemudian bisa dipercepat dengan [Lightning Rune] yang ada di sepanjang laras pistol itu dengan mengatur daya keluaran melalui lingkaran yang ada di atas laras pistol itu.


Angie segera memasukkan dua buah peluru baja ke dalam pistol itu. Ia lalu mengatur keluaran daya dari [Lightning Rune] sebesar 10%. Sehingga jika dijumlahkan dengan [Explosion Rune] maka pengguna harus menghabiskan 800 Mana Point untuk meledakkan dan 200 Mana Point untuk mempercepat pelurunya.


Saat Angie menekan pelatuk itu dan mengarahkannya ke dinding goa ini....


'Duaaaaarr!'


Dua buah peluru baja yang runcing itu melesat dengan sangat cepat hingga menghancurkan dinding goa itu.


Miria dan juga Jefra yang sedang sibuk berdebat segera teralihkan oleh betapa kerasnya suara ledakan yang terdengar beserta daya hancur yang diciptakan.


"Memang aku sendiri yang membuatnya tapi aku tak pernah menyangka bahwa akan menjadi sekuat itu. Berapa persen daya yang kau keluarkan barusan?" Tanya Jefra penasaran.


"Baru 10%." Balas Angie singkat.


Mendengar hal itu, Jefra nampak sangat puas dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sedangkan Angie? Ia berpamitan kepada Nyonya Miria dan juga Sang Penempa Jefra lalu segera bersiap untuk menghabisi semua pemain yang mengikuti kompetisi FFA PvP ini.


Bersama dengan senjata barunya, Ia sangat yakin takkan bisa kalah oleh siapapun. Terlebih lagi jika Ia berhasil memperoleh berbagai senjata lain untuk meningkatkan fleksibilitasnya serta menaikkan levelnya setinggi mungkin.

__ADS_1


[Magic Gun]


[Rarity : Legendary]


[Gear Level : Unknown]


[Atribut]


Dual Damage : Menghasilkan damage Physical dan juga Magical pada saat yang bersamaan.


Physical Damage : 6.000 - 48.000 tiap Peluru


Magical Damage : 4.000 - 32.000 tiap Peluru


Meskipun tidak memberikan tambahan status poin, Angie sangat yakin bahwa senjata ini dapat membuatnya mengunci kemenangan ketika bertarung dengan lawannya.


Akan tetapi terdapat satu masalah.


"Aku hanya memiliki 40 peluru baja tempa ini. Apakah aku bisa meminta pandai besi lain untuk menempakannya untukku? Aku akan cari tahu lain waktu. Sekarang...."


Pada saat itu juga, Angie segera berlari dengan cepat ke arah sebuah lembah. Dari kejauhan terlihat sebuah pemukiman yang dibangun di tepi lembah itu. Ia ingin mencari lebih banyak Quest Rahasia yang mungkin tersimpan di pulau kompetisi ini sekaligus untuk menaikkan level.


Ia segera memasukkan pistolnya itu ke Inventory karena merasa akan sangat buruk jika lawannya mengetahui hal itu. Sedangkan senjata yang akan Ia gunakan yaitu sebuah tombak yang diperolehnya ketika melawan para pemain yang berniat untuk memburunya.


...***...


"Hah?! Butuh uang sebanyak ini?! Kenapa aku harus mencari uang virtual di tengah-tengah kompetisi ini?!" Teriak Eric dengan kesal setelah mengetahui betapa mahalnya biaya yang diperlukan untuk semua permintaannya.


"Maafkan aku kawan, tapi memang seperti inilah ketentuannya."


Eric dengan segera memutar otaknya secepat mungkin agar bisa keluar dari situasi yang tak hanya buruk tapi juga memalukan ini.


Pada saat Ia mencoba melihat Inventory miliknya yang dipenuhi oleh sampah dari hasil buruannya seharian itu, Ia mulai terpikirkan suatu hal.


"Aku.... Apakah aku bisa menjual ini untuk mencari uang?" Tanya Eric kepada salah satu pegawai pandai besi itu sambil mengeluarkan cangkang kepiting raksasa dari Inventorynya.


"Kawan, apakah kau sudah kehilangan akal? Tentu saja bisa. Semua petualang mencari uang dengan menjual hasil buruannya. Aku heran, bagaimana caramu bertahan hidup hingga hari ini tanpa mengetahui hal sesederhana itu?"


Perkataan sang pegawai pandai besi itu benar-benar memberikan damage yang sangat besar kepada Eric. Bagaimana tidak, serangan itu bahkan melampaui batasan dari sistem dan langsung menyerang tepat di hati Eric.


Tapi demi memperlancar usahanya, Eric menjerumuskan dirinya sendiri ke jurang kematian dengan bertanya.

__ADS_1


"To-toko mana yang mau membeli barang-barang yang dijatuhkan oleh monster ini?"


Tak hanya pegawai yang ada di hadapannya, seluruh pandai besi beserta petugas kebersihan dan kurir yang mendengarnya langsung memasang wajah datar yang seakan tak mempercayai apa yang baru saja mereka dengar.


Tak lupa, sebuah pertanyaan sederhana juga terlontar dari mulut mereka.


"Kau.... Bagaimana caramu bisa hidup hingga hari ini?"


...***...


Di ruangan penonton VIP.


Terlihat seorang wanita berambut hitam dengan pakaian ala penyihir itu sedang membisikkan suatu hal kepada Pria tua dengan rambut dan jenggot yang sudah putih itu.


Lisa yang melihat hal itu merasa sedikit keheranan. Sedangkan Elin? Ia telah lama meninggalkan dunia virtual ini karena kondisi kesehatannya yang mulai melemah, dan menyerahkan segalanya kepada Lisa.


'Pria tua itu.... Bukankah dia yang sejak awal meletakkan semua uangnya kepada Robert?' Pikir Lisa dalam hari.


Ia menyipitkan matanya sebagai upaya untuk melihat tingkah mereka dengan lebih jelas. Tapi semua usahanya sia-sia karena mereka terlalu jauh. Ditambah dengan suara bisikan yang begitu pelan membuat Lisa tak mungkin untuk mengetahui apa yang telah terjadi.


Tanpa berpikir panjang, Lisa segera mengubah Channelnya ke Channel yang menayangkan Player bernama Robert itu.


Pada saat itulah, Lisa sedikit banyak memahami apa yang sebenarnya telah terjadi.


Di layar hologram yang ada di hadapannya itu, terlihat sosok seorang Pria dengan paras yang tegap namun tak begitu kekar itu sedang berdiri sendirian di puncak sebuah gunung.


Pedang satu tangan berwarna merah darah yang cukup panjang nampak menancap di tanah.


Merasa penasaran apa yang baru saja terjadi, Lisa segera memundurkan video Robert.


Segera setelah itu, Lisa hanya bisa membelalakkan matanya dengan perasaan yang dipenuhi oleh ketidakpercayaan.


Seekor naga dengan sisik hitam gelap itu dengan mudahnya dibantai oleh Robert sendirian. Levelnya pun langsung melejit ke tingkat yang nampaknya akan sangat sulit untuk dikejar oleh pemain lainnya.


Ialah Robert.


Pemain berdarah Eropa yang memperoleh dukungan terbesar selama kompetisi FFA PvP ini.


Seseorang yang dianggap bahkan bisa melampaui Angie.


Seseorang....

__ADS_1


Yang hanya dalam waktu satu hari, berhasil mencapai level 148 dan menduduki peringkat pertama dalam papan ranking itu. Memisahkannya dengan peringkat kedua sejauh 60 level lebih.


__ADS_2