The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 154 - Pertempuran di Kota Kematian 3


__ADS_3

...Kota Kematian...


...Lesta...


...Siang Hari...


“Tapi sebelum membantumu…. Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu, Eric.” Ucap Deus dengan wajah serius.


“Eh? Ada apa?” Tanyaku kebingungan.


“Apakah kau melihat bawahan Necromancer itu yang memiliki dua tanduk di kepalanya serta sayap naga? Termasuk juga sosok Succubus?” Tanya Deus dengan wajah serius.


“Ah ya, kalau tidak salah…. Nama Wanita yang memiliki tanduk dan sayap naga itu adalah Lilith, sedangkan untuk Succubus itu adalah Daemlea.” Jawabku kepada Deus.


Seketika, Deus mendekatkan wajahnya ke arah telingaku dan membisikkan suatu hal dengan suara yang sangat lirih.


“Mereka berdua dulunya adalah bawahan musuhku. Berhati-hatilah.”


‘Eh?! Apa maksudnya itu?’ Teriakku dalam hati.


Deus dengan segera melanjutkan perkataannya.


“Tapi kurasa mereka benar-benar telah berpindah Tuan. Hahaha! Dasar Iblis rendahan, mungkin karena Tuan mereka yang sekarang sudah cacat karena diriku yang agung ini mereka segera mencari Tuan yang baru!” Teriak Deus tiba-tiba.


“A-apa yang kau katakan?! Kenapa kau berteriak sekeras itu?! Bagaimana jika mereka mendengarnya?!” Tanyaku dengan panik.


“Tenang saja, mereka tak ada disini. Sekarang, biarkan aku menggunakan tubuhmu Eric! Nampaknya kau sudah menjadi jauh lebih kuat!!!” Teriak Deus dengan keras.


Aku segera mengangguk dengan lemas dan menggunakan skill [Assimilation] kepada Deus.


Tubuhku segera berubah menjadi setengah vampir.


“Deus, bisakah kau menceritakan mengenai Tuan dari 2 orang itu? Lalu selain mereka berdua, kenapa ada ras Vampir yang memiliki Tuan selain dirimu?” Tanyaku kepada Deus yang kini telah mengendalikan tubuhku. Ia nampak menggerakkan tangan dan melompat-lompat.


Setelah puas melakukan penyesuaian tubuh, Deus nampak tersenyum.


“Ceritanya akan panjang. Apakah kau mau mendengarnya?” Tanya Deus menggunakan tubuhku.


“Tentu saja!” Balasku singkat.


Segera setelah itu, Deus mulai terbang menggunakan sayap kelelawarnya dan mulai menceritakannya secara perlahan.


Termasuk juga melakukan pembantaian dari langit menggunakan berbagai skill yang kumiliki.


...***...


...Sisi Utara...


...Barisan Pasukan Gabungan...


‘Duaaarrr!!! Duaaarrr!! Wuuuoossshh!!!’


Ledakan yang terjadi di berbagai tempat membuat pasukan menjadi panik. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah Eric yang dikendalikan oleh Deus. Ia melontarkan berbagai sihir yang membumihanguskan tempat ini.


“Nona Evalina! Perintahnya!” Teriak seorang kapten pasukan.

__ADS_1


Saat ini, Evalina sedang terbelalak karena tak menyangka perlawanan yang diberikan akan sekuat ini.


“Se-segera serbu! Apa yang dilakukan oleh regu Trebuchet?!” Teriak Evalina dengan panik.


“Lapor! Regu Trebuchet di bagian Utara, Timur Laut, dan Timur telah dibunuh. Bahkan alat berat Trebuchet juga telah dihancurkan!”


“Lapor! Pasukan di bagian Timur meminta bantuan….”


“Lapor! Bagian Utara butuh pasukan untuk menghadang Undead….”


“Lapor! Bagian….”


Seluruh kurir dari berbagai tempat melaporkan hal buruk dan mengerikan. Pada intinya, semua membutuhkan bantuan karena pasukan Undead yang muncul dari belakang mereka.


“Bagaimana bisa mereka…. Bukankah regu pengintai telah memastikan daerah ini aman?!” Teriak Evalina.


“Se-sebenarnya…. Mereka muncul dari bawah tanah.” Ucap salah seorang Kurir.


“Bawah tanah?! Tapi bagaimana bisa jumlahnya sebanyak itu?!”


Tentu saja mereka tidak bisa menyangkanya. Itu semua karena Dungeon yang dibangun oleh Eric di berbagai penjuru. Semuanya terhubung dengan Teleportation Circle di bawah Kota Lesta.


Mengirim pasukan Undead? Hanya perlu beberapa langkah dari dalam Kota dan mereka sudah sampai di barisan belakang musuh.


“Nona Evalina….” Ucap Leo dengan wajah yang kebingungan.


“Leo. Pimpin pasukan untuk segera….”


Sebelum menyelesaikan perkataannya, Evalina kembali dikejutkan dengan regu pasukan berkuda yang telah maju terlebih dahulu.


Seketika, muncul ledakan dari berbagai tempat di tengah padang rumput ini. Tak hanya itu, ledakan yang terjadi membuat tanah runtuh dan menjatuhkan pasukan ke dalam lubang yang berisi jebakan tombak besi.


