The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 99 - Reunion


__ADS_3

Lucien yang menyadari kehadiran dua orang di balik kegelapan hutan ini segera bersembunyi. Ia segera berubah menjadi ratusan kelelawar kecil dan bersembunyi di pepohonan.


‘Lucien? Apa yang dia lakukan?’ Pikirku dalam hati kebingungan. Aku pun segera menoleh untuk melihat lingkungan sekitar. Tapi tanpa kusangka, terdengar suara yang seakan berasal dari dalam kepalaku.


“Tuanku, terdapat dua orang yang mencurigakan. Aku akan bersembunyi dan bersiap untuk menyergap mereka jika situasi menjadi semakin buruk.” Ucap Lucien melalui Skill [Telepathy] yang kuberikan padanya.


‘Ah…. Jadi begitu?’


Seketika, dua sosok Wanita yang begitu anggun muncul dari balik kegelapan.


“Eric!” Ucap salah seorang Wanita itu. Ia memiliki rambut perak dengan gaun berwarna keunguan yang indah.


“Luna? Kenapa kau ada disini?” Balasku singkat.


“Tentu saja untuk menemuimu! Kau kejam sekali Eric! Kenapa kau tidak membalas pesanku?!” Ucap Luna sambil terlihat memelas.


Tapi aku tahu.


Bahkan bagi diriku yang bodoh ini, aku sangat tahu bahwa posisiku yang berada di Hutan ini hanya diketahui oleh Alice, Chris, Neo dan Elin. Selain mereka? Tentu saja ada niatan yang buruk!


Oleh karena itu, aku segera menyiapkan Staff of Enigma milikku.


“Fire Arrow.” Ucapku sambil mengarahkan tongkatku ke Luna. Seketika muncul lingkaran sihir kecil yang mengeluarkan panah api.


‘Wuuooosh!’


Tapi Brunhilda segera berdiri di depan Luna dan menebas panah api itu dengan Rapier miliknya. Seketika, panah api itu menghilang.


“Eric….. Kenapa?” Tanya Luna kebingungan.


“Seharusnya aku yang bertanya kepada kalian berdua. Bagaimana bisa kalian bisa mengetahui bahwa aku ada di sini?” Balasku singkat.


“Sudah ku katakan padamu, Luna. Eric pasti sudah menyadari semua ini. Segera buka gerbang untuk anggota yang lain!” Teriak Brunhilda sambil menerjang ke arahku.


‘Klaaaangg!!!’


“Ka-kau?!” Teriak Brunhilda dengan penuh rasa terkejut.


“Fufufu! Lemah sekali, manusia!” Teriak Lucien yang berhasil menghentikan tusukan Rapier milik Brunhilda dengan tangan kosong.


Brunhilda segera mundur melihat situasi ini. Tapi Lucien tidak memberinya kesempatan dan berusaha untuk mencekik leher Brunhilda.


Aku merasa sedikit aneh dengan situasi ini. Dengan segera, aku berteriak kepada Lucien.


“Lucien! Mundur!” Teriakku dengan sekuat tenaga.


Seketika muncul sebuah celah berbentuk lingkaran tepat di depan Lucien. Tepatnya di depan tangan kiri Lucien yang berusaha untuk mencekik Brunhilda.


Tanpa sedikit pun menaruh rasa ragu, Lucien segera berusaha untuk mundur setelah mendengar teriakanku. Tapi itu sudah sedikit terlambat.


Tangan kiri Lucien telah memasuki celah itu. Seketika, celah itu menutup dengan sangat cepat dan memotong tangan kiri Lucien.


‘Bruuk.’


Terdengar suara suatu benda yang jatuh di sebelahku. Pada saat aku melihatnya, itu adalah tangan kiri Lucien yang telah terpotong.


“Tuanku, maafkan aku!” Teriak Lucien setelah mundur dan berdiri di sebelahku sambil memegangi bahu kirinya.


Aku tak pernah menyangka sihir teleportasi… atau lebih tepatnya sihir portal milik Luna dapat digunakan dengan cara seperti itu.


“Kekuatan penyerangan yang mutlak…. Jika digunakan sebagai perisai juga akan menjadi pertahanan yang mutlak.” Ucapku pada diriku sendiri setelah melihat kejadian ini.


Luna dan Brunhilda yang merasa masih menguasai alur pertarungan segera mendekati kami berdua dengan santai.

__ADS_1


“Jadi…. Seorang pemula yang kutemui pada saat itu telah berubah menjadi seorang pemain yang kuat ya sekarang? Atau memang sejak awal kau berpura-pura lemah?” Tanya Luna dengan wajah yang sinis.


Brunhilda segera melanjutkan perkataan Luna.


“Eric, aku akan berterus terang. Jika kau mau membagikan rahasiamu dalam menaikkan level, maka kami akan segera pergi dan berjanji untuk tidak lagi mengganggumu. Jika tidak, maka kami akan membawamu dengan paksa.”


‘Ah…. Jadi begitu. Semua soal level….’ Pikirku dalam hati.


Pada saat itu, aku telah membulatkan tekadku.


“Jika kau memang bisa memaksaku, maka coba saja!” Teriakku penuh percaya diri.


Tapi rasa percaya diriku hilang seketika karena notifikasi sistem sialan.


...[Ruangan terlalu sempit untuk menggunakan Dungeon Manifestation!]...


Tanpa menunggu diriku bersiap, Luna dan Brunhilda segera bergerak untuk menangkapku. Puluhan portal sihir telah muncul di berbagai sudut ruangan. Sedangkan Brunhilda segera bergerak secepat kilat.


Brunhilda memasuki suatu portal dan dengan segera Ia muncul dari portal yang lain. Lebih tepatnya, di belakang tempatku berdiri.


