
...-Desert World-...
...Day 1...
Aku segera terbang menggunakan sayap kelelawar dari vampir yang berasimilasi denganku. Sesaat setelah mencapai udara, aku segera menggunakan skill terkuatku untuk membereskan sebagian besar dari mereka.
“Amplify! Fire Blast!” Teriakku dengan keras sambil mengarahkan Staff of Enigma milikku ke bawah.
Lingkaran sihir berwarna merah menyala muncul di depan tongkatku. Dan di tempat tujuanku, muncul bola api kecil yang segera meledak dengan sangat kuat.
‘Duaaaaaaarrrr!!!’
Ledakan itu berukuran sekitar 25 meter dan menghanguskan hampir semua yang ada. Notifikasi sistem pun menutupi seluruh pandanganku.
[Anda telah membunuh 319 Desert Lizardmen!]
[Anda telah membunuh 297 Sabertooth!]
[Anda telah …. ]
[Anda telah memperoleh 32.985.112 Experience Point!]
[Anda telah memperoleh …. ]
[Anda telah naik level!]
[Anda telah …. ]
Meski begitu banyak notifikasi yang membahagiakan bagiku, aku sama sekali tidak tersenyum. Bagaimana lagi, jika monster terburuk yang ada disini bahkan seakan tidak tergores sama sekali.
[Desert Dragon]
Makhluk berwujud naga berkaki empat dengan sayap raksasa itu sama sekali tak tergores. Seakan…. Daya serangku sama sekali tidak mampu untuk menembus pertahanannya.
“Sial! Jika saja Elin ada disini, dia akan mampu untuk memberitahuku mengenai status mereka semua!” Teriakku sambil terbang untuk menjauhi tempat itu.
‘Syuuutt!!! Syyuuuutt!!!’
Ratusan anak panah melesat ke arahku. Beberapa Desert Lizardmen itu nampaknya memiliki senjata berupa busur dan panah. Sungguh…. Naga Kuno Ruderioss, ini terlalu berlebihan! Tak hanya itu saja.
‘Wuuuooosssh!!!’
Kepakan sayap dari para naga gurun itu menghasilkan tekanan udara yang sangat kuat dan menciptakan badai pasir. Kekuatan mereka meningkat dengan drastis karena berada di dunia yang hanya dipenuhi oleh pasir. Hasilnya?
“Sialan! Biarkan aku berpikir sebentar? Tu-tunggu dulu! Kalau terus seperti ini!!” Teriakku penuh kesal karena kini aku mulai tak bisa mengendalikan sayapku dengan baik.
__ADS_1
Angin yang sangat kencang, ditambah dengan badai pasir yang cukup berat membuat diriku kesulitan untuk terbang. Padahal aku paham dengan sangat baik. Satu-satunya tempat aman di sini adalah dengan berada di….
“Eh?!”
Seketika seekor naga gurun telah terbang di udara dan berhenti tepat di hadapanku. Ia segera membuka mulutnya selebar mungkin seraya ingin memakanku hidup-hidup.
“Sialan! Aerial Movement! Windtalk” Teriakku sambil berusaha terbang menjauh secepat mungkin.
Kini, aku berusaha untuk terbang setinggi mungkin. Setidaknya hingga….
‘Paaak!!! Duaaarrr!!!’
Tanpa aku sadari, seekor naga gurun itu telah menantiku di udara dan memukulku dengan sangat kuat. Aku pun terjatuh dengan sangat cepat dan menghantam pasir yang lembut itu. Meskipun…. Dengan puluhan ribu monster yang mengelilingiku.
[Anda telah menerima 49.533 damage!]
[Anda telah jatuh dari tempat yang sangat tinggi!]
[Anda telah menerima 112.451 damage!]
[Anda telah …. ]
Aku pun mengalami efek Stun selama 2 detik karena menerima damage yang terlalu besar. Pada saat yang bersamaan, puluhan monster yang telah tepat berada di sampingku mulai menyerang dengan brutal.
Sungguh. Apakah aku akan berakhir hanya dalam beberapa menit saja?
‘Jika saja…. Harta yang akan diberikan oleh Ruderioss…. Tidak. Aku sangat yakin bahwa harta itu benar-benar sangat berharga jika memang aku harus melampaui neraka ini. Terlebih lagi, bukankah aku dapat memanen banyak sekali EXP dari sini?!’ Teriakku dalam hati dengan penuh rasa semangat.
Segera setelah efek Stun itu berakhir, aku segera menggunakan Skill yang telah lama kusegel karena cukup berbahaya bagi diriku sendiri.
“Self…. Destruct!” Teriakku dengan keras sambil memelototi seluruh monster yang mengelilingiku itu.
