The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 225 - Memasuki Perempat Final


__ADS_3

"Sungguh luarbiasa! Elin berhasil mengalahkan seorang Player yang disebut-sebut sebagai kastil berjalan itu! Sungguh performa yang sangat menakjubkan! Bagaimana kesan Anda melawan Ilham, Nyonya Elin?" Tanya sang pembawa acara dengan penuh semangat.


Elin dengan segera mengambil mic yang diberikan oleh pembawa acara itu dan berbicara.


"Julukan kasil berjalan sangatlah sesuai dengannya. Jika saja aku tak memiliki item tingkat Unique yang memiliki kemampuan untuk memberikan DoT atau Damage Over Time, maka aku sudah dipastikan akan kalah.


Jujur saja aku sangat heran bagaimana caranya meningkatkan status defense dan Health Point miliknya hingga sebesar itu. Sangat besar hingga setiap tebasan belatiku hanya memberikan 1 digit damage." Jawab Elin dengan panjang lebar.


"Sungguh jawaban yang luarbiasa dari Player Elin! Jika saya boleh penasaran, apakah kemenangan ini dikarenakan Anda yang telah mengubah ras menjadi Wooden Elf?" Tanya pembawa acara itu sekali lagi.


Bersamaan dengan pertanyaan itu, seluruh penonton menjadi tegang. Mereka sangat penasaran apa saja keuntungan yang diperoleh dengan melakukan perubahan ras.


Apakah perubahan ras dapat memberikan kekuatan yang begitu besar hingga mampu menjadikannya sebagai salah satu top player terbaik?


Terlebih lagi, bagaimana caranya untuk melakukan perubahan ras?


Semua hal itu sejak awal telah menumpuk di pikiran penonton yang melihat aksi Elin dalam setiap pertandingan.


Akan tetapi pertanyaan mereka tertahan karena memang seluruh lawan yang dihadapi oleh Elin sebelumnya 'terkesan' begitu lemah sehingga perbedaan antara ras manusia dan Wooden Elf tidak begitu terlihat.


Hingga akhirnya, Elin mampu menumbangkan salah satu player terkuat yang diprediksi mampu mencapai setidaknya peringkat 4 besar.


Setelah terdiam selama beberapa saat, Elin segera menjawab pertanyaan itu.


"Daripada disebut sebagai keuntungan, aku justru memperoleh kerugian yang sangat besar karena menjadi Wooden Elf pada pertarungan kali ini. Ras ini memiliki penalti yang sangat mengerikan pada atribut Strength sehingga membuat seluruh seranganku menjadi jauh lebih tumpul.


Meski begitu, kelebihan utama dari ras ini hanyalah kecepatan geraknya yang begitu tinggi. Tapi pada akhirnya kelebihan itu tak begitu bermanfaat bagiku di pertarungan ini.


Ah, sebagai bonus sebelum kau bertanya lagi.... Aku memperoleh sebuah Hidden Quest yang cukup sulit. Setelah menyelesaikan misi itu, aku diberi pilihan untuk melakukan perubahan ras dari manusia ke Wooden Elf. Informasi lebih lanjut tak bisa kujelaskan."


Setelah sekitar satu menit lebih sedikit, akhirnya Elin menyelesaikan penjelasannya yang begitu panjang itu.


Semua orang terbelalak mendengar jawaban Elin, termasuk sang pembawa acara.


Sementara itu, sosok Ilham nampak berjalan secara perlahan mendekati Elin.


'Braak!'


"Sakit! Apa yang kau lakukan?!" Teriak Elin terkejut setelah menerima pukulan ringan di punggungnya itu.


"Menepuk punggungmu. Apalagi?" Balas Ilham sambil tersenyum seakan mengejek.


Perkelahian ringan pun terjadi di tengah panggung besar itu. Meski disebut perkelahian.... Lebih mirip seperti anak kucing yang berusaha melukai seekor singa jantan.

__ADS_1


...***...


...Ruang Tunggu...


"Elin sialan. Aku bahkan tak melakukan apapun kepada Lisa dan dia sudah cemburu seperti itu. Tapi apa-apaan ini?! Mana pria itu?! Akan kuberi pelajaran karena tela.... Ah...."


Ucapanku seketika terhenti setelah melihat sosok Ilham yang begitu tinggi dan besar.


"Yo, Erik. Istrimu benar-benar kuat. Aku tak menyangka bahwa ada cara seperti itu untuk menang. Kurasa kelicikannya patut diacungi jempol." Ucap Ilham seakan meledek.


"Kaaaaauuu! Kenapa!!!"


Pada saat pertengkaran itu terus terjadi, Angie nampak berjalan secara perlahan keluar ruangan ini sambil melambaikan tangannya ke arahku. Seakan-akan Ia ingin menyampaikan sesuatu.


"Aku pergi dulu sebentar." Ucapku singkat kepada mereka berdua yang saat ini masih berdebat. Aku bahkan tak yakin bahwa salah seorang dari mereka mendengar perkataanku.


Tapi yang paling penting saat ini adalah percakapanku dengan Angie masih belum berakhir.


Sebuah percakapan.... Yang akan menentukan Kerajaan Farna.


"Apakah yang bilang itu benar, Angie?" Tanyaku singkat.