Sebuah gabungan dari jebakan [Bomb] dan [Falling Pit] milik Eric.


Tanpa diketahui semua orang, seluruh bawah tanah di sekitar Kota Kematian Lesta ini telah termasuk dalam Dungeon milik Eric. Memasang jebakan tepat di bawah padang rumput ini tentu saja sangat mematikan.


Dengan kalimat sederhana….


“Kita…. Bagaimana cara kita mendekat ke arah Kota itu? Terlebih lagi pasukan musuh dari belakang….” Ucap Evalina dengan wajah yang mulai lemas.


“Nona Evalina. Aku akan memimpin beberapa Inquisitor yang lain untuk menembus seluruh jebakan ini dan memasuki Kota untuk membunuh Necromancer itu. Bagaimanapun, itulah satu-satunya tujuan misi penaklukan ini.” Ucap Leo sambil mengenakan topeng peraknya.


“Tunggu, aku akan….”


‘Bruukk!!! Wuoosh!’


Sebelum sempat menyelesaikan perkataannya, seseorang telah menendang Evalina secepat kilat. Ia terlempar jauh ke udara dan segera di susul oleh sosok seseorang itu.


“Nona Evalina! Bertahanlah! Aku akan segera membawakan kepala Necromancer itu!” Teriak Leo dengan sekuat tenaga.


...***...


...Sisi Timur...


...Pasukan Gabungan Kerajaan...

__ADS_1


“Nona Shea! Perintah dari Inquisitor peringkat pertama, Leo, telah tiba!” Ucap seorang Holy Knight dengan perlengkapannya yang sangat mengkilap itu.


“Katakan!” Teriak Shea, mantan Inquisitor peringkat pertama itu. Ia kehilangan peringkatnya karena Leo mengalami peningkatan kekuatan yang sangat pesat semenjak mengikuti Evalina.


“Pimpin regu elit beranggotakan Inquisitor dan Holy Knights untuk segera membunuh Necromancer!” Ucap Holy Knight itu.


“Hmm…. Kurasa peperangan ini telah terlalu jauh dari rencana. Baiklah! Aku akan segera bergerak!” Teriak Shea dengan keras.


‘Evan. Kali ini kami pasti bisa membunuhmu. Dengan begitu….’ Ucap Shea dalam hati.


...***...


...Sisi Barat...


...Pasukan Kerajaan Farna...


“Yang Mulia. Nampaknya di bagian Utara dan Timur sedang mengalami kekacauan besar. Apa tindakan kita?” Tanya seorang Ksatria dengan lambang api emas.


“Kita akan menunggu perintah dari mereka.” Jawab Arlond sambil memegang pedang di pinggangnya.


“Mohon maaf…. Menunggu?” Tanya Ksatria itu kebingungan karena jawaban Raja.


“Tentu saja. Kita mengikuti peperangan ini karena permintaan mereka. Jika kita melakukan hal yang gegabah, mungkin saja kita akan mengacaukan rencana mereka. Terlebih lagi, peran terpenting kita adalah menahan pasukan musuh untuk kabur dari Kota ini.” Jelas sang Raja, Arlond.


“Ah, Yang Mulia benar sekali. Mohon maafkan kelancangan saya barusan!” Balas Ksatria itu sambil segera kembali ke barisannya.


Arlond nampak melirik Ksatria itu. Segera setelah mengetahui bahwa Ksatria itu memberikan perintah untuk bersiaga, Arlond nampak tersenyum tipis.


‘Eric. Aku akan memberikan waktu selama mungkin kepadamu. Aku takkan membiarkan seorang pun dari pasukanku untuk mengarahkan pedangnya kepadamu.’ Ucap Arlond dalam hati.


...***...


...Sisi Utara...


...Jauh dari pasukan utama...


‘Kreseekk!! Sreekk! Bruuk!’


Terdengar suara seseorang yang terjatuh dari langit di dalam lebatnya hutan ini.


“Sialan! Siapa kau sebenarnya?!” Teriak Evalina kesal karena dirinya terlempar sangat jauh ke arah Utara.


‘Tap. Tap. Tap.’


Di balik gelapnya hutan ini, nampak sosok 8 orang yang berjalan secara perlahan melewati sosok orang dengan jubah hitam itu.


“Terimakasih, penyihir. Aku akan membereskan sisanya.” Bisik seorang Pria berambut putih, Evan.


“Ka-kau…. Bagaimana kau bisa berada disini?!” Ucap Evalina dengan tatapan mata yang mengerikan.


“Selamat datang di wilayahku, Evalina. Tenang saja, kau mungkin hanya akan menerima restriksi Log In selama beberapa hari saja. Tentu saja, itu jika kau tidak terbunuh oleh pedang ini.” Ucap Evan sambil tersenyum lebar.


Di tangan kanannya, nampak pedang dengan warna hitam dan alur hijau di sisi terluar pedang. Sebuah pedang terkutuk yang dimiliki oleh Undead King, Igvirueg.


“Aku akan membunuhmu disini, Evan!” Teriak Evalina dengan lantang sambil mengangkat pedangnya.

__ADS_1


__ADS_2