
...Kediaman Erik...
...Pagi Hari...
"Erik.... Sudah mau pergi?" Tanya Elin dengan suara yang manja. Ia nampak terus menerus menahan tanganku agar tidak meninggalkan kasur besar yang empuk ini.
"Elin, aku harus menghadiri rapat pagi ini. Bukankah aku sudah melayanimu sepenuh hati semalam?" Tanyaku sambil menggodanya.
"Aku mau main lagi! Titik!" Teriak Elin kesal.
"Tolong ampuni aku.... Kau tahu kan kalau Pria juga memiliki batasannya?"
"Aku tidak peduli! Pokoknya aku mau main lagi!"
Pada akhirnya, aku terpaksa melayani Elin sekali lagi. Meskipun....
...***...
...Kantor...
"Hah.... Elin benar-benar sudah gila. Memaksaku untuk melakukan itu di pagi hari...." Keluhku pada diriku sendiri.
"Selamat pagi, Tuan Erik. Mengenai rapat pagi ini, kita perlu membahas mengenai pembangunan Grandia Hotel di beberapa kota besar di Indonesia." Jelas Lisa sambil sedikit menundukkan kepalanya. Di tangan kanannya nampak tablet yang cukup besar dan dipenuhi oleh teks.
"Selamat pagi. Ya, kita perlu tambahan pemasukan dan hotel adalah pilihan yang sangat tepat. Apakah arsitek kenalan Adelia itu akan hadir di rapat hari ini?" Tanyaku singkat.
"Tentu saja. Dia sangat bersemangat karena memperoleh kebebasan berkreasi dan bayaran yang sangat tinggi." Balas Lisa.
"Baguslah. Aku tak peduli berapa biayanya asalkan bisa membangun hotel terbaik di Indonesia. Lalu bagaimana dengan kabar Andra?" Tanyaku kembali sambil berjalan ke arah ruang rapat bersama Lisa.
"Andra dan pabrik Worker Droidnya telah memproduksi lebih dari 2.000 unit Worker Droid kelas ringan, 100 Worker Droid kelas berat, dan juga 6 mesin raksasa rakitan. Termasuk puluhan ribu Drone untuk pengangkutan alat dan bahan. Semuanya telah siap untuk melakukan pembangunan." Jelas Lisa.
"Bagus.... Lalu mengenai pembangkit listrik tenaga surya dan uap di daerah Afrika Tengah?" Tanyaku sekali lagi.
"Bahan dan sumberdaya telah siap. Akan tetapi masalah hukum dan regulasi pemerintahan yang ada disana masih menahan kita untuk melakukan pembangunan. Kemungkinan pengacara ahli kenalan Adelia akan mampu menyelesaikan semua itu dalam 1 atau 2 bulan lagi." Jelas Lisa dengan rinci.
"Bagus. Kalau begitu, persiapkanlah bahan untuk rapat." Ucapku sambil menghentikan langkah kakiku. Di hadapanku terdapat pintu ruangan yang cukup besar dan terbuat dari kayu kualitas tertinggi.
'Kreeeek....'
Aku pun membuka pintu ruangan rapat itu.
Di hadapanku, masih terdapat beberapa orang saja yang telah hadir. Sambil menunggu waktu dimulainya rapat tiba, aku segera mempersiapkan diriku.
...***...
...Sore Hari...
...Kediaman Erik...
__ADS_1
"Hah.... Pada intinya hampir seluruh eksekutif lebih memilih untuk membangun di Surabaya daripada Jakarta. Baiklah tak masalah bagiku." Ucapku sambil merebahkan diriku di sofa.
"Ah kakak sudah pulang? Baru saja kak Elin berangkat ke Semarang." Ucap adikku sambil memakan coklat.
"Tak apa. Sekarang aku ingin beristirahat.... Rina, bisakah kau membuatkanku segelas teh dingin?" Tanyaku sambil memejamkan kedua mataku.
"Baiklah.... Akan segera ku buatkan. Manis?" Tanya Rina singkat.
"2 sendok saja."
......***......
...Kerajaan Farna...
...Kota Forgia...
'Ah, jadi lokasi Respawn ku berada di Kota Forgia? Aku sudah lupa. Sekarang....' Ucapku dalam hati.
Aku segera melangkahkan kakiku ke arah Istana. Tapi sungguh disayangkan bahwa....
"Hei lihat! Itu Eric sang Penyihir Agung!"
"Kau benar! Itu benar-benar dia!"
"Penyihir Agung! Ijinkan aku berfoto denganmu!"
"Tolong biarkan aku merekam sebentar saja! Setidaknya agar channel MeTube ku ramai!"