"Asalkan kau memenuhi permintaan kami, maka kelompok Rebellion milikku akan membereskan semuanya." Balas Angie ssmbil menyandarkan tubuhnya ke dinding. Ia juga nampak menyilangkan kedua lengannya sambil memejamkan matanya.


"Tapi jujur saja aku masih tak percaya bahwa kau memiliki hubungan sedekat itu dengan sosok yang disebut sebagai Pahlawan Farna itu. Bukankah Ia mampu mengalahkan salah satu bawahan Evan secara langsung?" Tanya Angie keheranan.


"Ah soal itu.... Tenang saja. Aku pasti akan memperkenalkan kalian kepada Arlond dan membujuknya untuk memenuhi kemauan kalian. Meski aku tak bisa menjamin bahwa Ia akan memberikan sebidang tanahnya itu, tapi aku merasa yakin bisa membuatnya mau menuruti permintaanmu itu." Balasku kepada Angie.


Mendengar hal itu, Angie nampak tersenuum puas lalu segera berjalan pergi dari lorong bangunan ini.


Setelah beberapa langkah, Ia nampak mengangkat tangan kanannya sambil berteriak.


"Aku menantikan pertarunganku denganmu di semi final nanti, Erik. Berjuanglah sebaik mungkin."


"Tentu saja. Kau sendiri jangan menangis jika kalah dariku."


Meski berbicara seperti itu, sebenarnya aku merasa sangat kesal. Bagaimana tidak, jika melihat penempatan posisi pemain di babak perempat final ini, maka aku akan bertemu Angie di babak semi final.


Itupun jika aku mampu mengalahkan Brunhilda yang memiliki kecepatan setara atau bahkan melebihi Elin.


'Lightning Fencer, Brunhilda.... Ia selalu mampu mengalahkan lawannya dengan kecepatan dan kelincahannya yang luarbiasa itu. Setiap tusukan rapiernya juga selalu mengenai titik kelemahan lawannya. Jujur saja aku penasaran akan apa yang terjadi padanya semenjak Seven Star dibubarkan. Tapi itu adalah masalah lain waktu. Sekarang....'


Aku pun mempersiapkan diriku untuk yang terburuk. Meski sudah menyiapkan berbagai rencana, sebagian besar alur pertarungan selalu dipenuhi dengan improvisasi.

__ADS_1


Oleh karena itu aku memilih untuk segera kembali ke hotel dan beristirahat secukupnya. Tentu saja, aku akan Log In dan berlatih bertarung dengan Lucien.


Akan tetapi sesaat sebelum aku memasuki kapsulku....


"Erik! Aku ingin berbicara empat mata denganmu!" Teriak Elin sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya seperti seorang bos. Kemarahannya pun tergambar begitu jelas di wajahnya.


"Elin sebelum kau berbicara lebih lanjut lagi aku...."


"Tidak menerima alasan! Kau berduaan dengan wanita bule itu?! Apakah wanita yang seperti itulah tipemu?! Wanita yang tinggi dengan badan yang indah?! Benar seperti itu?!" Teriak Elin nampak penuh kesal.


Ingin sekali aku membalas perkataannya dengan 'bukankah kau juga sangat dekat dengan pria bertubuh besar itu? Apakah pria seperti itulah tipemu?' tapi aku segera mengurungkan niatku karena alasan yang begitu sederhana.


'Elin yang marah imut juga.' Ucapku dalam hari sambil melihat sosok Elin yang bahkan masih terus mengomel hingga saat ini.


Setelah lebih dari 5 menit dan Ia masih terus berbicara, aku pun memutuskan untuk membantingnya di kasur yang empuk itu.


...***...


...Dungeon Origin...


...Lantai 5...


Meskipun hanya sebentar, aku selalu Log In setiap hari untuk mengawasi perkembangan Dungeon Origin.


Saat ini, Origin telah memiliki lebih dari 15 lantai dengan kepadatan penduduk yang tinggi. Aktivitas penambangan yang dilakukan juga semakin meningkat. Begitu juga dengan peningkatan suplai makanan dari pertanian bawah tanah yang terus dilakukan dengan bantuan sihir dan alkimia.


Tapi tujuan utamaku saat ini bukanlah itu semua. Bukan juga untuk segera berlatih. Melainkan...


"Eric, ada apa? Tak biasanya kau memanggilku secara mendadak seperti ini." Ucap seorang Pria berambut hitam yang sedikit acak-acakan itu. Ia mengenakan zirah putih yang indah dan mengkilap.


"Duduklah, Arlond. Penjelasan ini akan cukup panjang. Pelayan, tolong siapkan hidangan dan juga minuman kualitas terbaik untuk kami berdua." Ucapku kepada salah seorang Goblin tingkat tinggi yang ku pekerjakan sebagai pelayan itu.


"Dengan segera, Tuanku."


Segera setelah beberapa pelayan nampak meninggalkan ruangan ini, aku pun segera memulai pembicaraan serius dengan Arlond.


Sebuah pembicaraan yang akan menentukan arah peperangan bertahan ini secara langsung.


Sebuah pembicaraan....


Yang akan menunjukkan kengerian perang yang sesungguhnya kepada dunia virtual ini.


"Sebenarnya...."

__ADS_1


__ADS_2