Dengan segera aku mengarahkan tongkat sihirku untuk mengusirnya.


“Magic Blast.”


‘Duaaaaarrr!!!’


Terdengar ledakan yang cukup kuat di tempatku mengarahkan tongkat ini. Brunhilda yang berdiri di tempat itu seharusnya menerima damage yang besar. Tapi kenyataan berkata lain.


Tepat di antara munculnya ledakan dan Brunhilda, muncul 3 portal yang mampu menyerap seluruh efek ledakan itu.


“Sialan! Lucien! Lakukan sesuatu pada penyihir itu!” Teriakku kepadanya.


“Dengan segera!”


Lucien segera melesat dengan menggunakan sayapnya ke arah Luna.


Tapi itu semua percuma.


Sebuah portal muncul di hadapan Luna. Ia dengan segera memasuki portal itu dan telah berpindah ke tempat yang tidak terjangkau oleh efek Blood Harvesting.


Tak hanya itu.


Sebuah portal muncul di belakang tubuh Lucien. Portal itu memuntahkan semburan api yang sangat panas. Bagaimana bisa? Itu adalah sihir api yang ku arahkan pada Brunhilda!


“Sialan! Bukankah skill portal milik Luna terlalu kuat?!” Teriakku pada diriku sendiri.


Tapi Brunhilda tak memberiku kesempatan untuk bersantai. Ia segera melangkah mundur, bukan untuk kabur. Tapi untuk menyerang. Di belakangnya dengan segera muncul portal yang menghubungkannya entah kemana.


Seketika, tubuhku dihujani oleh puluhan tusukan.


[Anda telah menerima 1.315 damage!]


[Anda telah menerima …. ]


Bukan damage yang mematikan. Oleh karena itu….


‘Sreeet!’


Nampak ekspresi terkejut yang luarbiasa dari Brunhilda. Bagaimana tidak, Ia menyangka bahwa diriku akan mundur. Tapi kenyataannya jauh dari itu.


Aku dengan santai menerima seluruh tusukan yang tak begitu sakit dari Brunhilda. Di samping itu, aku segera mengulurkan tanganku untuk memegang lengannya. Sekarang, tak ada lagi kata kabur baginya.


“Kau?!”

__ADS_1


“Tenang saja, ini akan berlangsung cepat Brunhilda. Explosive Magic : Self Destruct!” Balasku padanya.


Cahaya merah yang terang mengelilingi tubuhku. Di sampingku, nampak sosok Brunhilda yang meronta-ronta untuk melepaskan cengkeraman tanganku. Tapi itu semua percuma. Bagaimana pun, aku adalah seorang penyihir dengan Strength yang tinggi!


Di kejauhan, nampak sosok Luna yang masih kesulitan melawan Lucien. Tapi Lucien tidak terlalu banyak menyerang. Alasannya sederhana. Ia tak tahu apakah serangannya akan berhasil atau hanya akan dilemparkan kepadaku nantinya melalui portal milik Luna.


Oleh karena itu, Lucien memilih untuk bertahan.


Sementara itu….


“Lepaskan!!!” Teriak Brunhilda sambil meronta-ronta.


“Selamat tinggal, Brunhilda.”


Seketika….


Cahaya merah yang mengelilingi tubuhku selama hampir 10 detik itu menjadi semakin terang. Hal yang terjadi setelahnya hanyalah keputusasaan bagi musuhku. Bagiku? Sebuah harapan baru.


‘Wuuooosh!! DUUUUUAAAARRRR!!!’


Terjadi sebuah ledakan yang luarbiasa besar di tengah hutan ini dengan diriku sebagai pusat ledakannya.


Ledakan itu menyapu bersih pepohonan yang tumbuh tinggi dalam radius puluhan meter. Semuanya menjadi rata dengan tanah.


Tentu saja, aku masih selamat dengan sisa Health Point sebesar 10%.


Itulah efek dari skill [Self Destruct] yang akan memakan 90% Health Point yang dimiliki saat ini dan menukarnya menjadi damage. Semakin banyak HP yang dimakan, semakin besar pula damage yang akan diberikan.


Tentu saja pengguna Skill akan selalu selamat dengan sisa HP yang kritis.


Sedangkan lawannya?


[Anda telah membunuh Player : Brunhilda!]


[Anda telah memperoleh .... ]


Tapi aku tidak terlalu memperhatikan itu. Musuhku masih ada di hadapanku.


Luna.


Meski begitu, Ia nampak sangat tenang. Seolah….


“Baiklah Eric. Kau yang memintanya. Portal….”


Ratusan portal muncul di tengah hutan yang gundul akibat ledakan barusan. Di balik portal itu, muncul orang yang berbaris dengan rapi. Semuanya mengenakan perlengkapan yang berwarna keemasan.


Itulah….


Guild Golden Dragon.


Termasuk juga, 5 anggota yang lain dari Seven Star.


Meski begitu, aku tak terlalu takut akan situasi ini. Justru aku sangat senang karena semuanya sudah repot-repot untuk mendatangiku.


“Lucien. Kemarilah.” Ucapku singkat.


“Baik, Tuanku.” Balasnya segera setelah mendengar perkataanku.


“Bersiaplah, karena setelah ini… kita akan membantai mereka semua.” Ucapku singkat.


Pihak Seven Star dan Golden Dragon masih memperisapkan barisan mereka. Sedangkan aku….


Aku berlari mendekati mereka semua bersama dengan Lucien. Melihat tingkah kami berdua, mereka nampak begitu keheranan. Tapi aku tidak terlalu memperdulikannya.

__ADS_1


Saat jarak kami sudah cukup dekat, aku segera menggunakannya di tengah hutan yang telah gundul ini.


...“Dungeon Manifestation! Forteresse de Deus!”...


__ADS_2