The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 159 - After Party


__ADS_3

“Bukan itu…. Sebelumnya, aku ucapkan selamat atas pernikahanmu Erik. Kuharap kau akan selalu bahagia bersamanya. Aku sadar bahwa diriku takkan pernah bisa memiliki hak untuk menaruh hati pada Erik setelah apa yang kulakukan padanya.


Tapi, aku ingin bertanya apakah kalian berdua memiliki kursi manajer untukku.” Jelas Adelia sambil menundukkan kepalanya.


“Hmm…. Kau tahu bahwa ini bukanlah cara dan tempat yang tepat untuk melamar pekerjaan kan? Kau bisa meletakkan CV beserta berkas-berkas pendukungnya ke asistenku.” Balasku sambil meneguk minumanku.


“Aku tahu…. Tapi kau tahu kan, siapa tahu jalur belakang bisa membantu mengingat kita adalah teman hahaha….” Balas Adelia dengan nada lemas.


Meskipun aku pernah membecinya, Adelia memanglah seorang yang kompeten dan ahli di bidangnya. Ia selalu memperoleh peringkat tinggi di SMAku dulu. Terlebih lagi dirinya yang kini telah menempuh pendidikan tinggi dengan bantuan Accelerated Thoughts serta segudang pengalamannya mengelola usaha milik orang tuanya….


“Kalau begitu ujian singkat untukmu. Katakan bagaimana caramu meningkatkan kekuatan Grandia Group di dunia ini?” Tanyaku kepadanya.


Elin nampak tertarik dengan jawaban yang akan diberikan oleh Adelia.


Hanya dalam waktu yang singkat….


“Dirikanlah perusahaan konstruksi, latih sebanyak mungkin tenaga ahli lalu kuasai material dan bahan-bahan mentah. Jika modal memungkinkan, dirikanlah pabrik produksi untuk seluruh bahan yang diperlukan. Setelah itu Grandia Group dapat berkembang sesuka hati.” Jelas Adelia sambil menggoyang-goyangkan gelas berisi cairan berwarna merah itu.


‘Eh?! Apa-apaan ini?!’ Teriakku dalam hati.


Hanya dalam waktu sesingkat itu, Ia bisa memberikan solusi yang bahkan perlu dirapatkan oleh beberapa eksekutif Grandia Group selama beberapa hari?


“Erik….” Ucap Elin sambil melirikku. Memahami maksudnya, aku segera mengangguk.


‘Grandia Group memang berencana untuk mendirikan perusahaan di bidang konstruksi sehingga kami dapat melakukan pembangunan tanpa hambatan. Tapi mendirikan pabrik produksi….’ Pikirku dalam hati.


Setelah memikirkan selama beberapa saat, aku memahami potensi dirinya yang sebenarnya.


“Apakah kau telah mempersiapkan diri atas pertanyaan itu?” Tanyaku dengan rasa curiga.


“Mempersiapkan? Tidak. Aku hanya memahami bahwa Grandia Group memiliki modal yang luarbiasa besar darimu. Dengan membuat asumsi bahwa modal selalu lebih besar daripada pengeluaran maka faktor pembatas pada perusahaanmu adalah tenaga kerja dan material yang….”


Adelia menjelaskan alasan dibalik jawabannya dengan panjang lebar.


1 menit….


2 menit….


Hingga akhirnya setelah 5 menit, Adelia mengakhiri kuliah singkatnya.


“Itulah kenapa aku menyarankanmu untuk membuat perusahaan konstruksi dan mendirikan beberapa pabrik produksi bahan-bahan. Keuntungan yang kau peroleh bukanlah berupa uang secara langsung, tapi kecepatan pengembangan perusahaanmu.” Tutup Adelia.


‘Monster…. Inikah kekuatan dari seseorang yang menempuh pendidikan formal secara lengkap dan pengalaman kerja yang tinggi?’ Pikirku dan Elin dalam hati setelah memahami apa yang sebenarnya kami hadapi.


Tentu saja, kami berdua sama-sama membelalakkan mata ketika mendengarkan penjelasannya.


Sebelum aku sempat berbicara, Elin telah mendahuluiku.


“Berapa…. Lebih tepatnya, apa yang kau inginkan? Dengan kemampuanmu seperti itu aku yakin….” Ucap Elin dengan tubuh yang gemetar.


“Jalin kerjasama dengan perusahaan Ayahku secara resmi, maka kita sepakat. Soal bayaranku, aku menyerahkan semuanya kepada kalian. Dan juga jika memungkinkan, maafkanlah tindakanku yang dulu Erik. Aku benar-benar menyesalinya.” Ucap Adelia sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


“Baiklah. Ajak Ayahmu ke kantorku beberapa hari lagi dan permasalahan kerjasama akan beres. Untuk bayaranmu, kami akan membahasnya nanti. Sedangkan untuk masa lalu, itu sudah lama terjadi. Aku telah memaafkanmu sejak lama, tenang saja.


Sekarang, sudah cukup membahas masalah pekerjaan. Mari kita berpesta! Kalian semua, nikmatilah semua yang ada disini! Jangan sungkan-sungkan sedikitpun!” Teriakku dengan keras sambil mengangkat gelasku setinggi mungkin.


Semua orang yang melihatnya juga nampak mengikutiku. Sedangkan Adelia? Ia nampak tersenyum lega setelah mengetahui bahwa aku telah memaafkannya.


Pesta segera berlanjut.


Musisi-musisi terkenal terus menerus bermunculan untuk mengisi acara ini.