Seketika, tubuhku diselimuti oleh cahaya merah yang semakin terang setiap saatnya. Hingga pada akhirnya cahaya itu menjadi sangat terang dan timbul ledakan yang sangat besar.
‘DUUUUUUUUAAAARRR!!!’
Seluruh tempat dengan radius mencapai 30 meter lebih menerima efek ledakan yang teramat besar dengan diriku sebagai pusatnya. Hasilnya? Seluruh tempat di sekelilingku dipenuhi oleh cahaya putih yang menandakan kematian para monster itu.
Tanpa menunggu lebih lama, aku segera meneguk Full Health Potion untuk memulihkan Health Pointku yang kini hanya tersisa 3.952 saja.
Seluruh luka di tubuhku mulai menghilang segera setelah aku meneguk minuman itu. Aku juga segera meneguk Full Mana Potion untuk memulihkan Mana Poitnku yang masih tersisa sekitar 15% saja.
“Sekarang…. Siapa yang akan maju selanjutnya?!” Teriakku dengan rasa semangat yang membakar seluruh tubuhku ini.
Bagaimana tidak.
__ADS_1
Hanya dengan pertempuran sesaat itu, aku telah naik level hingga ke level 196 dalam sekejap.
...***...
...Kulon Progo...
...Daerah Istimewa Yogyakarta...
Terjadi suatu kehebohan di kediaman Eric dan keluarganya. Itu semua dikarenakan sebuah pesan singkat yang dikirimkan oleh pihak pengembang Re:Life.
Isi pesan singkat itu sebagai berikut ini.
[Pengirim : Re:Life Developer]
[Kami menerima pesan darurat bahwa Player : Eric, dengan nama asli Erik Prasetya sedang menjalankan suatu Quest Rahasia. Hasilnya, Erik tidak akan dapat Log Out paling lama yaitu 33 jam dan 36 menit.
Seluruh keluarga ataupun kenalan yang bersangkutan diharap untuk menjaga kondisi Erik sebaik mungkin. Kami dari kantor pusat Re:Life cabang Indonesia juga telah mengirimkan tim medis yang ahli untuk membantu melakukan pengawasan dan penanganan darurat terhadap Erik.]
“Kakak? Apa yang kau lakukan?” Ucap Rina dengan wajah yang kebingungan.
Sementara itu, Ayah dan Ibu Erik telah terlihat lemas dan seakan kehilangan setengah nyawanya.
“Anakku…. Kau baru saja kembali bermain permainan itu tapi kenapa ini terjadi?” Ucap Ibu Erik yang telah terkapar di lantai.
Sedangkan Ayahnya?
“Halo? Ya, ini dari keluarga Erik. Bisakah kami meminta beberapa dokter untuk bersiaga disini? Kondisi anakku sedang cukup buruk karena Ia sedang melakukan suatu misi di dunia virtual. Apa? Tidak bisa? Rumah sakit sedang sibuk? Halo? Halo?” Ucap Ayahnya yang nampak sibuk menelpon berbagai tempat.
Ia pun terlihat melanjutkan panggilannya yang kini sedang ditujukan kepada kenalannya yang lain.
Rina yang memahami bahwa Kakaknya tak akan bisa kembali selama 34 jam mulai memahami betapa buruknya situasi ini.
“Tunggu dulu. Lalu siapa yang akan memimpin rapat pada pertemuan rutin eksekutif nanti malam? Bukankah Kak Elin sedang belajar penuh hingga larut malam? Lalu jika Kakak….” Rina nampak terhenti di tengah perkataannya.
Ia merasa bahwa dirinya masih belum mampu untuk menggantikan sosok Kakaknya untuk memimpin sebuah rapat dan menentukan suatu keputusan. Meskipun, Rina telah berkali-kali menghadiri rapat para eksekutif tersebut.
Hingga pada akhirnya, Rina telah membuat suatu keputusan yang bulat.
“Ah, bagaimana lagi. Aku akan mencoba untuk menggantikannya selama 2 hari ini. Kakak, maafkan aku jika aku akan membuat banyak kesalahan selama melaksanakan rapat nanti malam dan besoknya lagi.” Ucap Rina sambil menghela nafasnya.
Dan begitulah, seluruh keluarga Erik sedang heboh dan bersiap untuk situasi terburuk dimana Erik akan terbangun 34 jam lagi dari sekarang. Mereka tak mengetahui situasi seperti apa yang sedang dialami oleh Erik.
Begitu juga sebaliknya, Erik sama sekali tidak mengetahui situasi di dunia luar. Mereka semua hanya….
Saling percaya.
__ADS_1