Banyak sekali Player dan NPC yang mulai mengerubungi diriku. Tapi itu bukanlah hal yang buruk. Jujur, aku sedikit menyukainya setelah hari yang sibuk ini.
"Tenang tenang.... Aku akan menuruti permintaan kalian semua!" Ucapku sambil tersenyum lebar.
...***...
...Istana Kerajaan...
...Kota Forgia...
Aku memasuki ruang tahta dengan mudah. Seluruh prajurit penjaga mempersilahkan diriku masuk dengan mudah. Bahkan mereka memberikan hormat kepada diriku.
"Silakan masuk, Penyihit Agung. Yang Mulia telah menanti kedatangan Anda." Ucap salah seorang prajurit itu.
"Menunggu diriku? Kenapa?" Tanyaku penasaran.
Tapi saat aku memasuki ruang tahta itu....
'Dasar Arlond. Untuk apa memiliki singgasana jika kau bahkan tak pernah duduk di atasnya.' Ucapku dalam hati yang melihat sosok Arlond duduk di hadapan sebuah meja besar bersama beberapa bawahannya.
"Penyihir rendahan ini datang untuk memenuhi panggilanmu, Yang Mulia." Ucapku sambil membungkukkan badanku sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Eh?! Eric?! Apa yang kau lakukan?! Jangan membungkuk kepadaku!" Teriak Arlond sambil segera membungkuk kepadaku.
"Tidak tidak.... Aku harus menghormati Raja sepertimu." Ucapku kini sambil berlutut ke arah Arlond.
"Kumohon jangan terlalu sungkan kepadaku!!!" Teriak Arlond dengan keras sambil segera berusaha untuk bersujud ke arahku.
Tapi sebelum itu terjadi, aku segera mendekat ke arahnya dan mengangkat tubuhnya.
"Hahaha.... Sudah sudah. Bercandanya cukup sampai disini saja. Sekarang, bisakah kau menceritakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi selama aku tidak Log In?" Tanyaku kepada Arlond.
"Mengenai itu.... Kemarilah. Aku akan menjelaskannya." Ucap Arlond sambil mempersilakan diriku untuk duduk di salah satu kursi di hadapan meja besar itu.
Para Menteri Kerajaan Farna juga nampak mempersilakan diriku.
Arlond kemudian menjelaskan semuanya secara mendetail. Termasuk informasi tambahan yang diperoleh para Prajurit dibawah kepemimpinan Menteri Kemiliteran itu.
Mendengarnya saja membuatku sangat muak.
"Seseorang.... Menggunakan namaku untuk menjarah desa-desa dengan menggunakan monster?!" Teriakku penuh kesal.
"Tu-Tuan Penyihir Agung! Saat ini kami terus menahan informasi itu agar tidak bocor tapi.... Hal itu semakin sulit untuk dilakukan karena menurut penjelasan Yang Mulia, wanita bernama Scarlet itu semakin agresif dalam menyerang setiap harinya."
"Itu benar, Penyihir Agung! Kami tak menyangka bahwa akan mencemarkan nama baik Anda seperti itu.... Seluruh penduduk yang mengetahui kekuatan Anda sebagai seorang penyihir, dan bukannya penjinak monster, pasti tidak akan mempercayai omong kosong itu!"
Beberapa Menteri terus menerus melontarkan pendapat mereka. Tapi di pikiranku hanya ada satu.
'Jika tindakannya sampai menyebabkan usahaku melambungkan nama baik ini gagal total, atau bahkan membuatku di cap sebagai musuh umat manusia.... Awas saja. Scarlet kan? Aku akan memberikan mimpi buruk terbesar bagimu....'
"Maafkan aku, Arlond, para menteri. Tapi aku harus melakukan sesuatu untuk mengatasi pemfitnah ini!"
Aku segera meninggalkan ruang tahta itu. Arlond juga telah memberikan dukungan penuh kepadaku.
Setelah itu, aku segera ke ruang bawah tanah di Kota Forgia ini.
Tujuanku?
Tentu saja....
"Lucien. Kau mendengarku? Aku akan memberikan tugas khusus untukmu. Apakah kau bisa melakukannya?" Tanyaku kepada diriku sendiri.
"Sebuah kehormatan bagiku untuk bisa memenuhi perintahmu, wahai Tuanku." Balas Lucien dari dalam tubuhku.
"Bagus. Yang perlu kau lakukan adalah...."
Aku pun segera menjelaskan seluruh detail rencana yang baru saja ku buat.
Tidak hanya untuk menangkap dan menghentikan tingkah Scarlet ini. Tapi juga untuk menghukumnya seberat mungkin.
Mendengar rencanaku, Lucien nampak tertawa puas dari dalam tubuhku.
__ADS_1
"Fufufu.... Sungguh, Tuanku memang pantas menjadi Raja Kegelapan!"