Sedangkan berbagai hidangan kelas atas terus menerus berdatangan tanpa henti. Jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang bisa dicerna oleh perut semua peserta. Tentu saja, mereka bebas membawanya pulang karena jumlahnya memang terlalu banyak.


Apapun itu….


Kini aku sangat senang dengan keadaan ini.


Terlebih lagi, disisiku kini telah ada seorang gadis yang sangat manis. Seorang gadis yang mengubah hidupku yang terpuruk menjadi seperti ini.


“Elin…. Maukah kau berdansa denganku?” Tanyaku sambil sedikit membungkuk dan mengulurkan tanganku kepadanya.


“Tentu saja, Erik. Kau bisa berdansa denganku sepuas hatimu.” Balas Elin sambil tersenyum.


Senyumannya kini nampak berbeda dari biasanya. Sebuah senyuman yang begitu hangat. Senyuman yang mengingatkanku akan hari pertama aku bertemu dengannya di dalam gua yang gelap itu.


...***...


...20 Januari 2074...


...Kediaman Erik...


“Uuhh…. Erik….” Ucap Elin dengan tubuh yang sempoyongan.


“Sudah kukatakan jika kau memang lelah maka bilang saja. Kita bisa meninggalkan acara pesta kapan saja kau tahu.” Balasku sambil merangkul tubuh kecilnya itu.


“Tapi pestanya…. Aku masih ingin bersenang-senang….” Balas Elin.


“Hah, dasar.”


Aku membaringkan Elin secara perlahan di kasur yang besar dan empuk itu.


“Tidurlah, Elin. Aku akan mengurus beberapa hal terlebih dahulu lalu kembali untuk tidur.” Ucapku sambil melangkahkan kaki untuk meninggalkan kamarku ini.


‘Sreett….’


Aku terkejut setelah mengetahui Elin menggenggam erat pergelangan tanganku.


“Erik…. Jangan pergi…. Bukankah ini hari milik kita berdua? Panggil saja beberapa petugas keamanan untuk membereskan apapun itu. Sedangkan kau…. Bisakah kau tinggal disini bersamaku?” Ucap Elin sambil memandangiku dengan wajah yang memelas.


“Kau memang benar, Elin. Baiklah aku akan segera memanggil beberapa orang untuk membereskan acara itu.” Balasku sambil segera mengambil ponsel di saku celanaku.


Aku segera melakukan pemanggilan kepada beberapa kepala divisi keamanan dan meminta mereka untuk menjaga agar acara tetap berjalan dengan lancar. Segera setelah acara selesai, aku meminta mereka untuk membereskan semuanya.

__ADS_1


Tentu saja, terdapat bonus bagi siapapun yang lembur. Mendengar hal itu saja sudah membuat semua orang bersemangat. Terlebih lagi bonus yang kuberikan bukanlah jumlah yang kecil.


Segera setelah itu….


Aku mulai berbaring di samping tubuh Elin.


Jika diperhatikan lebih baik lagi, Elin memang nampak seperti seorang gadis kecil. Meski begitu, aku tetap menyukai betapa manis wajahnya ketika tersenyum. Senyum itu juga yang membuatku tetap mampu menjaga akal sehatku ketika dibebani banyak hutang satu tahun yang lalu.


Aku memandangi Elin selama beberapa saat dan terhenti di suatu tempat.


'Fufufu.... Setidaknya milik Elin tidak sekecil itu. Malahan sudah cukup besar bagiku.' Pikirku dalam hati sambil tersenyum puas.


Tapi aku segera menyadarkan diriku sendiri.


'Bersabarlah Erik! Biarkan istrimu yang lelah ini beristirahat!' Teriakku dalam hati sambil memejamkan kedua mataku.


Waktu terus berlalu....


Tapi suasana di dalam kamar ini tetap hening.


Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk memecah keheningan ini.


“Ji-jika dipikir-pikir lagi, bukankah ini pe-pertama kalinya ki-kita tidur be-bersama?!” Ucapku sambil terpatah-patah.


‘Sialan! Apa yang barusan kukatakan?! Tentu saja yang pertama kan?! Bukankah aku baru saja menikahinya?!’ Teriakku dalam hati.


“Kenapa kau melontarkan omong kosong seperti itu, Erik?” Tanya Elin dengan tatapan wajah yang terlihat begitu kecewa.


“Ma-maafkan aku, Elin….” Balasku sambil mengalihkan pandanganku.


“Hei, Eric…. Apakah kau mau melakukannya denganku?” Tanya Elin dengan mata yang berbinar. Kedua tangannya nampak bergetar pada saat Ia mengatakannya.


“Elin….” Ucapku sambil memandangi dirinya.


Kami berdua pada akhirnya saling menatap satu sama lain. Suasana ini begitu nyaman hingga aku ingin waktu berhenti saat ini juga.


Aku mengulurkan lenganku dan memegang kedua tangan kecil milik Elin.


Pada saat itulah, aku melakukan salah satu kesalahan terbesar dalam hidupku.


“Melakukan apa? Bermain game?” Tanyaku sambil tersenyum kebingungan.


...__________________________________...


...【AUTHOR'S NOTE】...


...Spesial karna telah sampai dimana Eric menikahi Elin, maka Author akan melakukan Crazy Update sesekali. ...


...Huehuehue.... ...


...JANGAN LUPA LIKE SAMA KOMEN...

__ADS_1


...KALO LIKE MA KOMEN SEPI BESOKNYA MALES UPLOAD BUAHAHAHAHA!...


...Serius, apa susahnya sih ninggalin komen. Wa lempar cangkul ni kalo ga mau ninggalin komen. ...


__ADS_2